Derrida tiba-tiba tersesat disebuah galeri seni. Entah itu galeri apa. Derrida sendiri tidak mengetahui galeri itu benar-benar ada atau hanya metafora. Derrida memang bikin geger pemikiran filsafat melaui dokonstruksinya. Dalam system filsafatnya, ia suka buat istilah aneh-aneh. Macam anak-anak gaul sekarang. Ia ciptakan istilah differance. Kata itu tidak pernah ada dalam bahasa Prancis. Tetapi ada sebuah kata yang mirip dengannya yaitu difference. Atau juga Phonemenon yang memiliki kemirian dengan Phenomenon.

Kita catar sedikit bagaimana Derrida menafsirkan teks. Pertama-tama ia biarkan teks itu bicara tentang dirinya. Setelah teks mengungkapkan diri, ia cari hal-hal yang bertentangan dalam diri teks itu sendiri. Setelah itu, makna yang muncul dalam diri teks itu didestabilisasi sehinggga makna itu menjadi tunggal lagi. Makna-makan yang lain menguak dengan sendiri.

Kita kembali kegaleri. Dihadapan Derrida, tampak sebuah lukisan. Ia coba terapkan metode penafsiran itu kepada lukisan didepannya. Ia mulai dengan membiarkan lukisan itu membuat sketsa dikepalanya. Biarkan lukisan itu mengungkapkan dirinya (semboyan fenomenologi). Setlah itu goyangkan (destabilasi) bangunan sketsa dikepala agar makna-makna berguguran layaknya daun berjatuhan dimusim gugur. Kemudian, segeralah bersihkan daun-daun itu sebelum dimarahi satpam…

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.