Archive for the ‘Hubungan Kerja’ Category

NASIBMU PARA PEKERJA BURUH (INDONESIA) KU

Tugas Untuk Memenuhi Matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Betapa bersyukurnya kita yang masih diberikan kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Banyak yang tidak mendapatkan kesempatan seperti kita, duduk dibangku kuliah, masih dalam pengawasan orang tua (uang saku, tempat tinggal atau kos, dan lain sebagainya), dan betapa menyedihkannya kita yang tidak mau bersyukur dan memandang remeh kalau kuliah itu tidak lebih sekedar hanya siapa yang paling betah dalam mendengarkan “curahan hati” seorang dosen yang sedang galau, katakanlah seperti itu. lalu disisi dunia kita yang lain, ada banyak orang yang berharap seperti kita namun nasip berkata sedemikian rupa. Mereka-mereka dengan pendidikan seadanya (lulusan SD, SMP, atau maksimal SMA) hanya mampu bekerja sebagai seorang karyawan, masih untung menjadi seorang pekerja outsourcing dari pada tidak bekerja dan menganggur menambah beban pikiran keluarga, tentu juga negara. Dengan baju seragam kualitas rendah, satu atau dua stel, berangkat pagi buta saat orang-orang masih memejamkan mata, mereka rela dan ikhlas menahan terpaan dinginnya pagi dari pada harus tidak pergi bekerja dan yang ada pemutusan hubungan kerja atau PHK. Mereka bekerja dalam sebuah gedung diperusahaan, bagai terkurung dalam sebuah sangkar mereka dipaksa untuk bekerja dengan hasil yang maksimal tetapi upah yang mereka terima itu tidak seberapa dengan tenaga, waktu, serta kondisi mereka baik tua, muda, sakit, ataupun sehat mereka tetap dianggap sama saja. Read the rest of this entry »

ANALISA KASUS OUTSOURCING

Tugas untuk memenuhi matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Salah Satu Contoh Kasus Outsoucing di indonesia adalah sebagai berikut:

Di JICT, Jangan Ada Pekerja “Outsourcing”

Rabu, 21 April 2010 | 20:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Manajemen Jakarta International Container Terminal (JICT) diminta segera menyelesaikan nasib ribuan karyawan outsourcing di terminalnya yang sampai sekarang masih terkatung-katung untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sistem outsourcing harus segera dihapus karena akan berdampak pada implementasi International Ships and Port Security (ISPS) Code di Pelabuhan Tanjung Priok. Pekerja outsourcing harus diangkat sebagai karyawan organik,” kata Koordinator International Transport Worker’s Federation (ITF) di Indonesia, Hanafi Rustandi, dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Dikatakannya, ITF sangat prihatin dengan sikap manajemen JICT yang tidak peduli dengan nasib pekerja dengan mengabaikan nota pemeriksaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang merekomendasikan agar para pekerja outsourcing diangkat menjadi karyawan tetap.

Menurut Hanafi, untuk menyelesaikan tuntutan pekerja tersebut, Kemenakertrans pada 31 Maret 2010 telah mengirim surat kepada manajemen JICT. Intinya, JICT diminta melaksanakan UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan mengangkat pekerja outsourcing menjadi karyawan organik. “Namun hingga saat ini permintaan Kemenakertrans tersebut tidak  digubris,” katanya.

Kasus ini mencuat setelah ribuan pekerja outsourcing di pelabuhan/terminal petikemas itu menuntut diangkat menjadi karyawan tetap. Kontrak kerja outsourcing ditandatangani oleh manajemen JICT dengan beberapa vendor, yakni PT Philia Mandiri Sejahtera, Koperasi Pegawai Maritim, dan Koperasi Karyawan JICT.

Mereka antara lain bekerja sebagai operator rubber tired gantry crane, head truck, quay crane, radio officer, dan maintenance. “Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan inti yang terkait langsung dalam proses produksi dan berada di lini satu pelabuhan/terminal peti kemas,” kata Hanafi yang juga Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI). Read the rest of this entry »

