Archive for the ‘Antropologi’ Category

Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati suka menolong serta rajin menabung dan ada pula yang prilakunya jahat yang suka berbuat kriminal menyakitkan hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat. Hal-hal tersebut dapat dikaji dengan pendekatan antropologi dan sosiologi.

Sosiologi berasal dari bahasa yunani yaitu kata socius dan logos, di mana socius memiliki arti kawan / teman dan logos berarti kata atau berbicara. Menurut Bapak Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.

Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial, yakni fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada di luar individu di mana fakta-fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.

Objek dari sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan juga proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan dari ilmu sosiologi adalah untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk menyesuaikan diri atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Pokok bahasan dari ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

Antropologi berasal dari kata Yunani άνθρωπος (baca: anthropos) yang berarti “manusia” atau “orang”, dan logos yang berarti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiannya. Arus utama inilah yang secara tradisional memisahkan antropologi dari disiplin ilmu kemanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan/ perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelitan pada pendudukyang merupakan masyarakat tunggal.

Sosiologi dan antropologi adalah objek ilmu manusia. Antropologi mempelajari budaya pada suatu kelompok masyarakat tertentu; ciri fisiknya, adat istiadat dan kebudayaannya sedangkan sosiologi lebih menitik beratkan pada manusia dan hubungan sosialnya. Antropologi lebih cenderung ideografik, srtinya cenderung deskriptif, grounded, induktif. Teori dalam antropologi lebih cenderung tebatas pada satu komunitas. Fokus studi antropologi lebih banyak pada nilai-nilai dan perilaku khas sebuah komunitas.

Oleh karenanya, banyak yang mengkritik antropologi bukan kategori sains. Para founding father ilmu sosial semisal Comte, Durkheim, terobsesi agar ilmu sosial bisa diakui sebagai sains. Karenanya mereka menyusun semacam “general principles” di mana pada dasarnya ada teori universal tentang gejala sosial sebagaimana ada teori unversal tentang alam. Muncullah istilah sosiologi untuk menunjukkan bahwa ilmu sosial adalah sebagai sebuah sains.

WAYANG KULIT, RIWAYATMU KINI

Tugas Untuk Memenuhi Mata Kuliah Pengantar Antropologi


Disusun Oleh:

Nama              : Yudha

NIM                : D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2010


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakan Masalah

Sejarah masa lampau merupakan warisan dari para pendahulu yang seharusnya dijaga dan dilestarikan oleh para generasi berikutnya. Salah satunya adalah mahakarya yang terkenal dari Indonesia yaitu wayang kulit. Wayang kulit secara sederhana merupakan sebuah kesenian tradisional masyarakat Jawa yang dibuat dari kulit binatang dan diukir sedemikian rupa serta dimainkan oleh seorang dalang dan diiringi oleh musik tradisional pula yakni gamelan. Dalam pementasan wayang kulit disajikan sebuah cerita yang diambil dari kehidupaan sehari-hari sebagai contoh dan pedoman hidup seseorang. Akan tetapi apa yang terjadi dengan perkembangan wayang kulit sekarang ini? Kesenian wayang kulit sekarang ini semakin hari semakin memudar, tidak seperti dahulu yang dipuja dan dikagumi oleh masyarakat luas. Banyak pertunjukan wayang kulit yang digelar pada saat ini untuk menghidupkan kembali masa kejayaan seperti jaman dulu, tapi sedikit sekali penonton untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit tersebut dikarenakan banyak anggapan yang menyebutkan bahwa wayang kulit itu sudah bukan jamanya lagi, ada juga yang berpendapat bahwa wayang kulit tersebut menggunakan bahasa yang kurang dimengerti oleh banyak khalayak dengan menggunakan bahasa Jawa. Sebenarnya dibalik semua itu wayang kulit  memiliki arti dan seni yang tinggi dilihat dari ukiran dan pesan-pesan yang disampaikan oleh seorang dalang. Banyak masyarakat sekarang ini yang tidak mengerti akan hal itu, dan kebanyakan adalah para generasi muda yang seharusnya dapat melestarikan kesenian wayang kulit ini. Para generasi muda sekarang ini cenderung ke arah dunia Barat dan sedikit demi sedikit meninggalkan unsur budaya tradisinya sendiri. Para generasi muda cenderung lebih percaya diri dengan mengakui budaya asing dari pada budaya sendiri. Baru-baru ini banyak klaim dari berbagai Negara yang menyebutkan bahwa wayang kulit adalah bagian dari kesenian mereka. Sontak masyarakat geram akan hal itu tetapi kejadian seperti ini seharusnya menjadi sentilan masyarakat Indonesia sendiri  bukan malah menyalahkan negara lain. Jika kesenian wayang kulit tersebut dilestarikan khususnya oleh para generasi muda pasti semua kejadian klaim-mengklaim ini tidak akan terjadi. Kesenian wayang kulit harus terus dan tetap dilestarikan keberadaannya. Para generasi berikutnyalah yang harus melestarikannya agar tidak hilang ditelan jaman. Jika bukan generasi muda siapa lagi yang dapat meneruskan warisan budaya Indonesia khususnya kesenian wayang kulit.

