Archive for October, 2011

SOSIOLOGI – FISIP

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

seri publikasi

mata kuliah Teori Sosiologi Modern

judul : Lewis Coser

nama :Yudha    nim : D0310065

pengampu : Akhmad Ramdhon

Dalam pemikiran teori konflik, Coser melihat konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan penyesuaian, dapat memberi peran positif, atau fungsi positif, dalam masyarakat. Pandangan teori Coser pada dasarnya usaha menjembatani teori fungsional dan teori konflik, hal itu terlihat dari fokus perhatiannya terhadap fungsi integratif konflik dalam sistem sosial. Konflik dengan kelompok lain dapat memperkuat kembali identitas kelompok dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam dunia sosial sekelilingnya. Seluruh fungsi positif konflik itu (keuntungan dari situasi konflik yang memperkuat struktur) dapat dilihat dalam ilustrasi suatu kelompok yang sedang megalami konflik dengan out-group. Dalam lingkup yang lebih kecil konflik kelompok baru dapat lahir dan mengembangkan identitas strukturalnya. Konflik yang sedang berlangsung dengan out-group dapat memperkuat identitas para anggota kelompok. Kelompok keagamaan, kelompok etnis dan kelompok politik sering berhasil mengatasi berbagai hambatan karena konflik menjalankan fungsi positif dalam memperkuat identitas in-group. Misalnya geng motor. Dalam geng motor ini mereka membangun identitas diri, peraturan, tata nilai dan perilaku, antribut serta kultur yang menggambarkan jati diri mereka. Seiring para geng motor ini berkonflik dengan komunitas lain justru akan menambah kesolitan dari para anggota geng motor tersebut, para geng motor ini secara tidak langsung menerapkan apa yang dimaksud Coser tentang penguatan identitas saat terjadi konflik. Menurut Coser, tindakan konflik dengan rasa bermusuhan itu tidak sama. Konflik benar-benar mengubah waktu hubungan dari pelaku sedangkan bermusuhan tidak memiliki peran penting dan meninggalkan pengertian ketidakberubahan hubungan. Perasaan permusuhan dibebaskan tidak hanya menuju objek asal, tetapi juga menuju objek pengganti. Perilaku selain konflik setidak-tidaknya menunjukan fungsi yang sama dari konflik. Konflik tidak selalu mengarah pada permusuhan, tetapi ia bisa digeser pada pemuasan kebutuhan yang ditunjukkan oleh penemuan objek pengganti tersebut. Contohnya pada pemilihan kepala desa. Seorang yang  bernama M terpilih sebagai kepala desa, hal ini membuat kelompok pendukung N marah dan mengancam akan merusak fasilitas umum yang ada. Untungnya M mampu berpikir realistis, maka ia mendampingi N sebagai wakil kepala desa. Sekalipun rekomendasi menyatakan N ditargetkan sebagai kepala desa. Massa yang terlibat konflik pun bisa dikendalikan bahwa jabatan bukan objek utama, tetapi masih bisa diganti dengan objek pengganti. Read the rest of this entry »

hati ini telah kau curi. kau curi dengan diam-diam tapi pasti. sulit untuk merebutnya kembali. karna hati ku ini telah kau masukkan dalam sebuah peti. kau menguncinya rapat sekali. aku sudah tak tahan lagi dengan semua ini. perlakuanmu, tatap matamu yang tajam, dan gaya bicaramu yang menyinggung perasaan, ingin sekali aku buang jauh-jauh dari bumi ku tersayang. berikan aku kunci. kunci untuk membuka hatiku yang telah berkarat dan rapuh ini. aku tak ingin mengulangi kembali jeratan hati. sudah cukup sampai di sini. aku harus melupakan semua ini dengan ikhlas diri. tanpa harus melihat kembali kebelakang dan menyesali apa yang telah terjadi. aku harus melanjutkan kehidupanku kini, esok, dan nanti. untuk melihat mentari dan menyongsong masa depan yang hakiki. setiap pagi aku panjatkan pada Mu ya Ilahi. untuk dapat melupakan wajahnya disela-sela ingatanku yang kosong. semakin aku mengingatnya, luka hati kembali terbuka menganga, sakit sekali. tolong, biarkan aku tenang dan jauh dari bayang-bayang wajahnya…

UPAYA PEMERINTAH MENGGALAKKAN

PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA


Oleh :

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011
PENDAHULUAN

Kalau dulu program Keluarga Berencana atau KB nasional pernah menjadi program raksasa prioritas yang di negara kita Indonesia tercinta ini, itu pada masa pemerintahan Presiden Soeharto dimana kepala BKKBN saat itu adalah Dr. Haryono Suyono, maka hal ini telah berubah banyak, beberapa waktu terakhir ini program KB nyaris tak terdengar. Oleh karena itu hal ini perlu menjadi perhatian seluruh lapisan masyarakat karena setelah berjalan lebih dari 38 tahun sudah saatnya kita mengembalikan bukan saja citra BKKBN yang telah membawa nama baik bangsa Indonesia akan tetapi juga tentunya dampak positif akan dapat dirasakan oelh seluruh rakyat Indonesia dengan keberhasilan program KB dimana seluruh keluarga di indonesia semakin bahagia dan berkualitas sehingga mampu bersaing dengan negara lain diera globalisasi.

