Archive for December, 2011

GLOBALISASI DAN MODERNISASI DALAM KEBUDAYAAN JAWA

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Sosial dan Politik

Oleh :

Hanif Imaduddin            (D0310025)

Hanni Rizki Febriana     (D0310027)

Yudha                           (D0310065)

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Daftar Isi

Halaman judul………………………………………………………………….…..i

Daftar isi…………………………………………………………………….……..ii

Resume Buku……………………………………………………………………..iii

Bab I : Globalisasi………………………………………………………………….1

  1. Pengertian globalisasi………………………………………………………1
  2. Dampak globalisasi………………………………………………………..2
  3. Teori globalisasi……………………………………………………………3

Bab II : Modernisasi……………………………………………………………….4

  1. Pengertian Modernisasi……………………………………………………4
  2. Teori Modernisasi………………………………………………………….5

Bab III : Kebudayaan………………………………………………………………8

  1. Pengertian Kebudayaan……………………………………………………8
  2. Kebudayaan Jawa…………………………………………………………10
  3. Bentuk- Bentuk Kebudayaan Jawa………………………………………10

Bab IV : Perkembangan Budaya Jawa Ditengah Arus Globalisasi Dan Modernisasi………………………………………………………………………11

  1. Perkembangan Kebudayaan Jawa………………………………………..11
  2. Dampak Positif terhadap kebudayaan Jawa……………………………..11
  3. Dampak negatif terhadap kebudayaan Jawa…………………………….12

Bab V : Pelestarian Kebudayaan…………………………………………………13

  1. Upaya Pemerintah………………………………………………………..13
  2. Upaya Masyarakat………………………………………………………..14
  3. Kebudayaan Sebagai Warisan Dunia…………………………………….15

Bab VI : Telaah Kaum Muda Tentang Kebudayaan Sekarang…………………..17

  1. Pandangan Kaum Muda………………………………………………….17
  2. Attitude Kaum Muda……………………………………………………..18
  3. Bangga Terhadap kebudayaan Lokal…………………………………….19

Daftar Pustaka……………………………………………………………………21

Biografi pengarang…………………………………………………………….…22

Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Anthony Giddens

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Modernitas Juggernaut

Giddens melukiskan kehidupan modern (berawal di Eropa abad 17) sebagai sebuah “juggernaut” atau panser raksasa, ia menggunakan istilah ini karena untuk menggambarkan tahap kemajuan modernitas yang sangat tinggi. Modernitas dalam bentuk panser raksasa ini sangat dinamis, tidak stagnan dan terus mengalami perkembangan dan perubahan sampai tak terkendali. Panser raksasa ini dapat dikendalikan pada taraf tertentu, tetapi jika sudah mencapai klimaksnya akan sulit untuk dikendalainkan dan menimbulkan kehancuran.

Modernitas dan konsekuensinya.

Giddens mendefinisikan modernitas dilihat dari 4 institusi mendasar, yang pertama adalah kapitalisme (suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya) yang ditandai oleh produksi komoditi (hasil-hasil produksi berupa barang), pemilikan pribadi atas modal, sistem kelas (pembagian kelas atas, menengah, bawah). Kedua adalah indutrialisme (paham dimana penggunaan sumber daya alam yang melimpah dan teknologi (mesin-mesin) untuk memproduksi barang). Industrialisme merembet dan memengaruhi lingkungan lain seperti transportasi, komunikasi, dan lain sebagainya. Ketiga adalah kemampuan mengawasi, pengawasan seluruh kegiatan dan aktivitas-aktivitas masyarakat. Keempat adalah kekuatan militer, mengontrol dengan jalan kekerasan, seperti menggunakan senjata. Read the rest of this entry »

NASIBMU PARA PEKERJA BURUH (INDONESIA) KU

Tugas Untuk Memenuhi Matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Betapa bersyukurnya kita yang masih diberikan kesempatan untuk dapat mengenyam pendidikan tinggi. Banyak yang tidak mendapatkan kesempatan seperti kita, duduk dibangku kuliah, masih dalam pengawasan orang tua (uang saku, tempat tinggal atau kos, dan lain sebagainya), dan betapa menyedihkannya kita yang tidak mau bersyukur dan memandang remeh kalau kuliah itu tidak lebih sekedar hanya siapa yang paling betah dalam mendengarkan “curahan hati” seorang dosen yang sedang galau, katakanlah seperti itu. lalu disisi dunia kita yang lain, ada banyak orang yang berharap seperti kita namun nasip berkata sedemikian rupa. Mereka-mereka dengan pendidikan seadanya (lulusan SD, SMP, atau maksimal SMA) hanya mampu bekerja sebagai seorang karyawan, masih untung menjadi seorang pekerja outsourcing dari pada tidak bekerja dan menganggur menambah beban pikiran keluarga, tentu juga negara. Dengan baju seragam kualitas rendah, satu atau dua stel, berangkat pagi buta saat orang-orang masih memejamkan mata, mereka rela dan ikhlas menahan terpaan dinginnya pagi dari pada harus tidak pergi bekerja dan yang ada pemutusan hubungan kerja atau PHK. Mereka bekerja dalam sebuah gedung diperusahaan, bagai terkurung dalam sebuah sangkar mereka dipaksa untuk bekerja dengan hasil yang maksimal tetapi upah yang mereka terima itu tidak seberapa dengan tenaga, waktu, serta kondisi mereka baik tua, muda, sakit, ataupun sehat mereka tetap dianggap sama saja. Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Daniel Bell