Read the rest of this entry »

Integrasi berasal dari bahasa inggris “integration” yang berarti kesempurnaan atau keseluruhan. integrasi sosial dimaknai sebagai proses penyesuaian di antara unsur-unsur yang saling berbeda dalam kehidupan masyarakat sehingga menghasilkan pola kehidupan masyarakat yang memilki keserasian fungsi.

Definisi lain mengenai integrasi adalah suatu keadaan di mana kelompok-kelompok etnik beradaptasi dan bersikap komformitas terhadap kebudayaan mayoritas masyarakat, namun masih tetap mempertahankan kebudayaan mereka masing-masing. Integrasi memiliki 2 pengertian, yaitu :

  • Pengendalian terhadapkonflik dan penyimpangan sosial dalam suatu sistem sosial tertentu
  • Membuat suatu keseluruhan dan menyatukan unsur-unsur tertentu

Sedangkan yang disebut integrasi sosial adalah jika yang dikendalikan, disatukan, atau dikaitkan satu sama lain itu adalah unsur-unsur sosial atau kemasyarakatan.

Suatu integrasi sosial di perlukan agar masyarakat tidak bubar meskipun menghadapi berbagai tantangan, baik merupa tantangan fisik maupun konflik yang terjadi secara sosial budaya.

Menurut pandangan para penganut fungsionalisme struktur sistem sosial senantiasa terintegrasi di atas dua landasan berikut :

  • Suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus (kesepakatan) di antara sebagian besar anggota masyarakat tentang nilai-nilai kemasyarakatan yang bersifat fundamental (mendasar)
  • Masyarakat terintegrasi karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliation). Setiap konflik yang terjadi di antara kesatuan sosial dengan kesatuan sosial lainnya akan segera dinetralkan oleh adanya loyalitas ganda (cross-cutting loyalities) dari anggota masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

Penganut konflik berpendapat bahwa masyarakat terintegtrasi atas paksaan dan karena adanya saling ketergantungan di antara berbagai kelompok.

Integrasi sosial akan terbentuk apabila sebagian besar masyarakat memiliki kesepakatan tentang batas-batas teritorial, nilai-nilai, norma-norma, dan pranata-pranata sosial

Bentuk Integrasi Sosial

  • Asimilasi , yaitu pembauran kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli
  • Akulturasi , yaitu penerimaan sebagian unsur-unsur asing tanpa menghilangkan kebudayaan asli

Faktor – Faktor Pendorong Integrasi

A. Faktor Infernal :

  • kesadaran diri sebagai makhluk sosial
  • tuntutan kebutuhan
  • jiwa dan semangat gotong royong

B. Faktor External :

  • tuntutan perkembangan zaman
  • persamaan kebudayaan
  • terbukanya kesempatan berpartisipasi dalam kehidupan bersama
  • persaman visi, misi, dan tujuan
  • sikap toleransi
  • adanya kosensus nilai
  • adanya tantangan dari luar

Multikulturalisme sebagai sebuah ideologi tentang perbedaan dalam kesederajatan memiliki pondasi kebudayaan yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan yang terwujud dalam sebuah mozaik dari kebudayaan-kebudayaan yang dipunyai oleh masyarakat multikultural.

Sebagai sebuah ideologi memerankan perbedaan dalam kesederajatan meltikulturalisme.