Salah satu program yang perlu direvitalisasi adalah penggarapan daerah miskin, tentu saja ini merupakan prioritas, mengingat jumlah penduduk miskin di Indonesia sangat besar, lebih dari 53, 3 juta keluarga Indonesia 30, 5 persen atau setara dengan 16, 2 juta keluarga adalah miskin dengan kategori pra-sejahtera dan sejahtera satu (data BKKBN.go.id 2009). Padahal penduduk miskin inilah yang pada umumnya memiliki jumlah anak banyak, apalagi jika masih saja tetap menganut prinsip banyak anak banyak rezeki dan harus memeiliki anak laki-laki anak perempuan karena menganggap kedua jenis itu jika salah satu tidak terpenuhi tidak “afdol” dalam hidup seorang keluarga. Sehingga jumlah anak yang dilahirkan kalau maasih perempuan semua tetap berusaha untuk memiliki anak laki-laki begitu pula sebaliknya. Contoh misalnya di propinsi NTT, ada kebiasaan penduduk yang masih menganggap bahwa nilai anak perempuan dan anak laki-laki adalah sama, artinya jika mmeiliki anak perempuan dengan jumlah yang banyak pasti akan menguntungkan karena mahar yang akan diterima saat si anak akan menikah sangat besar, sebaliknya anak laki-laki juga diharapkan banyak, karena akan menjadi penopang kehidupan dimasa mendatang sebagai pembantu keluarga mencari rezeki, bekerja dilahan sawah atau bekerja sebagai nelayan bahkan bekerja sebagai serabutan (artikel GEMARI edisi 99/2009 oleh Dr. Ratnasari Azahari, MPA tentang Program KB Nasional). Memiliki anak banyak tanpa memperhitungkan bahwa kemampuan terbatas tentunya akan semakin sulit untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Read the rest of this entry »

NASIP PERBURUHAN DI INDONESIA MENDATANG

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Hubungan Kerja


Oleh

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

Buruh adalah tema pinggiran dalam laporan media masa kita. Kelas sosial maha penting ini kerap dimunculkan dalam potretnya yang nestapa. Sering kita saksikan ditelevisi, kamera yang menangkap secuil pamandangan bilik-bilik sempit nan becek, asab pabrik, dan getar mesin. Gurauan pahit diselingi musik dangdut. Kita menyaksikan para buruh itu bergerak menuju pabrik. Mungkin dengan kesadaran yang kurang, bahwa mereka adalah alas dunia. Bahwa pada merekalah ekonomi kita bersandar. Bahwa upah murah mereka telah menggoda pemilik modal, global maupun nasional, dengan gairah investasi meluap-luap. Bahwa hidup mereka tetap melarat, meskipun pabrik gencar melahirkan barang-barang. Dibalik dinding pabrik, ada pemilik modal dengan saku kian tebal. Media kadang juga luput memotret kehidupan buruh itu dengan lebih tajam. Kelas pekerja ini, bagaian mayoritas dari rakyat Indonesia, misalkan harus menanggung berbagai kebijakan dari kekuasaan yang tak memihak mereka. Di parlemen, nyaris tak ada partai berdiri tegak membela kepentingan buruh, meski reformasi politik membuka peluang. Para buruh kerap menjadi statistik. Angka-angka berderet. Tapi tak tertangkap apa yang ada dibaliknya, cerita tentang kerja produksi dengan keringat dan air mata. Read the rest of this entry »

MENGANALISA GAMBAR

SUNGAI MINI CHEONGGYECHEON DI SEOUL

Tugas untuk memenuhi mata kuliah Sosiologi Pembangunan


Oleh :

Yudha

D0310065

JURUSAN SOSIOLOGI

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2011

http://id.travel.yahoo.com/jalan-jalan/194-sungai-mini-cheonggyecheon-yang-menghanyutkan

Gambar diatas adalah Sungai Cheonggyecheon yang berada di Seoul, Korea Selatan. Jika dilihat sepintas, sungai itu merupakan sebuah proyek yang telah dirancang dengan sedemikian rupa dan yang pasti membutuhkan dana yang lumayan besar. Mengapa tidak, sepintas sungai itu terlihat rapi tertata, dengan pepohonan yang juga menjadi bagian hiasan sungai itu agar menjadi lebih cantik, selain itu tak terlihat sampah yang hanyut terbawa aliran sungai Cheonggyecheon tersebut, dapat dilihat juga para penjalan kaki menikmati sungai yang mengalir tak begitu deras, jernih, sekaligus bersih, dan yang lebih penting menarik untuk dipandang. Ada yang sedang duduk menikmati aliran sungainya, ada yang sedang bersantai dengan pasangannya dipinggiran sungai itu, ada pula pejalan kaki yang menyeberang dengan santai tanpa harus menahan bau yang menyengat yang diakibatkan oleh sampah (bukan bermaksud untuk menyindir sungai yang ada di Indonesia). Pembangunan yang telah direncanakan dengan matang dan biaya yang telah dipersiapkan kedepannya, menjadikan sungai Cheonggyecheon ini menjadi salah satu tempat pariwisata di Seoul, Korea Selatan, yang banyak sekali digandrungi oleh masyarakat sekitar dan juga para turis-turis yang sedang berkunjung disana. Read the rest of this entry »