Archive for the ‘Bahasa Indonesia’ Category

KEHIDUPAN WANITA TUNA SUSILA DALAM MASYARAKAT

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Bahasa Indonesia


Disusun Oleh :

Nama             : Yudha

NIM                : D0310065

Jurusan           : Sosiologi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2010

BAB II

PEMBAHASAN

A. KARAKTERISTIK WANITA TUNA SUSILA (WTS)

Masalah Wanita Tuna Susila atau yang lebih dikenal dengan sebutan WTS selalu ada pada setiap Negara maupun daerah dan merupakan masalah sosial yang sulit untuk dipecahkan. Adanya Wanita Tuna Susila atau WTS ini ditengah masyarakat dianggap sebagai permasalahan sosial dan sangat mengganggu masyarakat disekitarnya. Hal Ini dikarena perbuatan tersebut dilarang oleh agama maupun norma-norma yang berlaku dalam masyarakat luas yang mana perbuatan tersebut adalah dosa besar. Kesetaraan gender menempatkan posisi kaum wanita pada tingkatan yang sama dengan kaum pria, salah satunya mendapatkan pengakuan yang sama dalam melakukan berbagai aktivitas publik yang didasari oleh kepentingan ekonomi rumah tangga. Bentuk Perubahan persepsi yang semakin baik menempatkan wanita sebagai target pemberdayaan. Namun demikian, tidak semua kaum wanita terjangkau oleh program pembangunan ini, Salah satunya adalah mereka yang bekerja sebagai Wanita Tuna Susila (WTS).

B. ALASAN  MENJADI WANITA TUNA SUSILA (WTS)

Salah satu alasan yang melatar belakangi kaum wanita bekerja sebagai wanita tuna susila atau WTS adalah masalah ekonomi dan secara tidak langsung keberadaan WTS telah menjadi katub penyelamat bagi kehidupan ekonomi keluarganya. Namun demikian, peran penting ini tak pernah dilihat secara bijak oleh masyarakat. Masyarakat cenderung melihat hanya dari satu sisi yang cenderung subjektif, menghakimi dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat pada umumnya. WTS merupakan bagian dari kelompok sosial dalam masyarakat yang seharusnya mendapatkan pengakuan yang sama. Tidak selayaknya stigma atau pernyataan  baik dan buruk terus dilontarkan pada kelompok yang cenderung terpojokkan. Faktor pendorong wanita menjadi WTS yang pertama, faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu wanita itu sendiri yang berkaitan dengan kondisi psikologis yang kemudian terkait dengan kuat atau tidaknya wanita dalam meyakini dan berpegang teguh pada aturan-aturan normatif. Kedua faktor eksternal yaitu berkaitan dengan faktor ekonomi yang sangat erat dengan kemiskinan dan kurangnya pendidikan. Dorongan menjadi WTS karena faktor ekonomi yang paling dominan menjadi pendorong wanita menjadi WTS dan memiliki peran dominan dalam menopang ekonomi keluarga.

C. MASALAH YANG DITIMBULKAN WTS TERHADAP MASYARAKAT DISEKITARNYA

Sampai saat ini masih menjadi polemik, setuju dan tidak setuju dari masyarakat menyangkut persepsi mereka terhadap WTS. Masyarakat yang tidak setuju  memberikan reaksi sosial karena membawa dampak negatif bagi masyarakat dan juga akan mengganggu sistem norma yang berlaku di masyarakat itu sendiri. Masyarakat yang mendukung atau setuju adalah masyarakat yang diuntungkan secara ekonomis dengan adanya lokalisasi WTS memunculkan pekerjaan baru bagi masyarakat setempat yaitu adanya peningkatan ekonomi seperti berbagai jenis pedagang, tukang becak, tukang ojek, pembantu atau tukang cuci pakaian, tukang pijat, serta penjual jamu. Menurut Kartini Kartono dalam bukunya Patologi Sosial (1983) menyebutkan akibat-akibat yang ditimbulkan dari pelacuran yaitu sebagai berikut:

  1. Menimbulkan penyakit kulit dan kelamin.
  2. Merusak sendi-sendi kehidupan keluarga.
  3. Dapat menimbulkan disfungsi sosial.
  4. Pelacur dijadikan alat untuk mencari nafkah.

