Hey! Apa kabar? :Yb Sempat menghilang selama kurang lebih satu semester kemarin, tepatnya semester 5 yang penuh dengan suka duka cita menghampiri perasaan, hati dan pikiran yang selama ini terbebani oleh sebuah matakuliah dan kesibukan yang teramat sangat membuatku lupa akan syukur yang ku terima, lupa akan tempatku berpijak bumi pertiwi Indonesia ku tercinta ini. Tak terasa oleh ku sudah menginjak semester 6, ku berpikir keras untuk semakin lebih baik dari semester 5 yang telah lalu.

Ini, merupakan sebuah awal tulisanku pada semester 6, tulisan yang bukan berbicara mengenai sebuah kejadian yang menggemparkan semisal politik Indonesia yang sedang “gonjang – ganjing” seperti sekarang ini, bukan mengenai para artis kontroversial yang mencari sebuah sensasi belaka, bukan pula prediksi bencana alam yang selalu disiarkan dilayar televisi, tapi ini merupakan tulisan tentang sebuah perjalanan anak manusia yang bangga akan bangsa dan Negaranya sendiri, Indonesia. Sudah terlihat jelas dan sangat gamblang ketika kau berbicara mengenai sebuah Negara yang kata rakyatnya sendiri adalah Negara paling korup di dunia, Negara yang memproduksi film horror tanpa sebuah makna, Negara dengan jumlah penduduk pemakai Blackberry terbanyak di dunia, dan lain sebagainya. Tapi disisi lain ada juga yang berkata, Negara dengan banyak sekali pulau, suku, bahasa, budaya, dan makanan asli buatan sendiri, Negara yang masih mempunyai etika sopan santun, dan Negara yang mempunyai salah satu keindahan alam Terbaik di dunia. Kalau pikiranmu tertuju pada Negara Indonesia, sangat tepat sekali. Keindahan alam Indonesia memang luar biasa dan memang demikian adanya. Mulai dari ujung utara sampai selatan, ujung barat ke ujung timur, semuanya memiliki ciri khas masing – masing dan hal ini yang menjadikannya lebih berwarna. Di sini, aku akan menceritakan dan menggambarkan tentang secuil keindahan alam yang dimiliki oleh Negara Indonesia, yakni Pulau Sempu, Madakaripura, Bromo Dan Pulau Dewata dalam sebuah petualangan “The Real Adventure” yang tergabung dari 9 anggota yang tertantang untuk menapaki sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupakan, membekas dihati, dan menjadi sebuah memory untuk selalu dikenang dalam hidup. :peluk

Liburan semester 5 ini, ku persiapkan segalanya untuk ikut dalam rencana trip yang telah dirancang sedemikian rupa oleh teman sekelasku, dia Ika Nur Setiyawati (Ika). Aku mengikuti trip itu karena aku ingin merefresh pikiranku yang seakan telah penuh dengan suatu hal yang berbau matakuliah, matakuliah yang benar – benar menguras tenagaku, pikiranku, dan yang tak kalah pentingnya adalah tabunganku. Setelah membaca dan dijelaskan oleh temanku Ika mengenai rencana trip yang telah dibuatnya, aku turut ambil bagian dalam arti bergabung dalam trip itu. Karena obyek yang akan kita tuju ternyata tidak semudah yang kita bayangkan (diperlihatkan foto – foto selama perjalanan menuju tempat tujuan) hal ini sangat menantang dan menguji adrenalin kita, bahkan Ika sempat bilang kurang lebihnya seperti ini, “jika ingin mengikuti trip Ika, tingkatkan kemampuan fisik dan mental agar nantinya tidak “mampus” ditengah perjalanan”. Hal ini membuatku semakin tertantang untuk terus lanjut mengikuti trip yang saat itu baru direncanakan. Apapun tantangannya, apapun halangan dan rintangan yang menghadang, mata akan selalu terbuka untuk waspada jika bahaya mengintai, pikiran akan selalu siap siaga untuk merencanakan suatu hal yang diluar dugaan, tubuh akan selalu siap memikul beban berat yang kita bawa, dan mental akan membuktikan siapa sebenarnya diri kita. Dalam kamus hidupku, “Tantangan adalah sesuatu hal yang menyenangkan”. Pulau Sempu, Madakaripura, Bromo Dan Pulau Dewata, tunggu kedatangan kita.

Ika, sangat bersemangat sekali dalam trip ini, para anggota yang sudah benar – benar fix ikut, dia kirimi pesan via phone untuk tetap bersemangat dalam menjaga kondisi tubuh agar fit nantinya saat perjalan menuju tempat tujuan, selain itu dia juga menulis pesan yang sangat panjang mengenai barang – barang apa saja yang harus dibawa dan lain sebagainya, bahkan Ika merambah kedunia jejaring sosial Facebook dan Twitter untuk mempromosikan trip yang telah ia buat dan rencanakan sejak awal. Tetapi, anggota yang terkumpul dan fix ikut untuk menapaki sebuah perjalan dibumi pertiwi ala Backpacker terhitung 9 orang. Siapa sajakah mereka? Mari kita berkenalan dengan mereka satu persatu.

