Archive for November, 2011

untuk apa mereka meributkan urusan orang lain. untuk apa mereka selalu sindir sana sini. untuk apa mereka selalu mengkritik ini itu. untuk apa mereka iri akan karya orang lain yang jelas-jelas karya itu buruk dimata mereka. untuk apa mereka benci dan marah terhadap orang yang ingin belajar berkarya. untuk apa mereka berkata, bertingkah laku, memojokkan, dan menghina sekaligus meributkan masalah orang lain yang jelas-jelas masalah itu bukan menyeret mereka. untuk apa? untuk apa? untuk apa? apakah pantas jika mereka ikut campur urusan orang lain yang tak ada sangkut pautnya dengan mereka? apa baik untuk hati mereka jika tiap ada seorang yang “mencolok” selalu menyindir seorang itu dengan kata yang halus tapi menusuk? apa salahnya menghargai karya orang lain, toh karya orang lain itu juga tidak selevel dengan mereka yang mempunyai kualitas dan kredibilitas yang sudah dipercaya ama orang-orang ternama, terkenal, dan termasyur dijagat raya? apa eksistensi mereka tersingkirkan dengan adanya orang yang “mencolok” itu? tidak menarik ataupun menarik itu “relatif“. tergantung masing-masing orang memandang, memahami, dan menilai suatu hasil karya seseorang. untuk orang yang sudah “menelan garam berton-ton pun” ibaratnya seperti itu melihat karya rendahan, dimata mereka tetep aja rendahan. tapi masalahnya bukan rendahan atau tidak, tetapi “bagaimana seorang yang sudah diatas itu dapat menghargai karya orang lain dibawahnya“. :shakehand2

ANALISA KASUS OUTSOURCING

Tugas untuk memenuhi matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Salah Satu Contoh Kasus Outsoucing di indonesia adalah sebagai berikut:

Di JICT, Jangan Ada Pekerja “Outsourcing”

Rabu, 21 April 2010 | 20:43 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com – Manajemen Jakarta International Container Terminal (JICT) diminta segera menyelesaikan nasib ribuan karyawan outsourcing di terminalnya yang sampai sekarang masih terkatung-katung untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

“Sistem outsourcing harus segera dihapus karena akan berdampak pada implementasi International Ships and Port Security (ISPS) Code di Pelabuhan Tanjung Priok. Pekerja outsourcing harus diangkat sebagai karyawan organik,” kata Koordinator International Transport Worker’s Federation (ITF) di Indonesia, Hanafi Rustandi, dalam siaran persnya di Jakarta, Rabu (21/4/2010).

Dikatakannya, ITF sangat prihatin dengan sikap manajemen JICT yang tidak peduli dengan nasib pekerja dengan mengabaikan nota pemeriksaan dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Kemenakertrans) yang merekomendasikan agar para pekerja outsourcing diangkat menjadi karyawan tetap.

Menurut Hanafi, untuk menyelesaikan tuntutan pekerja tersebut, Kemenakertrans pada 31 Maret 2010 telah mengirim surat kepada manajemen JICT. Intinya, JICT diminta melaksanakan UU No.13/2003 tentang Ketenagakerjaan dan mengangkat pekerja outsourcing menjadi karyawan organik. “Namun hingga saat ini permintaan Kemenakertrans tersebut tidak  digubris,” katanya.

Kasus ini mencuat setelah ribuan pekerja outsourcing di pelabuhan/terminal petikemas itu menuntut diangkat menjadi karyawan tetap. Kontrak kerja outsourcing ditandatangani oleh manajemen JICT dengan beberapa vendor, yakni PT Philia Mandiri Sejahtera, Koperasi Pegawai Maritim, dan Koperasi Karyawan JICT.