D. UPAYA PENANGANAN WANITA TUNA SUSILA (WTS)

Dalam upaya menangani masalah wanita tuna susila atau yang dikenal dengan sebutan WTS ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Beberapa program yang digunakan untuk menangani masalah WTS dengan tujuan menolong individu – individu (WTS) ini untuk memulihkan, memelihara, memulihkan, dan menigkatkan kefungsian sosialnya di masyarakat seperti seharusnya. Program pelatihan kerja sesuai dengan bakat dan minat terdiri dari :

  1. Menjahit pakaian, dengan diajarkan mengenai ketrampilan menjahit dan membuat pakaian, individu – individu (WTS) ini mempunyai keahlian dan mendapat upah dari hasil ketrampilan menjahit tersebut.
  2. Tata boga, dengan diajarkan mengenai hal – hal yang berbau menarik seperti memasak dan membuat kue, individu – individu (WTS) ini bisa menjadikan sebagai modal awal dalam bekerja dan akan meninggalkan profesinya terdahulu, yakni menjadi WTS.
  3. Kerajinan tangan dan anyaman, dengan ini dapat dipergunakan oleh individu – individu (WTS) sebagai bekal dimasa mendatang untuk mendapatkan pekerjaan yang normal.

Dan masih banyak program – program yang skarang dilakukan oleh pemerintah saat ini mulai dari konsultasi psikologis, penddidikan agama dan akhlak, serta lain sebagainya dalam menangani masalah social ini khususnya mengenai masalah wanita tuna susila (WTS).

BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Wanita tuna susila atau yang kebih dikenal dengan sebutan WTS atau pelacur merupakan salah satu masalah sosial yang keberadaannya sudah sangat lama dan sebagai masalah sosial karena perbuatan ini dianggap melanggar norma-norma masyarakat maupun agama.

Dampak dari WTS yang sangat besar dari masalah WTS ini maka perlu dilakukan upaya penanggulangan masalah WTS melalui program kegiatan meliputi : Program pelatihan kerja, bimbingan dan penyuluhan sosial, konsultasi psikologi dan pendidikan agama dan akhlak.

B. SARAN

Berdasarkan lingkup masalah dan pelaksanaan program kegiatan agar dapat berhasil dan berdaya guna, maka perlu adanya beberapa saran yang harus dilakukan, yaitu sebagai berikut :

a)      Masyarakat dapat menerima WTS yang ada di lingkungannya yang berusaha meninggalkan profesinya dan memberikan kesempatan untuk keberfungsian sosialnya.

b)      Pemerintah dan istansi terkait serta (tokoh) masyarakat hendaknya dapat membantu secara aktif dalam upaya penanggulangan masalah WTS, disamping itu juga memberikian bantuan, dorongan baik moril, materil, maupun spiritual.

c) Melaksanakan program-program yang telah dibuat dengan baik.

KEHIDUPAN WANITA TUNA SUSILA DALAM MASYARAKAT

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Bahasa Indonesia


Disusun Oleh :

Nama             : Yudha

NIM                : D0310065

Jurusan          : Sosiologi

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2010

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah wanita Tuna susila ( WTS ) merupakan masalah sosial karena perbuatan tersebut menyimpang dari norma-norma atau nilai-nilai masyarakat. Banyak istilah yang digunakan bentuk menyebut WTS ini seperti pelacur, balon, sundel dan kupu-kupu malam. Keberadaan masalah WTS ini telah ada sejak jaman dahulu kala hingga sekarang, namun belum ada yang mengetahui secara pasti kapan muculnya WTS itu. Konon masalah WTS lahir bersamaan dengan adanya norma perkawinan. Adapun kegiatan WTS adalah melakukan hubungan seksual dengan laki-laki di luar perkawinan dan berganti-ganti pasangan, serta untuk melakukanya menerima ibalan uang atau dalam bentuk material yang lain. Adapun pengertian WTS menurut Soedjono D. (1977) adalah sebagai berikut :
“ Wanita Tuna Susila atau wanita pelacur adalah wanita yang mejual tubuhnya untuk memuaskan seksual laki – laki siapapun yang menginginkanya, dimana wanita tersebut menerima sejumlah uang atau barang ( umumnya dengan uang dari laki-laki pemakaianya ). ( hal 16 ).

Masalah WTS dinegara khusunya, merupakan masalah yang menghambat lajunya pembangunan karena dapat merugikan keselamatan, ketentraman jasmani, rohani, maupun sosial. Oleh karena itu kehadiranya di tengah-tangah masyarakat hingga kini banyak mendapat hinaan dan penolakan dari anggota masyarakat.
Banyaknya faktor yang menyebabkan seseorang mejadi Wanita Tuna Susila (WTS), seperti di kemukakan oleh A.S Alam (1984) bahwa:
1. berasal dari keluarga miskin yang umumya tinggal di daerah terpencil.

