GLOBALISASI DAN MODERNISASI DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Sosial dan Politik

Oleh :

Hanif Imaduddin            (D0310025)

Hanni Rizki Febriana     (D0310027)

Yudha                           (D0310065)

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Daftar Isi

Halaman judul………………………………………………………………….…..i

Daftar isi…………………………………………………………………….……..ii

Resume Buku……………………………………………………………………..iii

Bab I : Globalisasi………………………………………………………………….1

  1. Pengertian globalisasi………………………………………………………1
  2. Dampak globalisasi………………………………………………………..2
  3. Teori globalisasi……………………………………………………………3

Bab II : Modernisasi……………………………………………………………….4

  1. Pengertian Modernisasi……………………………………………………4
  2. Teori Modernisasi………………………………………………………….5

Bab III : Kebudayaan………………………………………………………………8

  1. Pengertian Kebudayaan……………………………………………………8
  2. Kebudayaan Jawa…………………………………………………………10
  3. Bentuk- Bentuk Kebudayaan Jawa………………………………………10

Bab IV : Perkembangan Budaya Jawa Ditengah Arus Globalisasi Dan Modernisasi………………………………………………………………………11

  1. Perkembangan Kebudayaan Jawa………………………………………..11
  2. Dampak Positif terhadap kebudayaan Jawa……………………………..11
  3. Dampak negatif terhadap kebudayaan Jawa…………………………….12

Bab V : Pelestarian Kebudayaan…………………………………………………13

  1. Upaya Pemerintah………………………………………………………..13
  2. Upaya Masyarakat………………………………………………………..14
  3. Kebudayaan Sebagai Warisan Dunia…………………………………….15

Bab VI : Telaah Kaum Muda Tentang Kebudayaan Sekarang…………………..17

  1. Pandangan Kaum Muda………………………………………………….17
  2. Attitude Kaum Muda……………………………………………………..18
  3. Bangga Terhadap kebudayaan Lokal…………………………………….19

Daftar Pustaka……………………………………………………………………21

Biografi pengarang…………………………………………………………….…22

Resume buku :

Buku yang berjudul “Globalisasi dan Modernisasi dalam Kebudayaan Jawa” ini berisi tentang ulasan mengenai pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap kebudayaan Jawa. Disini penulis ingin memberikan gambaran atau deskripsi mengenai kebudayaan Jawa yang terkena pengaruh globalisasi dan modernisasi.

Bab pertama yang bertajuk globalisasi berisi mengenai uraian yang berkaitan dengan globalisasi. Diterangkan juga mengenai teori globalisasi dan aspek-aspek yang dipengaruhi. Seperti yang diketahui bahwa globalisasi sedang marak-maraknya digaungkan diseluruh dunia, merupakan topik yang menarik yang selalu dibicarakan oleh semua orang diseluruh dunia, yang hampir seluruh aspek kehidupan terkena dampak dari globalisasi ini.

Bab kedua, akan dibahas modernisasi sebagai salah satu proses yang sangat mendunia. Modernisasi selalu dikaitkan dengan dunia barat, dimana sebagian besar lahir revolusi di wilayah dunia barat juga berkembangnya teknologi yang erat berkaitan dengan proses modernisasi.

Selanjutnya pada bab ketiga akan membahas kebudayaan Jawa sebagai salah contoh aspek yang tidak terelakan terkena dampak dari globalisasi dan modernisasi. Pertama akan diterangkan mengenai pengertian dari kebudayaan lalu dilanjutkan penjabaran tentang kebudayaan Jawa secara spesifik, baik bentuk-bentuk dari kebudayaan Jawa.

Bab keempat berisi tentang pengaruh globalisasi dan modernisasi terhadap kebudayaan khususnya kebudayaan Jawa yang tidak terelakan terkena dampak dari globalisasi dan modernisasi. Adapun dampak yang diterangkan yaitu dampak negatif dan positif.