Yudha_ Erni Kurnia_ Rina Utami_ Irena Fitrianingsih_ Abdur Rohman_ Ika Nur Setiyawati_ Diandra Ramona_ Farisqi Dian Novita_ Toro Rizki Yuda Saputra (dari kiri kekanan)

Kalian bisa berkenalan dengan mereka cukup dengan klik namanya saja, kalian akan langsung tertuju pada profil mereka, silakan follow untuk yang di Twitter dan jangan lupa juga untuk di add mereka yang mempunyai profil di Facebook. Kesembilan anak manusia inilah termasuk aku yang akhirnya fix turut serta dalam sebuah perjalanan sekaligus petualangan untuk menapaki suatu keindahan alam Indonesia ala Backpacker.

Tinggal beberapa jam lagi menuju keberangkatan, kami semua melakukan briefing yang diadakan didepan lobi fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik, UNS pukul 19.15 WIB. Tetapi, memang kebiasaan orang Indonesia atau bagaimana, “molor” dalam hal waktu itu pasti sering terjadi. Hanya Ika saja yang tepat waktu, ya jelas, dia kan penggagas trip ini, andai saja dia tak tepat waktu, kena amuk masal kamu Ika, haha. Akhirnya, pukul 20.00 WIB tepat kita memulai briefing, sebelumnya kami berkenalan dengan anggota yang lain karena tidak semuanya kami mengenal satu sama lain. Setelahnya, kita mulai membicarakan hal – hal yang serius, seperti tenda, alat masak, dan lain sebagainya. Setelah masalah – masalah yang belum teratasi terpecahkan, pukul 21.00 WIB kita mengakhiri briefing trip tersebut. Kita semua sepakat untuk berkumpul di gerbang belakang UNS pada pukul 23.00 WIB. Salah satu dari kami memesan taksi untuk diantar sampai ke stasiun Jebres, Solo. Kami berangkat menggunakan kereta api Matarmaja, tiketnya tentu sudah jauh – jauh hari kami beli sebelumnya.

Sampai juga kita di stasiun Jebres, Solo tempat dimana perjalanan sekaligus petualangan kita dimulai. Wah, kereta juga belum berangkat, malah sudah narsis duluan, hehe.

Hari senin malam tanggal 11 Februari 2013 tepat pukul 00.48 WIB akhirnya kereta yang kita tunggu datang juga. Di dalam kereta kami terpisah menjadi 2 kelompok tetapi tidak terlau jauh, hal ini terjadi dikarenakan nomer pada tiket kereta api yang tertera harus sama pada tempat yang kita duduki. Kurang lebih selama 8 jam perjalanan dengan menggunakan kereta untuk menuju ke stasiun Kota Lama, Malang. Wah, duduk terus selama 8 jam itu “sesuatu” banget. Disamping kami ada 2 orang perempuan, mereka juga mahasiswa sama seperti kita (lupa mahasiswa universitas mana), keduanya ternyata arek Surabaya juga, akhirnya Ika, aku (Yudha) dan kak Erni ngobrol dengan mereka. Kami ngobrol tidak lain tentang trip menuju tempat wisata yang sudah kita rencanakan, disitu kami mendapat beberapa informasi penting, dan itu lumayan membantu juga. Rasa kantuk yang menerkam, membuat kami bertiga mulai perlahan memejamkan mata untuk sejenak beristirahat. Akan tetapi, tempat duduk yang keras, kereta yang bergoyang mengikuti irama rel kereta, membuat tidurku tak nyenyak, ditambah sampingku salah seorang mahasiswa yang kami ajak ngobrol tadi terlihat lumayan, hahay, apalagi para pedagang asongan yang selalu mondar mandir untuk menjajakan dagangannya, satu lagi, suara berisik anak ayam dan pemiliknya yang sedang menggosip kesana dan kemari, beeeh jadi serba salah pokoknya dan aku hanya bisa memejamkan mata saja tanpa merasakan nikmatnya tidur pada malam itu. Tetapi memang inilah usaha yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan kita nanti, ibarat sebuah durian, kita harus membuka durian itu dengan resiko tertusuk kulitnya yang runcing dan tajam, tetapi setelah durian itu terbelah, kita akan merasakan betapa nikmat rasa durian itu, dan nikmat rasa itu sama dengan ketika kita sampai pada tempat tujuan yang sudah kita rencanakan dari awal.

Keesokan paginya, sekitar pukul 08.00 WIB kami telah sampai dan berhenti di stasiun Kota Lama, Malang. Setibanya disana, kami beristirahat dan mencari pengganjal perut yang sudah tidak bisa diajak untuk berkompromi lagi. Karena kami ala Backpacker, makanan murahlah yang kami tuju, dan ternyata ada Soto, makanan asli Indonesia. Ini dia beberapa moment yang tertangkap camera, barang bawaan yang besar serta lagi asik sarapan.

Setelah istirahat dan sarapan, kami lalu menyewa peralatan camping ke Mas Mufik, sebelumnya kita sudah menghubungi dan melakukan janji dengan beliau. Rumah beliau lumayan dekat dengan stasiun Kota Lama, kurang lebih 300m dari pintu keluar stasiun. Beres untuk menyewa peralatan camping, lanjut untuk penyewaan angkot dari stasiun Kota Lama ke Sendang Biru, perjalanan yang ditempuh kurang lebih selama 3 jam, “berangkat bang!”.

