Archive for the ‘Teori Sosiologi Modern’ Category

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Anthony Giddens

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Modernitas Juggernaut

Giddens melukiskan kehidupan modern (berawal di Eropa abad 17) sebagai sebuah “juggernaut” atau panser raksasa, ia menggunakan istilah ini karena untuk menggambarkan tahap kemajuan modernitas yang sangat tinggi. Modernitas dalam bentuk panser raksasa ini sangat dinamis, tidak stagnan dan terus mengalami perkembangan dan perubahan sampai tak terkendali. Panser raksasa ini dapat dikendalikan pada taraf tertentu, tetapi jika sudah mencapai klimaksnya akan sulit untuk dikendalainkan dan menimbulkan kehancuran.

Modernitas dan konsekuensinya.

Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari 4 institusi mendasar, yang pertama adalah kapitalisme (suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya) yang ditandai oleh produksi komoditi (hasil-hasil produksi berupa barang), pemilikan pribadi atas modal, sistem kelas (pembagian kelas atas, menengah, bawah). Kedua adalah indutrialisme (paham dimana penggunaan sumber daya alam yang melimpah dan teknologi (mesin-mesin) untuk memproduksi barang). Industrialisme merembet dan memengaruhi lingkungan lain seperti transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya. Ketiga adalah kemampuan mengawasi, pengawasan seluruh kegiatan dan aktivitas-aktivitas masyarakat. Keempat adalah kekuatan militer, mengontrol dengan jalan kekerasan, seperti menggunakan senjata. Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Daniel Bell

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Pendekatan sosiologis dari Bell dikenal sebagai ramalan sosial. Bell membedakan ramalan sosial dengan usaha-usaha prediksi sosiologis yang lebih awal. Prediksi menyangkut hasil peristiwa-peristiwa (seperti siapa yang akan menang dalam pemilihan umum), prediksi seperti itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum. Dilain sisi ramalan sosial mencoba membuat garis besar peringkat kemungkinan dari berbagai kecenderungan historis. Hal ini dapat terjadi apabila ada keteraturan. Misalnya dalam memprediksi pemerintahan kedepan setelah adanya Presiden baru.

Masyarakat Post – Industri mendatang

Dugaan sementara Bell bahwa dunia barat sedang mengalami pergantian dari masyarakat industri menuju masyarakat post-industri. Hal ini dapat lebih dipahami lewat lima dimensi , pertama, sektor ekonomi, dimana masyarakat penghasil barang jadi beralih kemasyarakat penghasil jasa. Hal ini dikarenakan masyarakat yang lebih maju serta terjadi kenaikan pendapatan ekonomi maka masyarakat berbondong-bondong meninggalkan sektor pertanian. Kedua, terjadi dilapangan pekerjaan, terdapat perubahan dalam jenis kerja, yakni keunggulan kelas profesional dan teknis. Mislanya dokter, ilmuan, dan lain-lain. Ketiga, pemusatan pengetahuan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Dalam masyarakat industri hubungan utama terletak pada koordinasi manusia dan mesin. Sedangkan masyarakat post-industri terorganisir pada pengetahuan, inovasi, yang harus ditangani secara politis. Keempat, orientasi masa depan, mengendalikan teknologi dan penafsiran teknologis. Masyarakat post-industri bisa berencana dan mengontrol pertumbuhan teknologi. Kelima, pengembalian keputusan dan penciptaan teknologi intelektual baru. Berhubungan dengan cara-cara memperoleh pengetahuan. Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Seri Publikasi