Pelestarian kebudayaan akan diuraikan pada bab kelima yang diulas mengenai peranan dari masyarakat dan pemerintah dalam rangka melestarikan kebudayaan sebagai warisan leluhur yang mencerminkan identitas dan ciri khas jati diri dari suatu Negara.

Pada bab terakhir akan diterangkan dan dijabarkan mengenai telaah dari para pemuda yang merupakan penerus generasi dalam rangkan pelestarian dan pengembangan kebudayaan.

BAB I

PENGERTIAN GLOBALISASI

Ada beberapa definisi globalisasi, di antaranya adalag sebagai berikut:

–          Globalisasi adalah suatu proses di mana antarindividu, antarkelompok, dan antarnegara saling berinteraksi, bergantung, terkait, dan memengaruhi satu sama lain yang melintasi batas negara.

–          Achmad Suparman menyatakan globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah.

–          Globalisasi adalah suatu proses sosial atau proses sejarah atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan.

Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

  • Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.
  • Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.
  • Universalisasi: Globalisasi juga digambarkan sebagai semakin tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.
  • Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.
  • Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masing-masing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara.

Dalam pengertian globalisasi, terdapat beberapa ciri. Yaitu:

  • Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barang-barang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.
  • Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization (WTO).
  • Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.
  • Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain.

Selain ciri, globalisasi mempunyai beberapa dampak. Yaitu dampak positif dan negatif.

Dampak positif globalisasi antara lain:

  • Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan
  • Mudah melakukan komunikasi
  • Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi)
  • Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran
  • Memacu untuk meningkatkan kualitas diri
  • Mudah memenuhi kebutuhan

Dampak negatif globalisasi antara lain:

  • Informasi yang tidak tersaring
  • Perilaku konsumtif
  • Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit
  • Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk
  • Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara

Teori Globalisasi

Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:

  • Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
  • Para globalis positif dan optimistis menanggapi dengan baik perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
  • Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).
  • Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa kapitalisme telah menjadi sebuah fenomena internasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.
  • Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai “seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung“. Mereka menyatakan bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan.

BAB II

MODERNISASI

Pengertian Modernisasi

Pada dasarnya setiap masyarakat menginginkan perubahan dari keadaan tertentu ke arah yang lebih baik dengan harapan akan tercapai kehidupan yang lebih maju dan makmur. Keinginan akan adanya perubahan itu adalah awal dari suatu proses modernisasi.

Menurut Wilbert E Moore, modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara barat yang stabil.

Modernisasi yaitu suatu proses yang mengarah pada modern. Dimulai dari revolusi industri. Dalam proses modernisasi, terdapat suatu proses perubahan yang mengarah pada perbaikan, para ahli manajemen pembangunan menganggapnya sebagai suatu proses pembangunan dimana terjadi proses perubahan dari kehidupan tradisional menjadi modern, yang pada awal mulanya ditandai dengan adanya penggunaan alat-alat modern, menggantikan alat-alat yang tradisio­nal.

Contohnya adalah penggunaan perubahan penggunaan alat-alat tradisional pada pertanian jaman dulu ke alat-alat pertanian yang lebih modern. Dari cangkul dan bajak menjadi mesin traktor. Hal ini sudah merupakan salah satu modernisasi meskipun hanya terjadi di satu sector.

Menurut J. W. School, modernisasi adalah suatu transformasi, suatu perubahan masyarakat dalam segala aspek-aspeknya.

Berdasar pada dua pendapat di atas, secara sederhana modernisasi dapat diartikan sebagai perubahann masyarakat dari masyaraat tradisional ke masyarakat modern dalam seluruh aspeknya. Bentuk perubahan dalam pengertian modernisasi adalah perubahan yang terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasa diistilahkan dengan social planning.

Teori Modernisasi

Teori Modernisasi: Pembangunan sebagai masalah internal.