Sebagai sebuah konsep multikulturalisme dengan masyarakat majemuk (plural society)

Plural Society adalah keanekaragaman suku, bangsa, dan kebudayaan.

Untuk hidup dengan corak masyarakat individu yang mejemuk –>masyarakat Indonesia yang multikultural

Masyarakat majemuk Indonesia

Furnifall (1948)

Mengintroduksi konsep masyarakat majemuk (plural society)–>bahasa kebijakan dan praktek-praktek pemerintah jajahan Burma dan Indonesia sebuah masyarakat majemuk ditandai oleh penduduknya yang secara suku bangsa dan rasial saling berbeda yang hidup dalam satuan satuan kelompoknya masing-masing yang hanya bertemu di pasar.

Ciri-ciri masyarakat jajahan–>produk politik ekonomi

Parsudi Suparlan: bahwa Indonesia –>masyarakat majemuk/Bineka Tunggal Ika–>sebuah masyarakat yang sistem sosial nasionalnya mempersatukan beragam masyarakat-masyarakat suku bangsa dan kebudayaan sebagai sebuah bangsa dalam wadah negara.

Kelanjutan dari modal majemuk zaman penjajahan Hindia Belanda dan pendudukan Jepang.

Modal masyarakat majemuk ini dicoba dilaksanakan oleh pemerintahan presiden Soeharto dengan melarang partai-partai politik dengan kekuatan politik yang didasarkan atas suku bangsa dan kesukuan bangsaan.

Masyarakat multikultural ini distorikan –>zaman Orba–>pemanipulasan SARA hukum nasional serta hukum adat dan berbagai kebijakan sosial, etika politik yang terpusat oleh kepentingan penguasa.

Masyarakat multikultural ini menekankan keanekaragaman suku bangsa dan kebudayaan masing-masing dipersatukan dan diatur secara administratif oleh sistem nasional Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Generalizing Approach

Mencari prinsip persamaan dari berbagai ragam masyarakat dan kelompok – kelompok manusia didunia. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan metode – metode yang di bagi menjadi dua:

1. Segala metode yang ditunjukkan kearah penelitian yang lebih dalam dan harus menggunakan kesepakatan, dengan demikian harus dibatasi 3-6 kelompok masyarakat

2. Metode yang terdiri dari segala metode yang terbatas, tetapi obyeknya sebanyak mungkin, maka hsil metode yang dicapai dari metode ini yaitu pengertian tentang dasar – dasar kebudayaan dan masyarakat manusia dengan melalui macam – macam tata cara kehidupan mereka

Kedua metode tesebut TIDAK dapat dipisahkan, maka kedua nya saling melengkapi.

Skema Sub –  sub Antropologi

1. Antroologi

a) Antropologi Fisik

-Paleantropologi

-Somatologi

b) Antropologi Budaya

-Prehistori

-Etnolinguistik

-Etnologi : +disintegration (etnologi)

+generalizing (antropologi sosial)

Kompleks Studi Antropologi

Perkembangan suatu ilmu yang baru “Etnopsikologi”

Pda awal penelitiannya antropologi banyak memakai konsep – konsep psikologi, hal ini timbul perhatian terhadap tiga macam, misal :

1. kepribadian bangsa

Timbul sesudah Perang Dunia 2, tetapi ditanah jajahannya, contohnya : melukiskan bangsa jiwa itu malas, tak aktif, indolent, tak jujur. Hal ini cocok dari sudut psikolgi sehingga perlu dibuktikan

2. peranan individu

Peranan individu (1920) mempelajari kebudayaan tindakan yang menyimpang dari adat, itulah perhatiannya, dan tentu dipakai konsep psikologi

3. nilai univeersal individu

Nili universal, dipelajari misal tentang “kegoncangan batin masa remaja” hal itu merupakan gejala penting bagi ahli psikologi.

Kompleks studi antropologi menggunakan konsep psikologi yang diangga sub-ilmu tersendiri yang disebut Etnpsikologi / Psykological Antropology Study (studi kepribadian dan kebudayaan) atau Study of Culture and Personality

Spesialisasi Antropologi ( R. Firth, Inggris 1930)

1. Antropologi Ekonomi

2. Antropologi Pembangunan

3. Antroologi Pendidikan

4. Antropologi Kesehatan

5. Arteopologi Penduduk

6. Antropologi Politik

7. Antropologi Psikiatri

Timbulnya sub – sub ilmu Antropologi Spesialisasi membuka kesempatan berkembangnya proses – proses baru ahli Antropologi di luar penelitian, profesi konsultan, dalam pembangunan daerah, pusat, dan klinik.

