Archive for the ‘Cerbung’ Category

Namaku Riski, salah satu mahasiswa universitas negeri di Yogyakarta. Sekarang aku semester 4, tidak terlalu tua apalagi tidak terlalu muda, pertengahanlah… aku perempuan loh, nanti dikira laki-laki, karena nama Riski sepertinya identik dengan nama laki-laki. Buah yang jatuh memanglah tidak jauh dari pohonnya. Aku sejak kecil suka akan hal-hal yang berbau social. Sampai-sampai saat sekolah dasar aku membantu temanku mencari uang dengan mengamen dijalanan, tapi saat diperempatan jalan, aku ketahuan ama orangtuaku, apa yang terjadi? Yang terjadi biasa aja, aku tak dimarahi ataupun tak dibentak-bentak seperti kebanyakn anak orang kaya lainnya, yang orang tuanya tak mengajarkan akan nilai-nilai social yang ada dalam masyarakat dan jijik akan masyarakat kelas bawah. Saat itu aku aku hanya diberi nasehat oleh orang tuaku, teman sekolah dasarku yang biasanya mengamen dijalanan akhirnya diberi pekerjaan oleh ibuku untuk berjualan kue dari warung ke warung setiap hari siangnya setelah sepulang sekolah, kalau tidak ada pekerjaan rumah, aku selalu ikut menemani teman sekolah dasarku itu. Dibilang anak manja, emmm ya begituah, karena aku anak satu-satunya dirumah, tak ada kakak ataupun adik, aku anak perempuan tunggal. Tapi gak tau kenapa aku risik akan perlakuan kedua orang tuaku itu, yang selalu menuruti apa permintaaku dan kemauanku.
Aku paling tidak betah ketika dosen yang mengajarkan matakuliah ( …) Beliau selalu mendiskriditkan orang-orang kelas bawah atau kata beliau dengan tegas ORANG MISKIN, dan menjunjung tinggi orang-orang kaya. Kata beliau orang miskin banyak banget permasalahannya, lain halnya orang kaya, jika orang kaya punya banyak uang hidup akan tentram. Apa iya? Apa iya orang kaya dan orang miskin seperti itu? Orang tidak mampu memang banyak masalah yang dihadapi, memenuhi kebutuhan sehari-hari sulit, hutang dengan tetangga, kriminalitas tinggi, tergoda melakukan pekerjaan yang menyimpang dari norma masyarakat, dan lain sebagainya. Kalau orang kaya banyak uang, hidup enak, mapan, kebutuhan sehari-hari tercukupi bahkan lebih, tak perlu hutang, dan lain sebagainya. Tapi kita perlu tau, orang tidak mampu itu bagaimana. Mereka pekerja keras, walaupun hanya cukup untuk menghidupi 1 hari saja keluarganya mereka akan lakukan, mereka tak patah semangat, biar hidup susah tapi mereka masih bisa tersenyum, mereka bersyukur, mereka masih ingat akan yang menghidupi mereka selama ini, mereka beribadah, berdoa, dan berusaha sekuat tenaga mereka. Kalau kebanyakan OKNUM orang kaya maupun OKB (orang kaya baru) apa mereka tentram? Karena takut akan kemalingan, rumahnya saja dibangun tembok bermeter-meter tingginya, karena takut uangnya habis mereka yang punya jabatan tinggi maupun rendah cari-cari kesempatan buat curi-curi orang, bahkan sampai ada yang menggunakan mantra, roh halus, jampi-jampi atau apalah namanya untuk terus menumpuk harta kekayaannya. Hemmm… Aku sebenarnya tidak dilahirkan menjadi orang kaya, tapi sebaliknya, dan aku bangga akan statusku yang sebenarnya, menjadi orang bawah.
Hidup memang tak selamanya dapat untuk diprediksi. Tapi hidup pula yang memberiku sesuatu untuk menjadi seorang manusia seutuhnya, menjadi diriku yang sebenarnya. Tak dapat dipercaya bahwa semua teori yang ada tak terbukti kebenarannya, tak dapat dipercaya bahwa seorang ibu yang dikenal akan kasih sayangnya sepanjang masa mempertaruhkan darah dagingnya untuk hidup normal seperti anak biasanya. Bukan karena ibu itu adalah pelacur jalanan, bukan berarti ibu itu adalah wanita selingkuhan, tapi ibu itu tak kuat melihat anaknya nanti mempunyai masa depan yang suram seperti dirinya. Read the rest of this entry »

Danny memberikan sebuah cincin untuk Ana di danau terkutuk. Apa jawaban Ana? Apakah Ana setuju untuk menjadi pasangan Danny?

“bagaimana, Ana? Aku katakan sekali lagi, apakah kau mau menjadi istriku? Em…?”, Danny bertanya sekali lagi.

Danny berharap-harap cemas menunggu jawaban Ana. Ia ingin jawaban ‘iya, baiklah, aku mau, dan jawaban sejenisnya’ bukan jawaban sebaliknya. Wajah Ana tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Danny. Ana hanya terkejut sekaligus hanya terdiam. Ana lalu menundukkan kepalanya.

“Ana… kau tak apa-apa? baiklah… aku tak butuh jawaban sekarang, kau bisa memikirkannya esok hari, bagaimana?”, tanya Danny dengan wajah yang berbinar-binar.

Ana mulai menengadahkan kepalanya dan ia mulai berbicara, “Danny… maaf…”. hanya itu yang dikatakan Ana dengan wajah yang sedih menahan tetes air mata yang jatuh.

Danny bingung dengan apa yang dikatakan Ana. Ia mengira Ana menolak cintanya, tetapi Danny lebih merasa terkejut dan bingung lagi ketika para pasangan yang juga sama seperti Danny dan Ana yang ada di danau yang sedang berpacaran di atas perahu menodongkan pistol padanya. Ternyata mereka adalah polisi yang menyamar. “angkat tangan!!!”, kata salah seorang yang menodongkan pistol pada Danny. Ana kembali menundukkan kepalanya lagi, ia menahan dengan sangat keras agar air matanya tidak jatuh. Ia sebenarnya ingin menjadi istri Danny, tetapi ia sudah berjanji dengan atasannya untuk menangkap Danny.

Dengan raut muka yang sedih dan kecewa Danny berkata, “Ana… kau… kau…”.

Ana lalu mulai berbicara lagi, tetapi ia menyembunyikan kesedihannya dengan amarahnya. “iya!!! Aku memang memancingmu untuk dapat menangkapmu!!! Menangkap seorang buronan!!! Kau tau, aku sudah ratusan kali melakukannya!!! Melakukan seperti ini!!! kau mau marah?! Kau membenciku?! Itu sudah biasa!!! Terserah!!! Karena aku sudah beres menangkapmu, tinggal aku mendapatkan uang bagianku!!! Kau mengerti sekarang!!!”, amarah yang dilampiaskan Ana.

“Ana… kau tau… aku menunggu saat-saat ini, ketika kita selesai berpura-pura menjadi pasangan dan makan di restoran dengan harga murah (sedikit tertawa) dan kau kekenyangan lalu aku menggondongmu untuk pulang ke rumah, sebenarnya… aku… aku ingin sekali menjadi pasanganmu… sampai aku menuggu… menunggu waktu yang pas untuk mengatakannya, ya… hari ini…”, Danny dengan kejujurannya.

“kenapa kalian hanya menodongkan pistol saja padanya!!! Cepat tangkap dia!!! D*mm!!!”, kata Ana.

Perahu mulai berlabuh dipinggiran danau. Danny akhirnya tertangkap. Ia terus memandang dan terus memandang tanpa mengalihkan pandangannya dari Ana. Danny tidak marah, ia hanya tersenyum. Danny yakin, hati Ana yang akan menentukan hidupnya. “Ana, aku berkata sekali lagi… apa kau mau menjadi istriku? Ingat Ana, kau bukan orang seperti itu, aku mengenalmu… aku mengenal senyummu… aku mengenal cara berbicaramu… dan… aku mengenal hatimu…”, kata Danny. Ana hanya melihat danau, dan Danny ada dibelakangnya. Danny lalu dimasukkan dalam mobil polisi dan dibawa ketempat penjara sementara dinegara bagian Pluto.

“anda akan ikut nona Ana?”, tanya salah seorang polisi.

“tidak… nanti aku akan menyusul, kalian duluan saja…”, kata Ana dengan nada lirih.

Mobil polisi dan rombongannya pun akhirnya meninggalkan danau, tetapi Ana tetap disana dan hanya melihati danau itu. air mata Ana kemudian tumpah. Ia menangis kencang. Kencang sekali. Ana lalu berteriak, “iya… aku mau menjadi pasanganmu, Danny!!!”. Ana menangis lagi di danau.

Akhirnya, “D A N N Y  T E R T A N G K A P

Apakah Sofie akan menangkap Sam?

“kau ingin menangkapku Sofie? Kau adalah polisi kan?”, tanya Sam.

Sofie kemudian pura-pura mabuk, ia lalu merangkul Sam. Sofie lalu membisikkan sesuatu pada Sam, “ayo kita pergi dari sini, ada polisi yang menyamar menjadi pelayan restoran…”. dengan rasa bingung, Sam lalu mengantar Sofie ke mobilnya. Dengan sigap, Sofie lalu menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari restoran itu. Tetapi beberapa polisi yang menyamar menjadi polisi itu akhirnya tau dan mengejar Sofie dan Sam dari belakang. Polisi akhirnya tidak dapat mengejar Sofie dan Sam.

“apa yang kau lakukan Sofie?!”, tanya Sam.

“diam! Aku tidak ingin kau tertangkap, aku… aku mencintaimu Sam…”, jawab Sofie. Hanphone Sofie berbunyi, dan siapa tebak yang menelphone? Seorang polisi.

“nona Sofie… tolong kembalilah dan berika Sam pada kami, atau… atau kedua orang tua ini akan kami tangkap sebagai pengganti Sam…”, kata salah seorang polisi. Polisi itu ternyata menyandera nenek dan kakek Sam.

“Sam… kakek dan nenek mu…”, kata Sofie.

“kenapa??? Oh… sh*t!!! Kita harus kesana Sofie, ayo cepat antar aku…!!!”, kata Sam.

“apa kau gila Sam…!!! kau akan tertangkap…!!! aku tak ingin kau tertangkap Sam…!!! aku mencintaimu…”, Sofie memohon pada Sam.

“dan aku tidak ingin mereka menangkap nenek dan kakekku Sofie… ayo cepat…”, Sam dengan terburu-buru.

“tapi Sam…”, kata Sofie.

Akhirnya keduanya memutuskan untuk kembali ke kota dan menuju rumah Sam. Dan di sanalah Sam akhirnya tertangkap.

“jagalah nenek dan kakekku Sofie… aku mencintaimu…”, kata Sam. Sam lalu masuk dalam mobil polisi dan dibawa kepenjara sama seperti Danny.

“sekarang kau puas, nona… Sam sudah seperti anak kami sendiri… sekarang kami akan menjalani hari-hari tua tanpa semangat Sam…”, kata nenek.

“sudahlah nek… maafkan kami nona Sofie… kau memang bertindak dengan benar, kau menangkap seorang buronan, buronan yang hatinya baik…”, kata kakek.

“maafkan aku kek, nek… Sam…”, kata Sofie.

Nenek dan kakek pergi begitu saja, tanpa memperhatikan Sofie. Sofie akhirnya menangis dan menyesal…

Akhirnya, “S A M  T E R T A N G K A P”.

Apa jawaban Kimberly?

“ya, aku akan menangkapmu Peter…”, kata Kimberly. Kimberly dengan cepat memborgol tangan Peter dan menodongkan pistol padanya. Kimberly lalu menelphone polisi untuk membantunya, beberapa polisi sesaat sebelum datang ke bukit…

“Kimberly? Apa-apaan ini (sambil sidikit tersenyum)? kau… kau tidak menghianatiku kan? Kimberly… tolong jawab aku!!!”, kata Peter. Kimberly hanya diam. “aku tak menyangka… aku tak menyangka kau seperti ini Kimberly… kau ingin uang setelah kau bisa menangkapku?! He?! Aku akan bekerja seharian penuh untuk mndapatkan uang jika kau mau menjadi istriku… kau ingin kehormatan?! Aku akan bersedia tunduk kepadamu dan akan melakukan apapun yang kau mau jika kau menjadi istriku… Kimberly, jawab aku!!!”, tanya Peter.

“cukup… cukup… cukup Peter!!! Kau hanya seorang buronan yang tak tau malu!!!”, kata Kimberly. Ia sebenarnya tidak ingin mengatakan kata-kata itu pada Peter, karena Kimberly jatuh cinta pada Peter. Bagaimanapun, ia telah berjanji akan menangkap salah satu buronan, dan itu Peter.

Polisi akhirnya datang. Polisi itu akhirnya menyeret Peter masuk dalam mobil polisi. Polisi kesusahan memasukkan Peter dalam mobil polisi karena Peter melawan.

“aku tau kau tak ingin semua itu, uang ataupun kehormatan… aku tau dirimu, Kimberly… kau ingin… kau menginginkan tantangan bersamaku… kau lupa apa yang telah kita lakukan bersama? Aku tau kau ingin itu Kimberly… aku tau…”, kata Peter. Kimberly tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya. “aku tau Kimberly!!! Aku tau yang kau mau… aku tau!!!”, teriak Peter. Akhirnya Peter masuk juga dalam mobil polisi dan dibawa ketempat yang sama seperti Danny dan Sam.

Dengan terus memalingkan wajah, Kimberly tidak ingin melihat Peter dibawa oleh polisi. Ia lalu menangis. Seorang gadis tomboy yang menangis terisak isak…

Akhirnya, “P E T E R  T E R T A N G K A P”.

Setelah Chistina mencium John, ia berbalik dan berjalan. John kaget dan terkejut, bungkusan makanan yang ia bawa akhirnya terjatuh ketika dari belakang ada sebuah pistol yang ditodongkan padanya. Ternyata yang menodongkan pistol itu adalah polisi.

“Christina… terima kasih.. kau telah menjadi teman baik untukku… aku mencintaimu…“, kata terakhir John sebelum ia dibawa polisi. Polisi akhirnya membawanya ketempat yang sama juga seperti Danny, Sam, dan Peter. Dengan terus berjalan tanpa memperhatikan John yang dibawa mobil polisi, ternyata Christina menangis. Ia lalu berhenti berjalan, tetapi mobil polisi sudah pergi menjauh darinya. “maafkan aku John…”, kata Christina. Christina juga sama mempunyai perasaan seperti anggota Fiverus lainnya, jatuh cinta pada orang yang diincarnya yang tak lain adalah seorang buronan. Christina lalu memungut bungkusan-bungkusan makanan yang dijatuhkan John tadi dan ia membuangnya ke tempat sampah. Christina lalu pergi sendirian ke gudang, tempat yatim piatu, John, dan Christina itu sendiri berkumpul. Saat ingin ke gudang, Christina membeli 5 kotak pizza untuk diberikan pada anak-anak yatim piatu. Sampailah Christina ketempat tujuan. Anak-anak senang sekali dengan apa yang dibawa Christina.

Hari itu adalah giliran Dino untuk berdoa. “terima kasih Tuhan, kami hari ini makan enak… (Sasha memelototi Dino karena berdoanya yang kurang sopan) hehe… kau berikan kami perlindungan dan rizky yang melimpah, semoga kau juga melindungi malaikat kami… kak Christina… dan kak John tentunya… lindungilah mereka, dimanapun mereka berada… amin”, doa Dino.

“selamat makan anak-anak…”, kata Christina. Tetapi Christina malah bingung. Tidak ada yang mau memakan makanan yang ia bawa.

“kenapa kalian tidak langsung memakannya? Nanti kalau dingin rasanya akan berbeda… ayo makan…”, suruh Christina.

“kakak lupa? Kita kan tiap malam hari makan bersama, kami akan menunggu kak John sampai datang… ia masih bekerja di restoran ya kak? Wah sibuk sekali… tapi kami akan menunggunya…”, kata Sasha, salah seorang anak yatim piatu itu. “ia akan datang ke sini kan kak?”, tanya Sasha.

Senyum Christina yang cerah memudar. Ia bingung ingin menjawab pertanyaan Sasha. “em… em… ya… semoga saja kak John datang ke sini…”, jawab Christina.

30 menit sudah berjalan, dan John tak kunjung datang. Anak-anak juga sudah mulai bosan apalagi lapar. Dengan rasa bersalah dan berat hati, Christina akan berkata jujur pada anak-anak itu.

“anak-anak, sepertinya, malam ini kak John tidak akan datang… ia… hem… ia ditangkap polisi…”, kata Christina.

“apa?! kakak bercanda kan? Kenapa? Kak John kan orang yang paling baik didunia… aku tau kakak John tidak bersalah, kakak percaya, kak John tidak bersalahkan… “, kata Agnes, anak yatim piatu paling muda yang berusia 2 tahun.

Christina lalu memeluk agnes, dan membisikkan sesuatu pada Agnes, “iya… kakak percaya… John tidak bersalah…”.

Christina lalu keluar dari gedung dan menangis, menyesal dengan apa yang telah ia perbuatan pada John.

Akhirnya, “J O H N  T E R T A N G K A P

“Kau? Alex? Apa maksudmu?”, tanya Charlie.

“aku adalah salah satu dari kelompok yang memburumu… dan aku akan menangkapmu seperti menangkap yang lain… aku tak ingin menangkapmu Charlie, tapi untung saja kau membawaku kesini, polisi sudah bersiap datang ke rumahku untuk menangkapmu…”, jawab Alex.

“ha??? Kau…kenapa baru saat ini kau mengatakannya Alex…”, kata Charlie bingung.

“tapi aku sadar Charlie, kau adalah orang yang baik dan aku tau kau tidak melakukannya…”, kata Alex.

“melakukannya? Maksudmu membunuhkan? Kau… Alex, dengarkan aku… aku tidak melakukannya, kau tau… kami hanya pemuda yang takut akan polisi saat itu, kami tidak dapat berpikir jernih pada saat kejadian itu… Alex… kau percaya? (Alex mengangguk) sebentar, kau tadi bilang menangkap yang lain? Maksudmu teman-temanku yang lain? Apa mereka tertangkap?”, tanya Charlie.

“maafkan aku Charlie… aku dapat pesan dari temanku yang menangkap temanmu yang lain, mereka menjawab ‘success’…”, kata Alex.

“dimana mereka semua?”, tanya Charlie.

“mereka berempat dipenjara untuk sementara waktu dinegara bagian Pluto, para polisi akan menangkap 1 buronan lagi, yaitu kau…”, jawab Alex.

“baiklah… aku akan menyelamatkan mereka…”, kata Charlie.

“apa kau gila!!! Kau bisa tertangkap Charlie… aku akan ikut bersamamu… tolong…mungkin aku dapat membantumu…”, kata Alex.

Charlie mengijinkan Alex untuk ikut dengannya, karena Charlie juga sedang membutuhkan 1 orang agar rencananya berhasil. Keesokan paginya Charlie dan Alex pergi kenegara bagian Pluto, pagi sekali. Sebagian polisi disana belum pada datang.

Alex lalu memborgol kedua tangan Charlie. Ia lalu menggiring Charlie masuk dalam penjara.

“nona… nona Alex… iya kan? (Alex hanya mengangguk) keempat tersangka buronan telah ditangkap, mari saya tunjukkan tempatnya”, kata seorang polisi yang berjaga sendirian.

Setelah polisi itu menunjukkan dan membuka tempat keempat buronan yang telah ditanggkap, Alex (?) lalu memukul polisi itu dari belakang, dan polisi itu akhirnya pingsan.

“Charlie… kau tertangkap juga… tapi…”, kata John.

Alex (?) lalu membuka borgol tangan Charlie (?).

Tanpa disadari, Sam langsung memeluk Charlie (?), “terima kasih Charlie, kau telah menyelamatkan kami…”. Charlie menjerit dan membuat semua orang yang ada disitu terkejut. “Charlie… kau… kenapa dengan suaramu? Suaramu… mirip perempuan…???”, Sam bingung.

“aku bukan Charlie bodoh!!! Aku Alex!!!”, kata Charlie gadungan, yang sebenarnya itu adalah Alex. Ternyata Charlie merubah penampilannya menjadi Alex, dan Alex dirubah penampilannya menjadi Charlie oleh Charlie sendiri (ingat cerita bagian yang pertama?.

“hey!!! Apa yang kau lakukan dengan pacarku, Sam!!!”, kata Charlie yang asli.

“sudah aku duga…”, kata Danny.

“ayo cepat kita keluar dari sini sebelum polisi banyak yang akan datang… ayo cepat… (Peter tetap duduk, yang lain pada berlari keluar) apa yang kau tunggu Peter?”, tanya Charlie.

“aku ingin tetap di sini, kalian pergilah… aku yang membuat semua ini kacau, dan sekarang, aku akan menanggungnya…”, kata Peter dengan menyesal.

Charlie lalu menengadahkan tangannya. “kau ingat… kita bukan hanya sahabat kawan, kita adalah keluarga…”, kata Charlie.

Peter lalu memeluk Charlie dan meminta maaf, “maafkan aku Charlie…”.

Charlie lalu menonjok wajah Peter sampai bibirnya berdarah. “apa yang kau lalukan Charlie?! Sakit tau?!”, kata Peter.

“hey.. aku membalas saat kita ada dijalan waktu itu… hehe…”, kata Charlie.

Mereka berdua akhirnya keluar dari penjara dan mengikuti yang lain. Danny sebelum keluar ia mengambil senjata yang dimiliki oleh polisi yang pingsan tadi. Suara tembakan akhirnya tak terelakkan. Dan yang menangani tembakan itu tidak lain adalah Danny sendiri. “cepat kalian ambil mobil kalian…”, kata Danny. Akhirnya dengan sigap, Charlie dan kawan-kawan mengambil mobil Alex tanpa ada yang terluka. Charlie dan kawan-kawannya telah masuk disusul Danny. Mereka berenam desak desakan didalam mobil Alex, dan akhirnya mereka berenam pergi dari tempat polisi itu dengan selamat. Siapa lagi kalau bukan seorang pembalap yang mengemudikan mobil mereka, Peter.