Sampailah kita di Sendang Biru, kita dijamu birunya air laut yang natural, deretan kapal – kapal bersandar dibibir pantai, dan suasana sejuk khas pantai yang membuat lelah perjalanan menjadi sedikit terobati. Karena saat ini tujuan tempat wisata yang pertama belum kami pijak, kami mengharuskan untuk mengisi energy kita dengan ISOMA sembari mengurus perijinan. Lalu kamipun sudah bersiap – siap untuk melakukan perjalanan lagi dengan menggunakan kapal menuju ke Segara Anakan. Sebelumnya, kami melihat para sekelompok anak muda sama seperti kita yang telah menyudahi petualangannya disana, mereka terlihat kotor, berlumpur, dan basah. Hal itu wajar, karena setelah kita berlabuh dari kapal, kita akan melakukan tracking menuju tempat impian kita yang pertama. Beberapa gallery saat berada di Sendang Biru menuju ke Segara Anakan, ini dia..

Akhirnya, kapal telah berlabuh selama kurang lebih 15 menit perjalanan dari Sendang Biru, terasa begitu cepat. Kita mulai berkumpul dan berdoa, semoga keselamatan tetap menyertai kita semua sewaktu tracking sampai menuju perjalanan pulang. “cuss berangkat bray!”.

Pukul 15.00 WIB, baru beberapa menit melangkah, kami sudah disambut oleh teriakan kera penghuni disana, selain itu terdapat pohon besar yang sudah kering dan tumbang sehingga menghalangi jalan utama kita, tetapi hal tersebut tidak menyurutkan niat serta tekat kita untuk terus melangkah kedepan menuju salah satu dari berjuta – juta keelokan wisata alam Indonesia. Jalan yang berlumpur, pohon – pohon yang lebat dan menjulang tingginya sebagai tempat para mahkluk hidup disana tinggal, tumbuhan rambat yang membela dirinya dengan duri tajamnya, serta vampire kecil yang selalu haus akan darah kita, semuanya itu adalah sebuah petualangan yang bisa dikatakan “The Real Adventure”. Dalam benak dan pikiranku, aku membayangkan tracking yang akan kita lakukan kurang lebih selama 1 jam, tetapi itu salah besar. Sudah 1 jam kita tracking tetapi kita tidak sampai pada tempat tujuan. Barang yang berat yang kita pikul, serta matahari yang sudah enggan lagi untuk menerangi kami, suasana sudah semakin gelap, bayangkan, kita ada ditengah hutan. Dengan muka yang berlipat lipat, ibarat baju yang tidak disetrika selama sebulan, kami hampir kehilangan kepercayaan diri kami untuk terus melanjutkan perjalanan menuju tempat impian. “Kenapa lama sekali! Kapan kita sampainya! Aku pikir, perjalanan tracking ini tak butuh waktu yang lama!” Itulah yang ada dipikiran beberapa anggota petualangan ini, rasa kecewa karena tidak kunjung sampai, serta rasa lelah yang terasa sangat membakar jiwa. Mungkin sedikit humor perlu untuk membantu membuat mereka tersenyum, aku buat saja humor untuk mereka, dan akhirnya ada senyum diwajah mereka yang dari tadi diam, menunggu, dan ingin bilang, “istirahatnya setengah jam dong!”, haha.

Jujur, aku sempat juga frustasi kenapa tak kunjung sampai ditempat tujuan, apalagi hari yang sudah semakin gelap. Aku pikir kita tersesat, tetapi jalan yang kita tempuh memang benar, sampai dalam benakku berkata, “lebih baik kita berkemah ditengah hutan saja!”. Tetapi apakah itu aman? Jelas tidak aman, maka dari itu aku berdiri, ku bakar rasa amarahku untuk terus melesat kedepan. Sekarang, yang ada dalam benakku adalah, “aku ingin cepat sampai ditempat tujuan!”. Sebelumnya kami mungkin terlalu banyak istirahat, jadi waktu yang harusnya digunakan untuk terus tracking terbuang dengan percuma, tetapi hal itu wajar karena kebanyakan dari anggota kita adalah seorang perempuan. Namun, ku sadar mereka adalah para perempuan dengan jiwa yang kuat dan tak akan menyerah sampai titik urat nadi yang mereka punyai. Akhirnya dengan semangat kita bersama, kami tidak akan membuang waktu lagi dan terus melangkah, terus menapaki jalan – jalan berlumpur, berbatu, dan licin. Dengan daya dan upaya yang kita punya, akhirnya kita kewalahan juga dan sempat untuk istirahat beberapa menit. Aku merasakan, tempat tujuan kita semakin dekat, karena aku mendengar deburan ombak dari kejauhan, sayup sayup sunyi, tapi feelingku mengatakan, “memang sudah dekat..”. Dengan kekuatan harapan, kami meneruskan perjalanan, dan apa yang aku lihat? Sebuah genangan air, genangan air yang sangat besar, ternyata tempat tujuan kita hampir sampai, sekarang benar – benar hampir sampai. Tetapi, ternyata masih ada rintangan yang akan kita lewati, apa itu? Kita harus melewati tebing untuk sampai di Segara Anakan, tebing yang lumayan curam, dengan banyak karang yang tajam, dan bayangkan, disamping kanan kita adalah laut, jadi kalau kita terpleset dan terjatuh, kita tercebur, beeeh, dag dig dug kan? Tapi dengan kehati – hatian yang tinggi serta keseimbangan yang kami jaga, akhirnya… “akhirnya bray!”