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Pendekatan sosiologis dari Bell dikenal sebagai ramalan sosial. Bell membedakan ramalan sosial dengan usaha-usaha prediksi sosiologis yang lebih awal. Prediksi menyangkut hasil peristiwa-peristiwa (seperti siapa yang akan menang dalam pemilihan umum), prediksi seperti itu tidak dapat dipertanggungjawabkan dalam hukum. Dilain sisi ramalan sosial mencoba membuat garis besar peringkat kemungkinan dari berbagai kecenderungan historis. Hal ini dapat terjadi apabila ada keteraturan. Misalnya dalam memprediksi pemerintahan kedepan setelah adanya Presiden baru.

Masyarakat Post – Industri mendatang

Dugaan sementara Bell bahwa dunia barat sedang mengalami pergantian dari masyarakat industri menuju masyarakat post-industri. Hal ini dapat lebih dipahami lewat lima dimensi , pertama, sektor ekonomi, dimana masyarakat penghasil barang jadi beralih kemasyarakat penghasil jasa. Hal ini dikarenakan masyarakat yang lebih maju serta terjadi kenaikan pendapatan ekonomi maka masyarakat berbondong-bondong meninggalkan sektor pertanian. Kedua, terjadi dilapangan pekerjaan, terdapat perubahan dalam jenis kerja, yakni keunggulan kelas profesional dan teknis. Mislanya dokter, ilmuan, dan lain-lain. Ketiga, pemusatan pengetahuan teoritis sebagai inovasi dan pembentukan kebijaksanaan bagi masyarakat. Dalam masyarakat industri hubungan utama terletak pada koordinasi manusia dan mesin. Sedangkan masyarakat post-industri terorganisir pada pengetahuan, inovasi, yang harus ditangani secara politis. Keempat, orientasi masa depan, mengendalikan teknologi dan penafsiran teknologis. Masyarakat post-industri bisa berencana dan mengontrol pertumbuhan teknologi. Kelima, pengembalian keputusan dan penciptaan teknologi intelektual baru. Berhubungan dengan cara-cara memperoleh pengetahuan. Read the rest of this entry »

MENULIS LAPORAN PENELITIAN

Tugas untuk memenuhi matakuliah Metode Penelitian Sosial


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Dalam tradisi penelitian dikenal adanya dua pendekatan, yakni pendekatan kualitatis dan kuantitatif. Dua pendekatan ini memiliki perbedaan filosofis, pokok bahasan, teori, metode, dan prosedur, serta proses penelitian. Dalam penelitian kuantitatif maupun kualitatif penulisan laporan penelitian merupakan tahap akhir dari sebuah proses. Kualitas dari sebuah laporan sangat ditentukan oleh proses-proses yang dilalui sebelumnya. Penulisan laporan dianggap antiklimas dari sebuah penelitian. Selanjutnya akan dijelasnkan mengenai garis-garis besar menulis laporan penelitian.

A. Data Penelitian

Data merupakan bahan mentah yang masih ahrus diolah. Data penelitian dapat berupa kuesioner yang bertumpuk-tumpuk yang jumlahnya bbisa mencapai ratusan bahkan ribuan. Kuesioner itu perlu diteli satu persatu mengenai kebenaran cara mengisi sehingga datanya valid, reliabel, terbaca, tidak salah tulis, relevan dengan lebutuhan peneliti, sehingga dapat diolah dan bermanfaat. Data yang aasli dapat berupa wawancara, baik wawancara terstruktur ataupun tidak. Hasil wawancara bilamana memungkinkan, peneliti dapat merekamnya. Wawancara sendiri adalah merupakan teknik pengumpulandata verbal yang sangat mengandalkan penampilan peneliti.

Dalam pendekatan kualitatif, data yang berupa hasil pengamatan sangat bermanfaat bagi kelengkapan data. Pengamatan merupakan teknik pengumpulan data non verbal. Dalam penelitian sosisal pengamatan terhadap perilaku, obyek benda, aktivitas sosial, aktivitas kebudayaandan berupa kegiatan manusia sangat penting untuk memberikan deskripsi yang mengarah pada interpretasi dan pemberian makna terhadap apa yang terjadi dibalik fakta. Penelitian kualitatif maupun peelitian kuantitatif dalam juga dilengkapi dengan dokumen, bahan dokumen yang tertulis yang ada pada kantor pemerintah, kantor swasta, catatan harian seseorang, surat-surat pribadi, dan dokumen yang tertulis dimedia massa, media elektronik, dapat digunakan sebagai sumber data. Pita rekaman, video, photo, sangat bermanfaat bagi kelengkapan data yang dapat menjelaskan suatu peristiwa. Tetapi yang penting bahwa data yang banyak jumlahnya dan berasal dari berbagai teknik pengumpulan data perlu diseleksi, ditata kembali sehingga memiliki relevansi bagi kebutuhan peneliti. Read the rest of this entry »