Alex lalu menelphone teman-temannya yang lain, Kimberly, Christina, Ana, dan Sofie. Alex menyuruh mereka berempat untuk berkumpul diperempatan tempat pertama kalinya mereka menemukan Charlie dan kawan-kawannya. Ia mengatakan butuh bantuan dalam menangkap Charlie. Setelah beberapa jam mereka berempat berkumpul diperempatan jalan, disusul Alex. Alex lalu keluar dari mobilnya.

“kenapa kau ini? kau tak dapat menangkap buronan itu?”, kata Kimberly.

“kau membutuhkan kami? Untuk apa?”, kata Ana.

“berarti kita gagal mendapatkan bayaran sejumlah uang yang telah dijanjikan? Itu bagus…”, kata Christina.

“bagus? Sejak kapan kau tidak lagi tertarik dengan uang?”, tanya Sofie.

“dengarkan teman-teman… katakan pada ku, kalian… kalian jatuh cinta pada para buronan itu kan?”, tanya Alex. Mereka berempat diam dengan sekejap. Mereka diam tak dapat menjawab.

“ok… kau menyuruh kita kesini hanya untuk bertanya seperti itu? kami berempat telah memenjarakan para incarna kami kedalam penjara, bagaimana denganmu? Nihil? Haha…”, tanya Kimberly.

“sudahlah Kimberly, kau jangan mengalihkan pertanyaanku… jawab saja. (Kimberly tetap tidak bisa menjawab) ok, baiklah…!!! Kimberly, kau jatuh cinta dengan Peter, jatuh cinta dengan segala tantangannya. Bagaimana denganmu Ana? Kau juga jatuh cinta dengan Danny, ia orang yang sangat spesial kan buatmu? Romantiskan? Bagaimana dengan kau Christina? Kau luluh dengan hati seorang pria sederhana seperti John. Iya kan? Dan kau, Sofie…!!! apakah Sam pria baik yang telah kau temui selama hidupmu? He??!”, kata Alex.

“kau bercanda Alex?! Kami…”, kata Ana.

Alex langsung berkata, “sudah cukup, Ana!!! Tak usah ada yang berbohong lagi!!! Aku sudah tau semuanya!!!”. Saat dijalan, Peter, John, Sam, dan Danny mengatakan semuanya pada Alex. Tentang cintanya.

“kau benar… dia… John… telah menyadarkanku. barang-barang, uang, makanan yang lezat tak memberikanku kebahagiaan yang utuh…”, kata Christina.

“kau??? Kau tau dari mana Alex??!”, tanya Sofie.

“aku tau dari mereka… (John, Peter, Sam, dan Danny keluar dari mobil Alex)…”, kata Alex.

Sofie dan kawan-kawannya sangat sangat terkejut ketika melihat pria-pria yang dicintainya ada didepan mata mereka. Terakhir mereka telah ditangkap dan dimasukkan dalam penjara. Akhirnya satu per satu dari merka berlari menuju kearah pria yang dicintainya masing-masing. ada yang menangis, berciuman, bahkan ada yang marah-marah, tetapi mereka semua bahagia telah bersama lagi tanpa jeruji besi yang menghalangi.

“kau berhasil Charlie… berhasil…”, Alex mengucapkan terima kasih pada Charlie.

“tidak. Bukan aku. Kita… kita berhasil… terima kasih Alex…”, kata Charlie. Charlie lalu mencium dengan hangat Alex, begitu juga dengan pasangan yang lain.

“apa kalian siap menuju kehidupan yang baru penuh tantangan!!!”, kata Peter. “yeah!!!”, semuanya setuju. Akhirnya setiap pasangan mendapatkan tumpangan mobil dan tidak harus berdesak desakan dimobil Alex. Mereka bersepuluh akhirnya pergi dari negara bagian Pluto, mencari tempat teraman, karena polisi sudah menetapkan 5 anggota Fiverus juga menjadi buronan.

“kau tak takut untuk menjadi buronan Christina?”tanya John.

“this is my life… J “, kata Christina.

Itulah kehidupan, positif dan negatif tergantung penilaian kita terhadap profesi itu. kalau kita lebih bijak, arif, dan berpikir dengan jernih mengenai hal itu, kita akan menemukan sebuah nilai. Nilai yang tak dapat kita temukan hanya dengan membaca buku, mendengarkan guru atau dosen dikelas. Nilai apa itu? nilai kehidupan yang sebenarnya, tanpa teori, tanpa rumus-rumus. Dan itu dapat kita peroleh dari masyarakat, karena masyarakat adalah sebuah pelajaran konkret yang nyata.

THE END

nOte : 18+

Cerita ini hanyalah sebuah cerita karangan dan imajinasi penulis, walaupun ada juga beberapa yang nyata, tetapi penulis tidak bermaksud untuk menghina atau menyinggung orang yang dimaksud. Cerita ini terispirasi setelah penulis mendengarkan sebuah lagu. Sebuah lagu yang nyentrik seperti penyanyinya. Siapa itu? ini dia…

Lady Gaga – Bad Kids


We don’t care what people say

We know the truth

Enough is enough with this horse sh*t

I am not a freak

I was born with my freedom

Don’t tell me I’m less than my freedom

I’m a b*tch, I’m a loser baby maybe I should quit

I’m a jerk, wish i had the money but I can’t find work

I’m a brat, I’m a selfish punk, I really should be smacked.

My parents tried until they got divorced.

‘Cause I ruined their lives.

I’m a bad kid

And I will survive

Oh I’m a bad kid

Don’t know wrong from right

I’m a bad kid and this is my life

One of the bad kids

Don’t know wrong from right

(This is my life)

Don’t be insecure

if your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid

A bad kid baby

Don’t be insecure

If your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid

A bad kid baby

A bad kid baby

Don’t be insecure

I’m a twit, degenerate, young rebel and I’m proud of it

Pump your fist

If you would rather mess up than put up with this

I’m a nerd, I chew gum and smoke in your face I’m absurd.

I’m so bad and I don’t give a damn, l love it when you’re mad

When you’re mad

When you’re mad

I’m a bad kid

and I will survive

oh I’m a bad kid

Don’t know wrong from right

I’m a bad kid and this is my life

One of the bad kids

Don’t know wrong from right

(This is my life)

Don’t be insecure

If your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid baby

Don’t be insecure

If your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid baby

A bad kid baby

A bad kid baby

Don’t be insecure

I’m not that typical baby

I’m a bad kid like my Mom and Dad made me

I’m not that cool and you hate me

I’m a bad kid that’s the way that they made me

I’m a bad kid I’m disastrous

Give me your money or I’ll hold my breath

I’m a bad kid and I will survive

One of the bad kids

Don’t know wrong from right

Don’t be insecure

If your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid baby

Don’t be insecure

if your heart is pure

You’re still good to me if you’re a bad kid baby

A bad kid baby

A bad kid baby

A bad kid baby

A bad kid baby

Pesan terakhirku, terima kasih pada teman-teman yang telah setia menemani dan memberikan komentar atapun jempol pada artikel ini. terima kasih pada pacar? Tidak… saat ini aku masih lajang, hehe :p . terima kasih juga untuk Lady Gaga, dengan lagunya yang ekstra nyentrik aku jadi terinspirasi untuk menulis sebuah cerita, “thank you so much, mother monster!!!”.

Bagaimana kehidupan Peter, Sam, dan Danny?

Peter yang saat ini berada di kota Nasa dan bekerja sebagai ‘pengasuh’ sapi jantan yang akan digunakan untuk pertandingan rodeo pagi ini menjalani hari dengan rasa yang bersemangat, bersemangat? Ya, karena ia mendapatkan seorang teman baru, Kimberly, anggota dari Fiverus yang pasti, dan akan berencana menangkap Peter itu sendiri. Pagi ini ini Peter sepertinya terlambat datang untuk ke perternakan. Sekitar jam 9 pagi ia baru datang, untungnya bos pemilik peternakan itu tidak tau. Setelah ia menyelesaikan tugasnya di peternakan, ia buru-buru pulang untuk mempersiapkan sesuatu. Apa yang dipersiapkan Peter? Dan untuk siapa Peter menyiapkan sesuatu yang misterius ini? Peter saat ini sedang menyiapkan sesuatu kejutan untuk Kimberly. Kejutan untuk Kimberly? Ya, sesaat setelah Kimberly ditraktir minuman oleh Peter karena ia telah menunjukkan keberaniannya menungggangi sapi jantan, walaupun tidak agresif, Peter memberi kejutan pada Kimberly berupa makan malam. Makan malam? Untuk Kimberly? Sebenarnya Peter memang tidak jago dalam hal memasak, tetapi kenapa ia harus menyiapkan makan malam untuk Kimberly? Ternyata Kimberly menatang Peter untuk memasak. Dan sebagai pria yang jantan, Peter tidak menolak tantangan Kimberly, karena bagi Peter tantangan adalah kehidupannya.

Pukul 19.00 tepat waktu setempat, Peter baru menyiapkan meja dan cahaya berupa lilin. Ini acara makan malam biasa atau makan malam khusus ya? Kenapa harus ada lilin segala… huam. Dan Kimberly sudah datang ke kontrakan Peter.

“hey… aku lapar, apa kau sudah selesai dengan tantanganku?” tanya Kimberly.

“wow… (Peter terdiam kagum melihat Kimberly dengan gaun hitamnya yang elegan) kau terlihat cantik…”, jawab Peter.

“sorry???”, Kimberly bertanya.

“ow… maksudku… ya, ya aku sudah siap… kau bisa duduk disini… (sambil mempersilakan Kimberly duduk yang telah dipersiapkan dari awal)”, jawab Peter.

“thanks Peter. Kau sendirian di sini?”, tanya Kimberly.

“tentu… tapi, aku nanti tidak akan sendirian lagi jika ada kau di sini… hehe”, Peter sambil tersenyum.

“ha???”, Kimberly bingung.

Makanan sudah siap. Peter menata satu persatu makanan yang telah ia buat sendiri. Bagaimana dengan rasanya?

“lady first… silakan cicipi makanan spesial buatanku… hehe”, kata Peter.

“hey… kau tidak meracuni makanan ini kan? Kelihatannya enak, bentuknya lumayan. Baikklah, aku akan mencobanya…”, kata Kimberly.

Setelah Kimberly mencicipi makanan yang dibuat Peter, “wow… Peter… ini… sungguh sangat… sangat… em… sangat… sangat… “, kata Kimberly.

“ya??? Ya??? Sangat??? (Peter mendambakan Kimberly mengucapkan kata enak)”, Peter berharap.

“sangat… sangat … sangat hambar, Peter… ow… sorry. Kalau kau tidak percaya, kau bisa langsung merasakannya… ayo, makanlah…”, suruh Kimberly.

Peter akhirnya mencicipi makanan buatannya sendiri, dan memang benar, hambar rasanya.

“hehe… maaf Kimberly… ini memang hambar. Baik, kau menang…”, kata Peter.

Mereka berdua akhirnya tertawa. Dan beberapa menit kemudian suasana kembali sunyi. Peter melakukan aksinya.

“sebaiknya kita pergi dari sini, makanan ini tak akan berubah menjadi makanan ala restoran. Ikut aku Kimberly… come on…”, Peter mengajak Kimberly pergi.

Kimberly tak menolak ajakan Peter. Mereka pergi jalan-jalan dengan berjalan kaki. Peter ingin melakukan ide yang sangat gila.

“Kimberly, kau lihat, bagus ya motornya? (Peter dan Kimberly mendekati motor seseoran yang yang diparkir depan bar)”, tanya Peter.

“em… ya. So?”, Kimberly balik bertanya.

“aku akan mengendarainya…”, kata Peter.

“what?! Apa kau gila! Ini bukan motormu Peter?!”, Kimberly terkejut.

“apa kau takut? Mana keberanian yang kau miliki saat menunggangi sapi waktu itu?”, tanya Peter.

Peter lalu menaiki motor seseorang yang tidak ia kenal, kunci motornya juga ada. Ia menyalakan mesinnya. Kemudian pemilik motor datang dari kejauhan, “hay!!! Pencuri!!!”, kata pemilik motor.

“ayo cepat naik Kimberly, kau mau dihajar pria besar itu?! ayo cepat?!”, suruh Peter.

“tapi Peter… tapi… tapi aku tidak memakai jins… tapi ya sudahlah…”, kata Kimberly terburur-buru. Dengan gaun yang indah nan elegan, Kimberly akhirnya memaksakan untuk ikut Peter walau roknya harus sobek.

“tenang kawan!!! Nanti aku kembalikan motormu!!!”, kata Peter kepada pemilik motor tersebut.

Peter dan Kimberly menikmati kegilaan ini. Peter mengebut layaknya seorang pembalap. Selain ia seorang pembalap mobil amatiran, ia juga seorang pembalap motor walaupun ia tidak pernah mengikuti kejuaraan lomba motor.

“kau orang tergila yang pernah aku temui Peter!!!”, Kimberly berteriak sambil merangkul erat Peter.

“apa??! aku tidak dengar??! Kau mencintaiku??!”, jawab Peter.

Peter pun melaju dengan kecepatan penuh untuk pergi kesuatu tempat. Ia pergi ke bukit. Sampailah mereka berdua di sana.

“kau membawaku ke sini???”, Kimberly bingung.

“lihatlah di balakangmu…”, jawab Peter.

Kimberly lalu melihat kebelakang dan berlari. “wow!!! Awesome!!! Peter kau… kau… gila!!!”, Kimberly kagum. Ia melihat pemandangan kota dari atas bukit. Penuh kerlap kerlip lampu yang berwarna warni.

“kita akan menghitung satu per satu lampu rumah yang akan padam. Bagaimana?”, tanya Peter.

“satu… dua… aku udah dapat dua!”, kata Kimberly.

“hey, kau curang…”, kata Peter.

Mereka sambil duduk menghitung lampu-lampu rumah yang akan padam karena sudah waktunya untuk tidur.

“95… 96… 97… 98… 99…”, Peter menghitung lampu yang telah padam. Sebelumnya Kimberly juga ikut menghitung, tetapi ia telah terlelap tidur pulas dibahu kanan Peter. Peter lalu mendekap Kimberly dengan jaket hangatnya agar tidak kedinginan. Akhirnya Peter juga ikut tidur. Malam itu bagi mereka merupakan malam yang indah, malam tergila tetapi berkesan. Peter terbangun saat matahari mulai terbit, indah sekali. “Kimberly… Kimberly… kau harus lihat ini…”, kata Peter.

“em… (sambil mengusap usap matanya, ia juga tidak sadar tidur dibahu Peter) ow.. Peter, maaf, aku… aku…”, Kimberly minta maaf karena tidur dibahunya Peter. Kimberly lalu melihat matahari terbit pagi itu dan ia sangat sangat kagum. “wow… Peter… ini… sangat cantik…”, Kimberly yang kagum dengan matahari terbit itu.

Pagi itu, Peter dan Kimberly menikmati indahnya matahari terbit. Peter tanpa bertanya langsung mendekap Kimberly lagi. Dan Kimberly tidak keberatan, ia malah tersenyum sipu.

Pindah ke kota Sky, tempat Sam dan Danny berada. Sam pagi ini masih sama seperti biasa. Tetapi ia sudah tidak lagi ditemani kakek (keluarga barunya) untuk pergi mengantarkan susu ke rumah rumah. Anehnya, ia mengantarkan susu ke rumah Sofie belakangan. Harusnya ia mengantarkan susu ke rumah rumah urut dari abjad A lalu terakhir Z. Tetapi tidak untuk Sam, sepertinya Sam ada ‘rasa’ pada Sofie. Benarkah? Setelah sampai di rumah Sofie untuk mengantarkan  susus yang dipesannya, ia bingung. Apa yang membuat Sam bingung?

Pintu rumah Sofie tebuka, “hey… pagi… em…???”, Sofie pura-pura lupa nama Sam.

“Sam… ya Sam… ini susu pesanan mu… “, sambil memberikan 2 botol susu pada Sofie.

“oh… Sam, ya, sorry… oya, Sam… kau sudah tidak lagi mengantarkan susukan?”, tanya Sofie.

“ya… ini rumah terakhir yang aku kunjungi. Kenapa nona Sofie?”, Sam balik bertanya.

“nona??? Panggil saja aku Sofie, Sam. Kau bisa sarapan denganku… aku bosan sarapan sendirian, kau mau?”, kata Sofie.

“em… kalau itu tidak keberatan…”, jawab Sam.

Akhirnya mereka berdua sarapan pagi bersama. Mereka juga saling mengobrol satu sama lain.

“terima kasih sarapannya Sofie, kau memang handal dalam memasak. Aku harus pergi, aku harus membantu kakekku untuk bekerja lagi. Maaf merepotkan Sofie… aku pergi dulu… bhe…”, kata Sam.

“tidak pa-pa Sam, aku senang ada seseorang yang mau menemaniku sarapan… hati-hati, bhe…”, kata Sofie.

Sam lalu masuk dalam mobil, dan ia berjingkrak-jingkrak akhirnya dapat mengenal lebih jauh Sofie. Ia lalu pergi menemui kakeknya.

“berapa menit ini, Sam?”, tanya kakek.

“maaf kek, aku… aku… aku berkenalan dengan gadis itu, Sofie, kakek tau kan? Dia tadi pagi mengajakku untuk sarapan bersama…”, Sam senang sekali.

“wah… kakek turut gembira, semoga kau tidak mempermainkan gadis itu, Sam. Seperti kau waktu itu. aku yakin kau sudah tidak sama Sam. Kau harus ingat, kau sudah berbeda…”, kata kekek. Saat bertemu kakek dan nenek, keluarga barunya, Sam menceritakan semuanya pada mereka berdua. Jadi kekek tau siapa sebenarnya Sam itu.

“iya… aku tau kek, aku memang sudah berubah…”, kata Sam.

“nenek… nenek… lihat anak kita sudah mendapatkan pacar idamannya…”, kata kekek.

“kakek… apa maksudnya…”, tanya Sam.

“oya… kita harus mengadakan jamuan makan malam untuk kalian berdua…”, kata nenek.

“tapi nek…”, kata Sam.

Sam akhirnya mengalah, dan menuruti nenek dan kakeknya. Ia kemudian pergi ke rumah Sofie untuk mengajaknya makan malam. Apakah Sofie mau? Jelas ia mau, dengan demikian ia akan jauh lebih dekat dengan Sam, dan menangkapnya masuk ke dalam penjara.

Pukul 20.00 waktu setempat, Sam pergi ke rumah Sofie.

“ting…tong…”, suara bell rumah Sofie. Pintu terbuka dan Sam melihat Sofie dengan kagumnya. “kau, cantik Sofie…”, kata Sam.

“terima kasih Sam…”, jawab Sofie.

“kau sudah siap?”, tanya Sam.

“kapanpun kau siap Sam…”, jawab Sofie.

Mereka akhirnya pergi menuju rumah nenek dan kakeknya Sam. Dan sampailah mereka berdua. Sam saat itu memperkenalkan Sofie pada nenek dan kakeknya. Mereka sangat senang malam itu. jam 9 malam akhirnya mereka menyudahi makan malam itu, tetapi Sofie membantu neneknya Sam untuk ikut mencuci piring di dapur.

“kau cantik anakku… kau juga baik. kau tidak akan menyakiti Sam kan? Sam sudah kami anggap seperti anak kami sendiri…”, kata nenek.

Sofie hanya tersenyum. Setelah selesai mencuci piring, Sam mengantarkan Sofie pulang. Dan akhirnya sampailah mereka di rumah Sofie. Sam mengantarkan Sofie sampai depan pintunya.

“terima kasih Sofie… kau mau makan malam dengan kami…hehe…”, kata Sam.

“seharusnya aku yang berterima kasih Sam… terima kasih telah mengajakku makam malam… makanannya enak sekali… sungguh…”, kata Sofie.

Sesaat mereka masing-masing saling menundukkan kepalanya dan berdiam. Lalu kemudian Sofie berkata, “kau… tidak ingin masuk sebentar, Sam?”.

“tidak… terima kasih Sofie. Ini juga sudah malam. Lain hari saja, terima kasih… baik, aku pulang, selamat malam… bhe, Sofie…”, Sam mengucapkan salam pada Sofie.

“malam… bhe Sam…”, jawab Sofie.

“bhe…bhe… Sofie… (sambil berjalan mundur)”, kata Sam.

“bhe… Sam…”, kata Sofie.

“bhe…”, Sam lagi-lagi mengucapkan salam pada Sofie.

“bhe… “, jawab Sofie sambil tersenyum.

“b..he…”, Sam lagi.

Dengan senyuman yang manis Sofie lalu berlari menuju kearah Sam dan mencium pipinya. Sam terkejut, dan yang pasti sangat senang telah dicium orang yang diidam-idamkannya.

“wow… ini yang terakhir, bhe… Sofie…”, kata terakhir Sam.

Dengan wajah yang malu-malu Sofie membalas ucapan Sam, “sudahlah… bhe Sam…”, kata Sofie.

Sam akhirnya pergi dari rumah Sofie. Sofie jadi teringat keluarganya. Ia sudah lama sekali tak berjumpa dengan keluarganya. Apa lagi makan bersama. Dengan tergesa-gesa, Sofie lari dan masuk ke rumah. Ia lalu menelphone seseorang, siapa lagi kalau bukan Ibunya. Ia menangis, sangat menangis, benar-benar menangis.