Akhirnya kita sampai di Segara Anakan! Tracking selama 3 jam, sampai sana kurang lebih pukul 18.00 WIB, kami semua dengan kompak langsung terkapar dipasir lalu beranjak dan berlari untuk mendekat dipantai sembari membersihkan lumpur yang merangkul kita selama dalam perjalanan. Rasanya itu, setelah membasuh muka dipantai, beeeeh, selain asin, rasa puas yang tak terkira. Perjalanan tracking yang membutuhkan waktu lama, rintangan yang tak henti – hentinya menghadang, semuanya itu terbayar!!! Puas menikmati pantai disana, saatnya untuk mendirikan tenda, karena hari memang sudah benar – benar gelap, lanjut kita melakukan ISOMA. Kami mulai membuat makanan dan minuman seadanya disana, bekal dari yang kami bawa, selain itu juga kita membuat api unggun untuk menambah suasana menjadi terasa benar – benar hangat. Tetapi, sepertinya personil kita kurang lengkap, ternyata Toro sudah tidur duluan, mungkin rasa lelah yang ia rasakan tak dapat dibendung jua.

Perut kenyang, hati senang karena sudah sampai tujuan, tetapi tidak dengan bau badan, haha, kita tidak sempat untuk mandi. Keringat yang mengalir deras, semangat untuk terus berjalan ketempat tujuan, dan doa yang telah memberi harapan, tiba waktunya untuk memejamkan mata dan mengistirahatkan badan karena sudah bekerja begitu keras. Saat ku masuk tenda, beeeh, “gila men! gerah banget!”. Mungkin para hantu disana mendekat padaku sehingga badan ini jadi sangat panas dan terus mengeluarkan keringat, haha, bercanda kog, tapi beneran, saat itu memang sangat panas. Ya sudah, tidur hanya dengan menggunakan celana pendek doang, sampai pagi bahkan aku tak kedinginan, haha. Malam ini adalah hari dimana pembalasan tidurku saat berada di kereta waktu itu, tidur malam ini di Segara Anakan sangat nyenyak! Dan aku yang bangun tidur paling lama, haha. Pagi sekitar pukul 07.00 WIB keluar dari tenda, nah loh? Kog pantainya surut? Malamnya itu sempat pasang airnya. Bergegas langsung membuat sesuatu sebagai pengganjal perut dipagi hari. Air perlahan kembali seperti sedia kala, siangnya kami semua main air, berenang, have fun pokoknya! Lihat saja dibawa ini.

Puas bersenang – senang dipantai, saatnya kembali pulang. Packing barang – barang, berdoa sejenak, dan cuss kembali ke Sendang Biru. Mendengar ingin pulang kembali ke Sendang Biru rasanya bukan sedih, bukan pula kecewa karena harus meninggalkan tempat wisata pertama kita, tapi rasanya itu lelah, sangat lelah. Bagaimana tidak? Kita harus tracking melewati tebing karang, jalan berlumpur, gerombolan preman terbang penghisap darah, wah itu benar – benar menyebalkan. Seadainya doraemon itu ada disamping kita, mungkin kami akan meminjam pintu kemana saja, atau baling – baling bamboo juga boleh, tapi sayangnya itu hanyalah imajinasi tingkat tinggi yang sulit untuk direalisasi, jadi yah, hadapai saja kenyataan yang ada, kami hanya bisa mengandalkan semangat kami yang berapi – api karena kami masih muda, serta doa yang akan selalu menyertai kita bersembilan.

Dan, akhirnya sahabat! Kami melihat cahaya pantai menunggu kita untuk bilang, “selamat! Kamu berhasil melewati hutan belantara!” haha. Wah, rasanya lega, rasanya senang, rasanya tak percaya, akhirnya kami menyudahi perjalanan tempat wisata yang pertama, kami lalu menunggu perahu untuk membantu mengantarkan menyebrang sampai di Sendang Biru.

15 menit kami menaiki prahu, akhirnya sampai di Sendang Biru, disitu kami membersihkan badan, mengisi perut, sembari beristirahat. Itu artinya, petualangan pertama kita di Pulau Sempu sudah terlewati dengan sempurna, sempurna? Ya sempurna lelahnya, tetapi sempurna juga keseruan kami disana, semuanya itu terbayar. Jikalau ada tawaran untuk mengulanginya lagi, aku akan berfikir dua kali.. haha. Bukan karena “medan” disana yang benar – benar sulit, tetapi jika kau mengunjungi salah satu kamar dar jutaan kamar “Istana” yang didalam kamar itu terdapat keunikan dari kamar – kamar yang lain, ibaratnya Indonesia seperti itu, kau akan menemukan sebuah gambaran betapa indahnya negara yang mungkin selalu kalian kritik karena kekurangan ini dan itu, selalu kalian anggap negara yang terbelakang diantara negara – negara asia bahkan asia tenggara sekalipun, busungkan dada kalian, tataplah mata kedepan, berdiri dan bilang, “aku bangga menjadi orang Indonesia! Aku bangga tinggal dibumi pertiwiku tercinta!”. Berikan sumbangsih pada negara tercinta Indonesia ini dengan prestasi yang kalian miliki, jikalau itu terlalu sulit, kalian bisa memberikan secerca inspirasi untuk banyak orang agar mereka melakukan hal yang sama, yang mengangkat drajat negara Indonesia. Hal sederhana yang membuat perubahan besar adalah sebuah inspirasi. Yok, lanjut ketempat wisata kedua kita yang tak kalah cantiknya!

Catatan.

