PRAKTEK PROSTITUSI DI TERMINAL TIRTONADI SOLO

Tugas Matakuliah Pathologi Sosial

Oleh:

Febrian Indra Rukmana                  D0310021

Hanif Imaduddin                              D0310025

Yudha                                                            D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2012

Terminal merupakan tempat untuk pemberhentian transportasi yang biasa kita sebut Bus. Tempat dimana untuk menurunkan dan memperhentikan penumpang serta tempat untuk beristirahat bagi para awak bus serta penumpang .Terminal biasanya tidak hanya digunakan sebagai tempat permberhentian bus semata tetapi di dalamnya juga terdapat aktivitas perekonomian, seperti dagang makanan kecil, rumah makan, semir sepatu,dll.Terminal biasanya berada di tempat yang strategis yang menjadi arus lalu lintas transportasi umum.

Terminal Tirtonadi di kota solo dan merupakan satu-satunya terminal bus dikota Solo. Letak terminal tertonadi berada ditempat yang strategis bagi arus lalu lintas transfortasi umum. Dan seperti terminal pada umumnya, terminal tertonadi juga terdapat berbagai aktivitas didalamnya seperti pangkalan ojek, pedagang, rumah makan, dan lain lain. Tetapi dibalik aktivitas yang pada umunya seperti terminal biasa terdapat sebuah fenomena social yang terjadi setiap harinya khususnya pada malam hari. Fenomena social tersebut biasa kita sebut sebagai sebuah praktek prostitusi ditempat umum. Praktek protitusi ini biasa terjadi didalam maupun disekitar lingkungan terminal tertonadi tersebut. Praktek ini biasanya mulai ada pada pukul 22.00 WIB – waktu pagi menjelang subuh. Disana banyak ditemukan tempat remang-remang ataupun disudut-sudut terminal tertonadi ada sebuah praktek perjudian yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang diindikasikan sebagai awak bus yang sedang istirahat dan ditemani oleh seorang wanita yang diindikasikan sebagai wanita penghibur. Selain itu disekitar lingkungan didalam maupun diluar terminal tertonadi banyak ditemukan banyak wanita dengan penampilan yang mencolok dan berusaha menawarkan diri kepada para lelaki hidung belang baik itu awak bus, penumpang, dan para pengguna jalan yang melewati terminal tertonadi. Selain itu ada yang menunggu seseorang yang sudah melakukan perjanjian melalui telefon. Serta aktivitas protitusi lainnya.

Dari salah satu fenomena diatas menjadi salah satu bukti bahwa dimasyarakat Indonesia khsususnya ditempat permberhentian tranportasi umum terdapat sebuah kebiasaan menyimpang yang didalam kajian ilmu sosiologi dinamakan sebagai sebuah kajian pathologi sosial. Dimana pathologi sosial mengkaji sebuah fenomena atau kondisi sosial yang menyimpang dalam sebuah masyarakat.

Salah satu fenomena yang kita soroti dalam hal ini adalah tindakan prostitusi atau pelacuran. Pelacuran atau tuna susila diartikan sebagai tindakan yang kurang biadab karena relasi seksualnya dalam bentuk penyerahan diri kepada banyak laki-laki untun pemuasan seksual dan mendapatkan imbalan jasa atau uang bagi pelayanannya. Tuna susila juga bisa diartikan sebagai salah tingkah, tidak susila, atau gagal menyesuaikan diri terhadap norma-norma social[1].

Dibeberapa Negara pelacuran itu dilarang bahkan dikenakan hukuman juga selain itu dianggap sebgai perbuatan yang tidak terpuji oleh segenap anggota masyarakat. Akan tetapi pelacuran sampai saat ini telah menjadi sebuah mata pencaharian yang sulit untuk dihilangkan.

Pelacuran bermula ketika para gadis desa dirayu dengan buaian janji dan bujukan manis dari seseorang untuk bekerja dikota dengan gaji besar. Namun dalam kenyataanya gadis-gadis itu dijadikan pekerja seksual oleh mereka yang telah memberi janji yang biasa kita kenal dengan sebutan germo. Mereka biasanya dipaksa untuk melayani laki-laki hidung belang dan melakukan adegan-adegan yang senonoh. Setelah itu mereka akan dieksploitasi secara terus menerus oleh para germo, mereka diancam akan dibunuh apabila mereka mencoba melarikan diri atau menciba melaporkan diri kepada polisi.

Sejak jaman dahulu para pelacur selalu dikecam ataru dikutuk oleh masayarakat karena tingkah lakunya yang asusila. Mereka disebut sebagai orang-orang yang melanggar norma-norma, moral, adat, dan agama.

Tindakan protitusi ini bisanya terjadi karena beberapa factor yang diindikasikan seperti:

  1. Faktor ekonomi

Banyak dari para pelaku prostitusi melakukan pelacuran dikarenakan kebutuhan ekonomi yang semakin hari semakin bertambah yang tidak diimbangi dengan pendapatan yang meningkat pula diera perkemabangan jaman yang semakin modern ini.

  1. Faktor seksualitas dari pasangan

Banyaknya aktivitas seseorang dalam kesehariannya telah membuat seseroang jarang melakukan istirahat bahkan bertemu dengan pasangannya, sehingga dari segi seksualitas orang tersebut kurang dapat terpenuhi,  membuat seseroang melampiaskan kebutuhan seksualnya kepada pelacur.

  1. Faktor lingkungan

Seseroang dalam bergaul akan selalu menyesuaikan dengan lingkungannya. Secara tidak langsung karakter kebiasaan dari seseorang akan terbentuk dari lingkungan dimana dia bergaul. Seseorang biasanya terjerumus dalam prostitusi karena terpengaruh oleh lingkungannya yang didalamnya terdapat pelaku prostitusi atau tindakan protitusi.

Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa tindakan prostitusi merupakan salah satu bentuk penyimpangan didalam masyarakat yang sangat sulit dihilangkan karena sudah menjadi sebuah kebiasaan bahkan mata pencaharian dan prostitusi ini apabila diamati secara luas masih banyak terjadi dalam masyarakat Indonesia, khsuusnya diterminal tertonadi ini. Dibutuhkan peran dari semua pihak baik masyarakat, pemerintah, dan pihak dari terminal itu sendiri untuk mencegah prostitusi.


[1] Dr. Kartini Kartono. 2009. Pathologi Sosial jilid 1. Jakarta: Divisi Buku Perguruan Tinggi PT Raja Grafindo Persada