Dilain tempat, masih di kota yang sama kota Sky, Danny sedang tidak sibuk karena tidak ada panggilan mengenai ledeng yang rusak. Ia lalu pergi jalan-jalan. Ia masih belum mengenal tentang daerah yang baru ia tinggali itu. ia sudah jauh dari tempat ia tinggal sekarang. Setelah jauh jalan, Danny lalu berteduh sembari istirahat di bawah pohon yang besar dan rindang. Dibalik kejauhan, Danny melihat sesuatu yang aneh. Ia melihat sebuah perahu rongsokan. Ia kemudian ingin melihat lebih dekat perahu itu. dan setelah dilihat lebih dekat, ada seperti sebuah jurang, ia sempat menengok jurang itu, dan… Danny takjub bukan kepalang ketika melihat sebuah danau yang sangat cantik nan natural. Danau itu terbuat secara alami. Tetapi sayang, tidak ada seorangpun yang pergi untuk berwisata ke danau itu. kenapa ya? Danny lalu mengambil jalan lain untuk melihat lebih dekat danau indah itu. setelah sampai, Danny membasuhkan air danau itu ke mukanya. Ia sempat kaget ketika Danny ingin membasuh mukanya lagi dengan air, dari air muncul seorang pria paruh baya. Ternyata pria itu tidak muncul dari dalam danau, tetapi dari belakang Danny yang wajahnya terlihat oleh air. Akhirnya paman itu dan Danny berbincang bincang mengenai danau itu. dan ia juga merasa bingung, aneh, dan tidak percaya tentang apa yang dikatakan paman itu. ternyata danau itu sudah lama sekali tidak dikunjungi oleh wisatawan baik wisatawan lokal atau pun pengunjung dari kota-kota lain. Dahulu banyak sekali wisatawan yang berkunjung ke danau itu. tetapi entah kenapa, sejak ada sepasang pemuda dan pemudi yang meninggal misterius di danau itu, ada mitos yang mengatakan bahwa danau itu terkutuk. Pasangan itu meninggal tenggelam di danau dan sampai saat ini mayat mereka berdua tidak ditemukan juga, sudah 49 tahun lamanya. Danny lalu bertanya kenapa danau yang indah ini dikatakan terkutuk. Kata paman itu, tiap kali ada sepasang pemuda dan pemudi yang berpacaran atau beristirahan sekedar menikmati danau ini, pasti ada saja diantara pasangan itu yang terkena kutukan dari danau itu, mulai dari salah satu pasangan yang berpacaran di danau itu kecelakaan, ada yang langsung putus cintanya, ada juga yang sampai bunuh diri gara-gara cintanya putus, dan itu hanya ditemui di danau ini.

“wow… cerita yang menakjubkan… tapi… apa paman percaya dengan cerita-cerita yang beredar seperti itu?”, tanya Danny.

“percaya tidak percaya nak…paman pernah mengalaminya sendiri. saat itu paman ingin menyatakan cinta seumur hidup paman kepada seorang gadis di danau ini. tetapi, saat paman ingin mengambil cincin disaku paman, cincin itu tidak ada, paman sebelumnya sudah menaruh cincin itu disaku, tetapi entah kenapa hilang. Paman lalu bergegas mengambil cincin itu ke dalam mobil, mungkin saja ketinggalan di dalam mobil. Cincin itu ternyata ada di dalam mobil, saat paman ingin menemui gadis yang akan paman nikahi, ia kelihatan aneh. Ia seperti dikejar-kejar serangga, ia lalu datang menghampiri paman, dan ketika berlari kearah paman, gadis yang akan paman nikahi itu terjatuh, dan kepalanya terbentur batu. Ia tidak sadarkan diri, dan…”, cerita paman.

“sudah paman… jangan diteruskan lagi… aku mengerti… “, kata Danny.

Setelah Danny tau cerita itu, Danny sempat tidak percaya mengenai mitos yang ada di danau itu. ia akan membuktikan bahwa mitos itu hanyalah karangan seorang saja. ia lalu pergi dari danau untuk balik kembali ke kontrakan tempat ia tinggal sekarang.

Hampir petang, Danny lalu keluar jalan kaki untuk mencari makanan. Ia sempat melewati rumah Ana dan melihatnya sedang duduk di depan rumahnya.

“hey… kau tidak kesurupan kan?”, celoteh Danny.

“hey… kau tukang ledeng itu kan? Sedang apa kau di sini?”, tanya Ana.

“iya… aku yang seharusnya bertanya sedang apa kau duduk disitu… aku sedang jalan-jalan untuk mencari makan…”, jawab Danny.

“boleh aku ikut? Aku kan baru di sini, jadi belum begitu tau daerah disini… boleh kan?”, tanya Ana.

“sebenarnya aku juga baru kan di sini, tetapi ayo… nanti kalau kita salah jalan tidak pa-pa kan? Hehe…”, canda Danny.

Ana lalu ikut dengan Danny untuk mencari makan. Ia lalu pergi k esebuah restoran yang ramai sekali dikunjungi banyak orang. Mereka berdua akhirnya masuk ke restoran tersebut.

“kalian pasangan suami istri kan? Kami ada menu khusus dan murah untuk kalian. Kalian ingin mencobanya?”, tanya pelayan restoran.

“ha? Maaf, kami…”, kata Ana.

“hey, ya kami adalah pasangan yang baru menikah. Kami juga baru tinggal di sini. Kami ingin mencoba menu itu…”, Danny berbohong.

“wah… selamat menempuh hidup baru… pesanan kalian akan segera kami hidangkan…”, kata pelayan.

“Danny??! Apa maksudmu?”, tanya Ana.

“tenang… apa kita tidak boleh makan murah? Lihat menu disini? Semuanya mahal… bagaimana?”, Danny balik bertanya.

“baiklah… terserah kau saja… hihi…”, kata Ana.

Akhirnya mereka makan juga, walaupun harus berbohong untuk mendapatkan makanan khusus yang mewah tapi harganya murah. Setelah keluar dari restoran itu, Danny sempat melihat brosur bar. 1 bir gratis 2, untuk pasangan. Danny dan Ana akhirnya datang ke sana dan mengaku sebagai pasangan. Mereka menjalani hari-hari yang gila. Dan ternyata ada satu lagi, ada brosur tentang makan yang sangat terkenal di Jepang, Sushi, Danny mengajak Ana untuk masuk lagi, tetapi sepertinya Ana kekenyangan. Tetapi dengan sedikit paksaan Ana akhirnya ikut masuk dan makan juga dengan Danny. Keduanya akhirnya merasakan sangat kekenyangan, tetapi yang lebih kekenyangan tentu Ana (biasalah perempuan).

“Danny, aku sudah tidak kuat lagi… aku ingin istirahat (waktu menunjukkan pukul 22.00)”, Ana sudah tidak kuat lagi untuk berjalan, ia lalu langsung duduk di jalan.

“hey… kau kenapa? Ini sudah malam Ana. Huam… baiklah, aku akan memberikan tumpangan gratis padamu… ”, kata Danny. Danny lalu menggendong Ana, dan Ana juga tidak keberatan.

“kau… orang yang baik Danny…”, kata Ana.

“oya? Terima kasih…”, kata Danny.

“saat di restoran itu, kau tidak bersungguh sungguh kan? Tentang… aku adalah pasanganmu…”, tanya Ana.

“em… menurutmu??? Tentu tidak Ana, kau adalah sahabatku, benarkan?”, Danny sebenarnya ingin sekali menjadikan Ana sebagai pasangannya, bagaimana dengan Ana sendiri?

“ya… tentu saja… kita berteman…”, kata Ana, ia juga sebenarnya ingin sekali menjadi pasangan Danny.

Sampailah mereka di rumah Ana. “terima kasih Danny, aku pasti akan tidur pulas kekenyangan malam ini… hihi…”, kata Ana.

“hehe… baik… aku pulang dulu… selamat malam Ana…”, kata Danny.

“selamat malam Danny…”, kata Ana. Setelah mereka tidak saling memandang, Danny balik ke rumah dan Ana masuk ke rumahnya, keduanya tersenyum malu.

Mulai dari Charlie vs Alex, John vs Christina, Peter vs Kimberly, Sam vs Sofie, dan Danny vs Ana, ternyata ada perasaan. Perasaan apa itu? perasaan cinta maksudnya. Bagaimana dengan para anggota Fiverus itu? apakah tetap akan menangkap mangsanya? Kita lihat nanti…

Walaupun para mantan pria-pria panggilan itu menjadi buronan, tetapi mereka masing-masing telah melalui hari-hari dengan sangat menyenangkan bersama pasangannya (anggota Fiverus). Dan sedikit demi sedikit waktu mulai berjalan. Dan 13 hari sudah, para anggota Fiverus ini harus menangkap mangsanya malam hari paling lambat. Dan ternyata Charlie, John, Peter, Sam dan Danny telah menyiapkan malam khusus untuk pasangan yang akan menangkap mereka itu kejeruji penjara.

Malam itu, tepat dihari 13 saat yang seharusnya para anggota Fiverus menangkap buronannya mendapatkan kejutan.

Charlie malam itu mengajak Alex untuk pergi ke pegunungan tempat dahulu Charlie menggembala domba dan bertemu dengan Alex.

“Alex… sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku katakan sejak dari dulu, saat kita bertemu… aku…”, Charlie ingin mengatakan sesuatu pada Alex.

“kau mencintaiku? Menyayangiku? Ingin menjadikanku pendampingmu? Kau sudah aku terima Charlie… untuk apa kita ada di sini?”, Alex bingung. Charlie telah menembak Alex dan menjadikan pasangan hidupnya, tetapi tidak ada hadiah saat itu.

“aku… aku memberikanmu sepasang domba… lihat… kita bisa hidup di pegunungan ini. kita akan mempunyai anak di sini, dan tentu saja domba-domba itu juga akan semakin banyak… sekarang aku sudah punya domba sendirkan?”, kata Charlie.

“sebenarnya… aku adalah seorang yang akan menangkapmu untuk masuk ke dalam penjara Charlie…”, kata Alex dengan menyesal.

Charlie hanya diam, tak percaya, seperti patung…

Lalu ada John. Seperti biasa, John ditemani oleh Christina pergi ke gudang tempat anak-anak yatim piatu tinggal. Setelah selesai dengan pekerjaannya dan membawa makanan yang banyak ia berjalan ditemani Christina sambil menuntun sepedanya. Christina bingung sekali. Ia bingung karena ingin berkata jujur pada John.

“kau kenapa Christina? Kau kelihatan aneh? Kau sakit?”, tanya John.

“tidak… tidak John… aku… aku… mencintaimu… “, kata Christina sambil mencium bibir John.

“wow… kau…”, kata John.

Apa yang sebenarnya terjadi…

Kemudian ada Peter. Peter ingin menjadikan Kimberly sebagai kekasihnya. Mereka berdua akhirnya pergi ke bukit tempat pertama Kimberly mengagumi keindahan malam di kota.

“kau ingin aku melihat pemandangan indah kota lagi, Peter?”, tanya Kimberly.

“ya, tapi ini ada yang berbeda…”, jawab Peter. Setelah peter menelphone seseorang, Peter menyuruh memperhatikan baik-baik lampu di kota tersebut. Ternyata satu per satu lampu kota mati dan membentuk kata ‘I LOVE U’. “kau mau menjadi pasangan hidupku Kimberly? Selamanya?”, tanya Peter.

Apa jawaban Kimberly???

Ada Sam. Saat makan malam di restoran bersama Sofie. Ia ingin juga menjadikan Sofie sebagai pasangan hidupnya. Tetapi ditengah-tengah acara puncak Sam, Sofie malah pergi ke toilet. Sofie kelihatan aneh dan gugup sekaligus tegang.

“iya… “, kata Sofie.

“waktumu tinggal 2 jam lagi Sofie untuk menangkap buronan yang kamu incar…”, kata komandan Polisi.

“aku tau… tapi… baiklah, ini sudah perjanjian. Aku akan menangkap Sam…”, kata Sofie dengan sangat menyesal. Dan ternyata Sam mendengar pembicaraan Sofie dengan komandan Polisi tersebut. Sam lalu beranjak ketempat duduk seperti biasa.

“maaf Sam, ada keluargaku yang sangat mencemaskanku di rumah… em… em… “, Sofie berbohong.

Tanpa disadari, Sam mendekati Sofie dan menggenggamkan kedua tangannya. Sam menyerahkan diri. “kau ingin menangkapku? Silakan Sofie…”, kata Sam.

Sofie bingung dan malu, tentu saja juga sedih. “Sam…”, kata Sofie.

Apa Sofie akan menangkap Sam???

Yang terakhir ada Danny. Danny siangnya mengajak Ana untuk pergi ke danau terkutuk. Ia akan membuktikan kalau danau itu bukan terkutuk dan ia akan dapat menjadikan Ana sebagai pasangan hidupnya. Setelah mereka berdua di danau, Danny kaget, ia melihat lumayan banyak pasangan yang ada di danau itu. ketika Danny dan Ana diatas perahu mengarungi danau, perahunya berhenti.

“hey… ada ulat dibelakang bahumu…!”, kata Danny.

“ha??? Kau bercanda Danny…”, ia melihat kebelakang dan terkejut ketika melihat Danny membuka sebuah kota kecil berisi cincin.

“kau mau menjadi istriku, Ana?”, tanya Danny.

Apa jawaban Ana?

Bagaimana nasip mereka semua? Simak cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Setiap pagi Charlie, John, Peter, Danny, dan Sam melakukan kesehariannya menikmati pekerjaan yang baru. Tetapi, tanpa disadari mereka telah diincar para anggota Fiverus.

Di kota Aurora yang sangat cerah, Charlie seperti biasa menggembala domba-dombanya. Setiap pagi sampai sore ia harus berada di pegunungan untuk menggembala dan menjaga 500 ekor domba. Malam itu, Alex memilih menginap di pondok tempat Charlie sekarang tinggal dari pada berkemah sendirian di pegunungan. Pondok itu letaknya tidak jauh dari pegunungan. Setiap pagi dan sore hari, Charlie selalu dikirimi makanan kaleng oleh salah satu pegawai dari bos pemilik domba-domba yang digembala Charlie. Tetapi pagi ini, pegawai yang biasa mengirimi Charlie makanan kaleng tidak datang juga.

“kau menunggu makanan Charlie? Pegawai yang kerap mengirimimu makanan itu tidak datang ya? Em… dalam ranselku masih banyak makanan, aku tidak keberatan membaginya denganmu… bagaimana?”, kata Alex.

“hufh… Alex, kau memang dewi makanan untukku, hehe… aku pasti akan membalasnya suatu saat nanti… hehe…”, Charlie bercanda.

Sebenarnya sejak subuh tadi, pegawai yang biasa mengirimi Charlie makanan sudah datang, tetapi Alex meminta kepegawai itu untuk tidak lagi mengirimi makanan kepada Charlie. Alex mengaku ia adalah pacarnya, dan ia akan setiap pagi dan sore pergi ke kota dan kembali ke pegunungan untuk memasakkan makanan untuk Charlie. Alex berencanan untuk tinggal dengan Charlie dan menjeratnya masuk dalam lubang jeruji. Dan saat ini rencana Alex benar-benar sesuai dengan dugaannya. Mereka berdua akhirnya memasak di pondok yang sederhana. Setelah mereka sarapan pagi Charlie membuka kandang domba-dombanya untuk digembala di pegunungan, “sekarang rencanamu apa Alex? Kau akan menyusuri pegunungan ini?”, tanya Charlie sambil berjalan mengawal domba-dombanya.

“aku masih ada waktu 10 hari lagi untuk kembali ke kotaku, kalau boleh… aku ingin ikut bergabung menggembala domba bersamamu, pasti sangat menyenangkan mengisi kepenatan dengan ikut menggembala domba-domba itu, kau… tidak keberatan?”, Alex balik bertanya.

“kau yakin? Kau akan tidur di pondok yang sederhana ini, mandi ditempat yang terbuka, kau akan terkena bau domba-domba itu, dan kau akan merasa bosan serta depresi…”, jawab Charlie.

“kau berlebihan Charlie… itu yang aku inginkan. Kau tidak tau betapa aku sangat depresinya setiap kali mengerjakan tugas-tugasku di kantor pol…”, Alex hampir keceplosan.

“pol…???”, tanya Charlie.

“kantor Pol… onia… ya, aku bekerja di kantor Polonia, di sana banyak sekali surat-surat yang harus ditata dan dimasukkan dalam tempatnya tanpa ada yang tercecer… ya, begitulah, kau tau sendiri kan betapa sibuknya itu… hihi”, Alex menutupi kalau ia memang bekerja di kantor polisi.

“wow! Kantor pos? Aku dari dulu ingin sekali kesana, tetapi sampai sekarang itu belum terlaksana. Saat nenekku masih hidup, ia selalu mengirim surat untukku. Dan setiap saat itu pula aku juga menulis surat untuk nenekku, tetapi… aku tidak boleh mengirim surat itu ke kantor pos secara langsung karena… karena aku setiap hari harus selalu berlatih bermain musik di rumah, orang tua ku tidak mengijinkanku keluar bahkan setelah aku selesai mengikuti les musik… bagaimana menurutmu? Aku anak yang taat bukan? (Charlie tersenyum menahan sedihnya) Aku tak pernah membantah apa yang dikatakan kedua orang tuaku… tetapi sampai suatu saat… aku membantahnya, dan mereka malah menyukainya, apalagi saat aku pergi dari rumah…hem…”, dalam hati Charlie menangis, ia tersenyum tegar menerimanya.

“maaf, Charlie… aku tak bermaksud membuatmu sedih…”, kata Alex. Sesaat mereka berdua diam, sedikit lama, tetapi Alex mulai berbicara, “hey, kau tadi bilang tentang musik, aku juga sangat menyukai musik… selain aku bekerja di kantor pos, aku juga kadang bekerja sebagai Dj. Aku suka mencampur adukkan musik-musik yang mellow menjadi musik yang bersemangat… kau bagaimana?”, tanya Alex.

“benarkah? Aku dari kecil sudah dilatih dengan alat-alat musik klasik, tetapi aku lebih suka ini… sebentar aku akan mengambilnya… (Charlie mengambil sesuatu dari celana gunungnya) ini dia… aku sangat menyukai alat musik ini. alat musik ini sudah menemaniku dari kecil dan ini adalah warisan dari kakekku. Kau ingin aku memainkannya?”, Charlie yang riang gembira, tetapi tidak dengan Alex. Ia malah sangat sedih, matanya berkaca-kaca, dan ia mulai menangis.

“Alex… kau, kau tidak apa-apa… ada apa Alex?”, tanya Charlie.

Alex yang menangis lalu sontak ia mendekat dan memeluk Charlie dengan sangat erat, sangat-sangat erat. “Alex… kau kenapa?”, Charlie bertanya lagi tetapi tetap tidak dijawab oleh Alex. Charlie dengan bingung membiarkan Alex memeluknya, dan setelah tenang ia akan berusaha menanyakan sesuatu pada Alex.

Beberapa menit kemudian Alex mulai berbicara walau dengan nada yang masih sedikit sedih karena menangis tadi. “maafkan aku… Charlie… kau mengingatkanku akan seseorang. Seseorang yang telah lama meninggalkanku…”, sedikit terbata-bata Alex mengucapkannya.

“seseorang?”, Charlie yang semakin bingung.

Alex menjelaskan sesuatu, “iya… seseorang. Dia adalah ‘sahabatku’, ‘sahabatku’ sejak kecil. Aku adalah anak yatim piatu sejak kecil dan jalanan adalah kehidupanku. Saat kecil, aku bertemu seseorang. Seseorang itu bernama Tom. Ia yang melindungiku dari kejaran para polisi yang ingin menangkap para orang-orang gelandangan. Kami selalu bersama, mengamen dijalanan. Pianika, alat musik yang biasa kau mainkan itu, juga dimainkan oleh Tom. Dan, kejadian yang mengerikan itu muncul…”

(menceritakan masa lalu…;)

Saat Alex dan Tom sedang mengamen di pinggiran jalan dekat kantor bank, ada 2 orang perampok yang sedang dikejar polisi. Tetapi 1 perampok itu kabur kearah Alex dan Tom yang sedang mengamen. 1 orang perampok lagi dari kejauhan menodongkan pistol pada polisi dan bersiap untuk kabur dengan kendaraannya menghampiri perampok yang lari kearah Alex dan Tom. Tom ingin menggagalkan 1 orang perampok yang berlari kearahnya. Ia lalu menubruk kearah perampok itu, perampok dan Tom itu pun terjatuh, sama halnya juga pianika milik Tom yang jatuh kejalan besar. Saat Alex ingin mengambil pianika milik Tom, ia mendengar suara tembakan, ia tertegun diam bagai sebuah patung. Perampok yang menggunakan kendaraan itu akhirnya menghampiri temannya yang telah dijatuhkan oleh Tom, dan pianika itu tergilas oleh mobil perampok yang menghampiri temannya. Temannya akhirnya masuk dalam mobil dan kabur bebas dari polisi. Alex lalu membalikkan badannya, dan ia sangat sangat terkejut ketika melihat temannya, Tom, terbaring kaku ditrotoar. Alex langsung menghampirinya. Tom tertembak oleh perampok yang tadi ia halangi untuk kabur. “Tom… Tom… kau tidak apa-apa… tolong…! aku mohon tolong temanku…! (Alex meminta bantuan, ia juga sambil menangis) tenanglah Tom… kau akan baik-baik saja… pak polisi tolong panggilkan ambulan…!”, kata Alex. Polisi sedang menelphone dokter untuk segera membawa mobil ambulan.

“jangan menangis,,, Alex. Kau kelihatan seperti anak jalanan… Oya, kita memang anak jalanan,,, aku lupa,,, (Tom masih sempat melucu dengan kondisinya yang semakin parah dengan banyak sekali darah yang keluar)”, kata Tom dengan nada lirih menahan rasa sakit.

“jangan banyak bicara Tom… kau akan baik-baik saja…”, Alex berkata menenangkan.

“aku sangat baik Alex, aku… aku… sepertinya tidak dapat mendengar lagi suara mobil-mobil yang berlalu lalang itu, aku hanya bisa mendengar suaramu… Alex,,,”, kata Tom.

“kau bilang apa Tom… tidak mungkin… pak polisi cepat selamatkan nyawa temanku!”, Alex menyuruh polisi yang ada disana.

“Alex,,, apa kau menyukaiku? Aku berharap sejak saat itu aku menyelamatkanmu dari kejaran polisi, aku berharap akan lebih dari sekedar teman, apa kau menyukaiku,,, Alex?”, tanya Tom dengan nada yang semaikin serak dan lirih.

“iya, iya Tom… aku lebih dari menyukaimu… Aku, aku sangat mencintaimu Tom… aku mohon bertahanlah, dokter akan segera datang…”, kata Alex.

“benarkah? Kau mencintaiku, walau dalam bentukku yang lain? Kau mungkin bingung Alex,,, tapi, pianika, alat musik itu yang akan membuktikannya padamu suatu saat nanti… aku berharap dapat bertemu denganmu suatu saat nanti dengan membawa pianika seperti saat kita mengamen bersama… selamat tinggal,,, Alex,,,,,,,,,,,,,,,”, ucapan terakhir Tom.

Tom akhirnya meninggal sebelum dokter memberinya pertolongan, dan itu sangat memukul batin Alex.