Teori ini menjelaskan bahwa kemiskinan lebih disebabkan oleh faktor internal atau faktor-faktor yang terdapat di dalam negara yang bersangkutan.
Ada banyak variasi dan teori yang tergabung dalam kelompok teori ini antara lain adalah:

  1. Teori yang menekankan bahwa pembangunan hanya merupakan masalah penyediaan modal dan investasi. Teori ini biasanya dikembangkan oleh para ekonom. Pelopor teori antara lain Roy Harrod dan Evsay Domar yang secara terpisah berkarya namun menghasilkan kesimpulan sama yakni: pertumbuhan ekonomi ditentukan oleh tingginya tabungan dan investasi.
  1. Teori yang menekankan aspek psikologi individu. Tokohnya adalah McClelaw dengan konsepnya The Need For Achievment dengan symbol n. ach, yakni kebutuhan atau dorongan berprestasi, dimana mendorong proses pembangunan berarti membentuk manusia wiraswasta dengan n.ach yang tinggi. Cara pembentukanya melalui pendidikan individu ketika seseorang masih kanak-kanak di lingkungan keluarga.
  2. Teori yang menekankan nilai-nilai budaya mempersoalkan masalah manusia yang dibentuk oleh nilai-nilai budaya di sekitarnya, khususnya nilai-nilai agama.  Satu masalah pembangunan bagi Max Weber (tokoh teori ini) adalah tentang peranan agaman sebagai faktor penyebab munculnya kapitalisme di Eropa barat dan Amerika Serikat. Bagi Weber penyebab utama dari semua itu adalah etika protestan yang dikembangkan oleh Calvin.
  3. Teori yang menekankan adanya lembaga-lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan sebelum lepas landas dimulai. Bagi W.W Rostow, pembangunan merupakan proses yang bergerak dalam sebuah garis lurus dari masyarakat terbelakang ke masyarakat niaga. Tahap-tahapanya adalah sbb:

–          Masarakat tradisional

Belum banyak menguasai ilmu pengetahuan.

–          Pra-kondisi untuk lepas landas

Masyarakat tradisional terus bergerak walaupun sangat lambat dan pada suatu titik akan mencapai posisi pra-kondisi untuk lepas landas.

–          Lepas landas

Ditandai dengan tersingkirnya hambatan-hambatan yang menghalangi proses pertumbuhan ekonomi.

–          Jaman konsumsi massal yang tinggi.

Pada titik ini pembangunan merupakan proses berkesinambungan yang bisa menopang kemajuan secara terus-menerus.

  1. Teori yang menekankan lembaga sosial dan politik yang mendukung proses pembangunan. Tokohnya Bert E Hoselitz yang membahas faktor-faktor non-ekonomi yang ditinggalkan oleh W.W Rostow. Hoselitz menekankan lembaga-lembaga kongkrit. Baginya, lembaga-lembaga politik dan sosial ini diperlukan untuk menghimpun modal yang besar, serta memasok tenaga teknis, tenaga swasta dan tenaga teknologi.
  2. Teori ini menekankan lingkungan material. Dalam hal ini lingkungan pekerjaan sebagai salah satu cara terbaik untuk membentuk manusia modern yang bisa membangun. Tokohnya adalah Alex Inkeler dan David H. Smith.

BAB III

KEBUDAYAAN

A. Pengertian Kebudayaan

Manusia dengan kemampuan akal budinya telah mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi keperluan hidupnya. Berbagai macam sistem tindakan ini dibiasakan dengan belajar sejak dia lahir selama jangka waktu hidupnya.

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan dengan hal-hal yang berkaitan dengan akal dan budi manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia.

Ada definisi kebudayaan dari beberapa ahli, diantaranya sebagai berikut :

1)      E. B. Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, keilmuan, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota masyarakat.

2)      R. Linton, kebudayaan dapat dipandang sebagai konfigurasi tingkah laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang dipelajari, dimana unsur pembentuknya didukung dan diteruskan oleh anggota masyarakat lainnya.

3)      Koentjaraningrat, mengartikan bahwa kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, milik diri manusia dengan belajar.

4)      Selo Soermadjan dan Soelaeman Soemardi, mengatakan bahwa kebudayaan adalah semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat.

