Nama pemuda itu Marx. Aslinya Muhammad Markum. Ia baru saja lulus sarjana. Di rumah, langsung ia diberi tugas mengajar di SMP pamannya. Dengan penuh semangat ia mulai mengajar. Ia susu kurikulum sendiri. Sebagaimana pengagum Karl Marx, ia ingin bikin revolusi itu bisa dimulai. Pendidikan yang tidak membebaskan adalah pendidikan yang tidak layak untuk digeluti. Pemikiran Karl Marx ia masukkan dalam bahan ajarannya. Tidak usah bertanya bagaimana tiba-tiba Karl Marx bisa masuk dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama. Itu urusan Mas Markum

Diakhir semester, berkatalah ia kepada siswa-siswinya, “kita telah mempelajari pemikiran Karl Marx sampai tuntas. Hanya saja tujuan Karl Marx akan masyarakat tanpa kelas belum terwujud.”

“pak guru, “murinya menyela, “bagaimana masyarakat tanpa kelas itu bisa terwujud?”

“jadi,” kata Markum, “kitalah yang akan mewujudkan tujuan Marx tersebut. Mulia besok kelas bubar!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.