MOTIVASI KERJA

Tugas untuk memenuhi matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Usaha Kecil Menengah atau UKM seperti permbuatan tas daur ulang umumnya diawali dari sebuah semangat berusaha kewirausahaan, seseorang yang akan mempertaruhakan semua miliknya dengan memikul segala resiko yang ada. [1] Para wirausahawan seperti pembuatan tas daur ulang ini umumnya menjalankan perusahaan berdasarkan naluri dan kebiasaanya sendiri selaku pemilik. Pada saat perusahaan tersebut masih kecil (berbasis rumah tangga) boleh jadi tidak masalah. Akan tetapi ketika perusahaan berkembang lebih besar akan terjadi sebuah tantangan yang begitu kompleks, masalah-masalah mulai muncul, misalnya kejenuhan para pekerja dalam mengerjakan atau memproduksi barang yang menjadi tumpuan perusahaan tersebut. Jika terjadi seperti itu katakanlah, maka arah perkembangan perusahaan itu sendiri akan cenderung monoton, menurun dan bahkan bisa bangkrut. Apa yang seharunya dilakukan untuk memotivasi para pekerja (pembuat tas daur ulang) agar terus bersemangat berkerja dan yang lebih penting mengembangkan kreativitas para pekerja dalam membuat tas daur ulang ini? Menurut saya, motivasi yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Upah

Upah yang deberikan sesuai dengan ketentuan yang ada, lebih baik dalam memberikan upah para pekerja juga diikutsertakan dalam menentukan jumlah upah yang diterima, dalam menentukan jumlah upah yang diterima itu tidak sembarangan dalam arti harus melihat kualitas dalam pengerjaan barang, keaktifan para pekerja, kreatifitas para pekerja, keuntungan yang didapat perusahaan pembuat tas daur ulang, pemasaran (lokal atau internasional) dan lain sebagainya.

2. Penghargaan

Dengan memberi penghargaan kepada para pekerja yang aktif, kreatif, inovatif baik itu berupa tambahan upah, atau hari libur, para pekerja akan terus giat dalam mengerjakan pekerjaannya karena penghargaan itu akan memberi motivasi yang lebih guna menciptakan sebuah produk yang berkualias pula seperti para pekerjanya.

3. Dorongan

Para pekerja yang belum bisa atau malah bosan dengan pekerjaan harus didorong mentalnya untuk menjadi lebih baik. Baik itu dengan cara memberikan petunjuk, contoh, dan nasehat untuk para pekerja yang belum bisa bekerja menjahit (misalnya) dengan cara yang halus dan sabar. Lalu dengan cara memberikan dorongan juga untuk para pekerja yang sudah bosan dengan pekerjaan baik itu dengan cara memberikan nasehat-nasehat yang menenangkan ataupun memberikan sebuah liburan sebentar untuk menenangkan pikiran para pekerja.

4. Adil

Para pekerja mendapatkan hasil dengan apa yang telah dikerjakannya, tidak memilih-milih para pekerja yang cantik katakanlah seperti itu untuk mendapatkan keuntungan perusahaan tersebut.

5. Berkarisma dan Berwibawa

Dengan pemimpin yang berkarisma dan berwibawa tentu para pekerja akan tidak merasa bosan dengan pemimpinnya, justru akan merasa betah dan senang dengan pekerjaan yang mereka geluti. Read the rest of this entry »

NASIP PERBURUHAN DI INDONESIA MENDATANG

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Hubungan Kerja


Oleh

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Buruh adalah tema pinggiran dalam laporan media masa kita. Kelas sosial maha penting ini kerap dimunculkan dalam potretnya yang nestapa. Sering kita saksikan ditelevisi, kamera yang menangkap secuil pamandangan bilik-bilik sempit nan becek, asab pabrik, dan getar mesin. Gurauan pahit diselingi musik dangdut. Kita menyaksikan para buruh itu bergerak menuju pabrik. Mungkin dengan kesadaran yang kurang, bahwa mereka adalah alas dunia. Bahwa pada merekalah ekonomi kita bersandar. Bahwa upah murah mereka telah menggoda pemilik modal, global maupun nasional, dengan gairah investasi meluap-luap. Bahwa hidup mereka tetap melarat, meskipun pabrik gencar melahirkan barang-barang. Dibalik dinding pabrik, ada pemilik modal dengan saku kian tebal. Media kadang juga luput memotret kehidupan buruh itu dengan lebih tajam. Kelas pekerja ini, bagaian mayoritas dari rakyat Indonesia, misalkan harus menanggung berbagai kebijakan dari kekuasaan yang tak memihak mereka. Di parlemen, nyaris tak ada partai berdiri tegak membela kepentingan buruh, meski reformasi politik membuka peluang. Para buruh kerap menjadi statistik. Angka-angka berderet. Tapi tak tertangkap apa yang ada dibaliknya, cerita tentang kerja produksi dengan keringat dan air mata. Read the rest of this entry »