Mereka antara lain bekerja sebagai operator rubber tired gantry crane, head truck, quay crane, radio officer, dan maintenance. “Pekerjaan tersebut merupakan pekerjaan inti yang terkait langsung dalam proses produksi dan berada di lini satu pelabuhan/terminal peti kemas,” kata Hanafi yang juga Presiden Kesatuan Pelaut Indonesia (KPI). Read the rest of this entry »

Banyak yang berkomentar dalam blogku. Komentarnya aneh-aneh dan lucu. Kadang memuji tapi juga kadang malah curhat masa lalu. Ada juga yang tak ku mengerti komentar-komentar  yang mereka tulis itu. soalnya bahasanya yang ambigu dan tergebu-gebu, mungkin karena mereka terperanga dan kagum akan blogku. Huhuhu… :hammer Percaya Diri amat ya aku. Tapi itu tak masalah buatku, karena inilah aku. Tak peduli apa kata orang mengenai diriku. Kembali ke komentar pada blogku. Beberapa komentar yang aku baca, terselip komentar-komentar yang membuat dadaku sulit untuk bernafas saat itu. Komentar-komentar itu yang seiring berjalannya waktu terus saja ku ingat selalu. Komentar-komentar apa saja itu? ini dia aku kasih tau. Pertama, ada seorang suster yang sedang merawat pasiennya. Pasiennya itu bosan karena hanya terbaring lemah tak berdaya dengan hanya ditemani oleh mp3 dan televisi yang menyiarkan berita update an masa kini. Lalu, suster itu kemudian meminjaminya laptop dan ia membuka sebuah blog, blog siapa ya? Ternyata blog yang dibuka suster itu rupanya adalah blogku. Pasien itu kemudian kembali ceria setelah melihat blogku. Kedua, ada seorang cewe’ yang sudah bertahun-tahun setiap ia membuka blog seseorang ia tak pernah berkomentar 1 kata pun. Tetapi setelah ia melihat blogku, komentar pertama yang ia berikan tertuju pada blogku. Ketiga, ada seorang anak yang masih kecil ia mengaku masih berumur 9 tahun. Ibunya menyarankan untuk membuka blogku, dan ia sangat senang sekaligus terinspirasi untuk sepertiku, menulis sesuatu. Itulah beberapa komentar teman-teman, yang telah mengunjungi sekaligus membaca tulisanku diblog ku. Mungkin kalian menganggap postinganku kali ini sungguh dibesar-besarkan dan terlihat menyombongkan diri. Maaf, tapi anda salah persepsi. Postinganku kali ini adalah bertujuan untuk mengucapkan Terima Kasih yang sebesar-besarnya karena telah mengunjungi sekaligus memberikan komentar, baik itu saran, kritik, dan harapan. Saat aku masih diberikan kesempatan untuk hidup dan mampu untuk menulis, aku akan terus menulis. Mungkin tulisanku “lebay” “alay” atau kampungan menurut kebanyakan orang, tetapi ada beberapa orang yang terinspirasi akan blog dan tulisanku. Dan disitulah, TUJUAN UTAMAKU MENULIS ADALAH UNTUK MEMBERIKAN INSPIRASI, BUKAN MENDAPATKAN SEBUAH MATERI.

Sakit ketika terus mengingatmu. sakit ketika kau tak juga menganggapku. sakit ketika kau coba mempermainkanku. sakit ketika kau berpaling dariku. semua itu, sakit itu, luka yang menganga, dalam, dan pilu, tak lagi kurasakan setelah aku coba untuk menghilangkan bayang-bayangmu. dulu, kau anggap diriku sebuah mainan kelam dan kelabu. dulu, kau hanya inginkanku disaat kau butuh sesuatu. dulu, kau jerat aku dengan paras dan tampangmu. dan dulu, kau berbisik lirih padaku, “sebenarnya aku juga ada rasa ke kamu“. tapi sekarang, hujan tak lagi turun. awan tak lagi gelap dan berselimut badai nan guntur. matahari memancarkan kehangatan, muncul dari balik awan yang berselimut. pelangi yang terlukis jelas diatas angkasa, membuat suasana kembali berwarna. saatnya ku katakan, “maaf, ku lupakanmu…“. dengan begitu, semuanya tak lagi kamu. dengan begitu, pikiranku tak selalu ada kamu. dengan begitu, setiap jalan dan jerih payahku itu bukan karena kamu. dan dengan begitu, aku sadar akan sesuatu, “hati itu, tak bisa berbohong padaku…“. selamat tinggal masa laluku. selamat jalan kenangan kelamku bersamamu. terima kasih kau buat aku semakin kuat dan tegar selalu. menerima kenyataan itu.

