Sudah terlalu jauh untukku menyesalkan suatu hal ini. Kan kubiarkan raga dan pikiran ini hanyut terbawa aliran sungai entah tujuannya kemana, itu adalah urusan belakang. Ku bukan lari dari tanggungjawab. Ku bukan ingin keluar dari sebuah kotak yang telah menjadi tempat tinggalku saat ini. Ku bukan ingin menjadi seorang yang pemberontak. Aku, sudah lelah dengan semuanya. Berharap istirahat sejenak tapi bukan untuk selamanya. Berharap mendapat sebuah cahaya bukan kegelapan. Berharap didengar bukan untuk diacuhkan. Sekarang ku memang hanya bisa membayangkan dan merangkai sebuah mimpi menjadi suatu yang nyata. Mimpi yang berharap ku bisa meraihnya. Tapi yang menjadi kendala, saat ini mimpi itu bertolak belakang dengan apa yang kukerjakan, kuperbuat, dan hal itu semua sudah seperti menjadi santapan sehari-hari layaknya orang Indonesia yang suka akan makan nasi. Ku tak ingin bilang “persetan” dengan hal ini. Ku tak ingin bilang “bajingan” pada dunia yang melahirkan dan menjadikanku. Tapi ku hanya ingin bilang, “sudah cukup”. Sudah cukup akan kata-kata layaknya sebuah pisau tajam yang selalu menyayat tubuhku dari waktu ke waktu. Ku bertanya, “apakah yang ku kerjakan ini harus menjadi sebuah mimpiku dimasa mendatang? Apakah salah jika aku membanting setirku untuk mengarahkan jalan yang bertolak belakang dengan apa yang kukerjakan saat ini?  Trus, kenapa mereka selalu saja bilang harus A, B, C, dan D kalau sebenarnya ku inginkan E?”. Saat ini ku memang hanya bisa berkata, “iya… baik… ok…”  tapi semoga suatu saat ku bisa berkata, “hei… aku meraih suatu hal yang ku mimpikan dulu…”.