Posts Tagged ‘Anekdot Filsafat’

Derrida tiba-tiba tersesat disebuah galeri seni. Entah itu galeri apa. Derrida sendiri tidak mengetahui galeri itu benar-benar ada atau hanya metafora. Derrida memang bikin geger pemikiran filsafat melaui dokonstruksinya. Dalam system filsafatnya, ia suka buat istilah aneh-aneh. Macam anak-anak gaul sekarang. Ia ciptakan istilah differance. Kata itu tidak pernah ada dalam bahasa Prancis. Tetapi ada sebuah kata yang mirip dengannya yaitu difference. Atau juga Phonemenon yang memiliki kemirian dengan Phenomenon.

Kita catar sedikit bagaimana Derrida menafsirkan teks. Pertama-tama ia biarkan teks itu bicara tentang dirinya. Setelah teks mengungkapkan diri, ia cari hal-hal yang bertentangan dalam diri teks itu sendiri. Setelah itu, makna yang muncul dalam diri teks itu didestabilisasi sehinggga makna itu menjadi tunggal lagi. Makna-makan yang lain menguak dengan sendiri.

Kita kembali kegaleri. Dihadapan Derrida, tampak sebuah lukisan. Ia coba terapkan metode penafsiran itu kepada lukisan didepannya. Ia mulai dengan membiarkan lukisan itu membuat sketsa dikepalanya. Biarkan lukisan itu mengungkapkan dirinya (semboyan fenomenologi). Setlah itu goyangkan (destabilasi) bangunan sketsa dikepala agar makna-makna berguguran layaknya daun berjatuhan dimusim gugur. Kemudian, segeralah bersihkan daun-daun itu sebelum dimarahi satpam…

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Nama pemuda itu Marx. Aslinya Muhammad Markum. Ia baru saja lulus sarjana. Di rumah, langsung ia diberi tugas mengajar di SMP pamannya. Dengan penuh semangat ia mulai mengajar. Ia susu kurikulum sendiri. Sebagaimana pengagum Karl Marx, ia ingin bikin revolusi itu bisa dimulai. Pendidikan yang tidak membebaskan adalah pendidikan yang tidak layak untuk digeluti. Pemikiran Karl Marx ia masukkan dalam bahan ajarannya. Tidak usah bertanya bagaimana tiba-tiba Karl Marx bisa masuk dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama. Itu urusan Mas Markum

Diakhir semester, berkatalah ia kepada siswa-siswinya, “kita telah mempelajari pemikiran Karl Marx sampai tuntas. Hanya saja tujuan Karl Marx akan masyarakat tanpa kelas belum terwujud.”

“pak guru, “murinya menyela, “bagaimana masyarakat tanpa kelas itu bisa terwujud?”

“jadi,” kata Markum, “kitalah yang akan mewujudkan tujuan Marx tersebut. Mulia besok kelas bubar!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Dosen masuk kedalam kelas. Mulailah ia mencerca mahasiswa dengan rentetan pernyataan.

“apakah Tuhan itu ada?”

“adaaaa…,” serentak mahasiswa menjawab.

“apakah kalian bisa melihat Tuhan?” pak dosen lanjut bertanya.

“tidak.”

‘apakah kalian bisa menyentuh Tuhan?”

“tidak.”

“berarti Tuhan itu tidak ada,” tegas pak dosen. Suasana cukup tegang. Banyak mahasiswa yang rajin beribadah. Kalau tidak ada Tuhan lalu untuk apa ibadah itu?

“pak dosen,” bersuaralah seorang mahasiswa memecah sunyi. “apakah bapaka bisa melihat otak?’

“tidak.”

“apakah bapak bisa menyentuh otak?”

“tidak.”

“berarti bapak tidak punya otak!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Dua petani

Dua petani sedang mencangkul di sawah. Terlibatlah mereka dalam pembicaraan.

“anakku yang kuliah sering sekali menyebut-nyebut nama seseorang. Kamu tahu Karl Marx?” kata petani yang satu.

“tidak,” jawab petani satunya lagi.

“aku juga tidak.”

Nietzsche dan Tuhan


Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati.”

Lima puluh tahun kemudian seseorang bertanya, “Kemana Nietzsche?”

“menyusul Tuhan

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Filsuf abad pertengahan suka berbicara tentang surge dan neraka. Bukan hanya surga secara umum, tapi mendetail sampai letak dapur sebelah mana, kamar mandi ada berapa, WC-nya duduk atau jongkok san sebagainya. Kalau membahas neraka, bukan hanya apinya yang meluap-luap, bahkan kayunya di impor dari mana, yang jual siapa, semua itu masuk dalam system filsafat mereka. Bidadari juga tidak luput dari pemikiran mereka. Parfum merk apa yang dipakai bidadari saja bisa jadi perdebatan yang sangat panjang.

Suatu saat seorang filsuf abad pertengahan membeberkan pimikirannya kepada para warga tentang surga dan neraka. Ia mengatakan bahwa surga dan neraka memang ada.

“apakah anda pernah kesana?” Tanya salah satu pendengar tiba-tiba.

“emmmm… belum sih” jawab si filsuf.

“wah, syukurlah,” sambung pendengar itu,” ternyata itu baru gossip.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Sejauh manakan kebenaran bisa ditemukan? Filsafat adalah pencarian tiada henti akan kebenaran. Tidak ada kata lelah disana. Tidka ada kata kamus menyerah didalamnya. Seorang filsuf sampai merasas perlu menulis buku The History of Truth. Jumlah halamannya akan membuat kita tercengang. 1 juta halaman. Jumlah itu masih bisa terus bertambah. Oleh sebab itu sang filsuf kebingungan. Sampai detik ini belum ada penerbit yang berkenan menerbitkan. Walhasil, kita tidak pernah bisa menemukan buku tersebut di toko buku mananpun!