Hubungan Antropologi Dengan Ilmu Lain

1. Antropologi – Sosiologi

Mencapai pengertian tentang azas – azas kehidupan masyarakat dan kebudayaan pada umumnya

2. Antropologi – Anatomi

Hal ini dibidangi antropologi fisik yaitu meneliti ras dan ciri – cirinya, hal ini perlu bagi ilmu anatomi karena ciri berbagai kerangka manusia, bagian tengkork dan ciri bgian tubuh manusia pada umumnya. Tetapi bagian terpenting antropologi fisik yaitu asal mula dan persebaran manusia dan hubungan ras  didunia

3. Antropologi – Ilmu Kesehatan Masyarakat

Masyarakat adalah suatu bentuk kehidupan bersama manusia yang mempunyai ciri – ciri pokok :

-manusia hidup bersama

-bergaul selama jangka waktu yang cukup lama

-adanya kesadaran, bahwa setiap manusia merupakan bagian dari suatu kesatuan

-adanya nilai – nilai dan norma – norma yang menjadi patokan perilaku yang dianggap pantas

Masyarakat -> Sistem sosial

Merupakan wadah bagi orang – orang / manusia yang mengadakan reproduksi, memiliki adat istiadat, menjalankan ketertiban menerapkan sanksi sebagai sarana pengendalian sosial dan merupakan wilayah tertentu

Unsur – unsur Masyarakat

Bermacam – macam wujud kesatuan kolektiff manusia, sehingga kita perlu istilah untuk membedakan kesatuan manusia. istilah paling lazim ->masyarakat

Dalam masyarakat terdapat beberapa yang dapat dianggap kelompok, diantaranya : komunitas, kelompok, dan perkumpulan

Arti Masyarakat Berdasarkan Bahasa

-Masyarakat adalah sekumpulan manusia yang saling bergaul / berinteraksi

-Sekumpulan manusia dikenal dengan istilah Pown/perkumulan, yakni ikatan yang menbuat suatu kesatuan manusia menjadi suatu masyarakat pola tingkah laku yang lekat mengenai semua faktor kehidupan dalam batas kesatuan itu

-Pola babas yang harus sudah menjadi adat istiadat

kota/desa adalah kesatuan manusia yang mempunyai ciri – ciri

a)interaksi antar warganya

b)adat istiadat, hukum, norma – norma, dan aturan yang khas

Perkembangan antropologi

bagian – bagian yang tidak terlepas adalah:

1. faktor penyebab timbulnya antropologi

2. lahirnya antropologi

3. perkembangan antropologi

Empat Fase Antropologi

1. Fase Pra Tahun 1800

Ditandai bangsa Eropa barat mengunjungi benua Amerika, Afrika, dan Asia. Tujuannya adalah membuktikan apakah betul bumi itu bulat. Mereka mencatat adat istiadat, bahasa, bentuk – bentuk kehidupan masyarakat dan ciri – ciri tubuh dari bangsa atau suku – suku tersebut. Diadakan penyelidikan mendalam, selanjutnya dari hasil penyelidikan, dijadikan Ilmu Pengetahuan yang disebut Etnografi (pelukisan tetang bangsa – bangsa).

-etnos : bangsa

-grafis : gambar

titik dasarnya adalah masyarakat primitif.

Pandangan Eropa cendekiawan terhadap bangsa diuar Eropa

– orang diluar Eropa adalah bukn manusia ->savagas primitif

– bangsa diluar Eropa sebagai contoh bangsa murni

– orang diluar Eropa dijadikan obyek mendalam

2. Fase Pertengahan Abad 19

Timbul Antropologi dengan tujuan mempelajari masyarakat dari kebudayaan primitif, mencari pengertian tentang tingkat – tingkat kehidupan masyarakat

3. Fase Permulaan Abad 20

Ilmu praktis guna kepentingan penjajah yaitu untuk memperoleh pengertian tantang masyarakat yang kompleks, dan memiliki bentuk – bentuk masyarakan yang sederhana

4. Fase Sesudah tahun 1930

a) timbul pertentangan terhadap kolonialisme

b) memudarnya bangsa – bangsa primitif

Antropologi dirasa menghilang akibat perubahan masyarakat. Tahun 1951 diadakan simposium tingkat internasional dengan tujuan meninjau kembali antropologi dalam perkembangan yang baru. Dalam perkembangannya tidak hanya menyelidiki suku bangsa diluar Eropa tetapi masyarakat pedesaan dari sudut aneka warna, bentuk fisik, dan kebudayaan serta kehidupan masyarakat.