Pengalaman unik dan lucu selama berada di tempat wisata yang pertama adalah ;

  • Ketika berada di Sendang Biru, saya, Ika, dan kak Erni memutuskan untuk makan dahulu. Ternyata nasinya tidak cukup untuk bertiga, kata pemilik warung makan tersebut, ya, jadi kami memutuskan, biarlah, satu buat bertiga tidaklah apa. Wah, pengalaman parah, tapi disitulah asiknya backpacker ria.
  • Saat malam hari di Segara Anakan, itu romantis banget man! Taburan bintang yang sempurna membuat suasana malam itu menjadi sangat indah.
  • Karena sudah semakin dikenal, banyak yang berkunjung dan singgah di Segara Anakan. Dan mungkin kebanyakan dari mereka sedikit kurang memperhatikan dalam menjaga keindahalan alam disana, buktinya banyak yang membuang sampah sembarangan.
  • Penduduk disana ramah – ramah. Aku yakin mereka memang punya tujuan yang baik untuk mengangkat pariwisata alam disana.
  • Ketika masih di Segara Anakan, ada sekelompok pemuda dan pemudi sama seperti kita, salah seorang dari mereka memegang biola dan memainkannya, terlihat merdu ketika mendengarnya untuk yang pertama atau kedua kalinya saat dia bermain lagu Indonesia Pusaka ciptaan Ismail Marzuki, tetapi entah karena dia sangat sangat mencintai Indonesia atau karena dia hanya tahu nada tentang lagu Indonesia Pusaka, pemuda itu terus menerus memainkan biolanya dengan lagu yang sama, mungkin sudah puluhan kali, haduh, haha.


Madakaripura! Tunggu kedatangan kami! Lanjut ke tempat wisata kita yang kedua. Petualangan kita belom berhenti loh sahabat. Setelah perjalanan yang lumayan memakan waktu, tibalah kita di Madakaripura, tetapi belum sampai ditempat yang sebenarnya. Kami masih berada ditempat perisirahatan dan tempat parkir disana, dari situ nanti kita akan tracking lagi melewati batu – baru yang besar, air yang lumayan deras, dan jalan setapak yang lumayan sih buat jantung ikutan senam, dag dig dug, haha. Kita ditemani turis bray! Mereka pasangan suami istri, istrinya orang Indonesia yang sekarang menetap dengan suaminya di Jerman sana. Kami memanggilnya “Madam” untuk istrinya, beliau sangat humble, dan baik hati, serta ramah untuk diajak bicara, suaminya juga mencintai lingkungan dan tak ingin sesuatu yang sempurna tercemari oleh sampah.

Sebenarnya apa sih Madakaripura itu? Ringkasnya adalah sebuah air terjun, tetapi sebelum melihat air terjun, kita akan disuguhi sebuah pemandangan yang menakjubkan dari atas langit yang turun dengan deras bagai hujan, yop, hujan abadi namanya. Air terjun ini juga merupakan sebuah air terjun tertinggi di pulau jawa loh. Mau tau keseruan kita disana, ini dia foto – fotonya.

Puas menikmati pemandangan alam natural yang luar biasa, kami lalu memutuskan untuk kembali. Petualangan yang menantang sekaligus mengesankan, tetapi ini belum berakhir loh sahabat! Tempat wisata kedua kita, Madakaripura, akhirnya sukses kita takhlukan! Yok lanjut ketempat pemberhentian wisata kita selanjutnya!

Catatan.

Pengalaman unik dan lucu selama berada di tempat wisata yang kedua adalah ;

  • Jika ingin mengunjungi air terjun ini, siap sediakan mantel hujan. Bukan karena nanti akan turun hujan dari langit, tapi kalian akan menerima hujan abadi dari atas bukit. Selain itu, jika kalian ingin mendapatkan view terbaik, sebaiknya kalian berkunjung pada saat musim kemarau, jika kalian mengunjunginya disaat musim penghujan, kemungkinan besar, air dari air terjun itu akan berwarna coklat, tapi keindahan disana tetaplah keren.
  • Penduduk disana sangat ramah terhadap pengunjung dan secara terbuka memberikan informasi yang bermanfaat. Sempat bertegur sapa dan ngobrol dengan salah seorang penduduk disana, ia sempat memberikan keluh kesah tentang jalan menuju tempat air terjun. Jalan sebenarnya akan diperbaiki, tetapi sampai saat ini tak kunjung ada realisasinya, tutur salah seorang penduduk disana. Wah, mana nih suaranya pemerintah daerah disana? Air terjun yang sekeren itu apa harus tetap bersembunyi dari mata seorang pengunjung wisata? Dengan diperbaikinya jalan menuju air terjun, semakin memudahkan para pengunjung untuk melihat air terjun dan hujan abadi yang beeeh keren! Semoga saja cepat direalisasikan ya.

Bromo! Kami datang! Tempat wisata ini merupakan tempat yang sangat terkenal karena merupakan salah satu gunung yang masih aktif di Indonesia. Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi. Bagi penduduk Bromo, suku Tengger, Gunung Brahma (Bromo) dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo utara dan dilanjutkan ke puncak gunung Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa (wikipedia).

Dari Madakaripura, kami langsung menuju ke Cemoro lawang, disitu kami mencari penginapan yang sesuai dengan kantong Backpacker, dan kita akhirya memilih Homestay Bromo Permai. Biaya penginapan tersebut bisa dibilang sangat murah, satu kamar untuk 9 orang. Setelah mendapat penginapan, ada yang beritirahat, ada yang berfoto ria, ada yang jalan – jalan, dan mengisi perut serta ada pula yang membeli cindra mata disana. Pada malam harinya, kita tidak boleh terlalu begadang, karena besok pagi sekitar pukul 02.00 WIB kami harus berangkat tanpa menggunakan jeep ataupun kuda untuk sampai ke Seruni, salah satu tempat dimana pemandangan terbaik untuk melihat matahari terbit dan melihat gunung Bromo di pagi hari.

