Posts Tagged ‘Catatan Kecil’

untuk apa mereka meributkan urusan orang lain. untuk apa mereka selalu sindir sana sini. untuk apa mereka selalu mengkritik ini itu. untuk apa mereka iri akan karya orang lain yang jelas-jelas karya itu buruk dimata mereka. untuk apa mereka benci dan marah terhadap orang yang ingin belajar berkarya. untuk apa mereka berkata, bertingkah laku, memojokkan, dan menghina sekaligus meributkan masalah orang lain yang jelas-jelas masalah itu bukan menyeret mereka. untuk apa? untuk apa? untuk apa? apakah pantas jika mereka ikut campur urusan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka? apa baik untuk hati mereka jika tiap ada seorang yang “mencolok” selalu menyindir seorang itu dengan kata yang halus tapi menusuk? apa salahnya menghargai karya orang lain, toh karya orang lain itu juga tidak selevel dengan mereka yang mempunyai kualitas dan kredibilitas yang sudah dipercaya ama orang-orang ternama, terkenal, dan termasyur dijagat raya? apa eksistensi mereka tersingkirkan dengan adanya orang yang “mencolok” itu? tidak menarik ataupun menarik itu “relatif“. tergantung masing-masing orang memandang, memahami, dan menilai suatu hasil karya seseorang. untuk orang yang sudah “menelan garam berton-ton pun” ibaratnya seperti itu melihat karya rendahan, dimata mereka tetep aja rendahan. tapi masalahnya bukan rendahan atau tidak, tetapi “bagaimana seorang yang sudah diatas itu dapat menghargai karya orang lain dibawahnya“. :shakehand2

Banyak yang berkomentar dalam blogku. Komentarnya aneh-aneh dan lucu. Kadang memuji tapi juga kadang malah curhat masa lalu. Ada juga yang tak ku mengerti komentar-komentar  yang mereka tulis itu. soalnya bahasanya yang ambigu dan tergebu-gebu, mungkin karena mereka terperanga dan kagum akan blogku. Huhuhu… :hammer Percaya Diri amat ya aku. Tapi itu tak masalah buatku, karena inilah aku. Tak peduli apa kata orang mengenai diriku. Kembali ke komentar pada blogku. Beberapa komentar yang aku baca, terselip komentar-komentar yang membuat dadaku sulit untuk bernafas saat itu. Komentar-komentar itu yang seiring berjalannya waktu terus saja ku ingat selalu. Komentar-komentar apa saja itu? ini dia aku kasih tau. Pertama, ada seorang suster yang sedang merawat pasiennya. Pasiennya itu bosan karena hanya terbaring lemah tak berdaya dengan hanya ditemani oleh mp3 dan televisi yang menyiarkan berita update an masa kini. Lalu, suster itu kemudian meminjaminya laptop dan ia membuka sebuah blog, blog siapa ya? Ternyata blog yang dibuka suster itu rupanya adalah blogku. Pasien itu kemudian kembali ceria setelah melihat blogku. Kedua, ada seorang cewe’ yang sudah bertahun-tahun setiap ia membuka blog seseorang ia tak pernah berkomentar 1 kata pun. Tetapi setelah ia melihat blogku, komentar pertama yang ia berikan tertuju pada blogku. Ketiga, ada seorang anak yang masih kecil ia mengaku masih berumur 9 tahun. Ibunya menyarankan untuk membuka blogku, dan ia sangat senang sekaligus terinspirasi untuk sepertiku, menulis sesuatu. Itulah beberapa komentar teman-teman, yang telah mengunjungi sekaligus membaca tulisanku diblog ku. Mungkin kalian menganggap postinganku kali ini sungguh dibesar-besarkan dan terlihat menyombongkan diri. Maaf, tapi anda salah persepsi. Postinganku kali ini adalah bertujuan untuk mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengunjungi sekaligus memberikan komentar, baik itu saran, kritik, dan harapan. Saat aku masih diberikan kesempatan untuk hidup dan mampu untuk menulis, aku akan terus menulis. Mungkin tulisanku “lebay” “alay” atau kampungan menurut kebanyakan orang, tetapi ada beberapa orang yang terinspirasi akan blog dan tulisanku. Dan disitulah, TUJUAN UTAMAKU MENULIS ADALAH UNTUK MEMBERIKAN INSPIRASI, BUKAN MENDAPATKAN SEBUAH MATERI.