Perkembangan dan tujuan antropologi dalam fase 4

a) Tujuan akademis : untuk mencapai pengertian tentang aneka warna manusia, kebudayaan, maupun keadaan masyarakat

b) Tujuan praktis     : mempelajari manusia dalam masyarakat pedesaan yang dapat dijadikan dasar untuk memajukan masyarakat pedesaan.

Ruang Lngkup Antropologi

– tentang sejarah terjadinya dan perkembangan manusia sebagai makhluk biologis

– tentang sejarah terjadinya warna makhluk manusia dipandang dari ciri – ciri tubunya

– tentang persebaran dan terjadinya aneka bahasa dari bangsa – bangsa didunia

– tentang perkembangan, persebaran, dan terjadinya aneka kebudayaan manusia didunia

Klasiffikasi Antropologi

1. Paleoantropologi

Memiliki asal usul dan terjadinya perkembangan mnusia dan obyeknya, yaitu fosil – fosil manusia purba

2. Antropologi fisik

Mempunyai sejarah terjadinya macam – macam warna makhluk manusia dilihat dari ciri – ciri tubuhnya, baik secara lahir (fenotopik) maupun ciri – ciri di dalam diri manusia

3. Etnolinguistik

Obyeknya penelitian daftar kata- kata, pelukisan ciri – ciri bahasa dan tentang bahasa (lokal maupun nasional)

4. Prehistori

Mempunyai persebaran dan perkambangan kebudayaan manusia didunia

-zaman manusia belum mengenal tulisan/huruf maupun setelah mengenal (zaman historis)

-zaman prehistoris : peninggalan bkas kebudayaan yang berupa benda – benda dan alat – alat artefak yag tersimpan didalam lapisan bumi atau disebut Archeology

5. Etnologi

Mencoba mencari pengertian – pengertian dasar kebudayaan dalam kehidupan masyarakat diberbagai suku bangsa yang tersebar diseluruh dunia. Dalam penyelidikan menekankan pada dikronisnya (discriptive integration) dan syncronis (generalizing pproach)

-antros :manusia

-logos   :ilmu

Aristoteles dan Kluckholm

Antropologi yaitu ilmu tentang manusia mencangkup bentuk, ciri – ciri tubuh, evolusi perkembangan manusia dalam kehidupan masyarakat yang meliputi perasan, pikiran, dan perbuatan.

Jadi “Antropologi” adalah ilmu yang mempelajari manusia dengan segala perilakunya atau mempelajari menusia dengan segala aspeknya.

Tiga aspek kehidupan :

1. Manusia sebagai makhluk biologis, mempunyai kebutuhan makan, minum, meneruskan keturunan, dll.

2. Manusia sebagai makhluk berbudaya, mempunyai akal pikiran yang digunakan untuk kelangsungan hidupnya.

3. Manusia sebagai makhluk sosial, sadar tidak mampu hidup sendiri sehingga perlu bantuan dari pihak – pihak lain.

Jadi, dengan demikian ketiga aspek tersebut merupakan Sasaran Pokok Antropologi.

– Aspek pertama, tentang fisik manusia (ras dan evolusi manusia) dalam antropologi fisik

– Aspek kedua, tentang perkembangan manusia dalam menghasilkan peralatan hidup, dibahas dalam antropologi budaya

– Aspek ketiga, tentang perkembangan masyarakatnya, merupakan sasaran antropologi sosial, hal ini diambil dari :

a) manusia pra urban

b) manusia pra literal

c) mnusia primitif

d) masyarakat urban

Akan tetapi, titik dasarnya adalah masyrakat primitif, mengapa? Karena kita harus sadar kedudukan kita, mengetahui asal usul kita terlebih untuk negra yang sedang berkembang.