Kita sisihkan dulu hasrat untuk mengetahui isi buku itu. Ada beberapa filsuf yang berbaik hati mendedahkan definisi kebenaran kepada kta. Sokrates menyimpulkan bahwa kebenaran hakiki akan kita temui saat nyawa kita meregang dari jasadnya.

Kebenaran itu realtif. Manusia adalah ukuran segaa sesuatu, kata Protagoras.

Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang manusia tidak bisa hidup tanpanya, sabda Nietzsche.

Dan selajutnya :

Kebenaran adalah keledai yang jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Itu kata kita.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Sejarah metafisika barat selama ini adalah sejarah akan Ada, demikian simpul Martin Heidegger. Seperti tatkala kita merasakan nikmatnya kopi, kita sering lupa bahwa ada gula disana. Kelupaan akan Ada ini sejenis dengan kelupaan akan gula tersebut. Padahal adalah horror jika kita minum kopi tanpa gula (kecuali orang yang sudah merasa dirinya manis). Metafisika barat sebuk bertanya apa itu dunia, member definisi bermacam tentangnya, dan lupa menyadari bahwa semua ini Ada. Ya, semua ini Ada. Eksistensi start lebih dulu daripada esensi.

Kesadaran yang muncul dari rasio modern hanyalah salah satu cara Ada menguakkan dirinya dalam sejarah pengungkapan Ada. Sayangnya, kritik Heidegger, kesadaran rasio modern ini menangkap Ada dengan sangat manipulative. Sehingga Ada itu sendiri masih tetap tersembunyi. Menurut Heidegger, Ada memang tidak mungkin diketahui secara pasti. Kendati demikian, kita bisa memulai pencarian akan Ada melalui mengada yang bisa mempertanyakan Ada : manusia (Dasein). Maka, sebagai konsekuensinya, manusia adalah mengada yang mencari makna berada-dalam-dunia. Di sana, ia bergulat dalam dunia, berusaha menjadi makhluk yang otentik, dengan rasa peduli (sorge) terhadap dunia.

“nah, tuan Heidegger,” salah satu peserta kuliahnya menyela, “penjelasan anda sungguh sangat menawan. Pemikiran demikian ini akan sangat mengguncang pola pikir filsafa barat. Akan tetapi, ini yang saya khawatirkan, semoga anda tidak sedang mengada-ada saja?”

“dan saya berharap,” komentar Heidegger. “pernyatann saudara ini tidak mengada-ada juga.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Agar sedkit menggelegar, kita sebut Heidegger sebagai filsuf martil. Ialah yang mengetuk palu perpisahan dengan filsafat barat. Tapi, kali ini kita tidak sedang ingin cerita seram tentang pemikiran Heidegger. Kita ingin tahu kisah ceritanya. Karena ini soal cinta, bolehlah kita bertanya pada rumpun yang bergoyang.

Sewaktu menjawab professor muda di universitas Marburg, ia jatuh cinta kepada Hanna Arendt, mahasiswinya sendiri. Arendt, kita tahu dari buku-buku, memang antusias dengan pimikiran Heidegger, dosennya. Tapi apakah dengan ini lantas perjalanan cinta Heidegger menjadi mudah? Ternyata tidak.

“beri aku alasan filosofis mengapa aku tidak menerima cintamu?” pinta Arendt.

Heidegger tersendak. Soal filsafat, ia jagonya. Soal cinta, ia bagai betina dikandang jago. Ia kamudian mereka-reka jawaban.

“sebab”, kata Heidegger, “sebagaimana bahasa adalah rumah Anda, engkau bagiku adalah rumah cinta”.

Arendt menerima. Arendt pengin punya rumah.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Salah satu pemikiran plato dituangkan dalam sebuah alegori tentang gua. Manusia dudunia ini laksana orang yang hidup didalam gua. Mereka berdiri membelakangi cahaya dan wajahnya menghadap dinding gua. Di dnding tersebut datang silih berganti bayangan benda-benda. Bayangan itu mereka kira adalah benda yang sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa itu semua hanyalah baying-bayang.

Syahdan seorang manusia gua keluar dari sana. Melihat dunia luar ia terpana. Kesadaran menyapa dirinya. Dunia tak seperti yang kukira, ternyata. Demikian keindahan dunia ini. Berbeda dengan bayang-bayang didinding gua.

Dengan alegori gua itu, Plato ingin menunjukkan tentang adanya dua ideal. Dunia yang sejati. Dunia yang disini hanyalah tiruan tidak sempurna dari dunia yang disana.

“keluarlah,” seru Plato kepada rakyat Yunani. “keluarlah kalian dari gua itu. Lihatlah dunia yang sebenarnya.”

“Plato,” menyambut salah seorang warga. “ada teman saya yang telah keluar dari gua. Tapi katanya sama saja.”

“bagaimana bisa?” Plato serius keheranan.

Suasana hening. Seluruh mata tertuju kepada yang menyahut.

“teman saya itu buta.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Paul Lafargue dalam bukunya, Hak Untuk Malas, mengutip Yesus tatkala berkhotbah diatas bukit, “Perhatikan bunga bakung diladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh, mereka tidak berkerja keras, juga mereka tidak berputar, namun kukatakan kapada kalian bahwa, bahkan Solomon sekalipun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti salah satu dari bunga-bunga ini.”

Lafargue kemudian melanjutkan dengan khotbahnya sendiri, “Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan ideal ; setelah bekrja selama enam hari, dia beristirahat untuk selamanya.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.