Namaku Riski, salah satu mahasiswa universitas negeri di Yogyakarta. Sekarang aku semester 4, tidak terlalu tua apalagi tidak terlalu muda, pertengahanlah… aku perempuan loh, nanti dikira laki-laki, karena nama Riski sepertinya identik dengan nama laki-laki. Buah yang jatuh memanglah tidak jauh dari pohonnya. Aku sejak kecil suka akan hal-hal yang berbau social. Sampai-sampai saat sekolah dasar aku membantu temanku mencari uang dengan mengamen dijalanan, tapi saat diperempatan jalan, aku ketahuan ama orangtuaku, apa yang terjadi? Yang terjadi biasa aja, aku tak dimarahi ataupun tak dibentak-bentak seperti kebanyakn anak orang kaya lainnya, yang orang tuanya tak mengajarkan akan nilai-nilai social yang ada dalam masyarakat dan jijik akan masyarakat kelas bawah. Saat itu aku aku hanya diberi nasehat oleh orang tuaku, teman sekolah dasarku yang biasanya mengamen dijalanan akhirnya diberi pekerjaan oleh ibuku untuk berjualan kue dari warung ke warung setiap hari siangnya setelah sepulang sekolah, kalau tidak ada pekerjaan rumah, aku selalu ikut menemani teman sekolah dasarku itu. Dibilang anak manja, emmm ya begituah, karena aku anak satu-satunya dirumah, tak ada kakak ataupun adik, aku anak perempuan tunggal. Tapi gak tau kenapa aku risik akan perlakuan kedua orang tuaku itu, yang selalu menuruti apa permintaaku dan kemauanku.
Aku paling tidak betah ketika dosen yang mengajarkan matakuliah ( …) Beliau selalu mendiskriditkan orang-orang kelas bawah atau kata beliau dengan tegas ORANG MISKIN, dan menjunjung tinggi orang-orang kaya. Kata beliau orang miskin banyak banget permasalahannya, lain halnya orang kaya, jika orang kaya punya banyak uang hidup akan tentram. Apa iya? Apa iya orang kaya dan orang miskin seperti itu? Orang tidak mampu memang banyak masalah yang dihadapi, memenuhi kebutuhan sehari-hari sulit, hutang dengan tetangga, kriminalitas tinggi, tergoda melakukan pekerjaan yang menyimpang dari norma masyarakat, dan lain sebagainya. Kalau orang kaya banyak uang, hidup enak, mapan, kebutuhan sehari-hari tercukupi bahkan lebih, tak perlu hutang, dan lain sebagainya. Tapi kita perlu tau, orang tidak mampu itu bagaimana. Mereka pekerja keras, walaupun hanya cukup untuk menghidupi 1 hari saja keluarganya mereka akan lakukan, mereka tak patah semangat, biar hidup susah tapi mereka masih bisa tersenyum, mereka bersyukur, mereka masih ingat akan yang menghidupi mereka selama ini, mereka beribadah, berdoa, dan berusaha sekuat tenaga mereka. Kalau kebanyakan OKNUM orang kaya maupun OKB (orang kaya baru) apa mereka tentram? Karena takut akan kemalingan, rumahnya saja dibangun tembok bermeter-meter tingginya, karena takut uangnya habis mereka yang punya jabatan tinggi maupun rendah cari-cari kesempatan buat curi-curi orang, bahkan sampai ada yang menggunakan mantra, roh halus, jampi-jampi atau apalah namanya untuk terus menumpuk harta kekayaannya. Hemmm… Aku sebenarnya tidak dilahirkan menjadi orang kaya, tapi sebaliknya, dan aku bangga akan statusku yang sebenarnya, menjadi orang bawah.
Hidup memang tak selamanya dapat untuk diprediksi. Tapi hidup pula yang memberiku sesuatu untuk menjadi seorang manusia seutuhnya, menjadi diriku yang sebenarnya. Tak dapat dipercaya bahwa semua teori yang ada tak terbukti kebenarannya, tak dapat dipercaya bahwa seorang ibu yang dikenal akan kasih sayangnya sepanjang masa mempertaruhkan darah dagingnya untuk hidup normal seperti anak biasanya. Bukan karena ibu itu adalah pelacur jalanan, bukan berarti ibu itu adalah wanita selingkuhan, tapi ibu itu tak kuat melihat anaknya nanti mempunyai masa depan yang suram seperti dirinya.
