Archive for December, 2012

Derrida tiba-tiba tersesat disebuah galeri seni. Entah itu galeri apa. Derrida sendiri tidak mengetahui galeri itu benar-benar ada atau hanya metafora. Derrida memang bikin geger pemikiran filsafat melaui dokonstruksinya. Dalam system filsafatnya, ia suka buat istilah aneh-aneh. Macam anak-anak gaul sekarang. Ia ciptakan istilah differance. Kata itu tidak pernah ada dalam bahasa Prancis. Tetapi ada sebuah kata yang mirip dengannya yaitu difference. Atau juga Phonemenon yang memiliki kemirian dengan Phenomenon.

Kita catar sedikit bagaimana Derrida menafsirkan teks. Pertama-tama ia biarkan teks itu bicara tentang dirinya. Setelah teks mengungkapkan diri, ia cari hal-hal yang bertentangan dalam diri teks itu sendiri. Setelah itu, makna yang muncul dalam diri teks itu didestabilisasi sehinggga makna itu menjadi tunggal lagi. Makna-makan yang lain menguak dengan sendiri.

Kita kembali kegaleri. Dihadapan Derrida, tampak sebuah lukisan. Ia coba terapkan metode penafsiran itu kepada lukisan didepannya. Ia mulai dengan membiarkan lukisan itu membuat sketsa dikepalanya. Biarkan lukisan itu mengungkapkan dirinya (semboyan fenomenologi). Setlah itu goyangkan (destabilasi) bangunan sketsa dikepala agar makna-makna berguguran layaknya daun berjatuhan dimusim gugur. Kemudian, segeralah bersihkan daun-daun itu sebelum dimarahi satpam…

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Nama pemuda itu Marx. Aslinya Muhammad Markum. Ia baru saja lulus sarjana. Di rumah, langsung ia diberi tugas mengajar di SMP pamannya. Dengan penuh semangat ia mulai mengajar. Ia susu kurikulum sendiri. Sebagaimana pengagum Karl Marx, ia ingin bikin revolusi itu bisa dimulai. Pendidikan yang tidak membebaskan adalah pendidikan yang tidak layak untuk digeluti. Pemikiran Karl Marx ia masukkan dalam bahan ajarannya. Tidak usah bertanya bagaimana tiba-tiba Karl Marx bisa masuk dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama. Itu urusan Mas Markum

Diakhir semester, berkatalah ia kepada siswa-siswinya, “kita telah mempelajari pemikiran Karl Marx sampai tuntas. Hanya saja tujuan Karl Marx akan masyarakat tanpa kelas belum terwujud.”

“pak guru, “murinya menyela, “bagaimana masyarakat tanpa kelas itu bisa terwujud?”

“jadi,” kata Markum, “kitalah yang akan mewujudkan tujuan Marx tersebut. Mulia besok kelas bubar!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012 di aula FAKULTAS HUKUM sekitar pukul 9.00 WIB (seminar kitt, sertifikat, snack, pengetahuan)

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012 sekitar pukul 7.00 WIB di jalan slamet riyadi, solo.

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”

Dosen masuk kedalam kelas. Mulailah ia mencerca mahasiswa dengan rentetan pernyataan.

“apakah Tuhan itu ada?”

“adaaaa…,” serentak mahasiswa menjawab.

“apakah kalian bisa melihat Tuhan?” pak dosen lanjut bertanya.

“tidak.”

‘apakah kalian bisa menyentuh Tuhan?”

“tidak.”

“berarti Tuhan itu tidak ada,” tegas pak dosen. Suasana cukup tegang. Banyak mahasiswa yang rajin beribadah. Kalau tidak ada Tuhan lalu untuk apa ibadah itu?

“pak dosen,” bersuaralah seorang mahasiswa memecah sunyi. “apakah bapaka bisa melihat otak?’

“tidak.”

“apakah bapak bisa menyentuh otak?”

“tidak.”

“berarti bapak tidak punya otak!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012 di aula FAKULTAS HUKUM sekitar pukul 9.00 WIB (seminar kitt, sertifikat, snack, pengetahuan)

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012 sekitar pukul 7.00 WIB di jalan slamet riyadi, solo.

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”