Archive for the ‘Sosiologi Pembangunan’ Category

LAPORAN PENELITIAN

DAMPAK DAN EFEKTIVITAS PEMBANGUNAN RUSUNAWA

DI KELURAHAN JOHO, SUKOHARJO

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh:

Febrian Indra Rukmana                  D0310021

Hanif Imaduddin                              D0310025

Joko Prasetyo                                    D0310033

Lutfi Arfiansyah                               D0310039

Yudha                                                            D0310065

Dimas Dwi                                         D3207003

JURUSAN SOIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Problematika kepadatan penduduk masyarakat kota berbanding terbalik dengan semakin minimnya ketersediaan lahan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya laju perpindahan penduduk dari desa ke kota akibat tuntutan hidup yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu juga laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga lahan semakin langka. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah Jawa Tengah membangun rumah susun (rusun) sebagai alternative tempat tinggal untuk merelokasi warga kalangan menengah ke bawah (Rusunawa Desa Gamping, Kelurahan Joho, Sukoharjo)

Pembangunan rumah susun merupakan respon terhadap kebutuhan rumah bagi masyarakat. Rumah susun menjadi alternative pilihan untuk penyediaan hunian karena merupakan pilihan yang ideal bagi negara-negara berkembang. Daerah yang mempunyai tingkat  kepadatan penduduk yang tinggi memiliki permasalahan pada kurangnya ketersediaan hunian, ketidaklayakan hunian, dan keterbatasan lahan. Hal ini membutuhkan suatu konsep perencanaan dan pembangunan yang tepat agar permasalahan hunian dapat terselesaikan.

Menurut UU No.16 tahun 1985 tentang rumah susun. Rumah Susun diartikan sebagai berikut: “Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.Jadi bisa dikatakan bahwa rumah susun merupakan suatu pengertian yuridis arti bangunan gedung bertingkat yang senantiasa mengandung sistem kepemilikan perseorangan dan hak bersama, yang penggunaannya bersifat hunian atau bukan hunian. Secara mandiri ataupun terpadu sebagai satu kesatuan sistem pembangunan. Atau Rumah Susun adalah bangunan yang dibangun untuk menampung sekumpulan manusia yang terorganisir kedalam suatu wadah dengan pertimbangangan kehidupan manusia hidup secara layak secara horizontal dan vertikal dengan sistem pengelolaan yang menganut konsep kebersamaan. Read the rest of this entry »

MODERNISASI MELANGGENGKAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN?

Tugas untuk memenuhi matakuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Modernisasi melanggengkan pengangguran sekaligus kemiskinan?