5)      Herkovits, kebudayaan adalah bagian dari lingkungan hidup yang diciptakan oleh manusia.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, rasa dan karsa manusia memiliki tiga wujud, yaitu wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya, wujud yang kedua sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan wujud yang terakhir ialah sebagai benda-benda hasil karya manusia.

B. Kebudayaan Jawa

Jawa Tengah adalah propinsi dimana budaya Jawa banyak berkembang  disini karena di Jawa Tengah dahulu banyak Kerajaan berdiri , sebagai bukti keberadaan kerajaan-kerajaan ini ialah dapat ditemukan banyak candi sebagai peninggalan kerajaan-kerajaan entah Kerajaan Hindu maupun Budha. Batas wilayah jawa tengah yaitu sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa, sebelah timur berbatasan dengan Jawa Timur, sebelah selatan berbatasan dengan samudra hindia sedangkan sebelah barat berbatasan dengan jawa barat. Kebudayaan Jawa yang berkembang di wilayah Surakarta, sebagai salah satu kabupaten yang ada di Propinsi Jawa Tengah, berkembang kebanyakan terpengaruh oleh budaya lain. Seperti halnya kebudayaan Jawa yang tersebar dipulau Jawa bukanlah kebudayaan asli karena tercampur oleh kebudayaan India, Cina, Timur Tengah, Portugis, Inggris dan Belanda.

Kebudayaan Jawa yang hidup di Surakarta merupakan peradaban orang Jawa yang berakar di keraton. Peradaban keraton meliputi kesusastraan (bahasa), seni tari, seni suara, dan upacara-upacara (termasuk upacara keagamaan sinkretistik), yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

C. Bentuk- Bentuk Kebudayaan Jawa

Masyarakat Jawa memiliki berbagai macam jenis kebudayaan yang menjadi ciri khas dan merupakan jati diri dan warisan leluhur yang berkembang dari masa ke masa. Bentuk-bentuk kebudayaan ini diantaranya berbentuk fisik maupun non fisik, seperti bahasa Jawa, aksara Jawa, wayang, gamelan Jawa, bermacam-macam tarian, keris, ketoprak, dan batik.

Sebagai Negara yang cukup strategis, terletak diantara dua benua dan dua samudra, Indonesia seringa menjadi Negara transit bagi Negara-negara lainnya. Bentuk kebudayaan Jawa ini terakulturasi dengan kebudayaan dari Negara-negara lain yang pernah singgah di Indonesia. Seperti misalnya gong yang merupakan hasil kebudayaan yang berakulturasi dengan budaya Cina ataupun wayang yang dahulunya merupakan budaya India dan diadaptasi dengan budaya Jawa.

BAB IV

PERKEMBANGAN BUDAYA JAWA DITENGAH ARUS GLOBALISASI DAN MODERNISASI

A. Perkembangan Kebudayaan Jawa

Globalisasi dan modernisasi menjadi fenomena yang berkembang di hampir seluruh pelosok dunia, terutama dinegara-negara berkembang. Seperti yang dapat dilihat bahwa dua proses ini memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali dengan kebudayaan manusia yang juga terpengaruhi. Perkembangan kebudayaan ini terus berkembang seiring dengan perkembangan peradaban manusia sesuai dengan berkembangannya pengetahuan manusia untuk menciptakan inovasi baru.

Seperti halnya peradaban manusia yang berkembang secara bertahap dari zaman prasejarah hingga zaman sejarah. Kebudayaan juga berkembang secara bertahap mengikuti perkembangan zaman.

Globalisasi dan modernisasi dalam bidang kebudayaan dapat dilihat dengan semakin luasnya masyarakat dunia mengenal suatu kebudayaan dari suatu daerah. Seperti yang diungkapan oleh Anthony Giddens bahwa modernitas meruntuhkan jarak antar ruang dan waktu.