Antropologi hrus merupakan perbandingn masyarakat primitif dengan masyarakat maju.

1. Alasan Konsepsional

Berdasarkan pendapat umum diperlukan banyak masyarakat sebagai perbandingan sebelum diperoleh sebuah kesimpulan

2. Alasan Kompartif

Pada dasarnya perkembangan bangsa – bangsa didunia tidak sama, dengan demkian kita mempelajari kebudayaan yang masih sederhana yang sudah mengalami perkembangan dan kebudayaan bangsa yang sudah maju.

“Dengan perbandingan kita dapat melihat perkembangan diseluruh dunia”

Seorang manusia akan memiliki perilaku yang berbeda dengan manusia lainnya walaupun orang tersebut kembar siam. Ada yang baik hati, suka menolong, serta rajin menbung dan ada pula pyang perilakunya jahat yang suka berbuat kriminal, menyakiti hati. Manusia juga saling berhubungan satu sama  lainnya dengan melakukan interaksi dan membuat kelompok dalam masyarakat. Hal – hal tersebut dapat dikaji dengan pendekatan antropologi dan sosiologi.

Sosiologi berasal dari bahasa Yunani yaitu kata “socius” dan “logos”, dimana socius mempunyai arti kawan atau teman, sedangkan logos berarti kat atau berbicara. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses – proses sosial, termasuk perubahan – perubahan sosial. Menurut ahli sosiologi lain yakni Emile Durkheim, sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari fakta – fakta sosial, yaitu fakta yang mengandung cara bertindak, berpikir, berperasaan yang berada diluar individu dimana fakta – fakta tersebut memiliki kekuatan untuk mengendalikan individu.
Objek sosiologi adalah masyarakat dalam berhubungan dan proses yang dihasilkan dari hubungan tersebut. Tujuan ilmu sosiologi adalah meningkatkan kemampuan seorang untuk menyesuaikan diri  atau beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Pokok bahasan ilmu sosiologi adalah seperti kenyataan atau fakta sosial, tindakan sosial, khayalan sosiologis serta pengungkapan realitas sosial.

Antropologi baraal dari bahasa Yunani “anthropos” yang berarti manusia atau orang , dan “logos” mempunyai arti ilmu. Antropologi mempelajari manusia sebagai makhluk biologis sekaligus makhluk sosial. Antropologi memiliki dua sisi holistik dimana meneliti manusia pada tiap waktu dan tiap dimensi kemanusiaannya. Arus utama inilah yang secara trdisional memisahkan antropologi dari disipin ilmu kamanusiaan lainnya yang menekankan pada perbandingan atau perbedaan budaya antar manusia. Walaupun begitu sisi ini banyak diperdebatkan dan menjadi kontroversi sehingga metode antropologi sekarang seringkali dilakukan pada pemusatan penelian pada penduduk yang merupakan masyarakat tunggal.

Sosiologi dan Antropologi adalah objek ilmu manusia. Antropologi mempelaji budaya pada suatu kelompok masyarakat tertentu; ciri fisiknya, adat istiadat, dan kebudayaan, sedangkan sosiologi lebih menitiberatkan pada manusia dan hubungan sosialnya. Antropologi cenderung ideografik, deskriptif, grounded, dan induktif. Teori dalam antropologi cenderung terbatas pada satu komunitas. Fokus studi antropologi lebih banyak pada nilai – nilai dan perilaku khas sebuah komunitas.

Gbr. Emile Durkheim


Oleh karena itu, banyak yang mengkritik antropologi bukan kategori sains. Para founding Father ilmu sosial semisal Comte dan Durkheim, terobsesi agar ilmu sosial bisa diakui sebagai sains. Karenya mereka menyusun semacam “General Principle”dimana pada dasarnya ada teori universal tentang gejala sosial sebagaimana ada teori tentang alam. Muncul istilah sosiologi untuk menunjukkan bahwa ilmu sosial adalah sebuah sains.
Gbr. Auguste Comte

Demikian Hubungan antara Antropologi dengan Sosiologi. Semoga dapat bermanfaaat, berikan komentar, saran, ataupun kritik yang membangun. Jika dalam penulisan terdapat kesalahan, penulis mohon maaf.
Terima Kasih.