Sakit ketika terus mengingatmu. sakit ketika kau tak juga menganggapku. sakit ketika kau coba mempermainkanku. sakit ketika kau berpaling dariku. semua itu, sakit itu, luka yang menganga, dalam, dan pilu, tak lagi kurasakan setelah aku coba untuk menghilangkan bayang-bayangmu. dulu, kau anggap diriku sebuah mainan kelam dan kelabu. dulu, kau hanya inginkanku disaat kau butuh sesuatu. dulu, kau jerat aku dengan paras dan tampangmu. dan dulu, kau berbisik lirih padaku, “sebenarnya aku juga ada rasa ke kamu“. tapi sekarang, hujan tak lagi turun. awan tak lagi gelap dan berselimut badai nan guntur. matahari memancarkan kehangatan, muncul dari balik awan yang berselimut. pelangi yang terlukis jelas diatas angkasa, membuat suasana kembali berwarna. saatnya ku katakan, “maaf, ku lupakanmu…“. dengan begitu, semuanya tak lagi kamu. dengan begitu, pikiranku tak selalu ada kamu. dengan begitu, setiap jalan dan jerih payahku itu bukan karena kamu. dan dengan begitu, aku sadar akan sesuatu, “hati itu, tak bisa berbohong padaku…“. selamat tinggal masa laluku. selamat jalan kenangan kelamku bersamamu. terima kasih kau buat aku semakin kuat dan tegar selalu. menerima kenyataan itu.

apa yang membuat kita jadi marah? dicuekin pacar? menunggu seseorang 1,2, atau 3 jam? semua pekerjaan dan tugas dilimpahkan pada kita seorang? makan, tapi menunya tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan? selalu disalahkan? dan lain sebagainya. ya, itu semua bisa membuat kita marah. sebenarnya baikkah jika kita itu marah? dalam studi riset membuktikan itu jelas-jelas tidak baik. marah dapat menyebabkan penuaan dini, itu salah satu akibat jika kita sedang marah dan jika dilakukan secara terus menerus. bisakah seorang itu tidak marah? dalam pikiran bodohku mengatakan, “jika saja atau seandainya marah itu tidak ada batasnya, pasti tidak ada orang yang akan marah-marah dan tidak ada juga yang pasti penuaan dini“. tapi, ternyata itu hanya pikiran bodohku seorang. “marah, itu ternyata ada batasnya“. seseorang memiliki batasan menurut mereka masing-masing, dan setiap orang itu tidak sama. lalu apa yang harus dilakukan jika kita sedang marah? manurutku yang harus kita lakukan jika marah adalah, pertama basuh muka dengan air dingin, atur nafas kita biarkan rileks, jika perlu keluar sebentar dari kerumunan orang-orang atau menyendiri sebentar. kedua, jika hati kita masih marah, duduklah dengan tenang dan damai, pikirkan semua itu baik-baik, jangan ambil sisi negatif, pikirkan dan pilah segi negatif untuk mengambil sisi positif. ketiga, untuk yang muslim atau beragama islam, sholatlah. keempat, curahkan segala uneg-uneg yang kau pikul berat pada teman mu, biarkan teman mencari solusi dan pikirkan sekaligus pilih solusi dari teman mu. kelima, jika mempunyai buku harian atau blog, atau apalah, yang pasti seorang yang punya hobi menulis, tulis semua rasa marah itu kedalam sebuah tulisan. keenam, menyendirilah dan cari tempat yang mempunyai pemandangan bagus, dan tentu sepi dari banyak orang, lalu berteriaklah sekeras-kerasnya, curahkan emosimu, biarkan angin yang akan membawanya. dan yang terakhir adalah ketujuh, cari orang yang membuatmu marah, lalu berkelahilah dengan dia (tidak untuk dicontoh, hanya orang-orang yang pikirannya dangkal dan frustasi saja yang melakukan ini). :batabig semoga itu dapat bermanfaat untuk ku, untuk orang lain, dan sesama yang membutuhkannya. :hope

