Archive for November, 2012

Dua petani

Dua petani sedang mencangkul di sawah. Terlibatlah mereka dalam pembicaraan.

“anakku yang kuliah sering sekali menyebut-nyebut nama seseorang. Kamu tahu Karl Marx?” kata petani yang satu.

“tidak,” jawab petani satunya lagi.

“aku juga tidak.”

Nietzsche dan Tuhan


Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati.”

Lima puluh tahun kemudian seseorang bertanya, “Kemana Nietzsche?”

“menyusul Tuhan

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”

Filsuf abad pertengahan suka berbicara tentang surge dan neraka. Bukan hanya surga secara umum, tapi mendetail sampai letak dapur sebelah mana, kamar mandi ada berapa, WC-nya duduk atau jongkok san sebagainya. Kalau membahas neraka, bukan hanya apinya yang meluap-luap, bahkan kayunya di impor dari mana, yang jual siapa, semua itu masuk dalam system filsafat mereka. Bidadari juga tidak luput dari pemikiran mereka. Parfum merk apa yang dipakai bidadari saja bisa jadi perdebatan yang sangat panjang.

Suatu saat seorang filsuf abad pertengahan membeberkan pimikirannya kepada para warga tentang surga dan neraka. Ia mengatakan bahwa surga dan neraka memang ada.

“apakah anda pernah kesana?” Tanya salah satu pendengar tiba-tiba.

“emmmm… belum sih” jawab si filsuf.

“wah, syukurlah,” sambung pendengar itu,” ternyata itu baru gossip.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Sejauh manakan kebenaran bisa ditemukan? Filsafat adalah pencarian tiada henti akan kebenaran. Tidak ada kata lelah disana. Tidka ada kata kamus menyerah didalamnya. Seorang filsuf sampai merasas perlu menulis buku The History of Truth. Jumlah halamannya akan membuat kita tercengang. 1 juta halaman. Jumlah itu masih bisa terus bertambah. Oleh sebab itu sang filsuf kebingungan. Sampai detik ini belum ada penerbit yang berkenan menerbitkan. Walhasil, kita tidak pernah bisa menemukan buku tersebut di toko buku mananpun!

Kita sisihkan dulu hasrat untuk mengetahui isi buku itu. Ada beberapa filsuf yang berbaik hati mendedahkan definisi kebenaran kepada kta. Sokrates menyimpulkan bahwa kebenaran hakiki akan kita temui saat nyawa kita meregang dari jasadnya.

Kebenaran itu realtif. Manusia adalah ukuran segaa sesuatu, kata Protagoras.

Kebenaran adalah sejenis kesalahan yang manusia tidak bisa hidup tanpanya, sabda Nietzsche.

Dan selajutnya :

Kebenaran adalah keledai yang jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Itu kata kita.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Sejarah metafisika barat selama ini adalah sejarah akan Ada, demikian simpul Martin Heidegger. Seperti tatkala kita merasakan nikmatnya kopi, kita sering lupa bahwa ada gula disana. Kelupaan akan Ada ini sejenis dengan kelupaan akan gula tersebut. Padahal adalah horror jika kita minum kopi tanpa gula (kecuali orang yang sudah merasa dirinya manis). Metafisika barat sebuk bertanya apa itu dunia, member definisi bermacam tentangnya, dan lupa menyadari bahwa semua ini Ada. Ya, semua ini Ada. Eksistensi start lebih dulu daripada esensi.

Kesadaran yang muncul dari rasio modern hanyalah salah satu cara Ada menguakkan dirinya dalam sejarah pengungkapan Ada. Sayangnya, kritik Heidegger, kesadaran rasio modern ini menangkap Ada dengan sangat manipulative. Sehingga Ada itu sendiri masih tetap tersembunyi. Menurut Heidegger, Ada memang tidak mungkin diketahui secara pasti. Kendati demikian, kita bisa memulai pencarian akan Ada melalui mengada yang bisa mempertanyakan Ada : manusia (Dasein). Maka, sebagai konsekuensinya, manusia adalah mengada yang mencari makna berada-dalam-dunia. Di sana, ia bergulat dalam dunia, berusaha menjadi makhluk yang otentik, dengan rasa peduli (sorge) terhadap dunia.

“nah, tuan Heidegger,” salah satu peserta kuliahnya menyela, “penjelasan anda sungguh sangat menawan. Pemikiran demikian ini akan sangat mengguncang pola pikir filsafa barat. Akan tetapi, ini yang saya khawatirkan, semoga anda tidak sedang mengada-ada saja?”

“dan saya berharap,” komentar Heidegger. “pernyatann saudara ini tidak mengada-ada juga.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Agar sedkit menggelegar, kita sebut Heidegger sebagai filsuf martil. Ialah yang mengetuk palu perpisahan dengan filsafat barat. Tapi, kali ini kita tidak sedang ingin cerita seram tentang pemikiran Heidegger. Kita ingin tahu kisah ceritanya. Karena ini soal cinta, bolehlah kita bertanya pada rumpun yang bergoyang.

Sewaktu menjawab professor muda di universitas Marburg, ia jatuh cinta kepada Hanna Arendt, mahasiswinya sendiri. Arendt, kita tahu dari buku-buku, memang antusias dengan pimikiran Heidegger, dosennya. Tapi apakah dengan ini lantas perjalanan cinta Heidegger menjadi mudah? Ternyata tidak.

“beri aku alasan filosofis mengapa aku tidak menerima cintamu?” pinta Arendt.