B. Dampak Positif terhadap kebudayaan Jawa

Perkembangan arus globalisasi dan modernisasi dalam kehidupan memberikan dampak terhadap berbagai sektor kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam hal kebudayaan. Dua proses ini  memberikan dampak positif, diantaranya :

  1. Semakin dikenalnya suatu kebudayaan dari suatu Negara ke seluruh pelosok dunia
  2. Meningkatkan jumlah devisa Negara karena wisata budaya
  3. Meningkatkan kreativitas dalam berkarya
  4. Membuat kebudayaan semakin maju

C. Dampak negatif terhadap kebudayaan Jawa

Ada dampak positif ada juga dampak negatif sebagai suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena dua dampak ini seperti dua mata pisau yang saling berhubungan.

Dalam pelaksanaannya, globalisasi dan modernisasi memberikan dampak yang negatif sebagai berikut :

  1. Westernisasi yang semakin marak, dimana budaya barat dianggap sebagai budaya yang lebih maju dan terus ditiru terutama oleh Negara yang sedang berkembang
  2. Melunturnya jati diri bangsa karena anak muda berkiblat terhadap kebudayaan asing dan kurang menghargai kebudayaan sendiri, sehingga ada kecenderungan kebudayaan semakin lama semakin tergerus arus globalisasi.
  3. Budaya hedonisme dan konsumerisme yang terus berkembang tanpa bisa dicegah.

BAB V

PELESTARIAN KEBUDAYAAN

A. UPAYA PEMERINTAH

Bagaimanapun pemerintah memiliki peran yang cukup strategis dalam upaya pelestarian kebudayaan daerah ditanah air, yakni kebudayaan asli Indonesia. Pemerintah harus mengimplementasikan kebijakan-kebijaka yang mengarah pada upaya pelestarian kebudayaan nasional.

Salah satu kebijakan pemerintah yang pantas didukung adalah penampilan kebudayaan-kebudayaan daerah disetiap even-even akbar nasional. Misalnya saja tarian-tarian, lagu daerah, makanana khas daerah, dan lain sebagainya. Karena dengan semakin majunya perkembangan teknologi dan modernisasi menyebabkan kebudayaan asli daerah itu semakin terpinggirkan, banyak malah yang mengundang atau menampilkan artis, tarian atau dance modern yang itu jelas-jelas bukan kebudayaan asli bangsa kita yakni bangsa Indonesia.

Dengan menampilkan tarian-tarian, lagu-lagu daerah, makanan khas, dan lain sebagainya semua itu harus dilakukan sebagai upaya pengenalan kepada generasi muda, bahwa budaya yang ditampilkan itu adalah warisan leluhur kita yang harus dijaga, dilestarikan dan diperkenalkan kepada dunia bahwa itu semua adalah kebudayaan asli bangsa Indonesia dan kita harus bangga akan kebudayaan yang kita miliki, karena kita tinggal, karena kita berbahasa, dan karena kita ini adalah warga masyarakat Indonesia.

Demikian juga upaya-upaya melalui jalur formal yakni pendidikan. Masyarakat harus memahami dan mengetahui berbagai kebudayaan daerah yang kita miliki. pemerintah juga dapat lebih memusatkan perhatiannya pada pendidikan muatan lokal kebudayaan daerah.

B. UPAYA MASYARAKAT

Beragam wujud warisan lokal memberi kita kesempatan untuk mempelajarinya. Masalah kebudayaan lokal sering kali diabaikan, dianggap tidak ada relevansinya dengan masa sekarang apalagi masa depan. Dampaknya banyak warisan buadaya yang lupuk dimakan usia, terlantar, terabaikan, dan bahkan dikalin oleh negara tetangga. Padahal banyak negara yang kurang kuat sejarahnya justru mencari-cari jatidirinya dari tinggalan sejarah dan warisan budaya yang sedikit jumlahnya. Kita sendiri bangsa Indonesia yang kaya dengan warisan budaya justru mengabaikan asset yang tak ternilai harganya. Sungguh kondisi yang kontradiktif.

