Agar sedkit menggelegar, kita sebut Heidegger sebagai filsuf martil. Ialah yang mengetuk palu perpisahan dengan filsafat barat. Tapi, kali ini kita tidak sedang ingin cerita seram tentang pemikiran Heidegger. Kita ingin tahu kisah ceritanya. Karena ini soal cinta, bolehlah kita bertanya pada rumpun yang bergoyang.

Sewaktu menjawab professor muda di universitas Marburg, ia jatuh cinta kepada Hanna Arendt, mahasiswinya sendiri. Arendt, kita tahu dari buku-buku, memang antusias dengan pimikiran Heidegger, dosennya. Tapi apakah dengan ini lantas perjalanan cinta Heidegger menjadi mudah? Ternyata tidak.

“beri aku alasan filosofis mengapa aku tidak menerima cintamu?” pinta Arendt.

Heidegger tersendak. Soal filsafat, ia jagonya. Soal cinta, ia bagai betina dikandang jago. Ia kamudian mereka-reka jawaban.

“sebab”, kata Heidegger, “sebagaimana bahasa adalah rumah Anda, engkau bagiku adalah rumah cinta”.

Arendt menerima. Arendt pengin punya rumah.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.