Immanuel Wallerstein

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Sosial dan Politik

Oleh :

Hanif Imaduddin            (D0310025)

Hanni Rizki Febriana     (D0310027)

Yudha                           (D0310065)

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Immanuel Wallerstein

Biografi Immanuel Wallerstein

Meskipun pada tahun 1960-an  Immanuel Wallerstein memperoleh pengakuan sebagai ahli Afrika, sumbangsih terpentingnya bagi Sosiologi adalah bukunya The Modern World system (1974). Buku tersebut cepat meraih sukses. Lahir pada tanggal 28 September 1930, Wallerstein mendapatkan ijazahnya dari universitas Columbia, termasuk gelar doctor pada tahun 1959. Selanjutnya ia memperoleh jabatan sebagai dosen di Columbia, setelah bertahun-tahun disana dan lima tahun jeda di Universitas McGill, Montreal, pada tahun 1976 Wallerstein menjadi professor utama sosiologi di universitas negeri New York di Binghamton.

Wallerstein meraih penghargaan prestius Sorokin atas jilid pertama buku The Modern World System pada tahun 1975. Sejak saat itu, ia terus mengerjakan topik ini dan menghasilkan sejumlah artikel dan dua jilid tambahan, tempat dia menganalisis sistem dunia sampai tahun 1840-an.

Sebenarnya, dalam banyak hal, perhatian yang telah diberikan dan masih akan ditujukan kepada analisisnya lebih penting ketimbang karya itu sendiri. Konsep sistem dunia menjadi fokus pemikiran dan penelitian dalam bidang sosiologi, sebuah prestasi yang tidak banyak dimiliki oleh ilmuwan lain. Kini banyak sosiolog yang meneliti dan melahirkan teori tentang sistem dunia bersikap kritis terhadap Wallerstein dalam satu atau lain hal, namun mereka jelas mengakui peran penting yang dimainkannya dalam kelahiran gagasan-gagasan mereka.

analisis sistem dunia” bukanlah teori mengenai dunia sosial, ataupun mengenai bagian dari dunia itu. analisis ini adalah protes terhadap cara-cara dimana penelitian ilmiah distrukturkan bagi kita semua dipertengahan abad ke-19.

(Wallerstein 1987 : 309)

Teori sistem dunia dapat dipandang sebagai skema teoretis, atau mitos pengorganisir (organizing myth), untuk memahami pola-pola kemajuan bangsa Eropa dan keterbelakangan Dunia Ketiga sebagai fenomena yang saling berkaitan. “Keberhasilan” yang diperoleh satu pihak mengakibatkan pemiskinan pihak lain. tesis mendasar mengenai teori sistem dunia sebagai “ilmu sosial” historis menyebutkan bahwa perekonomian dunia bangsa Eropa dibangun disepanjang abad ke-16 lewat penstrukturan pola-pola perdagangan dan pembangunan yang timpang antara Eropa Barat sebagai “pusat” (core) serta Eropa Timur dan Amerika Latin sebagai “pinggiran” (periphery). Pola pembangunan yang timpang serta pertukaran yang tidak adil ini bertahan hingga sekarang meskipun keanggotaannya diwilayah-wilayah pusat, semipinggiran dan pinggiran mungkin telah berubah.