LAPORAN PENELITIAN

DAMPAK DAN EFEKTIVITAS PEMBANGUNAN RUSUNAWA

DI KELURAHAN JOHO, SUKOHARJO

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh:

Febrian Indra Rukmana                  D0310021

Hanif Imaduddin                              D0310025

Joko Prasetyo                                    D0310033

Lutfi Arfiansyah                               D0310039

Yudha                                                            D0310065

Dimas Dwi                                         D3207003

JURUSAN SOIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

A. LATAR BELAKANG PERMASALAHAN

Problematika kepadatan penduduk masyarakat kota berbanding terbalik dengan semakin minimnya ketersediaan lahan. Hal ini disebabkan oleh meningkatnya laju perpindahan penduduk dari desa ke kota akibat tuntutan hidup yang semakin kompleks seiring dengan perkembangan zaman. Selain itu juga laju pertumbuhan penduduk yang terus meningkat sehingga lahan semakin langka. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah Jawa Tengah membangun rumah susun (rusun) sebagai alternative tempat tinggal untuk merelokasi warga kalangan menengah ke bawah (Rusunawa Desa Gamping, Kelurahan Joho, Sukoharjo)

Pembangunan rumah susun merupakan respon terhadap kebutuhan rumah bagi masyarakat. Rumah susun menjadi alternative pilihan untuk penyediaan hunian karena merupakan pilihan yang ideal bagi negara-negara berkembang. Daerah yang mempunyai tingkat  kepadatan penduduk yang tinggi memiliki permasalahan pada kurangnya ketersediaan hunian, ketidaklayakan hunian, dan keterbatasan lahan. Hal ini membutuhkan suatu konsep perencanaan dan pembangunan yang tepat agar permasalahan hunian dapat terselesaikan.

Menurut UU No.16 tahun 1985 tentang rumah susun. Rumah Susun diartikan sebagai berikut: “Rumah Susun adalah bangunan gedung bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang terbagi dalam bagian-bagian yang distrukturkan secara fungsional dalam arah horisontal maupun vertikal dan merupakan satuan-satuan yang masing-masing dapat dimiliki dan digunakan secara terpisah terutama untuk tempat hunian yang dilengkapi dengan bagian bersama, benda bersama dan tanah bersama.Jadi bisa dikatakan bahwa rumah susun merupakan suatu pengertian yuridis arti bangunan gedung bertingkat yang senantiasa mengandung sistem kepemilikan perseorangan dan hak bersama, yang penggunaannya bersifat hunian atau bukan hunian. Secara mandiri ataupun terpadu sebagai satu kesatuan sistem pembangunan. Atau Rumah Susun adalah bangunan yang dibangun untuk menampung sekumpulan manusia yang terorganisir kedalam suatu wadah dengan pertimbangangan kehidupan manusia hidup secara layak secara horizontal dan vertikal dengan sistem pengelolaan yang menganut konsep kebersamaan. Read the rest of this entry »

berjalannya waktu memanglah cepat jika kita menikmati apa yang kita jalani saat ini. semuanya terasa berarti. namun, ketika waktu menunjukkan kedikdayaannya apa yang telah kita genggam semuanya hanyut terbawa arus waktu masa kini. galau ku bulan Desember ini. Desember adalah bulan keduabelas tahun dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda, December yang mengambil dari bahasa Latin; decem yang berarti “sepuluh” karena dahulu kala tahun bermula pada bulan Maret. Bulan ini memiliki 31 hari. terlampir dalam Wikipedia. anggapan orang tentang bulan Desember adalah ceria. itu memang benar untuk orang yang rileks dan terbebas dari tugas-tugas, orang yang mereayakan hari Natal dan Tahun Baru, tapi ternyata tidak buatku. semuanya terlihat kelabu dimataku. banyak sekalli tugas-tugas yang selalu mengejar-ngejarku, tugas itu memintaku untuk cepat dan tepat untuk dikerjakan olehku, namun waktu dan hari yang sangat terbatas membuatku semakin sesak dengan tugas-tugas baru itu. akibatnya menumpuk menumpuk dan menumpuk. seperti kapas yang telah lapuk. serasa malas untuk mengerjakan tugas-tugas itu. satu bulan ini, Desember, ku terima tugas-tugas, penelitian, presentasi, ujian lesan dan tertulis, membuat sebuah tulisan, semua itu membuatku g_a_l_a_u. “semangat!!!” kata temanku, tapi maaf, aku tidak menjamin hasil yang aku kerjakan ini benar-benar tepat atau tidak, “I Don’t Care“. jika aku robot, aku tak akan mengalami rasa lelah, rasa haus, rasa lapar, atau bahkan rasa untuk berhubungan badan, karena dengan semua itu aku dapat mengerjakan semua tugas itu dengan cepat dan tepat waktu atau bahkan kurang dari waktu yang telah ditentukan, tapi, aku, ini, adalah, MANUSIADesember ini, memang tidak sama dengan Ceria “Desember ≠ Ceria (╥_╥):sorry