Pernyataan diatas tak bisa disangkal lagi bahkan memang benar-benar terjadi bahwa modernisasi melanggengkan pengangguran sekaligus kemiskinan yang semakin banyak terjadi. Apa sebenarnya sebab dari pernyataan diatas? Menurut saya sebabnya adalah ketidakmampuan dalam bersaing, artinya seorang yang tidak dapat bersaing dalam dunia modernisasi akan “kalah” dan ujung dari semua itu adalah menjadi seorang yang menganggur, katakanlah sebuah perusahaan tas yang memproduksi barang yang monoton dan tidak mengikuti perkembangan jaman tentu saja akan terjerembab dalam kebangkrutan dan tentu selain menimbulkan pengangguran kemiskinan juga akan mengikutinya. Dijaman yang modern semuanya sudah instan, mesin-mesin yang digunakan sudah canggih, dan tak lagi repot-repot memerlukan tenaga manusia yang banyak yang dapat menjadikan pemborosan bagi sebuah perusahaan. Biasanya mereka yang menjadi pengangguran adalah mereka yang tidak dapat menguasai atau mengoprasikan  teknologi (salah satunya), mereka yang masih menggunakan cara lama atau cara tradisional seperti masih menulis dengan mesin ketik tentu tak bisa mengoprasikan komputer yang lebih canggih dan minim akan kesalahan dari pada menggunakan mesin ketik yang sudah dimakan usia atau sudah bukan jamannya. Selain itu juga ada paham yang yang menyatakan masyarakan tradisional merupakan sebuah masyarakat turun temurun yang harus selalu dijaga keberadaan, tak ada mesin-mesin, bahkan sebuah listrik, karena mereka menolak akan modernisasi. Pada jaman seperti sekarang ini masih ada masyarakat seperti itu, ada beberapa masyarakat disuku pedalaman yang enggan menerapkan modernisasi, akibatnya mereka tetap dengan mata pencahariannya yang tak begitu banyak menghasilkan dan tentu saja kemiskinan terus menghantui mereka. Lalu apa yang harus dilakukan agar tidak kalah bersaing dalam dunia yang modern seperti sekarang ini? kuncinya adalah sebuah pendididkan[1], seperti dalam bukunya Arief Budiman. Pendidikan adalah sebuah kunci yang paling efektif untuk mengubah manusia yang tadinya dari tradisional menjadi sebuah manusia yang modern. Dengan memberikan pendidikan dan ketrampilan pada masyarakat yang kalah bersaing dengan dunia modern, mereka akan semakin terampil dan lebih berfikir keras untuk ikut berkompetisi dalam dunia modern sehingga mereka tak lagi menjadi pengangguran dan kemiskinan sedikit demi sedikit akan menjauh dari mereka. Setelah mengikuti pendidikan dan ketrampilan selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengalaman bekerja. Mereka yang menganggur dan sudah mendapatkan pendidikan dan ketrampilan akan diterjunkan dalam dunia kerja, semisal dipabrik yang modern. Pertama mereka akan sedikit kebingungan, tetapi mereka telah menerima pendidikan dan ketrampilan  tidak akan canggung maka mereka akan cepat beradaptasi dengan mudah untuk mengerjakan sesuatu dipabrik yang modern tersebut. Jika mereka yang mendapatkan pendidikan dan ketrampilan mudah menyerap apa itu arti modernisasi mereka akan berfikir dan berinovasi untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan bagi para penganggur, supaya dapat menekan pengangguran dan kemiskinan akan turun. Demikian analisa saya mengenai modernisasi yang dapat menjadikan pengangguran dan kemiskinan. Read the rest of this entry »

MENGANALISA GAMBAR

SUNGAI MINI CHEONGGYECHEON DI SEOUL

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh :

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/194-sungai-mini-cheonggyecheon-yang-menghanyutkan

Gambar diatas adalah Sungai Cheonggyecheon yang berada di Seoul, Korea Selatan. Jika dilihat sepintas, sungai itu merupakan sebuah proyek yang telah dirancang dengan sedemikian rupa dan yang pasti membutuhkan dana yang lumayan besar. Mengapa tidak, sepintas sungai itu terlihat rapi tertata, dengan pepohonan yang juga menjadi bagian hiasan sungai itu agar menjadi lebih cantik, selain itu tak terlihat sampah yang hanyut terbawa aliran sungai Cheonggyecheon tersebut, dapat dilihat juga para penjalan kaki menikmati sungai yang mengalir tak begitu deras, jernih, sekaligus bersih, dan yang lebih penting menarik untuk dipandang. Ada yang sedang duduk menikmati aliran sungainya, ada yang sedang bersantai dengan pasangannya dipinggiran sungai itu, ada pula pejalan kaki yang menyeberang dengan santai tanpa harus menahan bau yang menyengat yang diakibatkan oleh sampah (bukan bermaksud untuk menyindir sungai yang ada di Indonesia). Pembangunan yang telah direncanakan dengan matang dan biaya yang telah dipersiapkan kedepannya, menjadikan sungai Cheonggyecheon ini menjadi salah satu tempat pariwisata di Seoul, Korea Selatan, yang banyak sekali digandrungi oleh masyarakat sekitar dan juga para turis-turis yang sedang berkunjung disana. Read the rest of this entry »