Tulisan-tulisan Wallerstein yang terpenting menerapkan perbandingan-perbandingan historis dalam skala luas untuk mendapatkan dan memperlebar gambaran menyeluruh mengenai ekspansi, fluktuasi dan perubahan sistem dunia. Lingkup analisisnya mirip dengan sosiologi historis dari Barrington Moore atau yang lebih mutakhir, Theda Skocpol. Akan tetapi, perbandingan-perbandingan yang ia lakukan membuahkan kesimpulan yang amat berbeda dengan mereka. Segi paling menonjol dalam karya Wallerstein sebagai teorities sosial adalah perhatiannya yang terus-menerus terhadap masalah-masalah epistemologis dan metodologis yang tampak jelas dalam semua tulisannya. Read the rest of this entry »

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

Seri Publikasi

Mata Kuliah Teori Sosiologi Modern

Judul : George Herbert Mead

Nama :Yudha    Nim : D0310065

Pengampu : Akhmad Ramdhon

Mead adalah pemikir dalam interaksionisme simbolis. Mead membagi 4 tahap dasar yang saling berhubungan dalam setiap perbuatan. Tahap pertama Impuls, berhubungan dengan indra, reaksi, dan kebutuhan untuk berbuat sesuatu. Misalnya rasa lapar, seseorang dapat merespon secara langsung (ingin makan sekarang atau nanti). Rasa lapar bisa datang dari kondisi batin seseorang atau timbul dari melihat makanan-makanan yang ada disekitarnya atau dari media televisi misalnya. Tahap kedua Persepsi, dimana seseorang mencari dan bereaksi terhadap impuls (rasa lapar tadi misalnya). Seseorang memiliki kemampuan merasakan melalui indranya, mulai dari pendengaran, penciuman, perasa, dan lain sebagainya. Ditahap ini seseorang yang memiliki rasa lapar kemudian berfikir untuk memilih dan memilah makanan apa yang akan dimakannya nanti (misalnya seseorang memilih dan memilah makanan apa yang cocok seperti soto, gado-gado, atau nasi goreng dalam pikirannya untuk sarapan). Tahap ketiga adalah Manipulasi, mengambil tindakan dalam kaitannya dengan objek yang dipikirkannya tadi. Setelah datang rasa lapar, lalu seseorang itu memilah dan memilih makanan apa yang akan dimakannya dalam pikirannya, kemudian seseorang itu berpikir ulang untuk menentukan makanan apa yang cocok untuk dimakan. Misalnya, seseorang merasa lapar, setelah ada option dipikirannya makanan nasi goreng atau soto yang akan dimakannya, lalu seseorang itu memutuskan memilih soto untuk dimakan saat sarapan, tetapi seseorang itu kemudian berpikir ulang kembali, seseorang itu dulu ternyata pernah mengalami sakit perut saat makan soto untuk sarapan, jadi ia berganti nasi goreng sebagai pilihannya untuk sarapan karena seseorang itu belum pernah merasa sakit perut saat memakan nasi goreng untuk sarapan. Dan tahap terakhir adalah Konsumasi, mengambil tidakan yang akan memuaskan impuls awal. Pada tahap ini seseorang berhak untuk memutuskan ingin makan nasi goreng (atau tidak misalnya). Read the rest of this entry »

MODERNISASI MELANGGENGKAN PENGANGGURAN DAN KEMISKINAN?

Tugas untuk memenuhi matakuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Modernisasi melanggengkan pengangguran sekaligus kemiskinan?