2. berasal dari keluarga pecah (broken home).

3. telah dicerai oleh suaminya.

4. pada umumnya tidak mempunyai keahlian tertentu.

5. melakukan urbanisasi karena menginginkan perbaikan nasib dikota.

6. mempunyai pendidikan yang rendah.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah penelitian mengenai  Wanita Tuna Susila (WTS) yang akan dirumuskan adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana karakteristik WTS itu sendiri?

2. Faktor-faktor apakah yang mendorong menjadi WTS ?

3. Akibat dan masalah apa yang ditimbulkan oleh WTS terhadap masyarakat sekitar ?

4. Upaya penanganan dini yang dapat diberikan terhadap masalah WTS ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian mengenai masalah Wanita Tuna Susila (WTS) ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui latar belakang masalah dan akibat –akibat yang ditimbulkan dengan adanya Wanita Tuna Susila (WTS) ini.
2. Mengetahui potensi dan sumber yang ada untuk dimanfaatkan dalam upaya penanggulangan masalah WTS.
3. Untuk memberikan pemikiran dalam penanganan masalah WTS melalui pembuatan program.

D. Manfaat Penelitian

Adapun kegunaan dan manfaat dari hasil penelitian mengenai masalah Wanita Tuna Susila (WTS) ini adalah sebagai berikut :
1. Diharapkan mempunyai kegunaan untuk memberikan sumbangan pengembangan konsep-konsep tentang penanggulangan Wanita Tuna Susila (WTS).

2. Dapat memberikan sumbangan positif bagi upaya penanggulangan masalah mengenai (Wanita Tuna Susila) WTS.

3. Dapat digunakan sebagai referensi mengenai masalah yang terjadi disekitar kita.

Perkenalkan, nama saya Yudha. Nama panjang saya Yudha. Panggilan saya juga Yudha. Nama yang singkat, padat, dan jelas untuk diingat. Nama Yudha adalah pemberian dari Ayah saya yang berarti dalam bahasa Inggris “War”, dan dalam bahasa Indonesia berarti “Perang”. Maksudnya, berperang melawan kemiskinan yang sedang dialami kedua orang tua saya waktu itu. Setelah saya lahir di Wonogiri 05 Maret 1991, hari Selasa (kliwon) pukul 18.18 WIB, ternyata nama Yudha menjadi keberuntungan kedua orang tua saya. Beberapa bulan kemudian, Ibu saya menjadi Guru Sekolah Dasar menyusul Ayah yang sudah menjadi Guru Sekolah Dasar waktu itu. Cerita ini saya dapat dari Ibu saya waktu masih Sekolah Dasar, tepatnya waktu duduk di kelas 5 Sekolah Dasar.

Saya adalah anak kedua dari dua bersaudara. Keluarga kami menerapkan KB (Keluarga Berencana), 2 atau 3 anak lebih baik. Kakak yang terpaut 6 tahun dari usia saya adalah saudara saya satu – satunya. Ayah saya bernama Sukiya, Beliau lahir di Wonogiri, 04 April 1960. Ia sudah mengajar siswa Sekolah Dasar selama kurang lebih 20 tahun. Sekarang Beliau mengajar di SD Negeri Waleng 1, Girimarto. Ayah saya menjadi kepala keluarga yang disiplin. Setiap hari Ia mengajarkan tentang kedisiplinan dalam segala hal, baik  itu waktu, berpakain, dan sopan santun. Sedangkan Ibu saya bernama Dwi Yuli Karyawati, Beliau lahir di Yogyakarta, 04 Juli 1963. Beliau mempunyai profesi yang sama dengan Ayah saya, yaitu menjadi Guru Sekolah Dasar. Sekarang beliau sibuk mengajar di SD Negeri 2 Waleng, Girimarto. Dalam kesehariannya, Beliau memiliki sifat yang hampir sama dengan Ayah saya, yakni disiplin. Walaupun Beliau memiliki sifat yang disiplin dan tegas, tetapi beliau mempunyai hati yang lembut dan penuh kasih sayang terhadap anak – anaknya. Dan saudara satu – satunya yang saya miliki yaitu kakak, bernama Iwan. Namanya juga singkat seperti saya, cukup Iwan. Ia lahir juga di Wonogiri, 10 Desember 1985. Setelah menyelesaikan kuliahnya di UNS FKIP jurusan Pendidikan Jasmani tahun 2007, beberapa bulan kemudian ia menjadi Guru Sekolah Dasar di Purwantoro, tepatnya di SD Negeri 1 Purwantoro. Kakak saya mengajar sebagai guru pendidikan jasmani di sekolah itu. Dalam kesehariannya, saya sering berkelahi dengan dia, tetapi berkelahi hanya sekedar bercanda. Saya sebenarnya juga bangga menjadi saudaranya. Tempat tinggal kami sekarang ada di desa Sanggrong RT: 01 RW: V, Mlokowetan, Nadirojo, Wonogiri. Dalam satu rumah terdapat 4 anggota keluarga, yaitu Ayah, Ibu, Kakak, dan saya tentunya. Saya bahagia tinggal di desa, orang – orangnya sangat ramah, sopan, dan baik.