Kita sebagai bangsa dengan jejak perjalanan sejarah yang panjang sehingga kaya akan keanekaragaman budaya lokal seharusnya mati-matian melestarikan budaya dari warisan jaman dulu. Melestarikan tidak berarti membuat sesuatu menjadi awet dan tidak punah. Melestarikan berarti memelihara untuk waktu yang sangat lama dan terus turun-temurun ke anak cucu kita. Jadi bukan pelestarian yang hanya sesaat, berbasis proyek, donor, dan tanpa akar yang kuar didalam masyarakat itu sendiri. Pelestarian tidak akan dapat bertahan dan berkembang jika tidak didukung oleh masyarakat luas dan menjadi bagian nyata dari kehidupan kita. Para pakar pelestarian kebudayaan harus turun dari menara gadingnya dan merangkul masyarakat menjadi pecinta pelestarian kebudayaan yang bergairah. Pelestarian kebudayaan jangan hanya tinggal dalam buku tebal disertai para doktor, jangan hanya diperbincangkan dalam seminar para intelektual dihotel mewah, dan lain sebagainya. Pelestarian kebudayaan harus hidup dan berkembang dimasyarakat, atau bahkan dunia.

Seharusnya para orang-orang yang bertitle doktor, telah membuat puluhan bahkan ratusan buku tentang kebudayaan, dan orang-orang kaya yang cinta kebudayaan hanya untuk mengeruk keuntungan, seharusnya mereka malu dengan segelintir masyarakat yang bangga, memperkenalkan kebudayaan lokal mereka, melestarikan sekaligus menurunkan pada anak cucunya, tanpa biaya, tanpa gelar yang mumpuni, itulah contoh masyarakat yang harus dicontoh.

C. KEBUDAYAAN SEBAGAI WARISAN DUNIA

Untuk lebih memperkenalkan kebudayaan kita keranah dunia tentu harus ada pengakuan dari suatu pihak resmi yang mengurusi tentang masalah kebudayaan seperti UNESCO. Apa yang Anda pikirkan tentang salah satu kebudayaan nasional kebanggaan rakyat Indonesia sekarang ini? Tanggal 2 Oktober yang lalu telah ditetapkan sebagai hari batik nasional bagi bangsa Indonesia. Penetapan hari spesial itu tentu saja dilakukan sebagai upaya pemerintah untuk melestarikan aset budaya kita yang kerap diklaim oleh negara tetangga dan itu merupakan kebudayaan warisan dunia yang artitistik dan mengagumkan.

Kebudayaan sendiri disetiap negara pasti berbeda-beda, mempunyai historis sendiri-sendiri, dan arti sekaligus tujuan kebudayaan itu diciptakan. Kebudayaan sudah ada sejak manusia itu hidup dan terus berkembang sehingga menghasilkan kebudayaan itu sendiri. Dengan jalan melestarikan, merawat, memelihara kebudayaan itu sendiri, kedepannya dapat dipastikan bahwa kebudayaan yang dibuat atau dimunculkan oleh nenek moyang kita akan terus terjaga keberadaannya. Tetapi tidak dipingkiri lagi, kita sebagai manusia yang mampunyai pikiran, pasti akan berkembang dan mengalami kamajuan, baik itu dalam bidang komunikasi, transportasi, keahlian, dan lain sebagainya yang membuat warisan kebudayaan sendiri tergerus kerasnya jaman. Lalu munculah lembaga-lembaga resmi dunia yang  bertugas untuk mengangkat kembali warisan budaya yang termarjinalkan dari dasar untuk diangkat kembali dan menjadi sebuah kebanggaan sendiri dalam sebuah bangsa serta agar manusia sendiri tidak melupakan sejarah atau historisnya sampai akhirnya dapat hidup sampai sekarang ini.

Kebudayaan sebagai warisan dunia tak akan ternilai harganya jika dibandingkan dengan sebuah harta. Karena kebudayaan itu diciptakan tidak lebih dan tidak kurang berpuluh-puluh ribu tahun atau bahkan berjuta-juta tahun yang lalu. Dan itu merupakan warisan dunia yang tersebar luas tidak hanya pada negara Indonesia saja, tetapi hampir semua negara memiliki kebudayaannya masing-masing dengan ciri, serta khasnya yang berbeda-beda.