Pernyataan diatas tak bisa disangkal lagi bahkan memang benar-benar terjadi bahwa modernisasi melanggengkan pengangguran sekaligus kemiskinan yang semakin banyak terjadi. Apa sebenarnya sebab dari pernyataan diatas? Menurut saya sebabnya adalah ketidakmampuan dalam bersaing, artinya seorang yang tidak dapat bersaing dalam dunia modernisasi akan “kalah” dan ujung dari semua itu adalah menjadi seorang yang menganggur, katakanlah sebuah perusahaan tas yang memproduksi barang yang monoton dan tidak mengikuti perkembangan jaman tentu saja akan terjerembab dalam kebangkrutan dan tentu selain menimbulkan pengangguran kemiskinan juga akan mengikutinya. Dijaman yang modern semuanya sudah instan, mesin-mesin yang digunakan sudah canggih, dan tak lagi repot-repot memerlukan tenaga manusia yang banyak yang dapat menjadikan pemborosan bagi sebuah perusahaan. Biasanya mereka yang menjadi pengangguran adalah mereka yang tidak dapat menguasai atau mengoprasikan  teknologi (salah satunya), mereka yang masih menggunakan cara lama atau cara tradisional seperti masih menulis dengan mesin ketik tentu tak bisa mengoprasikan komputer yang lebih canggih dan minim akan kesalahan dari pada menggunakan mesin ketik yang sudah dimakan usia atau sudah bukan jamannya. Selain itu juga ada paham yang yang menyatakan masyarakan tradisional merupakan sebuah masyarakat turun temurun yang harus selalu dijaga keberadaan, tak ada mesin-mesin, bahkan sebuah listrik, karena mereka menolak akan modernisasi. Pada jaman seperti sekarang ini masih ada masyarakat seperti itu, ada beberapa masyarakat disuku pedalaman yang enggan menerapkan modernisasi, akibatnya mereka tetap dengan mata pencahariannya yang tak begitu banyak menghasilkan dan tentu saja kemiskinan terus menghantui mereka. Lalu apa yang harus dilakukan agar tidak kalah bersaing dalam dunia yang modern seperti sekarang ini? kuncinya adalah sebuah pendididkan[1], seperti dalam bukunya Arief Budiman. Pendidikan adalah sebuah kunci yang paling efektif untuk mengubah manusia yang tadinya dari tradisional menjadi sebuah manusia yang modern. Dengan memberikan pendidikan dan ketrampilan pada masyarakat yang kalah bersaing dengan dunia modern, mereka akan semakin terampil dan lebih berfikir keras untuk ikut berkompetisi dalam dunia modern sehingga mereka tak lagi menjadi pengangguran dan kemiskinan sedikit demi sedikit akan menjauh dari mereka. Setelah mengikuti pendidikan dan ketrampilan selanjutnya yang harus dilakukan adalah pengalaman bekerja. Mereka yang menganggur dan sudah mendapatkan pendidikan dan ketrampilan akan diterjunkan dalam dunia kerja, semisal dipabrik yang modern. Pertama mereka akan sedikit kebingungan, tetapi mereka telah menerima pendidikan dan ketrampilan  tidak akan canggung maka mereka akan cepat beradaptasi dengan mudah untuk mengerjakan sesuatu dipabrik yang modern tersebut. Jika mereka yang mendapatkan pendidikan dan ketrampilan mudah menyerap apa itu arti modernisasi mereka akan berfikir dan berinovasi untuk menciptakan sebuah lapangan pekerjaan bagi para penganggur, supaya dapat menekan pengangguran dan kemiskinan akan turun. Demikian analisa saya mengenai modernisasi yang dapat menjadikan pengangguran dan kemiskinan. Read the rest of this entry »

MOTIVASI KERJA

Tugas untuk memenuhi matakuliah Hubungan Kerja


Oleh:

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011


Usaha Kecil Menengah atau UKM seperti permbuatan tas daur ulang umumnya diawali dari sebuah semangat berusaha kewirausahaan, seseorang yang akan mempertaruhakan semua miliknya dengan memikul segala resiko yang ada. [1] Para wirausahawan seperti pembuatan tas daur ulang ini umumnya menjalankan perusahaan berdasarkan naluri dan kebiasaanya sendiri selaku pemilik. Pada saat perusahaan tersebut masih kecil (berbasis rumah tangga) boleh jadi tidak masalah. Akan tetapi ketika perusahaan berkembang lebih besar akan terjadi sebuah tantangan yang begitu kompleks, masalah-masalah mulai muncul, misalnya kejenuhan para pekerja dalam mengerjakan atau memproduksi barang yang menjadi tumpuan perusahaan tersebut. Jika terjadi seperti itu katakanlah, maka arah perkembangan perusahaan itu sendiri akan cenderung monoton, menurun dan bahkan bisa bangkrut. Apa yang seharunya dilakukan untuk memotivasi para pekerja (pembuat tas daur ulang) agar terus bersemangat berkerja dan yang lebih penting mengembangkan kreativitas para pekerja dalam membuat tas daur ulang ini? Menurut saya, motivasi yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:

1. Upah

Upah yang deberikan sesuai dengan ketentuan yang ada, lebih baik dalam memberikan upah para pekerja juga diikutsertakan dalam menentukan jumlah upah yang diterima, dalam menentukan jumlah upah yang diterima itu tidak sembarangan dalam arti harus melihat kualitas dalam pengerjaan barang, keaktifan para pekerja, kreatifitas para pekerja, keuntungan yang didapat perusahaan pembuat tas daur ulang, pemasaran (lokal atau internasional) dan lain sebagainya.

2. Penghargaan

Dengan memberi penghargaan kepada para pekerja yang aktif, kreatif, inovatif baik itu berupa tambahan upah, atau hari libur, para pekerja akan terus giat dalam mengerjakan pekerjaannya karena penghargaan itu akan memberi motivasi yang lebih guna menciptakan sebuah produk yang berkualias pula seperti para pekerjanya.

3. Dorongan

Para pekerja yang belum bisa atau malah bosan dengan pekerjaan harus didorong mentalnya untuk menjadi lebih baik. Baik itu dengan cara memberikan petunjuk, contoh, dan nasehat untuk para pekerja yang belum bisa bekerja menjahit (misalnya) dengan cara yang halus dan sabar. Lalu dengan cara memberikan dorongan juga untuk para pekerja yang sudah bosan dengan pekerjaan baik itu dengan cara memberikan nasehat-nasehat yang menenangkan ataupun memberikan sebuah liburan sebentar untuk menenangkan pikiran para pekerja.

4. Adil

Para pekerja mendapatkan hasil dengan apa yang telah dikerjakannya, tidak memilih-milih para pekerja yang cantik katakanlah seperti itu untuk mendapatkan keuntungan perusahaan tersebut.

5. Berkarisma dan Berwibawa

Dengan pemimpin yang berkarisma dan berwibawa tentu para pekerja akan tidak merasa bosan dengan pemimpinnya, justru akan merasa betah dan senang dengan pekerjaan yang mereka geluti. Read the rest of this entry »

KETENAGAKERJAAN

Tugas untuk memenuhi matakuliah Sosiologi Kependudukan


Oleh

Febrian Indra Rukmana                                          D0310021

Hanif Imaduddin                                                      D0310025

Joko Prasetyo                                                            D0310029

Lutfi Arfiansyah                                                       D0310039

Purwito Zanuar                                                         D0310053

Tonny Yudya Manggala                                          D0310063

Yudha                                                                                    D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

PENGERTIAN TENAGA KERJA

Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat (UU. Pokok Ketenagakerjaan No. 14 Tahun 1969).[1]

Menurut UU 13 Tahun 2003, tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan atau jasa, baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.[2]

Dari definisi di atas, ada sedikit perbadaan antara Undang-Undang yang lama dan yang sudah di amandemen. Pada Undang-Undang yang lama bahwa seseorang dikatakan masuk tenaga kerja apabila sudah mampu atau dapat menghasilakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Pada Undang-Undang yang baru perbedaannya seseorang dikatakan tenaga kerja bila sudah mampu atau dapat memenuhi kebutuhan sendiri atau masyarakat.