Saya juga mempunyai riwayat pendidikan, mulai dari Taman Kanak – kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, dan yang terakhir Perguruan Tinggi. Pertama, saya belajar 1 tahun di TK Dharma Wanita Mlokowetan 2. Waktu saya belajar di sekolah ini, saya mendapat Penghargaan dari Presiden Soeharto dalam lomba mewarnai tingkat TK se-Indonesia. Sebenarnya, saya baru tahu mendapat penghargaan dari Presiden waktu duduk di bangku Sekolah Dasar kelas 3, karena waktu TK, dan SD kelas 1, 2 saya belum begitu paham tentang Piagam Penghargaan. Sekolah kedua saya juga tidak begitu jauh dari sekolah pertama saya. Tepatnya di SD Negeri 3 Mlokowetan. Saat Sekolah Dasar saya mendapatkan peringkat 1 sebanyak 5 kali. 1 kali gagal mendapatkan peringkat 1 waktu di kelas 4. Saya hanya mendapatkan peringkat ke dua waktu itu. Sekolah saya yang ketiga ada di SMP Negeri 2 Ngadirojo. Disana saya mulai aktif mengikuti kegiatan extrakurikuler, yakni Pramuka dan PMR. Saat saya ditunjuk mewakili sekolah untuk mengikuti lomba melukis se-SMP Wonogiri, saya menerimanya walaupun terpaksa karena saat SMP sudah tidak suka dalam hal melukis. Akan tetapi, saya malah mendapatkan juara ke tiga. Tahun berikutnya, tepatnya saat saya sudah kelas 2 ditunjuk lagi untuk mengikuti lomba yang sama seperti tahun lalu. Dan juara yang sama juga saya dapatkan seperti tahun lalu. Saya tidak mengira bahwa saya mempunyai potensi atau bakat melukis. Namun, sampai saat ini menurut saya melukis adalah hal yang paling membosankan. Sekolah saya yang keempat yaitu SMA Negeri 2 Wonogiri jalan Nakula V Wonokarto, Wonogiri, yang sekarang sudah menjadi Sekolah Bertaraf Internasional.Jurusan saya waktu SMA adalah IPS.Saat SMA, saya mengikuti berbagai kegiatan extrakurikuler. Extrakurikuler yang saya ikuti waktu itu adalah Pramuka dan Hansek (Pertahanan Sekolah). Saat masih kelas 1, saya terpilih menjadi anggota OSIS, bidang Jasmani Dan Daya Kreasi. Ingatan yang paling mengerikan saat SMA adalah saat saya dan seluruh teman kelas dimarahi oleh guru bahasa Jerman. Kami semua dimarahi karena 2 teman kami merayakan ulang tahun dan kue ulang tahun mereka ditumpahkan ke wajah mereka berdua, sehingga suasana menjadi ramai, akhirnya guru bahasa Jerman kami datang, tanpa mengetuk pintu, beliau langsung menendang meja dan kursi serta mengatakan hal – hal yang kotor. Beliau memang sudah terkenal sangat disiplin di sekolah, tetapi saat mengajar bahasa Jerman materi yang diajarkan mudah untuk dipahami. Setelah kejadian itu kami semua meminta maaf, walaupun sudah dimaafkan namun saya tetap tidak bias melupakan kejadian tesebut. Akhirnya, Saya lulus dari SMA dan diterima di Universitas Negeri Sebelas Maret. Sebelum saya diterima di UNS,saya sudah mencoba mendaftar dan mengikuti beberapa tes di berbagai Universitas Negeri. Akhirnya, saya diterima di UNS lewat jalur swadana. Sekarang saya mengenyam pendidikan di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik jurusan Sosiologi, UNS. Saya sangat bersyukur dapat diterima di UNS, karena banyak juga teman – teman saya yang tidak dapat mengikuti jalur yang sama seperti saya di UNS.