“kemarilah…”, Charlie kemudian memeluk dengan hangat Alex. Alex kembali menangis.

“apakah orang ini yang sebenarnya kau maksud Tom?”, Alex berkata dalam hati. Ia berkata, “terima kasih, Charlie…”.

Siang hari yang terik, Alex tertidur dipelukan Charlie. Ia lalu bangun.

“Charlie, udaranya sangat panas disini. Aku ingin mandi, apa kau mau menemaniku? Ku takut ada seseorang yang akan mngintipku nanti”, tanya Alex.

“baiklah…, baddy, kau jaga sementara domba-dombanya ya? Aku akan mengantar Alex mandi sebentar… “, Charlie menyuruh anjingnya.

Charlie lalu mengantar Alex ke sungai tempat biasa ia juga mandi.

“sudah sampai… aku harapa kau tidak melepaaskan semua pakaianmu…”, kata Charlie.

“wow… airnya sangat segar, kau tidak ingin membasahi badanmu? (Charlie diam, ia membalikkan badan agar tidak dikira mengintip Alex). Alex lalu menyiramkan air ke tubuh Charlie dari belakang.

“what… Alex kau…”, kata Charlie.

Mereka lalu bermain air, sampai pakaian yang mereka kenakan basah kuyup. Hampir 30 menit kemudian, mereka berdua telah selesai bersenang-senang dengan air, lalu Alex merebut Baju Charlie.

“Alex… kembalikan…”, Charlie meminta bajunya kembali.

“kau mau bajumu? Tangkap aku… ayo Charlie, tangkap aku… hihi…”, kata Alex.

Mereka berdua akhirnya kejar-kejaran dipadang rumput yang hijau dipegunungan yang luas. (bayangkan seperti kejar-kejaran di india ya… :P). Charlie akhirnya dapat menangkap Alex dan mengambil bajunya, tetapi ia terpeleset dan tubuh Charlie menimpa Alex (tetapi tidak sampai tertindih). Mereka berdua diam… dan saling menatap satu sama lain… Alex dan Charlie memejamkan mata dan mereka akan berciuman, tetapi mereka berdua gagal berciuman karena mereka mendengar Buddy terus menggonggong dengan sangat kencang.

“oh… maafkan aku Alex. Sepertinya kita harus pergi dari sini, ayo cepat…”, kekawatiran Charlie dengan para dombanya. “Buddy, ada apa?”, tanya Charlie pada anjingnya. Ia sangat kaget sekaligus marah karena 1 ekor domba yang ia gembala dimakan oleh 2 kawanan srigala. 2 srigala itu memakan isi perut domba yang digembala Charlie. Charlie mengusir 2 srigala itu dengan senapan.

“ada apa Charlie? Ya tuhan…”, Alex yang terkejut melihat 1 ekor domba mati dimakan srigala.

“tak apa Buddy… kau telah berkerja dengan baik, maafkan aku telah meninggalkanmu…”, kata Charlie pada anjingnya.

Sore telah tiba, Charlie melaporkan pada bos pemilik domba-domba itu kalau ada 1 ekor domba yang terbunuh. Charlie pun langsung diberhentikan menjadi penggembala domba.

“hey, nak. Kau adalah penggembala domba yang terburuk yang pernah aku temui sepanjang hidupku. Kau tahu, imbalan uang dari ku tidak akan cukup untuk mengganti 1 dombaku yang mati. Ini bayaranmu…”, kata bos pemilik domba. Charlie hanya diberi imbalan seper enam dari uang yang telah dijanjikan.

“maafkan aku tuan, tapi… aku tidak keberatan jika tidak dibayar. Aku telah berbuat kesalahan…”, kata Charlie.

Bos pemilik domba pun langsung menyuruhnya pergi dan tetap mengambil uang yang telah ia berikan walaupun hanya seper enam dari uang yang telah dijanjikan.

“Charlie… aku benar-benar minta maaf… aku telah membuatmu kehilangan pekerjaan satu-satunya… jika saat itu aku tidak mengajakmu untuk kesungai, pasti kejadian ini tak akan pernah terjadi… aku benar-benar menyesal Charlie…”, Alex meminta maaf.

“iya, memang… aku kehilangan pekerjaan, Alex… tapi kau tau, aku… aku… aku tidak kehilangan dirimu… apa kau masih ada waktu untuk bersamaku?”, tanya Charlie.

“iya Charlie.. (sambil memeluk Charlie) aku masih ada waktu kurang lebih 10 hari lagi, tapi aku akan selalu bersamamu, selamanya…”, jawab Alex.

Alex merasa bingung, apakah ia akan memilih untuk menangkap Charlie, atau sebaliknya. Karena Alex merasakan benih-benih cinta pada Charlie…

Pagi –pagi John telah sibuk mengitari dari rumah-kerumah untuk menyebarkan koran dengan sepedanya. Saat koran terakhir ia lemparkan kerumah seseorang, lemparan koran John mengenai pemilik rumah, dan pemilik rumah itu adalah Christina.

“aw…! (leparan koran John mengenai kepala Christina)”, Christina yang terkena lemparan koran John.

“oh… sh*t… maaf.. maaf.. nona… apa kau tidak apa-apa? (sambil mendektai Christina)”, John meminta maaf.

“apa-apaan kau ini? aku hampir saja gagar otak tau!!! Ow… kau pelayan restoran itu ternyata…”, bentak Christina.

“iya.. maaf sekali lagi nona… aku tidak sengaja…memang seperti ini pekerjaanku… tapi bukan untuk menyakiti pelanggan yang membeli koran ini… maaf maaf maaf…”, John menyesal.

“dasar!!! Cepat pegi sana!!!”, Christina membentak John.

Hari mulai siang, John lakukan aktivitasnya yang kedua yaitu sebagai pelayan restoran.

“semuanya berkumpul, kita ada pelayan baru hari ini…silakan masuk Charistina…”, kata bos pemilik restoran.

“hey,,, guys,,, perkenalkan, namaku Christina… semoga kita dapat saling membantu dan melengkapi satu sama lain… misiku untuk menjadikan restoran ini semakin hot,,, maksudku semakin terkenal dan bertambah banyak pengunjungya… terima kasih…”, Christina memperkenalkan dirinya dihadapan pelayan lain.

John saat itu sangat terkejut melihat Chrstina bekerja sebagai pelayan. Tadi pagi ia sempat melihat rumahnya yang lumayan besar, tetapi kenapa ia memilih bekerja sebagai pelayan. Dalam benak John, “itu kan gadis yang tadi terkena lemparan koranku? Kemarin dia juga makan disini dengan pesanan yang membuatku pusing… huam… “.

“baiklah..kalian siap untuk hari ini!!!”, bos memberi semangat pada kru-krunya.

Mereka akhirnya bekerja. Christina lalu bergegas menuju kamar mandi. Apa yang dilakukannya? Pakaian seragam yang dikenakan Christina itu ia rasa terlihat tua. Ia lalu memotong rok yang dikenakannya menjadi pendek. Lengan bajunya ia gulung, ia juga tidak mengancing belahan bagian dadanya, dan mengikat bawah bajunya. Ia terlihat sangat sexy. Para pelayan pria pun tak lepas dari pandangan Christina. John lalu menghampirinya, “maaf, Christina benar kan? Apa yang kau lakukan dengan seragammu? Kau terlihat… terlihat tidak sopan. Ini restoran Christina, bukan bar…”, kata John.

“ow… hanya kau saja sepertinya yang mengkritikku, lihat yang lain biasa-biasa saja… kau tau, ini lah yang namanya mencari keuntungan. Aku akan menunjukkannya padamu… maaf, kau John kan? Salam kenal John,,,”, kata Christina.

Para pengunjung restoran itu langsung bedatangan. Dan Christina siap melakukan aksinya.

“hallo,,, pria gagah,,, apa yang bisa aku bantu,,,?”, Christina yang melayani pelanggan dengan sexynya. Pria itu tidak berkutik dan hanya menatapi dada Christina. “baiklah,,, kau butuh menu makan siang benar kan? Apa,,, kau juga butuh menu penutup,,,? (pria itu terus melihat dada Christina dan hanya mengangguk angguk) pesanan segera datang,,, oh,,, aku menjatuhkan bolpointnya,, (Christina sengaja menjatuhkan bolpointnya, dan pria itu melihat saat Christina mengambil bolpointnya tanpa berjongkong, jadi celana dalam Christina kelihatan) tunggu ya,,,”, kata Christina. Pria itu hanya mengangguk angguk saja menuruti apa yang dkatakan Chsritina. Christina menggaet pengunjung denga cara yang demikian, dan itu membuat keuntungan yang besar untuk restoran tempat ia bekerja. Biasanya pengunjung hanya memesan makan siang, tetapi dengan apa yang dilakukan Christina seperti itu, pengunjung menjadi memesan porsi yang doble dari biasanya, dan itu pasti menguntungkan. John yang melihat tingkah Christina hanya bisa menggeleng gelengkan kepalanya.

Dan sorepun telah sampai. “Kita hari ini mendapatkan keuntungan yang berlebih! Kita ucapkan terima kasih untuk Christina, pelayan baru kita!!! Yeah!!! Sebagai bonus, kalian bisa pulang sekarang…”, kata bos yang sedang berbinar-binar.

Jadwal tutup restoran yang biasanya jam 19.00 hari ini dipercepat jadi 17.00 karena bahan makanan di dapur juga sudah tidak mencukupi lagi, itu berkat Christina. Salah satu teman sekaligus pelayan disana, Jim, mendekati Christina. “hey, apa kau tidak keberatan aku mengantarmu pulang?”, tanya Jim.

Sebelum Christina menerima ajakan Jim , John langsung mendekati Christina, dan berkata, “mari kita pulang, Christina, kau sudah janji akan pulang bersamaku kan..”. John langsung menarik tangan Christina dan keluar dari restoran itu, “bhe Jim…”, John dan Christina mengucapkan sampai jumpa.

Dengan membawa bungkusan makanan yang kerap dibawa John dan menuntun sepedanya, ia mengantar Christina pulang.

“hey… kenapa kau ini? kau cemburu dengan Jim?”, tanya Christina.

“haha.. apa maksudmu cemburu? Tidak, aku tidak cemburu, aku hanya saja… “, kata John.

Christina memotong perkataan John, “hanya saja…???”.

“em… kau tau, setelah kau berpakaian seperti itu, Jim kerap melihatmu, dan aku yakin ia ada maksud lain dibalik semua itu…”, jawab John.

“ow… kau ingin melindungiku…? hihi…”, kata Christina.

John merasa malu, ia menutup nutupinya, “hey, pakailah jaket ini, itu akan sedikit menutupi tubuhmu…maaf… ”, John memakaikannya dengan susah payah karena selain ia menuntun sepedanya ia juga membawa banyak bungkusan makanan dari restoran tadi. Dan sepertinya Christina tersenyum malu.

“oya, untuk apa makanan sebanyak itu? kau akan berpesta makanan sisa?”, tanya Christina.

“hehe.. tidak… ini untuk seseorang…”, jawab John.

“seseorang?”, Chsritina semakin penasaran.

“iya… oya, itu jalur rumahmu kan? Kau bisa berjalan sendirian kesana? Aku akan melihatmu dari sini jika kau tidak berani…”, kata John.

“aku belum mau pulang John, apa aku boleh ikut denganmu? Please…”, dengan wajah yang memelas akhirnya Christina diperbolehkan untuk ikut dengannya. Dalam hati Christina, “okey, semakin dekat memang semakin baik… good job,Christina…hihi”.

Beberapa kemudian John dan Christina sampai pada tempat tujuannya, yaitu gudang.

“kau… kesini, untuk apa?”, tanya Christina.

“kau lihat saja nanti, semoga kau tidak bosan…”, Christina bertambah penasaran.

Setelah mereka masuk, “kita sepertinya punya waktu 20 menit untuk menyiapkan makanan ini, kau bisa membantuku?”, tanya John.

“bisa John, tapi untuk apa kau menyiapkan makanan digudang seperti ini…?”, kebingungan Christina.

Mereka akhirnya selesai menyiapkan makanan dari bungkusan yang dibawa John tadi.

“okey, kau siap Christina? Tolong kancingkan jaketmu, kau akan kelihatan aneh disini nanti…”, suruh John. John membuat penasaran Christina, ia juga mematuhi apa yang dikatakan John padanya.

Dari pintu gudang, seseorang mengetuk pintunya. John berlari dan membuka pintu gudang tersebut. Setelah pintu terbuka, masuklah satu persatu anak-anak yang menggunakan pakaian yang lusuh dan jauh dari kata cantik atau tampan.

“selamat petang kak John…”, semua anak-anak yang masuk mengucakan salam pada John sambil memeluk John.

“sebelum acara inti, kalian makan dulu biar tidak ngantuk… okey, Sasha (salah satu anak yang ikut berkumpul digudang tersebut) kau yng memimpin berdoa ya hari ini, silakan…”, suruh John dengan senyuman yang hangat.

“baik… ya Tuhan, hari ini kita bersembilan mendapatkan berkah dari Mu… dan dari kakak John (John mengerlipkan 1 matanya kearah Sasha sambil tersenyum) semoga hari ini, esok, dan seterusnya, berkah ini tidak hanya kita yang mendapatkannya, tetapi sahabat-sahabat kami yang masih ada diluar, lindungilah mereka, dan jagalah hatinya agar tetap terus bersama Mu…amin…”, doa Sasha.

John mengacungkan jempol pada Sasha. “silakan makan anak-anak, ingat, harus dihabiskan… banyak sekali teman-teman kita yang tidak seberuntung seperti kita hari ini… silakan makan anak-anak…”, John menyuruh kesembilan anak itu untuk makan.

Dilain sisi, Christina yang tak tau kenapa dadanya serasa sesak, ia sebetulnya menahan air mata. Christina sudah tidak menangis sejak usia 12 tahun. Jika ia bersedih, ia akan berbelanja barang-barang yang sebagian besar tidak ia gunakan, dan akhirnya hanya terpajang dilemarinya yang super besar. Ia sangat bahagia dan melupakan kesedihannya dengan berbelanja. Christina sebenarnya mengira gudang ini akan digunakan John untuk merencanakan sesuatu dengan teman-temannya yang juga menjadi seorang buronan. tetapi, ternyata itu salah besar, gudang yang sudah tidak dipakai itu digunakan untuk anak-anak yatim piatu sekaligus yang terlantar  sebagai tempat tidur, selain itu John juga biasa menceritakan hal-hal yang lucu pada anak-anak itu agar tidak terlalu depresi dengan kehidupan yang anak-anak itu jalani.

“aku yakin kau akan bosan… kau tidak mengatakan satu patah katapun Christina… apa kau mau aku antar pulang?”, tanya John.

“tidak… tidak John, aku akan menunggu…”, ujar Christina.

Setelah anak-anak itu selesai makan, seperti biasa mereka membentuk lingkatan kecil. Dan John akan mendongeng cerita-cerita yang lucu. John kan memang orang yang lucu sejak awal.

“oya, kita kedatangan tamu, kalian bisa memanggilnya dengan sebutkan kakak Christina… Christina, kemarilah,ikut bergabung bersama kita…”, suruh John.

Dengan sedikit kaku Christina melangkah mendekati mereka, Christina telah diberi tempat duduk disamping kiri John. Dengan seksama, anak-anak itu mendengarkan cerita-cerita lucu John yang membuat mereka tertawa semua, kecuali Christina, ia sesekali senyum, tetapi senyum Christina hambar, ia lebih suka menundukkan kepalanya. Christina sedang memikirkan sesuatu. Ia memikirkan bagaimana mungkin ia bersenang-senang dengan berbelanja banyak menghamburkan uang sedangkan dilain sisi banyak orang yang sangat membutuhkan, jangan-jangan berbelanja, makan saja akan-anak yang membutuhkan itu susah mencarinya, dan John ada disana saat untuk membantu anak-anak yang kurang beruntung itu.

Setelah jam 21.00 John lalu mengantar Christina pulang kerumahnya.

“maaf menunggu lama Christina… aku harap kau tidak keberatan… setiap malam aku memang selalu menghibur anak-anak itu…”, kata John.

“em… ya… ya tidak apa-apa…”, Christina masih memikirkan sesuatu.

“hey, kau mengantuk? Kau memang telah bekerja keras hari ini direstoran… “, kata John. John lalu menyuruh Christina untuk duduk disepedanya, didepan John duduk. Awalnya ia menolak, tetapi akhirnya ia mau juga. Dengan sedikit berat mengayuh sepedanya, John mengantarkan Christina pulang kerumahnya. Setelah sampai dirumahnya, “kau tidak ingin mampir sebentar?”, tanya Christina.

“tidak, terima kasih… ini juga sudah malam, selamat malam, Charistina… sampai ketemu besok ya…bhe…”, kata John.

“selamat malam John, bhe…”, kata Christina. Christina masih memakai Jaket milik John. Ia kemudian melepas jaket milik John itu lalu memeluknya erat-erat, dan ia menangis…

Keesokan harinya saat apel direstoran, Christina terlambat. Saat itu John sangat kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Christina sudah tidak memakai seragam restoran yang sexy lagi. Dengan percaya diri ia langsung menghampiri John tanpa mempedulikan bosnya dan mengucapkan terima kasih sembari mengembalikan jaketnya yang telah ia pinjam semalam. Jaketnya telah Christina cuci dan ia semprotkan parfum khusus kesayangannya…

Pertanda apakah itu? lalu bagaimana dengan cerita Peter, Sam, dan Danny? Tunggu cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : +18

Alex lalu menghampiri Charlie yang duduk didekat mobilnya yang mogok. Charlie sudah ingin menyerah apabila ada polisi yang akan datang. Ia sudah lelah dengan permainan yang dibuat temannya.

“hey, butuh tumpangan?”, kata Alex. Charlie tidak menjawab Alex. Ia berdiam dengan menundukkan kepalanya. “kau sendirian di sini? Tidak ada kendaraan lagi yang akan lewat sini, kau lihat? Hanya ada aku dan jam sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih, bagaimana?”, Alex memberikan tumpangan.

Dengan nada yang serak, Charlie berkata, “kau punya makanan atau minuman?”.

“hem… tentu, aku punya keduanya, sebentar aku ambilkan”, Alex yang mengambilkan makanan dan minuman untuk Charlie. “boleh aku ikut bergabung (duduk) denganmu?”, pinta Alex. Charlie tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. “baiklah, itu aku anggap ‘tentu, mari bergabung denganku, dan kita menikmati matahari tenggelam dijalanan yang sepi ini’, hahaha…”, Alex melucu. Charlie tidak tertawa dengan humornya Alex, ia malah menatap aneh Alex. “ow… sorry, sepertinya kau saat ini tidak butuh lelucon…hehe”, Alex jadi kikuk. Charlie langsung melahap makanan dan minuman yang diberikan oleh Alex. “wow… kau bercanda, kapan kau terakhir makan, sepertinya kau benar-benar menikmati makanan ini ya?”, kata Alex.

Setelah selesai menghabiskan makanan dan minuman yang diberikan Alex, Charlie kemudian mengucapakan sesuatu, “terima kasih, makanan dan minumannya. Sekarang kau boleh pergi, jika suatu saat nanti aku bertemu denganmu lagi, aku akan membalas kebaikanmu. Sekarang kau boleh pergi…”.

“kenapa kau ini? kau mengusirku? Aku lebih nyaman di sini. Tidak ada seseorang yang mau menemaniku saat ini, kecuali kau…hihi”, kata Alex.

“bukan, bukan begitu… kau pasti ada urusan yang lain lagi, aku tak mau menganggumu…”, jawab Charlie.

“aku bagai burung yang bebas terbang di udara, mengepakkan sayapnya, tanpa ada yang mengurungku masuk ke dalam sangkar dan menjadi peliharaan seseorang… hihi… ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang menunggu temanmu yang akan menjemputmu?”, tanya Alex.

“kau ini… aku sedang menunggu… menunggu… menunggu kendaraan yang lewat (Charlie berbohong, ia sebenarnya ingin menunggu polisi dan ingin menyerahkan diri) semua temanku… semua temanku ada urusan yang penting, mereka sedang ada diluar kota, jadi… ya beginilah, seperti yang kau lihat sekarang… (Charlie berbohong lagi)”, Charlie yang menutupi sesuatu.

“kau menunggu kendaraan yang akan lewat? Kau tidak lihat? Hanya ada aku di sini, dan kau bisa menumpang denganku, ke kota…”, kata Alex.

“tidak, tidak usah, aku sudah merepotkanmu dengan makanan dan minuman yang kau berikan, jika nanti aku menumpang dikendaraanmu, pasti ada seseorang yang akan marah besar…”, kata Charlie.

“hey hey… sudah aku bilangkan, aku sedang sendirian sama sepertimu, aku sedang membutuhkan seorang untuk menemaniku. Sebentar, maksudmu, seseorang yang akan marah besar itu pacarku? Kau bercanda, aku belum punya pacar… swear…”, Alex bersumpah. Ia memang tidak punya pacar sampai saat ini, ia hanya sedang menunggu pacar yang sesuai untuknya, pacar yang seperti dikatakan oleh ‘sahabatnya’ yang dulu.

“kau bohong, tidak mungkin kau tidak mempunyai pacar, lihat dirimu, kau… kau cantik, baik, dan.. baiklah, kalau begitu aku akan terus duduk disini, sampai kau bosan dan pergi…”, kata Charlie.

“dan? baiklah, aku juga akan terus di sini…”, kata Alex.

Mereka berdua pun duduk terdiam sembari menyaksikan matahari yang mulai tenggelam disertai petang yang akan menyelimuti malam. 1 menit telah berlalu. 15 menit mereka tetap diam tak ada sepatah katapun dari mulut mereka berdua. 30 menit mereka mulai menunjukkan kebosanan mereka. Charlie sudah tidak tahan lagi, ia memulai lagi pembicaraan, “ada apa dengan mu? Kau tidak bosan terus-terusan duduk di sini? “.

Alex yang sebenarnya sangat bosan, ia malah tersenyum, “tidak… sampai aku dapat membantumu sampai ke tempat tujuanmu…hihi…”.

“tempat tujuanku adalah penjara, kau tetap ingin mengikutiku?”, tanya Charlie.

“aku akan tetap mengikutimu… penjara? Kau benar ingin ke penjara?”, Alex balik bertanya.