Bangun! Bangun! Bangun! Sebelum jam 02.00 WIB kami bangun untuk mempersiapkan barang – barang serta bekal apa saja yang harus kami bawa. Setelah semuanya siap, cuss langsung jalan kaki menuju ke Seruni. Perjalanan yang gelap dan senter yang setia menerangi jalan kita, tak membuat surut semangat kami dalam mencari sebuah keindahan yang sejati. Rasa kantuk yang setiap saat menghinggapi, serta dingin yang selalu merangkul, semuanya kami hadapi dengan kompak dan semangat kebersaaan. Kurang lebih selama 2 jam perjalanan, sampai juga akhirnya kami di Seruni, tempat dimana matahari tebit akan menyapa, serta keindahan Bromo dipagi hari yang seakan memanggil kami. Setelah menunggu dengan sabar, keindahan itu ada didepan mata kami, keindahan yang sulit untuk digambarkan betapa cantiknya secuil alam yang dimiliki Indonesia ini, Indah sekali..

Pemandangan di Seruni memang tak terlupakan, tapi perjalanan kita masih berlanjut untuk menaiki puncak Bromo, semangat! Setapak demi setapak, langkah kita tak henti untuk terus menggali dan mencari sebuah karya Maha Agung yang tercipta di Indonesia. Bromo! Sudah didepan mata! Hamparan pasir yang sangat luas menjadi rintangan pertama kami untuk menuju puncak Bromo. Kami melangkah untuk sampai ketempat tujuan, tetapi salah satu personil kita, Irena Fitrianingsih atau biasa dipanggil Rena, sempat syok ketika harus berjalan menuju puncak Bromo, dia bilang kurang lebihnya seperti ini, “hah??! Jauh sekali! Apa kuat aku sampai dipuncak sana!”, haha. Yah, aku juga sama ternyata 11 – 12 dengan Rena, haha. Tapi dilihat dari kejauhan, memang benar – benar jauuuh dan tinggi. Apalagi ini gunung pertama yang aku kunjungi, haha. Aku kan bukan anak gunung, wisata gunung ini merupakan wisata pertamaku, hehe. Tapi dalam kamus hidupku tertulis, Tantangan adalah sesuatu hal yang menyenangkan, jadi aku merasa lebih tertantang untuk bisa melaluinya, yeah! Sampai juga kita di Pura yang biasa dipergunakan masyarakat sekitar untuk upacara sakral yang sudah dilakukan secara turun temurun, kami istirahat disana.

Yeah! Sampai juga kita akhirnya, sampai ditangga menuju puncak Bromo maksudnya. Tangga ini adalah rintangan terakhir yang akan kami lalui sesaat sebelum sampai dipuncak Bromo. Satu per satu, selangkah demi selangkah, dan yeah! Kawah Bromo! Sedikit pesimis tadi karena sepertinya sulit untuk menuju kawah, tetapi setelah sampai itu, beeeh menakutkan, sedikit, haha.

Selanjutnya kami turun dari kawah Bromo untuk kembali segera kepenginanapan, karena jam 12.00 WIB kami harus sudah keluar. Sesampainya dipenginapan, kami makan, membersihkan badan, packing, dan akhirnya tempat wisata ketiga akan kami akhiri. Kami kemudian melanjutkan perjalanan ke terminal Probolinggo, dimana dari beberapa kami akan berpisah. 4 personil kami sebelumnya, Maman, Toro, Rina, dan Rena akan pulang ke Solo, sedangkan Dian dan Novita melanjutkan perjalanannya ke Batu, sementara aku, Ika, dan kak Erni menuju pulau Dewata Bali, tepatnya di Pantai Kuta dan Legian. Kami memilih tempat itu karena tempat wisata tersebut sudah sangat terkenal, hiburannya 24 jam nonstop, makanan disana yang beragam, dan yang jelas sanga cocok untuk para Backpacker. Saatnya mengucapkan perpisahan dengan teman – teman seperjuangan yang keren.

Catatan.

Pengalaman unik dan lucu selama berada di tempat wisata yang ketiga adalah ;

  • Karena lelah yang menyergapku, saat dipenginapan aku habiskan waktu yang berharga ini untuk tidur. Kalau ingat pengalaman ini, jadi ingin tertawa sendiri, haha. Seingatku, yang tidur diranjang hanya aku seorang, setelah aku terbangun karena sebagian besar personil sudah berkumpul dikamar dan membuat sedikit suara gaduh, aku melihat Rina dan siapa ya? Aku tak terlalu ingat, karena aku hanya membuka mata sebentar lalu tidur lagi, haha. Rina dan Miss. X hanya duduk disebelahku. Setelah beberapa waktu kemudian, aku terbangun lagi dan menoleh disampingku, eh kog sudah berjajar, jadi mirip ikan yang dibungkus dalam satu wadah, haha. Kurang lebihnya seperti dibawah ini, haha.