Itulah sepenggal data diri saya dan keluarga. Untuk mengenal saya lebih lanjut, jadikan saya teman di facebook dengan kata kunci YudhaRB, “Y” dan “R” huruf kapital, tanpa sepasi. Saya juga mempunyai Blog yang berisi catatan, hiburan, dan materi tentang Sosiologi alamat Blog saya http://redblood.blog.fisip.uns.ac.id/. Sekian yang dapat saya sampaikan, jika dalam penuliasan ada suatu hal yang kurang berkenan, saya mohon maaf.

Terima Kasih.

Bahasa Indonesia merupakan bahasa asli dari negara Indonesia dan sudah sepantasnya sebagai warga Indonesia, seluruh masyarakat terutama para remaja menjaga dan melestarikan bahasa Indonesia. Namun apa yang terjadi saat ini sungguh sangat memprihatinkan. Kemampuan berbahasa Indonesia para remaja saat ini sudah semakin menurun.


Banyak remaja yang menggunakan bahasa Indonesia di campur dengan bahasa yang mereka sebut dengan bahasa gaul. Padahal penggunaan bahasa gaul tersebut dapat merusak tata bahasa Indonesia yang benar. Bagi sebagian remaja, menggunakan bahasa gaul akan menciptakan image bagi mereka sebagai anak keren dan tidak ketinggalan jaman. Padahal apa yang mereka lakukan tidak benar dan dapat merugikan Bangsa Indonesia. Apalagi saat ini Malaysia telah mengklaim bahasa Indonesia sebagai bahasa negara mereka padahal sudah jelas bahwa bahasa Indonesia adalah milik negara Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa betapa rendahya kesadaran masyarakat terutama para remaja untuk mencintai bahasanya sendiri.

Indonesia merupakan negara dengan suku dan budaya terbesar di dunia. Di Indonesia terdapat puluhan jenis bahasa seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Padang dll. Namun sangat jarang remaja saat ini menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Bahkan mereka cenderung sudah melupakan bahasa daerah maupun bahasa nasional mereka sendiri. Hanya sebagian remaja di daerah yang menggunakan bahasa daerahnya sendiri. Andai seluruh remaja seperti itu mau melestarikan bahasa nasional maupun bahasa daerahnya sendiri, pasti Indonesia akan lebih maju dan di hargai oleh negara lain di dunia.


Bahasa Indonesia baku mulai dikhawatirkan ketika mulai dikikis oleh bahasa gaul, populer atau bahasa pasar. Padahal, bahasa baku sangat penting dalam kedudukan kebangsaan.

“Bahasa baku penting bagi sebuah negara, apalagi bagi Indonesia,” kata Prof Dr Benny Hoedoro Hoed, pakar bahasa dari Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dalam sebuah diskusi di Lembaga Pers Dr Soetomo, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Menurutnya, bahasa baku memiliki fungsi mempersatukan negara Indonesia yang terdiri dari 400 bahasa daerah. Bahasa Indonesia baku diperlukan untuk memperlancar atau memfasilitasi komunikasi pada tataran nasional.

“Bahasa Indonesia baku berfungsi sebagai bahasa nasional, bahasa persatuan, dan bahasa kebanggaan bangsa Indonesia,” tutur Benny.

Apa yang terjadi di Indonesia ini termasuk hal istimewa dibanding beberapa negara lain yang mengalami kesulitan menetapkan bahasa persatuan. Dia mencontohkan, di India ada bahasa Hindi dan Inggris, di Belgia menggunakan bahasa Belanda dan Perancis. Lalu ada tiga bahasa yang dipakai di Swiss, yakni Italia, Perancis, dan Jerman. Kanada ada bahasa Inggris dan Perancis.

Bahasa baku menurut UU No 24/2009 adalah bahasa yang dianggap dapat digunakan sebagai bahasa di bidang pendidikan, administrasi negara, upacara resmi, karya tulis, hukum, peradilan, dan berbagai ranah yang dapat dipandang resmi.

Itulah tugas Komposisi Bahasa Indonesia, mengenai Indikasi lunturnya berbahasa Indonesia dikalangan remaja saat ini. Beri komentar ataupun saran dan kritik mengenai artikel ini. Terima Kasih.

sumber: http://www.kompas.com/