“em… em… tidak. Aku hanya bercanda. Dimana kota yang dekat dari sini?”, tanya Charlie.

“kira-kira 1 jam dari sini kita menuju ke arah selatan, kota Aurora, kalau tidak salah…”, jawab Alex.

Sudah 1 jam lebih lamanya mereka berdua berbincang-bincang, dan sudah 1 jam lebih lamanya juga Ana, Christina, Kimberly, dan Sofie menunggu. Untuk mengejar teman-teman Charlie. “sial! Apa yang dilakukan Alex? Lama sekali mereka berdua di sana! Aku sudah tidak sabar…!”, Sofie yang mulai bosan.

“tunggu, aku akan mengirim pesan untuk Alex…”, Ana mengirim pesan pada Alex.

“haha… tunggu, aku ada pesan”, Alex membuka pesan dari Ana. Ana mengatakan untuk cepat membawa pria (Charlie) itu pergi dari jalan dan menuju kota supaya Ana dan yang lainnya bisa mengikuti teman-teman pria (Charlie) itu. Alex lalu memutuskan sesuatu, sebaiknya kita harus segera ke kota, hari sudah mulai gelap di sini, bagaimana?”.

“baiklah, terima kasih atas tumpangannya, lain kali aku akan membalasnya…oya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, aku Charlie, salam kenal…”, Charlie memperkenlakan dirinya.

“panggil saja aku Alex, okey…”, jawab Alex.

“okey, Alex…”, kata Charlie.

“bagus, mereka sudah ingin pergi, sekarang kita tingggal berempat, dan sisa dari yang ingin kita cari juga ada 4 pria. satu per satu dari kita akan menangkap pria buronan itu, aku akan menangkap Peter. Bagaimana dengan kalian?”, tanya Kimberly.

“aku pilih Sam…”, jawab Sofie.

“aku akan pilih Danny…”, jawab Ana.

“baiklah, aku akan menangkap John…”, jawab Christina.

“semuanya sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, Christina kau pergi ke arah selatan, Ana kau akan mencari pria itu ke arah timur, Sofie temukan pria itu ke arah timur seperti Ana, dan aku akan mencari pria ini (Peter) ke arah Utara. Kalian siap? Sepertinya Alex juga sudah pergi, kita akan berangkat, good luck girls…!”, Kimberly memberi semangat.

“yeah!!!”, semuanya bersemangat untuk mencari para pria buronan itu. Rencana mereka sudah tidak bisa diragukan lagi. Akhirnya mereka masing-masing pergi ketempat yang sudah ditentukan.

Charlie dan Alex sudah sampai ditempat tujuan mereka, kota Aurora. Charlie turun dan mengucapkan terima kasih pada Alex, “sebaiknya aku turun di sini. Terima kasih tumpangannya, aku sangat menghargai bantuanmu. Suatu saat ketika aku akan membalasnya… selamat malam, Alex. Bhe…”.

“malam, Charlie, bhe…”, jawab Alex.

Keesokan harinya Charlie mencari pekerjaan seadanya, semalaman ia hanya tidur disembarang tempat. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pengembala domba. Seharian ia hanya ada di pegunungan untuk menjaga domba-domba yang digembalanya agar tidak dimakan oleh serigala atau semacamnya. Bagainama dengan nasip Peter, Sam, Danny, dan John? Mereka juga sama seperti Charlie, mencari pekerjaan seadanya. Peter sekarang bekerja sebagai penjaga sekaligus sebagai tukang bersih-bersih di peternakan bull (sapi jantan) kota Nasa, ia tiap hari menjaga dan membersihkan para sapi jantan yang akan digunakan untuk bermain rodeo, mulai dari memandikannya, menjaga kebersihan kandangnya, sampai memberikannya makan. Sam bekerja sebagai pengantar susu. ia dipekerjakan oleh seorang kakek pengantar susu, kakek itu telah memberikan tumpangan ketika Sam berjalan menuju kota. Sesekali Sam juga ikut bekerja  membantu memperbaiki rumah tetangganya tempatnya ia tinggal bersama keluarga barunya, kakek dan nenek yang hidup tanpa seorang anak. Danny, bekerja sebagai tukang ledeng. Ia sudah terbiasa membongkar ledeng seperti membongkar sebuah senjata jadi ia langsung diterima. Sedangkan John, ia mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar koran, tiap pagi ia mengantarkan koran dari rumah ke rumah dengan menggunakan sepeda pinjaman. Selain sebagai pengantar koran, ia juga bekerja sambilan sebagai pelayan direstoran makanan. Dan saat itulah, para Fiverus melakukan aksinya.

Diawali dari kota Aurora, kota yang menjadi tempat persembunyian John dan Charlie, tetapi mereka berdua tidak menyadari  kalau salah satu dari teman mereka ada di kota yang sama.

Charlie saat ini sedang menggembala ratusan domba tepatnya 500 domba sendirian, sebenarnya Charlie tidak sendirian ia juga ditemani seekor anjing, anjing itu juga menjaga domba-domba yang nakal yang keluar dari kawanannya. Suatu saat ia terkejut melihat Alex berada di pegunungan yang sama tempat Charlie menggembala domba-dombanya.

Dari kejauhan Alex berteriak, “hey!!! Charlie? Kau Charlie, bukan?”.

“hey!!! Alex!”, jawab Charlie.

Alex kemudian menghampiri Charlie yang sedang duduk sekaligus melihat domba-dombanya agar aman dari serangan serigala. “kita bertemu lagi… sedang apa kau di sini? Semua ini domba-dombamu?”, tanya Alex.

“kapan aku memiliki domba sebanyak ini, kemarin saja aku baru kau selamatkan dari jalanan. Aku sekarang menjadi penggembala domba, kau juga sedang apa di sini?”, Charlie balik bertanya.

“oh… kau lihat? Bagus sekali pemandangan pegunungan ini. aku hanya ingin berkemah di pegunungan ini, sendirian. udaranya yang segar dan cuacanya yang sejuk membuat suasana serasa berbeda…”, jawab Alex.

“aku tidak sadar betapa bagusnya pemandangan di pegunungan ini, kau benar. kau lihat, aku hanya memandangai domba-domba itu agar tetap baik-baik saja…hem…”, kata Charlie.

“haha… aku, boleh membantumu di sini, sepertinya sangat seru menggembala ratusan domba itu? Tenang-tenang, aku tidak usah dibayar dari hasil kau menggembala domba ini, bagaimana?”, kata Alex.

“baiklah… dari pada aku hanya berbicara dengan seekor anjing, kau diterima…hehe…”, Charlie membolehkan Alex untuk membantunya menggembala domba.

“terima kasih Charlie… hey…(anjingnya mendekati mereka berdua) hey, siapa namamu?”, tanya Alex.

“panggil saja ia buddy… “, jawab Charlie.

Hari sudah mulai siang, waktunya mereka berdua makan siang. Dilain tempat, John yang telah selesai menyebarkan koran-korannya dari rumah ke rumah sekarang mulai bersiap-siap untuk pekerjaan selanjutnya, sebagai pelayan restoran.

“maaf bos aku terlambat terlambat…”, John meminta maaf pada bos restoran tempat ia bekerja.

“satu kali lagi terlambat gajimu akan aku potong John, cepat pakai pakaianmu, cepat cepat cepat, sudah ingin menginjak makan siang, banyak pengunjung yang tidak boleh disia-siakan!”, suruh bos di restoran tempat John bekerja.

“terima kasih bos…”, jawab John. Ia kemudian cepat-cepat berganti pakaian untuk melayani pengunjung restoran tempatnya bekerja sekarang. Di saat itulah ia bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Christina, salah satu anggota Fiverus yang mengincar John.

“selamat siang, ingin pesan apa?”, kata John.

“aku ingin pesan menu makan siang yang paling enak disini, aku juga ingin memesan jus strowbery, jangan lupa diberi 2 sendok madu karena itu baik untuk kulitku, dan jangan beri gula karena aku sudah membawa gula sendiri yang bebas lemak, oya, siapkan juga 1 gelas air putih karena air putih dapat membantu mencerahkan wajah, terima kasih sekarang kau boleh pergi… “, Christina yang banyak maunya.

“wow…”, kata John.

“maaf, kau bilang apa? eits, satu lagi, kau siapkan tisu di sini, tisu yang biasa saja karena aku sudah punya tisu basah…  terima kasih sekarang kau boleh pergi…”, Christina yang menjengkelkan.

“baik, pesanan segera datang…”, kata John.

Beberapa menit kemudian pesanan sudah dihidangkan dimeja Christina.

“kenapa lama sekali makanannya?! Kau tau, 1 menit saja jadwal makan siangku jika terlambat tubuhku akan kelihatan kurus dan aku tidak suka itu, tapi tidak apalah hanya 1 menit terlambat, kau aku maafkan… sekarang biarkan aku makan, kau boleh pergi sekarang…”, kata Christina.

“selamat menikmati… apa ada yang kau butuhkan lagi?”, tanya John.

“ehem… yang aku butuhkan saat ini kau pergi dari sini, lihat banyak sekali pengunjung yang butuh bantuan, cepat sana pergi…”, jawab Christina.

“baik baik… maaf…”, kata John.

10 menit berlalu, salah satu teman John (Jenny) memanggil John yang saat itu sedang membereskan piring-piring yang kotor di dapur, “John, meja nomor 9 sepertinya memanggilmu, kau kan yang siapkan makanan pengunjung itu? dia tidak mau dilayani pelayan lain kecuali orang yang menyiapkan makanannya tadi, cepat…”. John saat itu bingung, apa kah ia akan dimarahi karena ketidakpuasan pengunjung atau ada sesuatu yang gadis itu butuhkan, tetapi kenapa ia (John) yang dipanggil, kenapa gadis (Christina) itu tidak mau dilayani oleh pelayan lain?

“maaf, ada yang kau butuhkan lagi?”, tanya John.

“berapa?”, Christina balik bertanya.

“berapa? Maaf, maksudnya?”, jawab John.

“berapa bill nya?”, tanya Christina.

“kau sudah selesai makan? Oya, maaf ini bill nya…”, John yang menyerahkan bill kepada Christina.

Setelah selesai membayar Christina akhirnya pergi dari restoran tempat John bekerja. Ia tidak menghabiskan makanan yang ia pesan, sepertinya tiap makanan dan minuman yang ia pesan hanya dimakan 1 sendok saja. John hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari membersihkan tempat meja makan Christina tadi. John kemudian menyuruh salah seorang temannya (Will) yang juga bekerja di restoran itu untuk membungkus sisa makanan Christina tadi, “will, kau tidak sedang sibukkan? Tolong bungkus makanan ini, oya, jika ada makanan yang masih bagus, tolong dibungkus juga ya? Kau tidak keberatan kan?”, tanya John.

“tidak, tidak masalah, tapi kau ingin memakannya???!”, Will yang balik bertanya heran.

“tidak, kau bungkus saja…”, jawab John.

Will sangat heran, tetapi sesuai perintah John, ia kemudian membungkus setiap makanan yang masih bagus dan masih bisa untuk dimakan.

Akhirnya selesai juga pekerjaan John. Restoran itu tutup pada pukul 19.00 waktu setempat. Ia kemudian mengambil makanan yang dibungkus Will, “terima kasih, Will. Besok dan seterusnya tolong lakukan hal seperti ini ya? Aku mohon…”, kata John.

“iya… tidak masalah… tapi, untuk apa John???”, Will yang heran.

“nanti aku jelaskan, aku sudah terlambat, bhe…”, John yang terburu-buru.

“bhe.. tapi John…! ya sudahlah…”, kata Will.

Dengan banyak sekali bungkusan makanan yang dibawa John ia lalu pergi tergesa-gesa menuju sebuah gudang yang kosong, yang sudah tidak dipakai lagi, dan ternyata Christina membuntutinya dari belakang, “apa yang ia bawa itu? ia masuk ke sebuah gudang? Menurut informasiku, ia tidak tinggal disana, ia tinggal disebuah kontrakan. Baiklah, John, rahasiamu akan aku bongkar, lihat saja nanti. Dimanapun kau bersembunyi, aku akan menangkapmu.

Beralih ke kota Nasa, tempat Peter bersembunyi dari kejaran polisi dan sekarang ia bekerja sebagai sebut saja ‘pengasuh’ banteng.

Pagi itu Peter harus selalu bangun pagi untuk membersihkan kandang sapi jantan, dan tentu saja memberinya makanan. Sangat melelahkan memang serta bau yang menyengat dari kotoran sapi-sapi jantan itu, tetapi itulah kenyataan yang harus ia jalani. Siangnya ia dikunjungi oleh seseorang, seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemburu Peter, Kimberly.

“hey. Sapi jantan yang besar. Kau yang merawatnya?”, tanya Kimberly.

“kau bisa lihat sendiri, hehe… ada yang bisa aku bantu?”, kata Peter.

“tidak, aku hanya ingin berkunjung ke sini. Sepertinya asik memberi makan sapi-sapi jantan ini dari dekat, kau tidak takut?”, Kimberly bertanya.

“tantangan adalah kehidupanku…”, jawab Peter.

“wow… kau… sama sepertiku… Kimberly, panggil saja aku Kimberly”, Kimberly memperkenalkan dirinya.

“Peter, kau tidak mau tanganmu terkena kotoran sapi ini kan, hehe…”, jawab Peter.

“kau ini apa-apaan, tak apalah, kan nanti bisa dicuci (mereka berjabat tangan)”, kata Kimberly.

“hey, kau tidak seperti kebanyakan gadis lain… kau tidak takut kotor?”, tanya Peter.

“Peter, aku tadi sempat terkejut ketika kau bilang ‘tantangan adalah kehidupanku’, aku juga punya prinsip sepertimu, selain aku tidak takut kotor, aku juga suka akan tantangan…”, jawab Kimberly.

“wow… benarkah?”, tanya Peter.

“aku akan membuktikannya padamu… aku akan menunggangi sapi ini… kau tidak keberatan?”, tanya Kimberly.

“wow wow wow…!!! kau serius?! Kau.. kau nanti akan terjatuh, dan kau bisa diinjak oleh sapi yang kau tunggangi, kau nanti juga bisa terluka parah..kau…”, kata Peter.

“hentikan ketakutanmu yang berlebihan itu Peter, aku sebelumnya sudah pernah melakukannya, walaupun 1 kali…”, Kimberly yang sangat percaya diri.

“tapi… tapi… “, Peter yang kawatir.

Kimberly lalu meminta ijin pada pemilik sapi untuk mengijinkannya menunggangi sapi jantan miliknya. Pemilik sapi itu akhirnya mengijinkan Kimberly, tetapi sapi yang digunakan adalah sapi yang tidak begitu agresif. Peter sangat cemas ketika Kimberly ingin menaiki sapi jantan itu karena Kimberly adalah seorang gadis yang pertama kali Peter lihat menaiki seekor sapi jantan dan ketika Kimberly menaiki sapi itu… Kimberly sempat bertahan di angka 10 detik saja, tetapi itu tidak masalah, ia telah membuktikan bahwa ia memanglah orang yang suka akan tantangan.

“wow!!! This is great, Kimberly!!! 10 secon, not bad, untuk seroang gadis pemberani sepertimu! Okey, aku mengakui kau adalah gadis yang luar biasa! Aku traktir kau minum, come on…”, Peter yang terkejut dan ingin mentraktir Kimberly. Kimberly mengiyakan ajakan Peter, ia akan semakin akrab dan semakin dekat dengan tujuannya, menangkap Peter.

Dan kota terakhir tempat persembunyian Sam dan Danny, kota Sky berlanjut. Mereka berdua juga tidak menyadari jika salah satu kawannya tingga di kota yang sama.

Pagi itu, Sam sudah bersiap untuk mengambil pesanan susu-susu segar dan menyebarkannya dengan mobil terbuka, ia ditemani kakek, keluarga barunya. Ia belum hafal betul jalan-jalan dan rumah-rumah yang ingin ia kirirmi susu segar.

“kakek, kau tahu alamat ini? penghuninya bernama Sofie…”, tanya Sam.

“kita jalan terus… lurus terus… pelan-pelan, stop… sepertinya alamatnya di sini. Aku yakin dia orang baru di sini. Biasanya rumah itu kosong, sekarang ambilkan 2 botol susu untuknya…”, suruh kakek.

“baik…”, jawab Sam. Sebelum ia meletakkan dua botol susu segar di depan pintu rumah Sofie, pintu rumahnya lalu terbuka, dan keluarlah Sofie. “morning…”, sapa Sam.

“morning… jadi kau ya yang akan setiap pagi mengantarkan susu segar ke rumahku?”, tanya Sofie.

“iya, sebenarnya bukan rumahmu saja, aku juga mengantar susu ini kebanyak rumah… kau… Sofie, penghuni rumah baru ini? kau pasti bersama suamimu? Selamat menempuh hidup baru di kota ini… hehe…”, jawab Sam.

“suami? Kau bercanda… aku belum menikah… aku juga belum punya pacar… hihi…”, kata Sofie.

“benarkah? Mmm… aku Sam, aku sebenarnya juga baru di kota ini…”, Sam memperkenalkan dirinya.

“salam kenal Sam…”, jawab Sofie.

“mmm baiklah, sebaiknya aku pergi, aku masih akan mengantarkan susu ke beberapa rumah lagi… bhe…Sofie…”, kata Sam.

“bhe, Sam…”, jawab Sofie.

“betapa cantiknya gadis itu… sepertinya kau menyukainya… hehe…”, kakek bercanda.

“oh, kakek… come on… ”, kata Sam.

“hehe… benarkan? Aku akan mendukungmu Sam… hehe…”, kata kakek.

“hentikan kakek… iya memang aku akui gadis itu cantik.. tapi… tapi… dia memang benar-benar cantik…hehe…”, Sam tersipu malu.

Di lain tempat, siang ini Danny mendapatkan panggilan untuk memperbaiki ledeng yang mampet. Ia lalu bergegas ke alamat rumah yang telah ditentukan. Sesampai di rumahnya, “permisi, apa ada ledeng yang perlu diperbaiki?”. Danny saat itu masih menunggu di luar. Lalu pintu terbuka dan ia sangat terkejut melihat seorang gadis yang hanya memakai jubah handuk yang basah, siapa dia? Dia adalah Ana.

“kau bisa membetulkan ledengnya kan? Airnya tidak menyala, aku hampir saja mau selesai mandi… tolong ya…”, kata Ana.

“mmm (Danny diam sejenak) ya… ya, baiklah… serahkan pada ahlinya… aku akan memperbaikinya…”, jawab Danny.

Ia kemudian mencari sumbernya yang menjadi masalah, dan ia memperbaikinya.

“hey, namaku Ana. Kau sudah lama bekerja sebagai tukang ledeng?”, tanya Ana.

“hey, Ana. Danny, aku baru saja menjadi tukang ledeng, beberapa hari yang lalu. Kau baru di sini sepertinya?”, Danny yang balik bertanya.

“iya, aku ingin sejenak menghilangkan beban. Aku hanya ingin liburan di sini…”, jawab Ana.

“okey, sepertinya sudah selesai, kau bisa melanjutkan mandi mu yang tadi tertunda…”, kata Danny yang telah menyelesaikan pekerjaannya.

“wow, kau memang handal, ini minumanmu dan ini bayaranmu… terima kasih, Danny…”, kata Ana.

“yah, sama-sama, Ana…”, jawab Danny.

Setelah selesai menyelesaikan tugasnya, Danny kemudian pergi.

Cerita apa lagi yang akan disajikan? Tunggu lanjutan ceritanya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Polisi yang kewalahan menangkap kelima pria panggilan yang sekarang menjadi buronan itu, kemudian memanggil tim Fiverus. Siapa tim Fiverus ini? Mereka adalah salah satu tim yang dibentuk oleh badan khusus keamanan Negara yang bertugas untuk menangkap seorang buronan, khususnya buronan pria. Satu tim ini terdiri dari 5 orang gadis yang luar biasa, smart, intellectual, young, and beautiful. Sekilas Fiverus terdengar seperti sebuah kata Virus. Memang benar, kenapa? Karena mereka adalah gadis-gadis yang akan meracuni para pria buronan sampai akhirnya tertangkap. Kelima gadis ini sudah diakui kredibilitasnya. Setiap buronan yang mereka incar akhirnya tertangkap. Dengan usia yang sangat muda, mereka telah menangkap ratusan buronan tanpa ada satu orang pun yang lolos dari jeratan para gadis-gadis super ini. Dalam menangkap para buronan, mereka melakukan cara yang tidak biasa. Mereka tidak menggrebek secara mentah-mentah seperti yang dilakukan para polisi, mereka menggunakan kecerdasan istimewa yang mereka miliki, taktik, dan tentu saja wajah dan tubuh mereka yang membuat semua orang termasuk para pria-pria polisi itu sendiri tunduk kepadanya (tidak sampai berhubungan badan loh). Inilah Fiverus yang terdiri dari 5 orang gadis yang luar biasa ;

Yang pertama adalah Ana, 21 tahun.

Ia merupakan sosok gadis yang menjadi idaman para pria. Hobby nya adalah bela diri. Ana sejak dari kecil sudah dilatih bela diri. Para pria hidung belang yang ingin mendekatinya, terkejut ketika ia menunjukkan salah satu jurus bela dirinya, karena dengan wajahnya yang sangat cantik dan tubuhnya yang mulus para pria hidung belang mengira ia hanya gadis biasa saja. Ia menjadi salah satu anggota Fiverus ini karena setelah tahu pacarnya berselingkuh. Ia kemudian benci dengan laki-laki dan memutuskan untuk bergabung dengan tim Fiverus agar ia bisa menangkap para pria (buronan) dan sebelum ia menangkap pria-pria buronan itu, ia menjadikan pria-pria buronan yang ia incar menjadi mainannya, dalam arti ia memainkan hati si pria buronan lalu menangkapnya dan menjatuhkannya ke dalam bui. Itu membuat hati dan perasaan Ana senang karena telah memainkan hati pria.

Yang kedua adalah Christina, 20 tahun.

