Salah satu pemikiran plato dituangkan dalam sebuah alegori tentang gua. Manusia dudunia ini laksana orang yang hidup didalam gua. Mereka berdiri membelakangi cahaya dan wajahnya menghadap dinding gua. Di dnding tersebut datang silih berganti bayangan benda-benda. Bayangan itu mereka kira adalah benda yang sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa itu semua hanyalah baying-bayang.

Syahdan seorang manusia gua keluar dari sana. Melihat dunia luar ia terpana. Kesadaran menyapa dirinya. Dunia tak seperti yang kukira, ternyata. Demikian keindahan dunia ini. Berbeda dengan bayang-bayang didinding gua.

Dengan alegori gua itu, Plato ingin menunjukkan tentang adanya dua ideal. Dunia yang sejati. Dunia yang disini hanyalah tiruan tidak sempurna dari dunia yang disana.

“keluarlah,” seru Plato kepada rakyat Yunani. “keluarlah kalian dari gua itu. Lihatlah dunia yang sebenarnya.”

“Plato,” menyambut salah seorang warga. “ada teman saya yang telah keluar dari gua. Tapi katanya sama saja.”

“bagaimana bisa?” Plato serius keheranan.

Suasana hening. Seluruh mata tertuju kepada yang menyahut.

“teman saya itu buta.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.