kebanyakan orang yang ku temui itu, “tidak menghargai jerih payah orang lain“. saat melihat dan mendengar dimedia, baik dilayar kaca dan kertas lebar buram yang penuh dengan tulisan dan gambar-gambar iklan, “mereka malah menertawakan hasil kerja payah seseorang“. tapi tawa mereka menjadi bomerang untuk diri mereka sendiri. seperti kata pepatah, “menelan ludah sendiri“. mereka yang menertawakan hasil kerja seseorang tidak percaya jika apa yang mereka tertawakan itu akan berubah menjadi sebuah “gold“. mereka merendahkan orang tanpa berpikir, dan jika mereka pikirpun ternyata terlalu dangkal. mereka melihat apa yang mereka lihat, mereka kagum dengan sesuatu yang baru dan langka. hanya kagum. tapi ketika “sesuatu” itu diujicobakan dihadapan mereka, mereka hanya bilang, “mana mungkin ‘sesuatu’ ini bisa berguna/bermanfaat/dipakai orang ‘tertentu’? tidak mungkin! menghayal saja! hahahahahaha~~~:ngakak tawa mereka yang lebar dan lucu menurut mereka sendiri itu terlihat “bodoh” ketika ‘sesuatu‘ yang mereka tertawakan menjadi sebuah “gold“. tidak ada manusia, menurutku, yang bisa melihat takdir masa depan. tidak ada yang tau kau kedepannya akan menjadi seperti apa. peramal sekalipun, mereka tidak selalu tepat dalam melihat dan menerawang masa depan. dalam sebuah buku kamusku, “kehidupan adalah sesuatu yang harus dicoba, dipahami, dinikmati, disyukuri, dan dijalani dengan rendah hati“. banyak teori mengatakan ini itu, banyak orang “ngoceh” ini itu, dan banyak atau bahkan para anggota dewan yang nglantur kesana kemari, semuanya membicarkan masalah seolah mereka itu tau benar apa yang mereka omongkan. dalam kamusku juga kutulis, “omongan adalah perbuatan“. jangan seolah-olah tau apa yang dipikirkan rakyat “jelata“, misalnya, jika kau memandang mereka sebelah mata dan berfoya-foya bergelimang harta tanpa membagi apalagi memberi pada “sesama“, dan yang lebih penting “tidak ikut merasakan dan memahami penderitaan mereka“. kata nenek itu berbahaya, hey, hey, hey…! :kr

saat malam yang sunyi hadir datang mendekap dan memeluk erat, ku impikanmu. saat itu ku lukiskan kisah kasih dan kehidupan kita bersama. namun, dalam bayang dan pikiran bodohku selalu aku bertanya. “adakah aku di mimpimu?“. pertanyaan itu kerap kali datang menghiasi otak dan pikiranku. kau tau, di hatiku terukir selalu namamu dengan jelas dan terbatu, kokoh tak akan tersapu angin lalu. cinta ku serta rindu ku beradu menjadi satu untuk terus selalu mengingatmu. namun, sekali lagi selalu aku bertanya dalam pikiran bodohku. “adakah aku selalu di hatimu?”. saat aku menyendiri untuk mengabaikan suara-suara yang sumbang yang selalu menyebutku, ku nyanyikan alunan-alunan senduku. saat aku pergi tak tentu arah untuk  meredakan ketegangan hati dan pikiranku, ku bisikkan cerita-cerita gelapku pada awan kelabu. saat semuanya sibuk dengan urusan mereka masing-masing untuk mencapai tujuan hidup, ku abaikan mimpi-mimpi dan ambisiku. ku lakukan itu demi kau, tapi mengapa ku takkan bisa sentuh hatimu? ku selalu membayangkan, bila saja kau di sisiku.  ‘kan ku beri kau segalanya yang aku bisa dan punya. namun, entah mengapa tak henti-hentinya aku bertanya. “adakah aku di rindumu?“. aku memohon denganmu, tak bisakah kau sedikit saja dengar aku? dengarkan simfoniku, simfoni hanya untukmu… :sorry