BAB VI

TELAAH  KAUM MUDA TENTANG KEBUDAYAAN SEKARANG

A. PANDANGAN KAUM MUDA

Untuk dapat melestarikan dan meneruskan tonggal estavet tentang warisan budaya lokal, tentu anak muda atau kaum mudalah yang berhak untuk itu. karena dengan begitu warisan budaya lokal akan terus dan tetap hidup untuk waktu yang lama dan digantikan oleh generasi selanjutnya.

Tetapi apa yang dapat kita lihat pada jaman globalisasi dan modernisasi sekarang ini? kebudayaan lokal “NO”, kebudayaan luar “YES”. Kata-kata seperti itu sekarang sudah tidak lepas dan tak asing lagi bagi para generasi muda saat ini. Karena apa? Karena berbodong-bondong datang baik itu musik yang tadinya mendengarkan lagu-lagu daerah dan lokal sekarang beralih ke lagu impor, tarian yang dulunya lemah lembut menandakan ciri khas budaya timur sekarang sudah beralih ke tarian yang keras dan berbau seksualitas, makanan yang tadinya beraroma lokal Indonesia berubah drastis menjadi makanan impor mentah siap makan dan siap saji, dan lain sebagainya. Dan itu semua “anak muda banget”. Kebudayaan yang kita miliki yang merupakan aset tak ternilai sedikit demi sedikit tergerus dan jika akan terus seperti ini lambat laut mungkin hanya akan terpajang disebuah musium kuno dan pengunjungnya para orang tua yang yang masih mengingat secerca memori tentang masa lalunya, yakni melestarikan warisan kebudayaan saat mereka masih muda. Menurut kebanyakan kaum muda, kebudayaan lokal yang dimiliki tidak sesuai jamannya lagi. Apa sebenarnya yang menyebabkan itu semua terjadi? Simple saja, para kaum muda ini telah termakan oleh modernitas yang nantinya akan membuat anak muda itu sendiri hancur, karena mereka tidak akan pernah puas, karena modernisasi menawarkan sesuatu yang baru dan terus berkembang dari waktu ke waktu.

B. ATTITUDE KAUM MUDA

Jika berbicara mengenai attitude atau tingkah laku kaum muda sekarang ini, pasti jauh lebih berbeda dari pada jaman dulu. Apalagi dengan adanya globalisasi dan modernisasi yang begitu pesat berkembangnya sampai saat ini. Bahasa, yang merupakan kebudayaan yang sangat krusial, bahasa sendiri saat ini tidak dimengerti oleh kebanyakan kaum muda, terlebih lagi bahasa lokal. Pendidikan yang seharusnya berperan penting dalam pelestarian budaya lokal khususnya bahasa, malah memandang sebelah mata. Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa asing dan itu membuat mereka bangsa akan hal itu. memang baik mempelajari bahasa asing itu, tetapi apakah kita harus menyingkirkan dan mengesampingkan bahasa lokal kita?

Selain bahasa, tingkahlaku kita yang sekarang jarang menunjukkan tata krama akibat dari modernisasi sendiri. masyarakat sekarang ini banyak dijejali tayangan-tayangan yang menampilkan kehidupan budaya barat yang jelas-jelas itu tidak sesuai dengan adat dan budaya ketimuran kita. Tayangan kekerasan, seksualitas, irasional, dan lain sebgainya itu membuat dan mempengaruhi kaum muda sendiri dalam bertingkah laku atau bertata krama.