  • Pada saat di Seruni, ketika kami dan para turis menyaksinakan pemandangan disana, ada kejadian yang tak terduga loh sahabat! Dua orang turis mancanegara terpeleset dan terjatuh, beeeh itu menakutkan sekali! Tapi untung keadaan mereka baik – baik saja, karena mereka tidak meluncur dari bukit sampai ke dasar, beeeh. Selain itu ada salah seorang turis mancanegara yang sedikit membuat gaduh banyak orang disekitarnya, haha. Buang gas memang tak masalah, tapi kalau terlalu bau, bahkan sangat bau, beeeh, udah deh.. haha.
  • Baru tau toilet mengharuskan membayar Rp 5000,- beeeh itu bisa dibilang mahal! Tapi untung saja aku tak pergi ke toilet itu, siapa diantara kita bersembilan yang kena jebakan Toilet? Angkat tangan, Haha..
  • “hey, ada masker!” kata “hey!” kemudian menjadi sebuah trend ketika aku yang mengucapkan. Ada – ada saja kalian ini, dasar, haha.
  • Maman yang terlalu bersemangat, totalitas, motret atau dipotret posenya pasti minggir – minggir, disebelahnya kan jurang atau kawah!  Kita yang masih amatiran terlalu takut untuk melihatnya! Percaya sih sudah professional, tapi Man, kalo pas itu bukan hari keberuntunganmu bagaimana coba? Hemmm.. :cd
  • Ada beberapa personil yang sedikit tertipu dengan penampilanku, katanya kurang lebih mirip anak gunung. Ini saja pengalaman pertamaku naik gunung kog, haha.

Setelah mulai berpisah dengan para personil yang lain di stasiun Probolinggo, kami bertiga melanjutkan perjalanan menuju Pulau Dewata Bali! Yeah! Ini merupakan pengalamanku untuk yang kedua kalinya pergi ke pulau Bali. Dulu aku pernah kesana dan berdoa sekaligus merogohkan tanganku ke sebuah patung yang dipercaya jika kau bisa menyentuh patung yang ada didalamnya, kau akan ke bali lagi, itu kata guide yang bersamaku dulu. Dan, lihat! Aku ke bali lagi.. perjalanan yang super duper jauh sekitar 8 jam lebih, masih harus naik kapal, wah.. itu akan terbayar lunas ketika kau telah sampai di Bali, apalagi kami akan mengnjungi Pantai Kuta yang sangat terkenal, beeeh..

Akhirnya kami sampai di terminal Ubung, lanjut ke pantai Kuta dengan menyewa angkot, kurang lebih selama satu jam akhirnya sampai! Suara deburan ombak, dan.. dan para foreigner yang berpesta ria menyambut kedatangan kami, haha. Hiburan disana memang selama 24 jam nonstop, jadi yah, wajarlah, hehe. karena masih sangat gelap, akhirnya kami terpaksa untuk tidur dipantai Kuta, dengan menggelar matras. Kami terlalu lelah untuk langsung mencari penginapan, kami berencana mencari penginapan sekitar jam 07.00 WITA  pagi.

Masuk gang – gang, jalan kesana kemari, muter – muter, ternyata penginapannya tak sesuai dengan kantong kami, kantong ala Backpacker. Ika langsung ingat ada tempat penginapan yang lumayan murah untuk ukuran Backpacker, yakni penginapan Bali Mekar Jaya. Langsung kita booking, langsung juga kita pergi ke penginapan tersebut. Sesampainya, kami benar – benar lega, kami mandi, mencuci pakaian, serta tidur sampai beberapa jam, karena lelah yang kami rasakan. Setelah semuanya bangun tidur, perut sudah berbunyi, akhirnya kami memutuskan untuk mencari makan skaligus jalan – jalan sembari nongkrong di pantai Kuta di sore hari, menanti matahari tenggelam.

Paginya kami mencari sarapan sekaligus sambil jalan – jalan, dan kami menemukan makanan yang pas dikantong didekat pantai Legian, akhirnya kami sarapan pagi dipantai Legian yang tak kalah indahnya dengan pantai Kuta.

Siang jam 12.00 WITA kita sudah harus keluar dari penginapan, siang ini kami makan siang dan meneruskan perjalanan untuk pergi ke pasar Seni serta mengunjungi Monumen Ground Zero untuk berdoa sejenak kepada para korban bom bali saat itu, setelahnya kami langsung pulang. Inilah akhir dari petualangan kita.

Catatan.

Pengalaman unik dan lucu selama berada di tempat wisata yang terakhir adalah ;

  • Pantai Kuta dan Legian memang pantas untuk para Backpacker yang ingin menikmati pantai, hiburan, dan suasananya yang ramai, 24 jam nonstop.

Yosh! Kurang lebih selama 1 minggu kami melakukan perjalanan dan petualangan yang bisa dibilang luar biasa! Pengalaman betapa lelahnya berjuang melewati medan hutan, pengalaman melihat keajaiban alam yang abadi, pengalaman melangkah tanpa menyerah untuk sampai di puncak, serta pengalaman cuci mata saat berada di salah satu tempat terbaik didunia, semua itu merupakan sebuah pengalaman yang diberikan oleh Indonesia kepada kami. Pengalaman yang mungkin, akan terkenang selama nafas kita masih berdetak. Masih banyak, banyak sekali permata Indonesia yang belum kami kunjungi. Semua yang telah kita lewati selama beberapa hari bersama, merupakan sebuah kebersamaan dalam menggapai tujuan. Kata – kata “tidak mungkin” akhirnya menjadi “mungkin”, kata – kata “apa aku bisa?” akhirnya menjadi “aku bisa!”, dan semuanya itu berkat kita bersama, semangat tak pantang menyerah kita, doa yang selalu menyertai kita, dan satu lagi yang tak kalah pentingnya adalah tujuan kita yang mulia untuk lebih mengenal negara Indonesia.