Christina adalah sosok yang glamor. Belanja dan bersenang-senang adalah kehidupannya. Ia hampir tiap hari selalu belanja barang-barang yang kadang tidak perlu untuk digunakan. Ia bahkan mempunyai ratusan sepatu, baju, topi, tas, dan kaca mata yang masih bersegel dan tidak terpakai. Ia mendaftar menjadi salah satu anggota Fiverus karena Christina hanya mengincar uang saja. Tidak dipungkiri menjadi penangkap buronan memiliki bayaran yang selangit, dan tentu saja uang yang ia dapatkan khusus untuk berbelanja saja. Christina sudah berganti-ganti pacar sampai tak terhitung berapa jumlahnya. Para pacar Christina bosan karena mereka hanya digunakan sebagai pembantunya ketika pergi berbelanja, membawa belanjaannya yang sangat banyak. Jika Christina harus memilih antara pria dan belanja, tentu ia akan langsung memilih berbelanja.

Yang ketiga adalah Alex, 20 tahun.

Seorang Dj yang terkenal menge-mix lagu-lagu mellow menjadi lagu-lagu yang keren dengan hentakan dan semangat. Ia adalah seorang yatim piatu. Ketika kecil, ia sering mengamen di jalanan. Bakat musik yang ia dapatkan tidak lain dan tidak bukan ada di jalanan ketika ia mengamen. Ia kemudian sukses dengan bakat alami yang dimilikinya. Ia bergabung menjadi anggota Fiverus ini karena ia benci dengan para buronan. Satu-satunya teman yang ia miliki sejak kecil terbunuh. Temanya tertembak ketika ingin menghalang-halangi perampok bank yang lari dikejar polisi. Ia memutuskan ingin menangkap seluruh buronan yang ada di dunia ini.

Yang keempat adalah Kimberly, 21 tahun.

Kimberly adalah gadis yang tomboy. Ia suka sekali berpetualang. Mulai dari mengarungi air jeram, mendaki pegunungan, panjat tebing, bahkan sempai-sampai ia sempat mencoba menunggangi seekor banteng, ya ia beramain rodeo. Ia suka sekali akan tantangan. Dan, salah satunya adalah menjadi anggota Fiverus ini. Dalam hidupnya tanpa tantangan tidak akan berguna.

Yang kelima adalah Sofie, 20 tahun.

Sofie adalah seorang foto model. Wajahnya sudah terkenal dimajalah-majalah ternama termasuk majalah dewasa. Tidak masalah untuknya menjadi foto model dimajalah-majalah termasuk majalah dewasa, asalkan ia tidak dibayar untuk menjadi seorang pemain film porn. Kedua orang tuanya setiap hari selalu menasehatinya agar menghentikan pekerjaan sebagai foto model dimajalah dewasa yang ia lakukan sekarang ini. Ia kemudian hampir setiap hari tidak ada di rumah karena ia lelah dengan nasehat-nasehat orang tuanya. Ia lalu memutuskan untuk ikut dan terpilih menjadi anggota Fiverus. Ketika menjadi anggota Fiverus, pekerjaannya memakan waktu kadang paling lama 1 bulan, jadi ia merasa bebas dari nasehat-nasehat orang tuanya. Dan sekarang orang tuanya sudah lelah untuk menasehatinya.

Itulah lima anggota Fiverus yang akan menangkap kelima pria panggilan yang sekarang menjadi buronan itu. Para gadis itu kemudian membaca satu per satu informasi dari kelima pria buronan yang ingin mereka incar. Fiverus memutuskan untuk menangkap para buronan itu dalam waktu 13 hari, aneh memang, tetapi itulah cara khusus Fiverus dalam menangkap para buronan, dan mereka selalu tepat waktu sekaligus berhasil dalam menangkap para buronan yang mereka incar.

“berapa bayaran kali ini yang akan kita dapatkan?”, tanya Christina.

“karena mereka itu hanyalah anak-anak muda ingusan, kami akan membayar sepadan ketika kalian saat itu memburu seorang ayah yang memperkosa anaknya sendiri…”, jawab komandan polisi.

“apa maksud komandan,,, (dengan nada yang mendesah dan mendekatkan tubuhnya ke komandan polisi) mereka pria-pria yang tampan, tetapi komandan lebih tampan dari mereka,,, (sambil memainkan kerah komandan polisi) apa sepadan dengan bayaran yang seperti itu kepada buronan yang membunuh anak satu-satunya Gubernur,,,?”, Ana yang mencoba membuat kesepakatan kepada komandan polisi.

“apa kau mencari keuntungan lebih dari kasus ini,,,? Apa kau,,, kau ingin keuntungan yang lebih dari kami? Keuntungan yang membuatmu puas,,,?”, Sofie mendekati komandan polisi dengan genit.

“baik baik baik, fine (sambil mengusap keringat didahinya). Akan kami bayar kalian 3 kali lipat dari ketika kalian memburu orang-orang yang mencuri perhiasan di musium terkenal di negara bagian Bumi, bagaimana? Deal?”, jawab komandan polisi itu.

“kau memang komandan yang ‘besar’,,, dalam membuat kesepakatan,,, (nOte: tanda ‘,,,’ adalah mendesah) apa malam ini kau ada tugas sampai tengah malam komandan,,,? Kalau tidak, aku ingin,,,”, kata Ana.

“apa kau sudah selesai Ana? Kita pergi dari sini dan kita cari para pria buronan ini, aku sudah tidak sabar bertemu para buronan itu…”, Kimberly memutus perbincangan Ana dengan komandan polisi.

“oh,,, aku lupa, kita lanjutkan lain hari saja komandan, kau tidak keberatan,,,?”, kata Ana kepada komandan polisi itu.

Mereka berlima akhirnya keluar dari markas polisi.

“kau serius akan ucapanmu Ana, dengan komandan polisi itu? kau gila!”, kata Alex.

“hahahaha kau tidak tau aku saja Alex,,, pria paruh baya tua seperti komandan polisi itu? buat apa? f*uck off!”, jawab Ana. Mereka semua tertawa.

Akhirnya mereka pergi mencari jejak para pria buronan itu dengan mobil mereka masih-masing. Mereka memulai pencarian di negara bagian Pluto, di tempat kejadian terbunuhnya satu anggota polisi untuk mencari informasi lebih lengkap.

Dilain sisi, para pria panggilan ini mencari tempat persembunyian. Mereka semakin jauh dari tempat mereka ditemukan polisi. Tetapi, perjalanan mereka terhenti seketika tepat di perempatan jalan yang panas, gersang, dan sepi.

“ada apa Peter? Kenapa mobilnya berhenti?”, tanya Danny.

“aku akan memeriksanya…”, jawab Sam.

Ketika Sam keluar dari pintu mobilnya, ia terkejut saat melihat lubang bensin mobilnya terbuka. “guys, kita ada masalah. Cepat kalian keluar dan lihat ini”, kata Sam yang membuat penasaran.

“what! Kenapa penutup lubang bahan bakarnya terbuka!”, Peter terkejut melihat penutup lubang bensinya terbuka.

“mungkin saat dipengisian bahan bakar tadi aku tidak menutupnya dengan rapat… maafkan aku guys…”, Danny meminta maaf.

“wow! Bahan bakar kita… habis, kita belum juga sampai di kota…”, John pasrah.

“bagus, kita terperangkap di jalanan yang panas, berdebu, dan sepi dari kendaraan…”, kata Charlie.

“kita akan menunggu sampai ada kendaraan yang lewat. Kita akan menumpang dikendaraan mereka… kalau kita beruntung…”, kata Danny.

Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu kendaraan lain yang melintas. Tetapi 1 jam sudah lewat. 2 jam mereka telah lelah untuk menunggu, dan mereka mulai lapar.

“kita punya makanan apa Sam?”, tanya Danny.

“hanya 2 batang coklat, 1 bungkus popcorn, dan… 1 botol besar air mineral yang bisa aku ambil saat di toko tadi. Tapi… semuanya sudah habis saat kita memakannya diperjalanan…”, jawab Sam.

“sh*t!!! Kapan kita akan terus menunggu! Apa kita menunggu polisi datang lalu mereka memberikan makanan dan tumpangan kepada kita!”, Peter mulai frustasi.

“mungkin… kau benar Peter. Kita akan mendapatkan makanan lalu kita akan ikut di mobil mereka dan sampailah kita ditempat penjara. Asik kan? Dari pada kita menunggu di tempat seperti ini tanpa kepastian?”, John yang bercanda.

“kita saat ini tidak membutuhkan bercanda mu, John. Kau tahu, kita sekarang sudah menjadi buronan. Dan jika kita tertangkap, kita akan membusuk dipenjara selamanya, tanpa ada gadis-gadis yang sexy lagi, tahu!”, kata Charlie.

Mereka semua frustasi karena sudah 3 jam lebih tidak ada kendaraan yang lewat.

“kau mau kemana Danny?” tanya John.

“aku akan mencari air. Aku sudah tidak tahan dengan kehausan ini!”, jawab Danny.

“kau pikir ada air ditempat kering seperti ini? kau mau kemana Danny! Danny!!”, Peter yang memanggil Danny. Danny pun tidak menggubris panggilan Peter. Ia terus berjalan kaki lurus menuju ke arah timur. “sial! Apa-apaan Danny itu! dasar pengecut kau!”, Peter kesal. Danny membalikkan badannya dan menunjukkan jari tengahnya pada Peter.

“apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kita terus menunggu kendaraan yang lewat, para polisi akan semakin dekat dengan kita, dan kita akan tertangkap…”, kata Charlie.

“diam!!! Kita tidak akan tertangkap! Jangan lagi bilang kita akan tertangkap Charlie! Kalau kau tidak mau pukulan diwajahmu!”, Peter yang mengancam Charlie.

“kau mau memukulku, heh? Seharusnya aku yang memukulmu! Kau buat kita dalam masalah seperti ini! kau menjadikan kita sebagai buronan seperti mu! Seharusnya aku saat itu tak membantumu Peter dalam masalah ini!”, Charlie yang marah pada Peter.

Peter pun sontak semakin marah. Ia langsung mencengkeram baju Charlie. Peter dan Charlie, keduanya jatuh ke tanah dan terjadilah baku hantam. Hanya Sam yang melerai kedunya. Dimana John? John malah pergi berjalan kaki munuju ke arah selatan.

“cukup! Hentikan Peter! Charlie berhenti! Kalian seperti anak-anak! Tak tahu diri! Hentikan pertengkaran kalian ini!”, Sam melerai mereka berdua.

Akhirnya Charlie dan Peter berhenti melakukan baku hantam. Dan Peter memutuskan untuk pergi.

“kau ingin ikut Sam? Aku akan pergi dari sini! Aku sudah muak di sini!”, kata Peter. Peter lalu pergi berjalan kaki menuju ke arah utara.

“pergi saja kau ke neraka!”, kata Charlie.

“cukup Charlia! Charlie, kau terluka… ”, kata Sam.

“aku tidak apa-apa, Sam. Kau ingin pergi? Silakan…”, kata Charlie.

Sam berkata, “kita pergi bersama-sama, Charlie…”.

“tidak, aku akan tetap di sini. Aku sudah lelah dengan semua ini… aku lelah Sam…”, Charlie yang lelah menjadi buronan.

“tapi, Charlie…”, kata Sam.

Charlie menolak ajakan Sam, “tinggalkan aku sendirian Sam, cepat pergi… kau tak mau tertangkap kan? Cepat Sam…”.

“maaf, Charlie…”, kata Sam. Ia kemudian pergi ke arah timur dengan berjalan kaki.

Tanpa diduga, Fiverus mengintai mereka dari kejauhan. Mereka menemukan para buronan itu dengan cepat tidak seperti biasanya. Salah satu faktornya adalah karena kendaraan yang ditumpangi Peter dan kawan-kawan macet.

“hey, apa yang mereka lakukan? Satu per satu dari mereka pergi kecuali 1 orang, 1 orang yang menangis disamping mobilnya… oh… kasihan sekali pria itu… siapa itu Ana?”, tanya Sofie.

“dari gambar yang kita terima, aku yakin dia bernama Charlie. Anak orang kaya dari musisi terkenal yang terbuang… hahahaha… so sad,,, ”, jawab Sofie.

“baik, siapa diantara kalian yang akan mengurus pria cengeng itu? aku mengundurkan diri…hihi… ”, kata Kimberly.

“baiklah, aku yang kan mengurus pria itu… kelihatannya pria itu cukup mudah untuk ditaklukkan…”, Alex memilih untuk menangkap Charlie.

“yeah! Satu pria sudah terkunci. Good luck, Alex…!”, kata Christina.

“serahkan padaku, aku akan menangkap pria itu tepat 13 hari…”, kata Alex.

Alex pun berangkat dengan mobilnya menuju ke arah Charlie. Alex sudah merencanakan sesuatu dengan matang. Ia tentu tidak langsung menangkap Charlie begitu saja.

Apa yang direncanakan sebenarnya Alex dan kawan-kawannya kepada Charlie, Sam, Peter, John, dan Danny? Simak cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Dengan rasa yang ketakutan sangat, Peter kebingungan harus melakukan apa terhadap Ashley yang sudah meninggal. Yang ada dibenaknya adalah, ia seorang pembunuh. Ia tak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, karena para penjaga dan pembantu di rumah Ashley, semuanya tidak ada karena sebelumnya Ashley memerintahkan mereka semua untuk tidak menjaganya dalam 1 hari penuh.

“Ashley, Ashey, Ashley…bangun Ashley!”, ketakutan Peter.

Dengan banyak darah dibaju yang dikenakan Peter, ia pun kemudian bergegas untuk mencuci  tangan dan badannya yang dibalut darah Ashley. Peter lalu menuju lantai kamar 2, tempat tidur Ashley untuk mengambil handphonenya. Sekitar pukul 12 lebih tengah malam, ia kemudian menelephone teman-temanya yang tengah berpesta di pantai. Satu persatu temannya tidak menjawab telephone dari Peter, mulai dari John. John masih di pantai dan masih juga berpesta dengan para gadis-gadis muda. Handphonenya ada di penginapan. Sam saat itu juga masih sibuk dengan perlombaan minum bir. Ia meletakkan handphonenya di penginapan sama seperti John. Jadi ia tak menjawab panggilan Peter. Sama halnya juga dengan John dan Sam, Danny malah asik menjadi juri perlombaan para gadis-gadis yang tengah telanjang untuk menjadi Miss Naked Girls. Ia tak menjawab panggilan Peter karena handphonenya juga diletakkan di penginapan. Peter pun kemudian semakin bertambah bingung dan ketakutan. Dan daftar handphone yang ia panggil terakhir kalinya adalah Charlie.

“mmm… mmmm… mmmmm…”, Charlie dan teman gadis barunya sedang bercumbu di penginapan.

“I’m a bad kid, And I will survive, Oh I’m a bad kid, Don’t know wrong from right, I’m a bad kid and this is my life, One of the bad kids, Don’t know wrong from right, This is my life (song by Lady Gaga)”, nada dering Charlie yang saat itu mengganggu Charlie yang tengah asik bercumbu.

“enough, baby! Kau membawaku ke penginapan, hanya untuk mendengarkan bunyi-bunyi handphone yang tak berguna ini?! Apanya yang romantis?! Ok, aku pergi dari sini!”, gadis yang diajak Charlie ke penginapan. Bagaimana tidak mengganggu? Tiap menit saja pasti handphone berbunyi. Mulai dari John, Sam, Danny, dan yang terakhir adalah Charlie.

“hey hey hey! Wait wait wait, baby!”, Charlie melarang pergi gadis yang dibawanya dari tempat party, tetapi gadis itu tetap bersikeras untuk pergi dan akhirnya pergi juga dari penginapan. “sial! Kenapa harus terjadi ya Tuhan? Malam ini, malam yang indah untuk seorang pangeran dan puteri kerajaan. Hanya ada aku dan dia, ‘dan telephone yang berbunyi…’ ”, handphone Charlie berbunyi lagi. “aku tak akan memaafkan orang yang menggangguku malam hari ini!” Charlie lalu mengambil handphone, “oh…ternyata kau Peter! Puas ya kau menggangguku! D*mm!”.

Dengan nada yang ketakutan Peter lalu meminta pertolongan kepada Charlie, “thanks God! Charlie kau bisa menjemputku di jalan Meteor dari arah barat pantai…aku dalam bahaya Charlie, please…”.

“what! Kau menggangguku hanya untuk menjemputmu setelah kau puas tidur dengan gadis itu! Sh*t!”, Charlie yang marah.

“maaf sebelumnya Charlie, tetapi aku benar-benar dalam bahaya kali ini, tolong cepat…”, Peter yang semakin ketakutan jikalau ada polisi patroli yang datang.

“kenapa kau ini?! Kau habis menabrak seseorang? Pembalam amatiran menabrak seseorang… hehe”, Charlie yang bercanda.

“Charlie, aku katakan sekali lagi,,, AKU DALAM BAHAYA KALI INI! APA KAU DENGAR! TUTUP MULUTMU DAN LANGSUNG KEMARI SAJA!”, Peter membentak Charlie.

“ow, ok ok ok, baiklah… tapi satu pertanyaan lagi, kau tadi di mana, aku lupa…” kata Charlie.

“hufh… jalan Meteor dari arah barat pantai, bawa sekalian Sam, John, dan Danny”, jawab Peter.

“tunggu, ada pertanyaan lagi, aku bisa mengencani gadis itu kan besok?”, Charlie yang masih penasaran dengan gadis itu.

“CHARLIE……..!”, Peter yang geram.

Charlie yang seorang diri di penginapan, lalu langsung tancap gas menuju pantai untuk mencari teman-temannya. Satu persatu teman-temannya di paksa Charlie untuk menyudahi pesta pada malam itu.

Dimulai dari John, “kau mau mengajak ku berpesta di tempat yang x-clusive Charlie? Baiklah aku ikut…”.

Lalu Sam, “hay Charlie, kau mau minuman ini?”

Charlie kemudian memaksa Sam untuk ikut dengannya, Sam saat itu dalam keadaan mabuk.

Dan Danny, “what! Ikut denganmu? Bagaimana gadis-gadis ini? Belum ada yang menjadi pemenang yang nantinya akan bercinta denganku! Hey Charlie!”.

Charlie memaksa mereka semua ikut dengannya. Entah itu Charlie, Sam, John, atau pun Danny, mereka semua tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi di rumah Ashley.

Sampailah mereka berempat di rumah Ashley. John kemudian membuka pintu gerbang rumah Ashley, “saatnya party, guys! Yeah!”.

Mereka berempat turun dari mobil semua, dan apa yang mereka lihat… mereka semua tertegun, terperangah, tak percaya.

“oh my God… oh my God… oh my God! Peter, apa yang kau lakukan?!”, Charlie ketakutan.

“ya Tuhan, Peter, jangan bilang kau yang melakukannya… Peter jawab!!!”, bentak Danny.

“ada apa ini, mana minumannya?”, Sam yang mabuk berat karena kebanyakan minum di pesta pantai tadi. Ia kemudian dibantu John masuk ke mobil untuk istirahat.

“maafkan aku guys, aku sungguh tidak melakukan ini… ia terjatuh sendiri dari balkon…”, jawab Peter.

“kita harus pergi dari sini!”, kata John.

“What! Kau gila John! Kita akan jadi buronan!” bentak Danny.

“Danny benar John, kita lapor polisi saja!” kata Charlie.

Mereka kemudian diam dan berpikir keras bagaimana memecahkan masalah yang membelit ini. Lalu tanpa disangka, Charlie menelephone polisi, “hallo, 999…”.

Dengan cepat Peter menampar tangan Charlie yang sedang memegang handphone. Handphone Charlie pun jatuh dan rusak.

“Peter! Apa-apaan kau ini! Aku ingin menyelamatkanmu dari masalah ini!”, kata Charlie.

“Charlie, jangan bilang telephone itu tadi sudah tersambung ke 999”, tanya Peter.

“iya… sudah tersambung… Peter”, jawab Charlie.

“sh*t! Kita harus pergi dari sini sekarang juga, polisi akan melacak keberadaan kita, ayo cepat!”, Peter yang semakin ketakutan.

“Peter, tunggu Peter…” Danny ingin mendinginkan suasana.

“tak ada yang bisa kita lakukan lagi Danny, cepat ke mobil!”, Peter memutus ucapan Danny.

Mereka semua akhirnya masuk ke mobil dan menjauh dari rumah Ashley. Para polisi telah melacak keberadaan mereka, dan polisi bergegas menuju rumah Ashley. Sesampai di sana, polisi tak menemukan mereka berlima karena mereka sudah pergi dari rumah Ashley beberapa menit sebelumnya.

Charlie yang kesal kemudian meminta Peter, yang saat itu mengendarai mobilnya untuk berbalik arah menuju rumah Ashley, “kita harus kembali Peter, kau bisa menceritakan kejadiannya dengan detail dan baik-baik, tanpa harus menjadi buronan seperti ini. Kau tidak hanya melibatkan dirimu sendiri, tetapi juga kita. Kita balik ke rumah Ashley, now!”.

“tutup mulutmu dan diamlah ditempat dudukmu Charlie…”, emosi Peter.

“baiklah.. sekarang turunkan aku di sini! Turunkan aku Peter! Aku tak mau terlibat hal gila seperti ini!”, Charlie yang sangat kesal dengan Peter.

Mobil pun kemudian merapat ketepi jalan dan akhirnya berhenti. Charlie lalu keluar dari mobilnya. “siapa yang mau ikut aku?”, Charlie memberikan pilihan pada mereka.

Danny kemudian turun dari mobil, begitu juga dengan John.

“kau mau ikut kami Sam? Baiklah… (Sam saat ini sedang mabuk dan tidur sangat pulas di dalam mobil) kau lihat Peter, kau hanya sendiri di mobil, Sam pengecualian, teruslah melakukan hal gila ini, kami tak akan mendukungmu!”, Charlie bertindak tegas.

Peter kemudian keluar dari mobil, “guys, kalian tega terhadapku? Kalian meninggalkanku saat seperti ini?!”

“apa mau mu sebenarnya Peter. Kau ingin melawan arus? Jangan ikutkan kami! Kalau kau balik dan menjelaskan semuanya secara lengkap tanpa ada 1 hal pun yang tertinggal, kami akan mendukungmu”, Danny mendinginkan suasana.

“Danny benar, kita harus balik ke rumah Ashley, dan menjelaskan semuanya pada polisi”, Charlie yang setuju dengan Danny.

“baiklah teman-teman, maaf telah membuat kalian dalam masalah…”, Peter menyesal.