Lalu muncul interaksi, bagaimana interaksi kaum muda saat ini? dijaman yang modern saat ini, jaman yang menyajikan sesuatu yang serba cepat dan efisien, instan, kaum muda saat ini sulit untuk berinteraksi. Kita flashback atau kembali ke masa lalu, yang dulu kita jika ingin bertemu harus secara langsung, sekarang dengan kecanggihan teknologi saat ini antar negara pun bisa kita jangkau. Mereka cenderung sibuk dengan jejaring sosial yang sedang tren pada saat ini, hal demikian memungkinkan kaum muda tersebut malas untuk berinteraksi dan berbaur dengan masyarakat sekitar karena mereka hanya fokus dan sibuk dengan urusan pribadinya dan lebih menyenyampingkan urusan sosial.

C. BANGGA TERHADAP KEBUDAYAAN LOKAL

Indonesia dengan letak geografis sebagai negara kepulauan memiliki aneka ragam adat dan budaya daerah yang tersebar merata diseuruh tanah air. Bentuk geografis kepulauan ini disatu sisi juga perlu diawasi oleh para generasi muda atau kaum muda itu sendiri akan pelestarian aneka ragam budayanya. Bukan hal baru lagi bahwa banyak budaya-budaya yang kita miliki perlahan-lahan diakui oleh negara tetangga. Dan kita rakyat Indonesia yang terkenal akan sikap ramah tamah dan soan santunnya, hanya bisa mengelus dada.

Penyakit masyarakat kita terkadang tidak bangga dengan produk dan budaya sendiri apalagi para generasi muda saat ini. kita lebih bangga dengan budaya impor yang sebenarnya tidak sesuai dengan budaya kita sebagai orang timur. Budaya daerah banyak yang terpinggirkan dikikis zaman oleh sebab kita sendiri sebagai generasi muda yang tidak bangga akan produk budaya lokal kita. Alhasil kita baru bersuara ketika negara lain sukses dan terkenal dengan budaya yang mereka klaim secara diam-diam.

Kita sebagai generasi muda sekaligus tonggak kehidupan seharusnya bangga akan bangsa Indonesia ini, lebih khusus mengenai warisan kebudayaan kita, budaya lokal. Apa salahnya mencintai kebudayaan lokal, apa salahnya bangga akan produk lokal, karena kita ini adalah bangsa yang kaya akan kebudayaan yang sudah diwariskan sejak dahulu kala, kita tunjukkan kepada dunia bahwa kebudayaan itu tidak ulet dan kolot, kebudayaan itu tidak ketinggalan jaman, asal kita sebagai kaum muda mau mengangkat pamor, melestarikan keberadaan budaya lokal, dan terlibat langsung didalamnya untuk menjadikan kebudayaan itu sendiri tetap hidup dalam bangsa dan hati warga masyarakat Indonesia.

Daftar Pustaka

Rustopo. 2007. Menjadi Jawa. Jakarta : Penerbit Ombak

Tuloli, Nani, dkk. 2003. Dialog Budaya, Wahana Pelestarian dan Pengembangan Kebudayaan Bangsa. Jakarta : Mitra Sari.

Koentjaraningrat. 1979. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta : PT Rineka Cipta

Koentjaraningrat. 1995. Kebudayaan, Mentalitas, Dan pembangunan. Jakarta: PT Gramedia.

Koentjaraningrat. 1981. Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT Rineka Cipta.

BIOGRAFI PENGARANG

Bernama lengkap Hanif Imaduddin, lahir disebuah kabupaten di wilayah Jawa Tengah, yaitu Sukoharjo pada tanggal 24 Agustus 1992. Sekarang masih menuntut ilmu sebagai mahasiswa disalah satu fakultas di Universitas Sebelas Maret, Surakarta.

Lahir pada tanggal 15 Februari 1992, sebagai anak kedua dari dua bersaudara, merupakan mahasiswa yang berasal dari Klaten. Bernama lengkap Hanni Rizki Febriana. Saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Sebelas Maret.

Pengarang adalah salah satu mahasiswa jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sebelas Maret Surakarta angkatan 2010, bernama Yudha. Lahir di Wonogiri, 05 Maret 1991. Sekarang sedang menjalani kuliah untuk semester 3. Hobbinya adalah menulis dan menonton film. Motto hidupnya, “kreativitas adalah segala-galanya”.