setiap orang lain berhak dan boleh untuk menilai orang lain dari segi manapun. mereka berpendapat orang “itu” buruk, baik, jahat, egois, romantis, penakut, manja, dan lain sebagainya. tapi apakah dengan menilai orang lain itu maka orang yang dinilai mempunyai sisi seperti apa yang dikatakan banyak orang. apakah adil jika menilai orang lain buruk tetapi dilain sisi sebenarnya ada sebuah kebaikan dari dirinya? orang mengekspresikan perasaan, hati, dan pikirannya dengan tingkah laku, sikap, dan perbuatan mereka. mereka bisa menjadi orang yang baik, jahat, kejam, lugu, pendiam, bahkan menjadi seorang pembunuh dalam sekejap. hanya kesehariannya saja mereka menilai orang lain,  mereka tidak benar-benar mengerti dan paham dengan apa yang “disembunyikan” seseorang dalam hatinya. apa yang harus dilakukan untuk menilai dan mengetahui hati serta perasaan orang lain agar kita dapat menilai mereka? yakni dengan cara memahami, mendalami, bergaul, berinteraksi, dan yang paling penting adalah menghargai serta mengakui keberadaanya. mereka yang kita anggap lemah, ternyata kuat. mereka yang kita anggap manja, tetapi ternyata penyanyang. mereka yang kita anggap cantik, ternyata hatinya rapuh. mereka yang kita anggap bodoh, ternyata kritis. dan lain sebagainya menurut penilaian kita masing-masing. hargailah seorang apapun itu, karena jika kau menyakiti hati dan perasaannya, maka “racun” yang kau ucapkan akan terus melumpuhkan hati serta perasaannya. dan obat dari semua itu adalah “jika kau menghargai orang itu”. apakah kau sudah menghargai orang lain? apakah egois yang akan kau terapkan? dan, apakah disekitar kita masih ada orang yang mengakui dan menghargai keberadaan orang lain? apakah sulit untuk menghargai orang lain? :shakehand2

saat seseorang yang kau kagumi dan kau sayangi ternyata mencampakanmu. ketika perkerjaan yang kita kerjakan dengan sekuat tenaga dan pikiran hanya sia-sia dimata mereka yang lapar akan kritikan. saat kita butuh seseorang untuk tempat curhat dan mereka hilang entah kemana. ketika omongan kita dan pendapat kita tak didengar dan hanya diacuhkan. ketika hasrat berbelanja untuk membeli sesuatu yang berharga hanya mimpi belaka. dan saat orang tua membeda-bedakan kasih sayangnya pada kita. semuanya bukan tak bermakna, ambilah sisi positif yang kau punya. keluarkan segala uneg-uneg yang ada dihati, perasaan, dan pikiran kita. biarkan semuanya tumpah tak tertahankan. biarkan semuanya lenyap tak membekas. dan biarkan semuanya mengulang untuk yang kesekian kali. biarkan hujan turun kawan, awan yang gelap nan pekat akan berubah menjadi putih seputih kapas. jangan sempit pikiran, perluas pikiran. semuanya akan mudah untuk dikerjakan. tersenyum tulus dan rendah hati. jalani apa yang telah menjadi takdir ilahi. semuanya akan berakhir indah dilain hari. bersemangatlah untuk menjalani hari ini, esok, lusa, dan seterusnya, karena waktu tak akan berhenti sesuai kehendak kita sendiri. jangan hakimi diri sendiri. expresikan hati dan perasaan dalam seni, misalnya, karena seni adalah sebuah hasil karnya emosi perasaan yang manusiawi. :2thumbup