Dirumah yang besar, aku, kedua orang tuaku, dan satu perempuan paruh baya sebagai seorang pembantu tinggal. Kami bukan kebanyakan orang kaya pada umumnya, kami masih dan bisa berbaur dengan orang-orang yang tidak mampu, sampai-sampai ayah dan ibuku jarang diundang kepertemuan-pertemuan orang kaya, tapi bukan masalah buat mereka, mereka lebih senang dan gembira jika diundang kepertemuan-pertemuan kecil yang diadakan oleh masyarakat setempat yang kebanyakan masyarakat tidak mampu, dari pada harus diundang kepertemuan orang kaya yang membicarakan proyek-proyek masa depan dan proyek-proyek itu nantinya “menghanguskan” orang-orang yang tidak mampu. Disamping itu, ada seorang wanita paruh baya yang selalu menjagaku, beliau adalah pembantu dirumah kami. Beliau sudah bekerja hampir selama 20 tahun dirumah kami. Ayah dan ibuku sudah menganggap pembantu kami itu seperti saudara sendiri, begitu juga denganku, beliau aku anggap sebagai ibu keduaku. Beliau juga memperlakukannya seperti anaknya sendiri. Beliau dari desa terpencil, dan sama sekali tidak mempunyai keluarga lagi selain kami. Katanya suaminya pergi untuk bekerja di Jakarta, tapi kabar yang didapat suaminya malah beristri lagi disana dan tak ambil pusing apalagi memikirkan dirinya. Keluarganya yang lain tak memperhatikannya lagi, adik dan kakaknya sudah hidup mapan dikota besar di Surabaya dan Semarang. Tinggal beliau sendiri, dan ia memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga ditempat kami.
Seiring berjalannya waktu, aku telah tumbuh dewasa dan meninggalkan kemanjaanku. Dan saat yang tepat aku diberi sesuatu hal mengenai siapa sebenarnya diriku. Berbelit-belit, kesana kemari, ingin berkata sesuatu tapi hati mereka masih tertutup terkunci, dan aku tak mengerti. Akhirnya, mereka, kedua orang tuaku, berani berkata, dengan air mata yang mengalir derasnya karena tak sanggup untuk mengatakan, bahwa aku “bukan anak kandung mereka”. Teman, kalau kau ada diposisiku apa yang akan kalian lakukan? Aku saat itu diam, diam dengan tertunduk, berpikir apa yang seharusnya aku lakukan. 1 menit berlalu, 5 menit semakin menjauh. “Riski…? “, kata bundaku. Kepalaku yang tertunduk, kemudian aku tegakkan dan aku berikan senyum yang tulus pada ayah dan bundaku. Aku peluk mereka erat, erat sekali, dan akhirnya air mata ini jatuh juga. “maafkan kami Riski, kami sudah berbohong padamu selama ini, kami mencari waktu yang tepat untuk dapat mengatakannya dan menghindari suatu hal yang tidak kami inginkan karena kesalahpahaman, maafkan kami Riski…”, perkataan ayahku yang membuat air mataku semakin tak terbendung. Orang tuaku yang sebenarnya dipanggil dan ternyata adalah pembantu kami, pembantu kami yang telah bekerja dirumah kami selama sekian tahun. Aku meminta waktu untuk berbicara dengan ibuku, kami berbicara berdua. “neng, simbok minta maaf. Simbok memang orang yang tak dapat dimaafkan didunia ini. Melihat neng Riski tumbuh menjadi perempuan seperti sekarang ini, membuat simbok menyesal sekaligus terharu karena neng Riski semakin dewasa. Simbok tak bisa memberi apa yang menjadi permintaan anak-anak biasanya, hanya tuan dan nyonya saja yang dapat memberikan segalanya untuk eneng. Simbok hanya bisa berdoa, hanya bisa berdoa neng, maafkan simbok yang tak bisa menjadi ibu yang baik, hanya tuan dan nyonya saja yang bisa melakukan semuanya karena mereka orang tua yang lengkap, maafkan simbok neng karena simbok hanya orang biasa dan rendahan yang tak sanggup apa-apa hanya bisa bekerja sebagai seorang rendahan pula, maafkan simbok neng, simbok pengen anaknya hidup jauh lebih baik dari orang yang melahirkannya…”, kata simbok alias ibuku yang sebenarnya dengan penyesalan terdalamnya terhadapku. Tak bisa kupikir apa yang seharusnya aku lakukan, tak bisa terbayang apa yang akan aku perbuat, tak bisa, tak bisa, tak bisa… tapi hatiku berbicara, hatiku mengatakan, bahwa aku harus menerima semuanya ini. Bukan suka atau tidak suka, tapi aku harus, aku harus menerimanya.