Mata Kuliah Teori Sosiologi Modern

Judul : George Herbert Mead

Nama :Yudha    Nim : D0310065

Pengampu : Akhmad Ramdhon

Mead adalah pemikir dalam interaksionisme simbolis. Mead membagi 4 tahap dasar yang saling berhubungan dalam setiap perbuatan. Tahap pertama Impuls, berhubungan dengan indra, reaksi, dan kebutuhan untuk berbuat sesuatu. Misalnya rasa lapar, seseorang dapat merespon secara langsung (ingin makan sekarang atau nanti). Rasa lapar bisa datang dari kondisi batin seseorang atau timbul dari melihat makanan-makanan yang ada disekitarnya atau dari media televisi misalnya. Tahap kedua Persepsi, dimana seseorang mencari dan bereaksi terhadap impuls (rasa lapar tadi misalnya). Seseorang memiliki kemampuan merasakan melalui indranya, mulai dari pendengaran, penciuman, perasa, dan lain sebagainya. Ditahap ini seseorang yang memiliki rasa lapar kemudian berfikir untuk memilih dan memilah makanan apa yang akan dimakannya nanti (misalnya seseorang memilih dan memilah makanan apa yang cocok seperti soto, gado-gado, atau nasi goreng dalam pikirannya untuk sarapan). Tahap ketiga adalah Manipulasi, mengambil tindakan dalam kaitannya dengan objek yang dipikirkannya tadi. Setelah datang rasa lapar, lalu seseorang itu memilah dan memilih makanan apa yang akan dimakannya dalam pikirannya, kemudian seseorang itu berpikir ulang untuk menentukan makanan apa yang cocok untuk dimakan. Misalnya, seseorang merasa lapar, setelah ada option dipikirannya makanan nasi goreng atau soto yang akan dimakannya, lalu seseorang itu memutuskan memilih soto untuk dimakan saat sarapan, tetapi seseorang itu kemudian berpikir ulang kembali, seseorang itu dulu ternyata pernah mengalami sakit perut saat makan soto untuk sarapan, jadi ia berganti nasi goreng sebagai pilihannya untuk sarapan karena seseorang itu belum pernah merasa sakit perut saat memakan nasi goreng untuk sarapan. Dan tahap terakhir adalah Konsumasi, mengambil tidakan yang akan memuaskan impuls awal. Pada tahap ini seseorang berhak untuk memutuskan ingin makan nasi goreng (atau tidak misalnya). Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Lewis Coser

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Dalam pemikiran teori konflik, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya. Seluruh fungsi positif konflik itu (keuntungan dari situasi konflik yang memperkuat struktur) dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang megalami konflik dengan out-group. Dalam lingkup yang lebih kecil konflik kelompok baru dapat lahir dan mengembangkan identitas strukturalnya. Konflik yang sedang berlangsung dengan out-group dapat memperkuat identitas para anggota kelompok. Kelompok keagamaan, kelompok etnis dan kelompok politik sering berhasil mengatasi berbagai hambatan karena konflik menjalankan fungsi positif dalam memperkuat identitas in-group. Misalnya geng motor. Dalam geng motor ini mereka membangun identitas diri, peraturan, tata nilai dan perilaku, antribut serta kultur yang menggambarkan jati diri mereka. Seiring para geng motor ini berkonflik dengan komunitas lain justru akan menambah kesolitan dari para anggota geng motor tersebut, para geng motor ini secara tidak langsung menerapkan apa yang dimaksud Coser tentang penguatan identitas saat terjadi konflik. Menurut Coser, tindakan konflik dengan rasa bermusuhan itu tidak sama. Konflik benar-benar mengubah waktu hubungan dari pelaku sedangkan bermusuhan tidak memiliki peran penting dan meninggalkan pengertian ketidakberubahan hubungan. Perasaan permusuhan dibebaskan tidak hanya menuju objek asal, tetapi juga menuju objek pengganti. Perilaku selain konflik setidak-tidaknya menunjukan fungsi yang sama dari konflik. Konflik tidak selalu mengarah pada permusuhan, tetapi ia bisa digeser pada pemuasan kebutuhan yang ditunjukkan oleh penemuan objek pengganti tersebut. Contohnya pada pemilihan kepala desa. Seorang yang  bernama M terpilih sebagai kepala desa, hal ini membuat kelompok pendukung N marah dan mengancam akan merusak fasilitas umum yang ada. Untungnya M mampu berpikir realistis, maka ia mendampingi N sebagai wakil kepala desa. Sekalipun rekomendasi menyatakan N ditargetkan sebagai kepala desa. Massa yang terlibat konflik pun bisa dikendalikan bahwa jabatan bukan objek utama, tetapi masih bisa diganti dengan objek pengganti. Read the rest of this entry »