hati ini telah kau curi. kau curi dengan diam-diam tapi pasti. sulit untuk merebutnya kembali. karna hati ku ini telah kau masukkan dalam sebuah peti. kau menguncinya rapat sekali. aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. perlakuanmu, tatap matamu yang tajam, dan gaya bicaramu yang menyinggung perasaan, ingin sekali aku buang jauh-jauh dari bumi ku tersayang. berikan aku kunci. kunci untuk membuka hatiku yang telah berkarat dan rapuh ini. aku tak ingin mengulangi kembali jeratan hati. sudah cukup sampai di sini. aku harus melupakan semua ini dengan ikhlas diri. tanpa harus melihat kembali kebelakang dan menyesali apa yang telah terjadi. aku harus melanjutkan kehidupanku kini, esok, dan nanti. untuk melihat mentari dan menyongsong masa depan yang hakiki. setiap pagi aku panjatkan pada Mu ya Ilahi. untuk dapat melupakan wajahnya disela-sela ingatanku yang kosong. semakin aku mengingatnya, luka hati kembali terbuka menganga, sakit sekali. tolong, biarkan aku tenang dan jauh dari bayang-bayang wajahnya…

dunia ini memanglah sebuah misteri. banyak sekali kejadian-kejadian yang belum terungkap kebenarannya. semisal, kejadian yang diluar nalar dan pikiran manusia tetapi banyak sekali dipercaya oleh kalangan magis yang penuh dengam intrik dan mistik. pembukaan yang sedikit aneh bukan? entah kenapa hari-hari ini aku sangat suka dengan ‘genre’ yang berbau horor, terutama gothic. banyak kalangan yang menganggap ‘gothic’ sebuah aliran setan, iblis, dan entah apalah sebutannya, tapi menurutku ‘gothic’ adalah sebuah seni. gaya dandan para ‘gothic’ dan simbol-simbol yang digunakan memanglah terlihat ‘angker’ atau menyeramkan, tapi dibalik itu semua tersimpan sebuah seni yang dibuat manusia itu sendiri, bagaimana manusia itu menyamakan dirinya sebagai seorang setan dengan berbagai imajinasi yang mereka pikirkan dan yakini. sampai aku terkagum-kagum dengan ‘gothic’ ini, laptop aku mulai dari wallpaper, scen saver, mouse pointers, start orb, dan beberapa aplikasi skin aku jadikan gambar-gambar ‘gothi’. “keren”, pikirku. tapi, “hih…! menyeramkan…!”, kata beberapa temanku. selain laptop aku, hari ini aku juga membeli sebuah novel ber ‘genre’ horor. judulnya “Seringai Petaka Itu…” by Harry Puter. wah, pengarangnya kok hampir mirip dengan salah satu novel paling laris sepanjang ‘jagat’ ya? hihihi :ngakak

berikut aku berikan ulasan mengenai novel yang baru aku beli tadi, “Seringai Petaka Itu…” by Harry Puter :

“Selama ini kamu selalu merasa yang terkuat! tapi sekarang… kamulah yang terlemah!” Ia memukul bagian kepala dan menyusul dua pukulan. Sarmun yang tidak berdaya terus mundur.

“Ini untuk semua korbanmu!!” Dia menusuk bagian perut. “Ini untuk semua saudaraku.” Gun kembali menusuk. “Dan yang ini yang TERAKHIR! Untuk RATIIIH!!!” Tusukan itu mendarat tepat di ulu hati.

Iblis itu menjerit sekuat tenaga, sampai pita suaranya putus. Teriakannya lebih keras membelah sunyi malam. Teriakannya menggema ke seluruh pelosok Jeruk Legi. Gun encabut linggisnya, membantingnya, kemudian memungut pedangnya. “Tamatlah riwayat hantu Jeruk Legi. Selamat tinggal, hamba iblis!”

Dengan segenap keberanian yang masih dimiliki, dia menusuk punggung dua kali, namun setan itu tidak bergeraksedikitpun lagi. Gun menendang bagian pinggang, dan ia tetap tidak bergerak.

Begitu mengerikan dan mendebarkan kejadian-kejadian penuh petaka dalam hidupnya. Orang-orang tercintanyasatu demi satu direnggut laknat dari Jeruk Legi itu.

Malam kian tua dan keriput, Gun sudah siap ke alam mimpi, namun matanya membentur foto Lilis di atas meja. Foto itu diambilnya, ditatapnya wajah wanita pujaan hatinya itu. “Selamat jalan, Lilisku tersayang. Selamat berbahagia untuk selamanya.”

Dan tiba-tiba…. :takut

selanjutnya apa ya? wah, buat aku penasaran saja. hehehe… :takut