Tangisan seorang ibu, tak sanggup aku melihatnya, aku dengan ikhlas berkata, “sudahlah bu, tak perlu ada yang dimaafkan… tak perlu ada yang disesalkan… aku hanya ingin mengatakan, ibu, aku bangga… aku banggap menjadi anak ibu, jangan ibu risaukan tentang status, pekerjaan, yang melekat selama ini, karena aku adalah anak kandungmu, suka duka akan kita lewati bersama bu, aku berjanji tak akan meninggalkan ibu sendiri, ibu, aku menyayangimu…”.
Akhirnya, sekarang dengan uang tabungan ibu dan aku, kami membeli rumah sendiri, rumah yang nyaman dan sederhana. Hampir setiap pagi ayah dan bundaku yang dulu berkunjung kerumah kami, membawakan buah dan roti, tapi yang terpenting, aku tidak sendiri, aku mempunyai kasih sayang ganda, dari ibuku dan dari ayak serta bundaku terdahulu. Ibu, ayah, bundaku, terima kasih telah menyayangiku, kasih sayang yang selama ini aku dapat tak akan ku sia-siakan selama sisa hidupku. Dengan ijin kepada ibu, ayah, dan bundaku, akhirnya aku memutuskan untuk menjadi relawan untuk anak-anak terlantar, anak-anak yang haus akan kasih sayang. Aku tak ingin mereka nanti menjadi anak yang tak berguna, aku dan teman-teman relawan yang lainnya akan memberikan pendidikan serta semangat agar mereka mau berusaha dan bekerja keras agar hidup tak berguna dan hanya meminta-minta belas kasihan orang belaka.
Cerita ini aku dedikasikan untuk orang-orang sepertiku. Orang-orang yang mengalami nasip yang sama sepertiku, jangan merasa kau orang yang tak berguna, karena kau hidup didunia ini mempunyai tujuan, dan kau harus mencari sekaligus mencapai tujuanmu itu.
Menurut kamu, cerita ini TRUE or FALSE? Itu terserah kamu, tapi yang pasti kita telah belajar dari seseorang bahwa hidup itu tak selamanya berjalan lurus, ada saatnya berbelok dan berbatu, bahkan kita harus melewati jurang yang curam dan berliku, yang harus kita lakukan adalah berpikir positif dan yakin bahwa semua itu cobaan yang wajib kita lalui, pahit memang tapi ketika kepahitan itu sirna, kau akan mendapatkan rasa manis yang begitu berharga, melebihi semuanya.
nOte:
–    Penulis mohon maaf jika ada kesamaan nama atau karakter seperti diatas.
–    Kalian juga bisa menceritakan cerita kalian seperti yang tertulis diatas, dengan cara mengirimkan sofile ( MS Word 97-2007) ke email yudharb@yahoo.com
–    Ceritanya bebas, yang PENTING memuat mengenai nilai-nilai kehidupan
–    TIDAK BERHADIAH, penulis lebih mementingkan share atau berbagi cerita dan nilai moral social yang nantinya diharapkan menjadi contoh dan inspirasi banyak orang