Aku sengaja sematkan lagu yang menurutku adalah sebuah lagu yang sedikit merepresentasikan perjalanan dan petualangan yang kita lakukan kemarin selama kurang lebih satu minggu. Lagunya siapa? Yop, lagunya Nidji dengan judul Di Atas Awan, sedikit aku mengambil beberapa syair dari lagu tersebut, yakni sebagai berikut;

Di Atas Awan by Nidji (mp3)

“Melangkah di bawah mentari yang sama

Mencari tempat kita di masa depan

Berjanji kita tak akan putus asa

Walaupun semua tak’kan mudah..”

Ketika kau lebih mengenal Indonesia, kau akan bangga dan berkata, “aku orang Indonesia!”.

Ketika kau melihat dan merasakan keindahan yang disuguhkan Indonesia, berkatalah, “aku akan menjaga semuanya ini!”.

Ketika hati dan jiwamu telah bersatu dengan Indonesia, dengan lantang berkatalah, “aku mencintai Indonesia seutuhnya!”.

Saat kau merasa terlalu lelah untuk terus maju dalam menggapai tujuanmu, sadarlah, masih ada semangat yang kuat dalam dirimu, seperti semangat para pendahulu Indonesiaku.

Saat segala sesuatunya membutuhkan doa dan kerja keras yang kuat, tetaplah berikan senyum dan keramah tamahan karena hal itu adalah budaya Indonesiaku.

Saat semua yang kau kerahkan berujung dengan rasa untuk menyerah, bahkan semangat yang kau punya rapuh dibakar rasa putus asa, harapanmu dan kekompakan seorang sahabatlah yang akan dapat membangkitkan hati, jiwa, dan pikiranmu untuk terus dan terus meraih impianmu.

Jikalau kau ingin megenal Indonesia lebih dekat, pengorbanan memang perlu dilakukan, baik itu biaya, waktu, pikiran, dan raga, tetapi ketika Indonesia menyambutmu dengan tangan terbuka dan seakan membisikan sebuah kata – kata “selamat datang”, semua yang kau lakukan itu akan terbayar lunas.

Jikalau kau merasa dikhianati dan terlalu berat untuk memikirkan beban hidup yang saat ini kau jalani, biarlah keindahan Indonesia yang sesungguhnya menjadi obat kekecewaanmu dari benak beban dipikiranmu.

Jikalau kau merasa terkurung dari sebuah kehidupan, bukalah mata hatimu, bukalah telingamu untuk mendengar sebuah pesan cinta dari Indonesia, bukalah pikiranmu bahwa sesungguhnya cinta, persahabatan, dan keindahan alam itu bersatu padu membuat sebuah alunan lagu, yang didengar khusus untuk semua orang yang bangga dan cinta pada tanah airnya.

Terakhir..

Ketika kau merasa sendiri, ingatlah bahwa seorang sahabat akan setia untukmu, bersama mu, apapun yang kau lakukan, mereka akan tetap berkata, “kaulah sahabat terbaikku”.

Untuk yang terakhir kalinya, penulis meminta maaf jika ada kata – kata yang kurang berkenan dan salah dalam hal pengucapan. Tulisan ini bertujuan memberikan secuil gambaran mengenai keindahan alam Indonesia serta inspirasi kepada banyak orang agar lebih mengenal dan mencintai Indonesia. Tak ada sebutir rasa untuk memamerkan petualangan yang kami lakukan, semoga para pembaca tidak berpikiran negative dan mengambil segi positif dari apa yang ku tulis. Rasa sombong itu hanya milik Tuhan, kita sebagai manusia hanya bisa berdoa dan berusaha serta memberikan inspirasi – inspirasi untuk banyak orang agar orang diluar sana tahu, mengerti, bangga, dan semakin mencintai Indonesia sepenuh jiwa dan raga mereka. Oya, mungkin kalian ingin tahu berapa estimasi yang kami butuhkan dan ingin tahu juga mengenai perjalanan lengkap mengenai transport serta detail mengenai perjalanan kami, kalian bisa melihat Blog milik Ika Nur Setiyawati (klik saja namanya) kalian akan langsung tahu detail semuanya. Satu lagi, khusus buat teman – teman seperjuangan di perjalanan dan petualangan kemarin, ini dia versi yang aku tulis, maaf, tidak ada kata – kata “Ekspedisi Tulang Rusuk” semoga saja kalian membuat versi itu, “ini versiku, mana versi kalian?” semoga kalian terinspirasi untuk menulis perjalanan kita kemarin, jangan takut untuk mencoba, jadikan kata – kata , “apa aku bisa?” menjadi “aku bisa!”, ingat, “yang terucap akan hilang, yang tertulis akan abadi..”.

Versi tulisan perjalanan dan petualangan yang lain;

Erni Kurnia (…)_  Rina Utami (klik namanya)_  Irena Fitrianingsih (…)_  Abdur Rohman (…)_  Ika Nur Setiyawati (klik namanya)_ Diandra Ramona (…)_ Farisqi Dian Novita (klik namanya)_    Toro Rizki Yuda Saputra (…)

Sampailah diakhir perpisahan, teman – teman tetap selalu sehat dan berikan inspirasi sebanyak banyaknya! Salam persahabatan! Hey! :iloveindonesia