Tenaga kerja (man power) terdiri dari angkatan kerja dan bukan angkatan kerja.
Angkatan kerja atau labourforce, terdiri atas:

  • golongan yang bekerja, dan
  • golongan yang menganggur atau yang sedang mencari pekerjaan.

Kelompok bukan angkatan kerja, terdiri atas:

  • golongan yang bersekolah,
  • golongan yang mengurus rumah tangga, dan
  • golongan lain-lain atau penerima pendapatan.

Golongan yang bersekolah adalah mereka yang kegiatannya hanya bersekolah. Golongan yang mengurus rumah tangga adalah mereka yang mengurus rumah tangga tanpa memperoleh upah, sedangkan yang tergolong dalam lain-lain ini ada dua macam, yaitu:

  • golongan penerima pendapatan, yaitu mereka yang tidak melakukan suatu kegiatan ekonomi, tetapi memperoleh pendapatan seperti tunjangan pensiun, bunga atas simpanan uang atau sewa atas milik, dan
  • mereka yang hidupnya tergantung dari orang lain, misalnya karena lanjut usia (jompo), cacat atau sakit kronis.

Ketiga golongan dalam kelompok bukan angkatan kerja ini kecuali mereka yang hidupnya tergantung dari orang lain, sewaktu-waktu dapat menawarkan jasanya untuk bekerja. Oleh sebab itu, kelompok ini sering juga dinamakan sebagai Potential Labour Force (PLF). Read the rest of this entry »

apa yang membuat kita jadi marah? dicuekin pacar? menunggu seseorang 1,2, atau 3 jam? semua pekerjaan dan tugas dilimpahkan pada kita seorang? makan, tapi menunya tidak sesuai dengan apa yang kita bayangkan? selalu disalahkan? dan lain sebagainya. ya, itu semua bisa membuat kita marah. sebenarnya baikkah jika kita itu marah? dalam studi riset membuktikan itu jelas-jelas tidak baik. marah dapat menyebabkan penuaan dini, itu salah satu akibat jika kita sedang marah dan jika dilakukan secara terus menerus. bisakah seorang itu tidak marah? dalam pikiran bodohku mengatakan, “jika saja atau seandainya marah itu tidak ada batasnya, pasti tidak ada orang yang akan marah-marah dan tidak ada juga yang pasti penuaan dini“. tapi, ternyata itu hanya pikiran bodohku seorang. “marah, itu ternyata ada batasnya“. seseorang memiliki batasan menurut mereka masing-masing, dan setiap orang itu tidak sama. lalu apa yang harus dilakukan jika kita sedang marah? manurutku yang harus kita lakukan jika marah adalah, pertama basuh muka dengan air dingin, atur nafas kita biarkan rileks, jika perlu keluar sebentar dari kerumunan orang-orang atau menyendiri sebentar. kedua, jika hati kita masih marah, duduklah dengan tenang dan damai, pikirkan semua itu baik-baik, jangan ambil sisi negatif, pikirkan dan pilah segi negatif untuk mengambil sisi positif. ketiga, untuk yang muslim atau beragama islam, sholatlah. keempat, curahkan segala uneg-uneg yang kau pikul berat pada teman mu, biarkan teman mencari solusi dan pikirkan sekaligus pilih solusi dari teman mu. kelima, jika mempunyai buku harian atau blog, atau apalah, yang pasti seorang yang punya hobi menulis, tulis semua rasa marah itu kedalam sebuah tulisan. keenam, menyendirilah dan cari tempat yang mempunyai pemandangan bagus, dan tentu sepi dari banyak orang, lalu berteriaklah sekeras-kerasnya, curahkan emosimu, biarkan angin yang akan membawanya. dan yang terakhir adalah ketujuh, cari orang yang membuatmu marah, lalu berkelahilah dengan dia (tidak untuk dicontoh, hanya orang-orang yang pikirannya dangkal dan frustasi saja yang melakukan ini). :batabig semoga itu dapat bermanfaat untuk ku, untuk orang lain, dan sesama yang membutuhkannya. :hope