Akhirnya semuanya kembali ke dalam mobil dan berbalik arah menuju rumah Ashley. Tetapi sesampainya disana… dari kejauhan mobil mereka berhenti. Banyak sekali polisi yang mengitari rumah Ashley saat itu. Dan dari kejauhan mereka hanya melihat.

“apa yang kau tunggu Peter. Jelaskan semuanya pada polisi. Dan semuanya akan beres”, kata John.

“kita menemukan banyak sekali sidik jari yang ada pada gadis ini komandan. Kita juga menemukan handphone yang rusak, diduga gadis ini akan menelephone polisi tetapi seseorang melarang dan membanting handphonnya, itu hanya dugaan sementara”, kata salah seorang polisi yang bertugas di TKP.

“kau lihat, mereka sepertinya menemukan sidik jadi dan handphone mu Charlie… kita harus pergi dari disini…”, Peter yang tergesa-gesa karena semakin takut.

Tanpa ada yang berpendapat lagi, Peter pun akhirnya menancapkan gas dan menjauh dari tempat itu. Tidak ada tempat tujuan yang hendak mereka capai. Dengan perasaan panik, takut, marah, semuanya membuat mereka tidak bisa berpikir jernih. Dan akhirnya mereka ditetapkan sebagai buronan, yang membunuh anak Gubernur negara bagian Merkurius.

Keesokan paginya, kelima pria itu terus menjauh dan menjauh sampai akhirnya mereka keluar dari negara bagian Merkurius. Dan saat ini mereka ada di negara bagian Pluto, tempat para cowboy berada. Di sana terkenal akan pegunungannya yang indah, danaunya yang cantik, dan para cowboy nya yang atraktif. Semalaman Peter menyetir mobil dan ia merasakan ngantuk yang tak tertahankan. Charlie, John, Danny dan Sam tertidur pulas. Disaat Peter merasa ngantuk dan memejamkan matanya sebentar, mobil yang ia kemudikan keluar dari jalurnya. Mobilnya kemudian berbelok dan menabrak pohon kaktus yang besar, tetapi tidak begitu parah. Kejadian itu mengagetkan teman-temannya yang sedang tertidur dan akhirnya terbangun.

“wow wow wow! Ada apa ini!”, John yang saat itu duduk disamping Peter kaget. “biar aku yang gantikan kau menyetir Peter, sekarang giliranmu untuk tidur…” kata John.

“di mana kita? Aku ingin buang air kecil!”, Sam yang tak tertahankan ingin buang air kecil karena banyak minum bir semalam. Akhirnya mobil pun berhenti untuk sementara waktu. “kenapa kita di jalanan yang kering kerontang seperti ini? Mana pantainya? Mana gadis-gadisnya? Apa sudah berakhir pestanya?”, Sam bingung, tidak tahu apa-apa.

Danny dan Charlie kemudian menjelakan apa yang terjadi. Dan Sam, Sam hanya bisa diam, dengan mulut yang menganga.

“aku lapar… ayo kita cari tempat makan, bahan bakar kita sepertinya juga sudah limit”, kata Danny.

Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan. Dan sampailah mereka di tempat pengisian bahan bakar dan toko disebelahnya.

“apa yang kita punya?”, tanya Danny.

“aku punya 4 $, dompetku tertinggal di penginapan…”, kata Sam.

“10 $… ini”, Charlie menyerahkan uangnya pada Danny.

“maaf, aku tak punya apa-apa, hanya hanphone ku ini yang aku punya…” kata Peter.

“2 $ yang aku punya…”, kata John.

“6 $ punyaku. bagus, 22 $ dan 1 handphone, harta yang kita miliki, harta milik seorang pria gigolo, sekaligus seorang yang menjadi buronan…”, kata Danny. Danny kemudian mengambil semuanya. Membagi-bagikan tugas pada mereka semua. “Peter dan John, kalian mengisi bensin… sedangkan aku, Charlie dan Sam akan membeli beberapa makanan dengan uang yang kita miliki. ini, isilah bensin sampai penuh, Peter…”, perintah Danny. Mereka pun melakukan tugasnya masing-masing.

“apa yang akan kita beli dengan hanya beberapa uang dan 1 handphone ini Danny?”, tanya Charlie.

“sudahlah, kalian semua ambil saja barang-barang dan makanan yang banyak untuk kita berlima, aku akan mengurus semuanya…”, jawab Danny.

“mengurus semuanya kata mu? Kau hanya punya uang 6 $ dan ditambah beberapa dari kita, dan sebagian sudah habis untuk membeli bahan bakar mobil kita… jangan bercanda Danny, kau tak akan melakukan sesuatu yang kelewat batas kan?”, tanya Sam.

“kau meragukan calon ekonom Sam? Emmm… maksudku mantan ekonom?”, sahut Danny.

Charlie dan Sam kemudian mengambil banyak sekali makanan dan minuman, dari toko dekat tempat pengisian bahan bakar. Danny hanya melihat-lihat barang-barang makanan, sebenarnya ia merencanakan sesuatu. Banyak sekali makanan yang dibawa Charlie dan Sam.

“399 $”, kata seorang kasir yang umurnya sudah sangat tua.

Charlie dan Sam kemudian kebingungan membayar barang-barang dan makanan itu. Lalu Danny datang untuk membayanya. “ini…”, Danny menyerahkan sisa uang dari membeli bensi dan satu buah handphone.

Kakek kasir itu tertawa, dan kemudian Danny mendekati kakek kasir itu sembari menodongkan pistol, “ambil uang sekaligus handphone ini kakek tua, atau tertawa mu ini akan menjadi tawa terakhirmu… cepat pergi dan masukkan makanan dan barang-barang ini ke dalam mobil Charlie, Sam! Cepat!”.

“ba..ba..baiklah Danny, tapi kau janji tidak akan membunuh kakek ini kan? Masalah yang kemarin akan semakin kacau kalau kau juga membuat masalah yang baru…”, kata Charlie.

“cepat! Tenang saja…”, jawab Danny.

Dilain sisi, “apa kau merasa aneh Peter, dengan 2 orang yang ada di sana? Mereka seperti mengamati kita…”, kata John.

“mereka hanya memperbaiki truk mereka, apa yang salah dengan mereka…”, jawab Peter.

John lalu melihat Sam dan Charlie berlari sambil membawa banyak makanan munuju ke mobil. Sebelum makanan itu masuk ke mobil, tanpa diduga, dua orang  pria yang kelihatan sedang memperbaiki truknya ternyata adalah seorang polisi yang mengejar mereka berlima. 2 orang polisi itu kemudian menembaki mereka agar menyerahkan diri. Danny yang mendengar suara tembakan akhirnya keluar, tetapi sebelumnya ia memukul kakek tua itu sampai pingsan (tidak mebunuhnya). Danny datang menolong dengan membalas tembakan kedua polisi tersebut (door… door.. door… banyak sekali peluru yang keluar). Danny kemana-mana memang selalu membawa senjata. Tak tertahankan lagi, banyak sekali tembakan baik dari Danny maupun kedua orang polisi tersebut. Polisi melihat Charlie dan Sam yang bersembunyi di tiang. Salah satu polisi itu akhirnya dengan trik jitunya, mampu melewati amunisi Danny. Dan ketika beberapa jengkal jarak salah satu polisi itu dengan Charlie, polisi itu akan memukul Charlie dari belakang dan menjadikannya sandra. Dan apa yang terjadi… yang terjadi adalah nyawa salah satu dari mereka hilang. Mereka disini maksudnya adalah salah satu dari polisi itu. ia terkena tembakan Danny. Danny bergegas menyeret Charlie untuk masuk ke mobil, Danny juga memerintahkan semuanya masuk ke mobil dan pergi dari sini. Saat Danny menyeret tangan Charlie untuk bergegas masuk ke mobil, banyak makanan yang tadinya dipegang oleh Charlie semuanya jatuh berhamburan. Hanya Sam saja yang membawa beberapa makanan dan minuman, sempat ia ingin mengambil tetapi keadaannya tidak memungkinkan, masih ada seorang polisi yang siap dengan amunisinya. Danny melindungi temannya dengan menembaki seorang polisi itu agar teman-temanya dapat masuk mobil tanpa ada yang terluka. Setelah keempat teman Danny masuk, ia kemudian melepaskan alat pengisi bensin dan menutup lubang bensil mobilnya dengan sembarangan karena sangat terdesak. mereka akhirnya selamat dari poilisi tersebut.

“kami kehilangan mereka komandan. Dan salah satu dari kami, telah gugur”, kata salah seorang polisi itu yang menghubungi komandan di markas polisi.

“aku turun berduka cita, terima kasih atas laporannya…”, kata komandan yang bertugas di markas. “mereka memang tikus-tikus yang handal, yang mereka butuhkan adalah kucing-kucing yang spesial. Panggil fiverus! Kita ada kontrak dengan mereka!”, kata komandan kepada bawahannya.

“siap komandan!”, jawab bawahannya.

Akhirnya mereka menjadi buronan tidak hanya di satu negara bagian saja, tetapi  sudah merambah ke negara bagian tetangga. Dan siapakah itu “fiverus”? di cerita selanjutnya kita akan berkenalan dengan “fiverus” ini…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.30 waktu setempat, Charlie baru pulang dari tempat ia semalam bersenang-senang. Ia sempat mampir ke bar untuk sekedar minum dan melepaskan lelahnya. Ketika Charlie sampai di rumahnya yang megah dan mewah, ia sangat terkejut. Mulai dari pengawal, pegawai harian, pembantu, tukang, dan bahkan sampai penata rias, mereka semua berkumpul dan berbaris rapi, tanpa suara, semuanya diam dan berharap-harap cemas. Charlie yang saat itu merubah dirinya menjadi salah satu pengawai di sana, kemudian cepat-cepat ikut berbaris. Sebelum ia sempat berbaris, seseorang dari atas tangga berteriak.

“tunggu Jimmy!”, kata seorang perempuan yang berteriak dari atas tangga. Dan perempuan itu ternyata adalah Ibu dari Charlie.

“maaf nyonya, namanya adalah Jonny”, sela pengawal Ibu Charlie.

“huam (Ibu Charlie merasa sedikit malu) kenapa kau terlambat Jimmy! Oh, Jonny! Bukannya ini sudah jam 06.30!”

“ma..maaf nyonya, saya harus mengantar anak saya kesekolah. Saya kan telat 1 menit saja…”, kata Jonny (Charlie).

“1 menit saja katamu! Kenapa dengan suaramu, sepertinya aku mengenali suara itu! oya, sejak kapan anakmu sekolah? Pengawal mengatakan, anak keduamu masih menyusui, dan anak pertamamu sudah berkerja. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mempunyai saudara kembar seperti dia (sambil menunjukkan rupa Jonny yang asli, dengan masih menggunakan pakaian Charlie). Dari mana saja kau Charlie! Buka topengmu! Ibu muak melihatmu seperti itu! Cepat!”, suruh Ibu Charlie.

Dengan sedikit malu, Charlie membuka muka palsunya itu, dan semuanya kaget, termasuk penata rias yang juga ikut berbaris di sana.

“seandainya ayahmu tahu kau seperti ini, kau pasti akan dibuang olehnya! Cepat pergi kekamarmu!”, bentak Ibu Charlie.

Kemudian salah satu pengawal Ibu Charlie membisikan sesuatu, “Arron sudah datang nyonya”.

Siapa Arron? Ternyata ia adalah sama seperti Charlie, yakni gigolo. Ia adalah teman dekat sekaligus teman tidur Ibunya Charlie.

“sebelum ayah tahu, aku juga pasti akan keluar dari rumah ini! Selamat tinggal Ibu”, Charlie berpamitan pada Ibunya dari kejauhan, tetapi Ibunya mengacuhkannya dan memilih menemui teman dekat dan teman tidurnya yakni Arron.

Tetapi ibu Charlie kemudian berbalik dan ia mengatakan sesuatu, “kembalikan kuncinya! Kunci mobilnya! Berikan pada dia (Arron)!”.

Dengan sangat terkejut dan berat hati, ia memberikan mobil kesayangannya pada Arron. Lalu Charlie keluar dengan muka yang musam dan penuh dengan kebencian. Dia berlari meninggalkan rumah yang selama ini mengurungnya. Ia merasakan seperti burung yang lepas dari sangkarnya, tetapi disisi lain, ia juga merasa sangat sedih karena ternyata orang tuanya memang benar-benar tidak mencintainya. Mengapa juga ia bersabar dan menuruti segala aturan yang ditetapkan orang tuanya kalau ujung-ujungnya ia hanya dibuang seperti binatang? Charlie terus dan terus berlari sampai ia berhenti di wartel.

Kemudian ia menelpon Danny, ”Pagi Danny, lagi sibuk membuat senjata? Kau bisa menjemputku di wartel ilusionist jalan Majic tidak?”.

“hey, Charlie, baik, tunggu sebentar”, kata Danny.

Beberapa menit kemudian Danny sampai di wartel tempat Charlie menunggunya.

Charlie sekarang tidak mempunyai rumah untuk menetap dan ingin menetap sementara waktu di rumah Danny. Charlie kemudian meminta ijin pada Danny, “aku baru saja pergi dari rumah, apakah kau tidak keberatan aku menetap di rumahmu untuk sementara waktu?”

“ayo naik”, Danny mempersilakan Charlie naik mobilnya.

“thanks men”, ucapan terima kasih Charlie.

Waktu terus berjalan. Hari terus melangkah kedepan. Mereka sekarang tinggal bersama disalah satu tempat yang banyak sekali dipenuhi dengan senjata, tak lain dan tak bukan adalah rumah Danny. Rumahnyalah yang sekarang ini menjadi markas untuk para pria panggilan itu. John mengaku pada Ibunya kalau ia bekerja di negara bagian Uranus. Ia akan mengirim uang tiap bulan untuk membiayai adiknya. Karena Peter dulu sendirian tinggal di kontrakan, ia kemudian bergabung dengan teman-temannya di rumah Danny. Lalu, Sam, sama seperti Peter, ia kemudian memilih untuk tinggal di rumah Danny. Semakin hari, semakin banyak orang-orang atau sebut saja Ibu-Ibu yang haus akan belaian kasih sayang yang membicarakan mereka. Dan ternyata tidak hanya dibagian negara Jupiter saja, cerita pria-pria panggilan itu merambah kenegara bagian tetangga yaitu Uranus. Mereka semakin terkenal dan terkenal.

6 Bulan Kemudian…

Para pria panggilan ini kemudian medirikan sebuah bar khusus. Bar khusus? Ya, bar yang khusus hanya digunakan untuk para ibu yang kesepian. Sebenarnya di negara bagian Jupiter peraturan dalam mendirikan bar sangatlah ketat. Hanya beberapa bar saja yang ada di negara bagian ini. Tetapi kenapa mereka mudah saja dalam mendirikan bar itu? Jawabannya juga mudah saja, Gubernur negara bagian itu sudah bercerai dengan suaminya, jadi Ibu Gubernur itu menjanda, dan para pria panggilan itu melakukan aksinya, jadi berdirilah sebuah bar khusus untuk para ibu yang kesepian.

Sampai suatu saat mereka berlima berlibur ke negara bagian Merkurius. Di sana pantainya sangat indah dan terkenal, dengan pasir putih, dan banyak sekali gadis-gadis yang super sexy. Mereka bersenang-senang dalam acara party pantai tersebut. Musim saat ini adalam musim panas, jadi mereka meluangkan waktu beberapa hari untuk tidak menerima panggilan ibu-ibu kesepian. Peter saat itu hanya berteduh di bawah payung yang besar sembari meminum milkshake melihat teman-temannya bersenang-senang. Lalu, ada seorang gadis yang mendekatinya. Dengan pakaian dalamnya yang berwarna pink, so hot, Peter merasa terkejut dan menjatuhkan minumannya.

“Hey”, sapa gadis itu.

“Hey, cu..cuacanya sangat panas ya hari ini”, sedikit basa-basi dari Peter.

“ini kan memang musim panas. Ashley. Siapa kau?”, Ashley memperkenalkan diri.

“o…aku lupa. Huh. Peter. Panggil saja aku Peter. Nice to meet you”, jawab Peter.

“me too. kau sendirian? Kau sepertinya bukan orang sini? Kau terlihat asing bagiku”, kata Ashley.

“no no no… aku bersama keempat orang temanku. Ya, aku memang bukan orang sini. Aku sedang liburan ke sini bersama mereka. Katanya tempat ini sangat indah. Seindah…seindah… (sambil melihat dada Aslhey) seindah……… kau. Hehe… (sedikit malu)”, kata Peter.

“really? Pantai ini memang sangat indah. Oya, nanti malam ada pertujukan band di pantai ini. Apa…kau mau menemaniku?”, ajak Ashley.

“wow! Benarkah? Aku sangat tersanjung dengan ajakanmu. aku akan menemanimu nanti malam. ‘menemani sampai ranjangpun akan aku layani’ (Peter mengataknnya dengan sangat pelan, :P)”, jawab Peter.

“maaf, apa kau bilang?”, Ashley seperti mendengar samar-samar apa yang dikatakan Peter, otak kotornya.

“nothing. Aku nanti malam akan menemanimu”, Peter tersipu malu.

“ok, jam 8 malam di bar B*tch itu yah? Bhy..”, kata Ashley.

“bhy…”, jawab Peter.

Peter merasa sangat-sangat senang hari ini, dan langsung pergi ke penginapan yang juga tidak jauh dari pantai untuk mempersiapkan pakaian apa yang nanti malam akan ia gunakan. Ia kemudian memilah dan memilih baju apa yang cocok untuk dipakainya nanti malam.

Pukul 19.45 waktu setempat, Peter sudah bersiap-siap untuk pergi ‘berkencan’ dengan seorang gadis yang baru ia kenalnya tadi siang.

“kau, terlihat berbeda Peter?”, kata John.

“dia akan berkencan dengan ibu-ibu kan, jadi biasalah…hehehe”, Sam mengejeknya.

“terserah kalian saja, tapi aku akan berkencan dengan seorang gadis yang ‘ehmmmmm’, kalian pasti akan merasa iri padaku nanti”, kata Peter.

Kemudian mereka berlima berjalan kaki menuju bar B*tch karena tidak begitu jauh dari tempat penginapan mereka.

“hey hey hey guys, lihat depat kalian! Siapa yang berjalan kearah kita! Damm! So sexy!”, kata Danny.

“hahaha…itu dia gadis yang akan aku kencani…hahahaha”, Peter tertawa.

“what!!!!”, Danny heran.

“wow, men! kau bercandakan? Gadis itu begitu ‘ehmmmmm’!”, kata John.

“apa ku bilang… hey Ashley. Kenalkan, ini Danny, Sam, Charlie, dan…” kata-kata peter diputus oleh John.

“aku John, baby (berjabatan tangan sambil mencium tangannya)”, John menyela Peter.

“hey, hentikan John! Come on Ashley, saatnya party!!!”, kegembiraan John.

Sam, John, Charlie, dan Danny tertegun melihat Peter berkencan dengan Ashley.

“sial! Aku kurang cepat mendapatkan gadis itu! Huam…”, John bergumam.

“sudahlah John, kita akan mendapatkan yang lainnya disana…ingat, pantai ini dipenuhi oleh gadis-gadis yang ‘ehmmmm’, jadi kita tinggal pilih…hehehe”, kata Sam.

“paling-paling, Peter mengencani gadis itu hanya untuk sesaat saja. Setelah dia puas tidur dengan gadis itu, dia pasti akan meninggalkannya…”, kata Danny.

“hey guys, wait wait wait! Mari kita taruhan! Aku bertaruh, dia akan meninggalkan gadis itu setelah nanti malam dia akan menidurinya, bagaimana dengan kalian? hem?”, ajak Charlie.

Yang setuju dengan Charlie hanya Danny. John dan Sam bertaruh, Peter akan menjadikan gadis itu pacarnya. Entah siapa yang benar, kita lihat saja kedepannya. Saatnya mereka beraksi dan berparty ria.

“hey Peter, di sini sangat berisik! Ayo kita keluar dari sini!”, ajak Ashley. Musik yang begitu ramai dengan riuh-riuhnya para penonton membuat suasana sangat ramai.

Peter kemudian menjawab, “what! Aku tidak bisa mendengar suaramu Ashley!”.

Ashley lalu menarik tangan Peter dari balik kerumunan orang-orang yang sedang asik berparty. Ashley lalu mengajak Peter, “kita pergi dari sini Peter, kau mau ke rumahku? sekitar 20 menit dari sini. Aku bawa kendaraan kok, kau mau?”.

Peter pun tanpa basa-basi lagi mengiyakan ajakan Ashley. Mereka kemudian langsung cabut kerumahnya Ashley.

“wow, rumahmu…sangat-sangat megah Ashley”, Peter terkejut melihat rumah Ashley yang begitu megah melebihi rumah Danny yang tak kalah mewahnya, tetapi rumah Ashley lebih dan lebih mewah.

“hehehe…oya, kau mau minum apa Peter?”, tanya Ashley.

“apa saja boleh…”, Peter menjawab Ashley dengan jantung yang berdegup kencang.

Peter kemudian berkeliling melihat-lihat di sekitar rumah, dan ia berhenti disebuah foto besar terpajang di ruang tengah. “itu, orang tua mu Ashley? Wow, mereka terlihat seperti…seperti…seperti…”, Peter menanyakan sesuatu.

“seperti Gubernur? Mereka memang Gubernur negara bagian ini. Hehehehe…”, jawab Ashley.

“what the hell! Jadi kau anak Gubernur! What!”, Peter sungguh sangat terkejut.

“iya, aku anak perempuan satu-satunya mereka. Saat ini ayahku sedang keluar negeri bersama Ibuku untuk study banding atau apalah itu namanya. Sekarang aku dirumah sendirian, tanpa pembantu, dan pengawal, saat ini aku tidak membutuhkan mereka”, jawab Ashley dengan santainya.

“kau yakin tidak ada siapa-siapa di sini keculai kita berdua? Kau yakin?”, Peter sedang merencanakan sesuatu.

Ashley tersipu malu dan Peter pun mulai mendekatinya. Semakin dekat, semakin dekat, akhirnya mereka saling mendekat, sangat dekat, dan mereka mulai menatap satu sama lain. Bukan hanya tubuh mereka saja yang mendekat, tetapi bibir mereka masing-masing mulai mendekat pula, dan akhirnya mereka berciuman, dan……. (kalian tahu lah selanjutnya).