Heidegger tersendak. Soal filsafat, ia jagonya. Soal cinta, ia bagai betina dikandang jago. Ia kamudian mereka-reka jawaban.

“sebab”, kata Heidegger, “sebagaimana bahasa adalah rumah Anda, engkau bagiku adalah rumah cinta”.

Arendt menerima. Arendt pengin punya rumah.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Salah satu pemikiran plato dituangkan dalam sebuah alegori tentang gua. Manusia dudunia ini laksana orang yang hidup didalam gua. Mereka berdiri membelakangi cahaya dan wajahnya menghadap dinding gua. Di dnding tersebut datang silih berganti bayangan benda-benda. Bayangan itu mereka kira adalah benda yang sebenarnya. Mereka tidak menyadari bahwa itu semua hanyalah baying-bayang.

Syahdan seorang manusia gua keluar dari sana. Melihat dunia luar ia terpana. Kesadaran menyapa dirinya. Dunia tak seperti yang kukira, ternyata. Demikian keindahan dunia ini. Berbeda dengan bayang-bayang didinding gua.

Dengan alegori gua itu, Plato ingin menunjukkan tentang adanya dua ideal. Dunia yang sejati. Dunia yang disini hanyalah tiruan tidak sempurna dari dunia yang disana.

“keluarlah,” seru Plato kepada rakyat Yunani. “keluarlah kalian dari gua itu. Lihatlah dunia yang sebenarnya.”

“Plato,” menyambut salah seorang warga. “ada teman saya yang telah keluar dari gua. Tapi katanya sama saja.”

“bagaimana bisa?” Plato serius keheranan.

Suasana hening. Seluruh mata tertuju kepada yang menyahut.

“teman saya itu buta.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Paul Lafargue dalam bukunya, Hak Untuk Malas, mengutip Yesus tatkala berkhotbah diatas bukit, “Perhatikan bunga bakung diladang, bagaimana bunga-bunga itu tumbuh, mereka tidak berkerja keras, juga mereka tidak berputar, namun kukatakan kapada kalian bahwa, bahkan Solomon sekalipun dalam segala kebesarannya tidaklah tersusun bagus seperti salah satu dari bunga-bunga ini.”

Lafargue kemudian melanjutkan dengan khotbahnya sendiri, “Jehovah, sang dewa yang berjenggot dan pemarah, memberikan contoh utama kepada para penyembahnya tentang kemalasan ideal ; setelah bekrja selama enam hari, dia beristirahat untuk selamanya.”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Namanya Paul Lafargue. Agar lebih singkat kita panggil Lafargue. Namanya memang jarang kita dengar. Ia seprti hidung orang Indonesia : tidak suka menonjol-nonjolkan diri. Tapi kita segera tahu, paling tidak sedikit hal, jika sampai berita kepada kita bahwa Lafargue merupakan menantu Karl Marx. Lafargue adalah seorang jurnalis sosialis Marxis asal Prancis. Berbeda dengan kaum Marxis lain yang menulis buku yang unik, Hak Untuk Malas. Di awal buku itu ia mengutip Lessing, “marilah kita malas dalam segala hal, kecuali untuk urusan cinta dan minum, kecuali untuk bermalas-malasan”.

Ia memang mengkritik kapitalisme. Kapitalisme telah merenggut manusia yang kreatif, bebas, gembira. Kapitalisme menyulap manusia menjadi komoditas, menjadi para pekerja tak kenal diri. Para pekerja seharusnya tidak disebut sebagai karyawan, mengkreasi hidup mereka. Mereka bekerja, melakukan kerja orang lain. Dan disinilah ia menolak dengan keras tesis Nietzsche : Kehendak untuk kuasa.

Kita yang tidak tahu dengan jelas alasan penolakan Lafargue bertanya : bagaimana?

“bukan kehendak untuk kuasa seperti kata Nietzsche. Seharusnya kehendak untuk malas! Mari kita berhenti bekrja!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Sebuah lukisan menonjol diantara berderet kesunyian. Angelus Novus, judul lukisan itu yang juga berarti malaikat sejarah. Lukisan menggambarkan seorang malaikat yang kelihatan seolah hendak melepaskan diri dari sesuatu yang ditatapnya lekat-lekat. Matanya terhentak, mulutnya ternganga, dan sayap-sayapnya membentang kepenjuru realita. Lukisan itu kemudian menginspirasi Walter Benjamin, sang pemurung dan flaneur itu, untuk mencetuskan metaforanya yang terkenal tentang “Malaikat sejarah”.

Sanga malaikat sejarah turun kebumi, ingin membangkitka orang mati serta mengumpulkan para korban sejarah. Angin kencang meniup sayapnya kedepan, tetapi kepala sang malaikat tetapi menoleh kearah mayat-mayat korban sejarah penindasan masa lalu. Dengan akta lain, melalui perumpamaan ini, Benjamin bersimpati kepada para korban. “dihadapan musuhnya,” begitulah kata Benjamin, “orang mati sekalipun tak akan pernah merasa aman andai kata musuh tersebar keluar sebagai pemenang”.

Tetapi teori malaikat sejarah Benjamin mendapat kritik tajam dari temannya, Syu’aeb.

“Benjamin, saya rasa engkau harus lebih akrap dengan malaikat penjaga neraka ketimbang malaikat sejarah”.

“mengapa sebabnya temanku?”

“karena kupikir,” jawab temannya. “jika kau nanti masuk neraka, kau tidak akan disiksa terlalu kejam disana”.

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.