( ˘з˘)ε˘ ) oh….yeah!

Beberapa jam kemudian, Peter bangun dari tempat tidur Ashley dan tidak memakai sehelai benang sedikitpun. Ia mencar-cari celana Jeansnya dan memakainya.

“kau sudah bangun Peter…”, Ashley sempat mengagetkan Peter. Ashley berdiri di balkon dekat kamarnya dengan hanya menggunakan mantel tidur yang panjang dan transparan dari kain sutera dan memegang 1 botol besar anggur. Ia mabuk.

“malam ini adalah malam yang sangat tak perah aku bayangkan seumur hidupku…!”, Ashley mabuk.

Peter hanya tersenyum. Tetapi ketika Ashley ingin mendekati Peter dan ingin memeluknya, dengan jalan yang sempoyongan ia menginjak mantel tidur yang ia kenakan. Dan apa yang terjadi? Ashley terpeleset dan sampai akhirnya ia juga terjatuh dari balkon, dari lantai 2 rumahnya. Peter hampir saja  memegang tangan Ashley, tetapi sudah terlambat. Ia langsung terjatuh dengan banyak sekali darah yang mengitarinya. Peter pun kebingungan dan ketakutan. Ia langsung turun kebawah ketempat Ashley jatuh dan ingin memberikan pertolongan pertama. Tetapi, ketika ia memegang nadi tangan Ashley… ia sudah tidak bernyawa.

Apa yang terjadi selanjutnya dengan nasip Peter? Simak cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Dengan hentakan musik yang sangat keras, para ibu-ibu ini bergoyang sembari menunggu pesanan mereka datang. Pesanan mereka tak lain dan tak bukan adalah kelima pria-pria gigolo tersebut. Tepat pukul 21.00 waktu setempat, Charlie datang pertama dengan menggunakan pakaian firefighter atau pakaian pemadam kebakaran. Ia menggunakan pakaian itu karena pesanan dari salah seorang ibu yang kesepian yang ingin belaian agar fantasinya kembali bangkit seperti saat masa muda dulu. Charlie yang kata ibu-ibu tersebut berwajah imut, bersih, dan tidak terlalu kekar langsung diserbu para ibu-ibu yang rata-rata sudah berkepala 4 ini. Kemudian disusul oleh John yang baru datang dengan menggunakan kostum bear atau beruang. Disusul kedatangan Peter yang memakai pakaian cowboy. Lalu ada Sam dengan pakaiannya yang ketat yakni dengan menggunakan pakaian para pekerja bangunan, dan yang terakhir adalah Danny dengan pakaian footballnya. Mereka semua bersenang-senang tanpa memperhatikan rumah-rumah yang berada di samping tempat mereka berpesta. Pukul 22.00 telah berlalu, pukul 00.00 telah lewat, dan pesta tersebut berhenti pada pukul 01.00 waktu setempat. Para ibu yang kesepian itu telah puas dan tertidur pulas disembarang tempat. Ada yang berada di sofa, di lantai, di dapur, bahkan ada yang berada di toilet. Lalu setelah kelima pria gigolo ini membersihkan diri, mereka berkumpul d iberanda untuk berbagi jatah mereka masing-masing.

“wow, kali ini aku belum pernah mendapatkan uang sebanyak ini! Hey, kalian berempat, cepat kemari!”, suruh Charlie. John, Sam, Peter, dan Danny kemudian mendekat.

“berapa bagianku?”, tanya Peter.

“ini (sambil menyerahkan uangnya pada Peter) hitung dulu”, kata Charlie.

Charlie pun membagikan uang pada mereka masing-masing secara rata.

“mau rokok?”, Peter menawarkan sesuatu (sambil menyodorkan bungkus rokoknya pada Charlie, John, Danny, dan Sam).

“thanks”,  Jawab mereka berempat. Mereka berempat menolak tawaran Peter karena Charlie, Sam, Danny, dan John tidak merokok.

“hey, aku sepertinya pernah melihatmu dibalapan mobil. Dan waktu itu aku menjagokanmu menjadi juara diturnamen kejuaraan kota Mars. Tapi sayang kau hanya meraih posisi 2, jadi uangku melayang gara-gara kau tak menang. Tapi penampilanmu bagus saat itu. Tak kusangka, selain kau pembalap kau juga seorang gigolo. Hehe… ”, ejek John.

“Kau mau aku ganti uangmu yang melayang itu? Ini ambillah (sambil menyerahkan beberapa $ pada John). Waktu itu aku memang lagi sial saja”, celetuk Peter.

“tak usah, namanya juga permainan, yang ada kalah dan menang, tinggal keberuntungan memihak kita atau tidak. Biarpun beberapa $ uangku hilang, tapi kan akhirnya balik lagi, malahan semakin banyak, seperti yang aku pegang saat ini, hehe… Oya, siapa kalian ini? Kenalkan aku John, salah satu mahasiswa seni di perguruan tinggi Angelo”, John memperkenalkan diri.

“aku Peter, jelas aku adalah seorang pembalam mobil, biarpun amatiran, tetapi kalau kalian menatangku pasti aku yang akan menjadi juaranya”, Peter dangan lantang dan percaya dirinya yang tinggi.

“Danny, kolektor senjata api”, dengan wajah yang serius Danny memperkenlakan diri.

“awesome! Apa kau juga menjualnya? Apa kau resmi mendapatkan senjata itu?”, sela John.

“dengan sedikit ‘penutup mulut’ yang aku berikan pada polisi, sertifikat sah untuk mengoleksi senjata pasti aku dapatkan”, jawab Danny (semuanya tertegun).

“Sam. Sekarang aku yatim piatu. Keluarga satu-satunya yang aku miliki sudah meninggal. Perkerjaan inilah yang sekarang aku jalani saat ini”, kata Sam.

“apa kau tidak punya adik atau kakak? Kenapa ayah dan ibu mu meninggal? Kecelakaan?”, tanya Peter.

Sam kemudian meremat gelas minumannya. Ia benci kata-kata ayah dan ibunya.

“ayah dan ibuku, (Sam tidak rela menyatakan kaliamat itu) mereka pergi meninggalkanku saat aku masih belum mengenal huruf abjad. Aku tak punya adik ataupun kakak. Kakek dan nenek ku lah yang merawat ku sampai aku tumbuh dewasa dengan kasih sayang melebihi kedua orang tuaku yang bejat itu. Tetapi, usia mereka yang tidak muda lagi, akhirnya kakek dan nenek ku dipanggil kehadapan-Nya dan meninggalkan ku sendirian di sini. Aku sekarang tak punya siapa-siapa lagi” jawab Sam sambil menundukkan kepala.

“wow, maaf Sam atas pertanyaanku”, Peter minta maaf.

Cerita dari Sam membuat suasana menjadi sunyi. Lalu Charlie yang belum memperkenalkan diri membuncah suasana.

“sudahlah, itu adalah masa lalu yang pahit. Sekarang apa yang telah kita terima sekarang ini? Apakah sesuatu yang pahit? kita masih punya harapan untuk maju, untuk memberikan yang terbaik dan berguna bagi orang-orang yang ada disekitar kita. Biarpun kata orang-orang gigolo itu kotor dan tidak berguna, tetapi ada juga kan yang membutuhkan jasa kita. Sama saja kita itu berguna, walaupun orang yang meminta jasa kepada kita itu juga orang yang sama halnya seperti kata-kata orang, tak berguna dan kotor. Sebut saja aku Charlie. Dan aku akan menjadi teman mu Sam. (Sam heran menatap Charlie)”, Charlie memperkenalkan dirinya.

“selain gigolo, kau ini juga gay, Charlie?”, Sam mengejek Charlie.

“Hahaha… apa kau berpikir aku gay, Sam? Jawabanya, iya. (semuanya kaget). Maksudnya, iya, aku bukan gay teman-teman. Aku hanya ingin mempunyai teman. Kau tidak tahu betapa hampanya aku tidak mempunyai teman”, kata Charie.

“seumur hidupmu kau tidak punya teman? Apa kau terkurung di rumah? Apa kau tidak sekolah?”, tanya John dengan wajah yang heran.

“i…iya (Charlie menunduk sedih). Aku memang terkurung dalam rumah. Seperti merpati yang di penjara dan kehilangan sayapnya. Sejak kecil, ayah dan ibu ku tidak memperbolehkanku untuk keluar rumah dan bermain dengan orang-orang yang ada disekitar rumah ku. Aku adalah anak dari musisi terkenal. Ayah dan ibu ku adalah musisi yang handal, dan mereka ingin aku seperti mereka, menjadi musisi terkenal dan berkeliling dunia. Setiap hari, setiap jam, dengan jadwal yang tidak berganti-ganti, aku selalu menjalani latihan dan mendengarkan teori mengenai musik. Oya, sebelumnya aku memang mempunyai mantan teman”, jelas Charlie.

“mantan teman? Memangnya ada? Mantan pacar, baru ada…hehehe”, sahut John.

“begini, saat di rumah dan saat aku menjalani latihan rutin bermain musik, untuk menambah semangat dan mengurangi kebosanan ku, ayah dan ibu ku mengundang anak-anak yang selevel, yakni yang mempunyai keluarga seperti kami, musisi terkenal. Aku sangat gembira mendengar kalau setiap latihan ada anak-anak seperti ku yang menemani bermain musik. Tetapi, semuanya itu hanya angan-angan ku saja”, Charlie menunduk semakin sedih.

“kenapa Charlie?”, Danny bertanya.

“tak seperti dugaanku. Mereka tidak menganggapku sebagai teman. Mereka bilang aku adalah anak yang aneh, yang suka bercanda dan bergembira. Mereka lebih memilih fokus pada keahlian musik mereka, ketimbang bercanda dan bergembira bersama ku. Dan itu terus berlanjut”, curahan hati Charlie yang keluar.

“orang tua memang tidak berguna! Apa yang dilakukannya untuk anaknya tidak sesuai dengan hati anaknya. Kurang ajar!”, Sam kesal. “orang tua memang kurang ajar! Mulai detik ini, aku akan menjadi seorang teman terbaikmu kawan. Bagaimana dengan kalian, Peter, Danny, John?”, Sam meminta pertanyaan pada mereka bertiga.

“buk…”, pukulan Peter (Peter memukul lengan Charlie menandakan kalau dia juga setuju dengan Sam).

“mana orang tua mu, aku punya senjata yang bagus Charlie, kau mau? Hehehe… aku ikut dengan kalian saja”, kata Danny.

“maaf, Charlie, aku tidak membutuhkan teman sepertimu, akau membutuhkan pacar. Apa kau mau menjadi pacarku dari pada seorang teman? (Cherlie kaget dengan mata yang melotot, merasa heran) Hahahaha… bercanda kok, Charlie…kami akan menjadi keluargamu saat ini dan seterusnya…”, kebiasaan bercanda John yang kadang kelewat batas.

“hem (Charlie menghela nafas). Thanks kalian semua”, senyum bahagia Charlie.

Mereka pun berlanjut mengobrol sampai lupa waktu untuk pulang kerumah mereka masing-masing. Pukul 04.00 waktu setempat, mereka mengakhiri obrolan mereka. Mereka sekarang menjadi satu kesatuan, yakni teman. Saat masing-masing pria panggilan itu pulang dari tempat party para ibu kesepian, tak disangka motor Peter mogok. Dia memperbaikinya, tetapi tetap saja tidak mau jalan. Akhirnya dia menuntun motornya. Dari kejauhan, John melihat Peter sedang menuntun mobilnya yang mogok. John pulang terakhir dari rumah party tersebut, lalu menghampiri Peter dengan mobil sportynya.

“hey, rider. Perlu tumpangan?”, John memberikan bantuan pada Peter.

Peterpun kemudian ikut dimobilnya John.

“kemana arah rumahmu Rider? (nama panggilan Peter dari John) ke selatan jalan Alien?”, John bertanya sambil melucu.

“hey! Bukannya itu tempat makam pahlawan? Dasar kau! Lurus saja terus, setelah nanti ada pertigaan, kita belok kekanan”, jelas Peter.

“sorry-sorry. Kita berarti punya jalur yang sama. Ok, aku akan menunjukan kalau aku juga jago untuk balapan!”, John terlalu percaya diri dan menancapkan gas.

Semuanya telah pergi kerumah masing-masing. Esok pasti akan berbeda untuk Charlie karena telah mendapatkan teman-teman yang tak dia duga sebelumnya. Cerita apa yang kan disajikan selanjutnya?

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Sekarang musimnya bukan musim buah-buahan seperti buah durian atau pun buah rambutan, tetapi sekarang ini ni musimnya boyband-boyband yang bukan hanya menjamur lagi tetapi udah jadi kaya benalu. Apa lagi di Indonesia ini, semuanya berlomba-lomba mencari popularitas dengan wajah yang tampan dan suara pas-pasan. Mereka sangat terinspirasi dengan boyband-boyband negeri Korea yang full gayanya tumpak-tumpuk. Tetapi kata cewe-cewe keren tu? Keren karena gayanya, tampangnya, tapi suaranya??? Cool or not cool? Terserah apa menurut kalian saja, orangkan boleh mengidolakan seseorang seperti boyband-boyband saat ini, tetapi jujur, aku tidak mengidolakannya. Hiihiihii, maaf. Di sini aku akan menceritakan mengenai 5 orang pria yang mempunyai kesamaan, baik kesamaan nasip dan pekerjaan yang mereka geluti. Mereka sudah tidak ditakdirkan untuk menjadi boyband, kenapa? Karena mereka mengakui, kalau mereka memang tidak mempunyai suara yang bagus untuk menjadi seorang boyband walaupun tampang mereka melebihi boyband. Jika mereka berlima menjadi boyband, mereka tidak ingin membohongi para fans-fansnya. Timbul pertanyaan lagi, kenapa? Saat di pangung, mereka menyanyi bukan dengan suara yang mereka miliki, tetapi mereka hanya lipsing doank, itu kan pembohongan. Hiihiihii. Lantas, apa pekerjaan yang mereka berlima geluti? Dengan wajah yang melebihi boyband mereka bekerja menjadi sosok yang dianggap masyarakat itu “kotor”. Pekerjaan apa ya? Terus simak dan baca lanjutan ceritanya.

Lanjut ceritanya, disalah satu negara bagian di Jupiter (nama karangan) yakni Saturnus, tempat yang nyaman untuk di tinggali dan sangat modern untuk ditempati, semuanya bermula. Lima orang anak manusia yang menginginkan freedom atau kebebasan. Mereka ingin menjadi diri mereka sendiri. Mereka benci memakai “topeng”. Mereka enggan dan malas untuk memerankan orang lain dalam kehidupan mereka sendiri. Siapakah saja mereka ini? Mari kita mengenal lebih dalam lima orang pria ini.

Yang pertama adalah Danny, 23 tahun.

Pria yang misterius ini tak suka banyak bicara. Dia mempunyai mata yang tajam. Danny benci dengan kuliahnya yang selalu membahas isu-isu ekonomi. Dia sebenarnya tidak ingin melanjutkan kuliah, tetapi karena paksaan orang tua, dia sekarang di sekolahkan disalah satu universitas unggulan, terbaik, dan termegah di kotanya. Tetapi itu dulu, sekarang dia memutuskan untuk tidak kuliah lagi dan memilih untuk menjadi kolektor senjata api. Selain menjadi seorang kolektor senjata api, dia juga bisa merakit dan bahkan membuat senjata api dari senjata-senjata api yang dia miliki saat ini. Dengan memadu padankannya, senjata api baru akan terbuat. Dan dia lebih menikmati pekerjaan kesehariannya saat ini ketimbang kuliah dengan mendengarkan isu-isu ekonomi yang membuat kepalanya botak. Sekarang dia sudah tidak tinggal lagi dengan orang tuanya, karena orang tuanya menelantarkannya dan orang tuanya lebih memilih bisnis yang menguntungkan. Tetapi ada satu rahasia darinya. Dia adalah seorang gigolo.

Yang kedua adalah John, 21 tahun.

Oranya lucu dan asik. Tetapi sayangnya dia adalah playboy. Saat di bangku kuliah, dia terus menerus mengajak kencan para gadis-gadis yang cantik dan seksi. Itu dia lakukan tidak hanya 1 atau 2 bulan saja, tetapi setiap hari. Itu adalah menjadi kehidupan sehari-hari John. Dia mengencani para gadis-gadis hanya untuk diperalat saja. John meminta uang setelah dia mengencani para gadis seksi itu, anehnya para gadis itu tidak keberatan dengan apa yang dilakukan John padanya, pantas saja, wajah John sudah menjadi primadona di kampusnya dan para gadis tergila-gila padanya. Uang-uang yang John dapatkan salain untuk bersenang-senang, juga untuk membayar pendidikan adik perempuannya, Catty. Orang tua John bercerai dan sekarang dia tinggal bersama Ibu dan adiknya. Keluarga mereka sederhana, maka dari itu John menggunakan kelebihannya untuk mencari uang. Selain John mengeruk uang dari gadis-gadis di kampusnya, ternyata dia juga melakukan hal yang gila, yakni dia juga berkencan dengan para Ibu rumah tangga yang kesepian.

Yang ketiga adalah Charlie, 20 tahun.

Charlie anak yang sangat penurut. Dia menuruti apa yang dikatakan ayah dan ibunya yang berprofesi sebagai musisi yang terkenal dan mendunia. Setiap saat Charlie dijejali oleh teori-teori dan praktik-praktik yang berhubungan dengan musik. Tetapi disaat orang tuanya pergi untuk tour atau berkeliling dunia untuk konser, Charlie yang tinggal di rumah melakukan suatu hal yang bisa dibilang bertentangan dengan kesehariannya saat ini. Dia lebih suka berpoles dan berdandan. Berpoles dan berdandan? Berarti dia gay? Eits, tunggu dulu jangan asal berkomentar. Ok, dia memang suka berdandan, tetapi bukan berarti kalau dia suka berdandan trus dia gay ya? Dia berdandan menyerupai seseorang atau dalam kata lain yakni menyamar. Dia menggunakan alat-alat seperti di film “BIG MAMA” dan menyamar menjadi orang lain. Sudah pernah nonton filmnya “BIG MAMA” belum? Kalau sudah nonton pasti tahu. Keahlian yang ia dapatkan ini dari penata rias ibunya. Setelah dia mengetahui dasarnya lalu dia mendalami dan sekarang kemampuannya melebihi penata rias pada umumnya. Itu ia lakukan hanya untuk pergi bersenang-senang di luar rumahnya. Maklum, dia dilarang keluar rumah dan hanya berteman dengan teman-teman yang sederajat dengan dia. Charlie tidak suka teman-temannya karena teman-temannya itu terlalu serius dan tidak punya hormon bercanda, jadi dia bosan dengan teman-temannya yang seperti itu selama 10 tahun. Tiap dia pergi ke rumahnya secara diam-diam, dia merubah penampilannya menjadi salah satu petugas penjaga di rumahnya. Dan ada salah satu petugas penjaga rumahnya yang baik yang mau menggantikan dia ketika dia pergi dari rumahnya. Tentunya salah satu petugas itu juga dirubah menjadi seorang Charlie gadungan, dengan imbalan beberapa $. Tapi ada satu yang tidak bisa dirubah oleh Charlie ketika dia menjadi orang lain, yakni suaranya. Ketika di luar Charlie bersenang-senang bukan ditempat bar minuman yang ramai dan gadis-gadis yang seksi, tetapi dia bersenang-senang khusus club untuk para ibu-ibu rumah tangga yang butuh belaian. Waduh.

Yang keempat adalah Peter, 21 tahun.

Peter ini adalah seorang anak yang bisa dibilang nakal sejak kecil. Ia diusir oleh kedua orang tuanya saat berusia 9 tahun. Jadi dia sekarang sendirian tanpa orang tuanya. Dia kemudian mencari profesi yang menantang, yakni sebagai pembalap mobil amatiran. Dia sukses menjalani profesinya. tetapi kadang dia juga benci dengan profesinya itu, karena uang yang dia dapat tidak sesuai dengan harapannya. Sebagian besar uangnya diambil oleh bosnya yang meminjamkannya mobil. Kemudian dia ditawari oleh seorang wanita paruh baya untuk membuatnya senang. Apa itu? Kalian pasti tahu sendiri. Uang dari perbuatan bersama wanita paruh baya itu memang 5 kali lebih banyak dari ketika ia menjalani profesi sebagai pembalap mobil amatir. Sampai saat ini ia menikmati profesinya itu sebagai gigolo dan pembalap mobil amatir.

Yang terakhir adalah Sam, 22 tahun.

Ia adalah siswa yang sangat pandai yang selalu ingin tahu. Maka dari itu ia pernah menjadi “mata-mata” dengan usia yang sangat muda sampai akhirnya ia memutuskan untuk berhenti. Ia memutuskan berhenti karena ia ingin merawat kakeknya yang saat itu sedang sakit parah. Walaupun sampai akhirnya kakeknya tidak dapat tertolong lagi. Sam sejak kecil tidak pernah bertemu dengan orang tuanya, ia hanya diasuh oleh kakek dan neneknya. Orang tuanya pergi untuk mencari uang di kota, tetapi sampai usia 22 tahun, orang tuanya tidak kembali lagi. Sam menganggap orang tuanya sudah mati dan tidak peduli dengannya. Depresi yang berat ketika satu-satunya keluarga Sam meninggal, yakni kakeknya. Ia kemudian terjerumus kehal-hal yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. Iya, ia kemudian menjadi gigolo. Itu ia lakukan karena ia menyadari resiko menjadi mata-mata sangat berat, barulah ia memilih menjadi seorang gigolo dengan bayaran yang hampir sama dengan menjadi seorang mata-mata.

Sampai suatu ketika, beberapa ibu-ibu yang kesepian mengadakan party. Siapa lagi yang diundang kalau bukan para pria-pria yang tampan. Kelima pria di atas sudah menjadi bahan perbincangan para ibu-ibu yang kesepian ini. Maka dari itu, para ibu kesepian ini mengundang mereka, dan disaat itulah kelimanya bertemu untuk yang pertama kalinya.

ketika kelima pria-pria ini bertemu dan bercerita mengenai kehidupan mereka, apa yang akan terjadi selanjutnya?

BERSAMBUNG…

nOte: UNTUK 18+