Archive for July, 2011

ketika aku memegang tanganmu, lembut, bersih, dan masih sangat terawat. dengan jari-jarimu yang lentik, kau terlihat sangat menggemaskan. honey, aku berharap kau akan terus seperti ini. tak ada dosa yang kau lakukan, dan tak ada seorangpun yang marah dengan apa yang kau lakukan. honey, aku berharap kau akan tetap menjadi seperti ini. wajahmu yang sangat polos, tak berarti kau dapat dibohongi. tingkah dan perilakumu yang semakin hari-semakin menunjukkan bahwa kau akan dewasa, aku takut akan hal itu. honey, tetaplah seperti ini. kau berjanji akan tetap lucu seperti saat ini, honey? aku mohon jangan terus tumbuh menjadi dewasa, aku tak ingin orang lain menyakitimu. akan aku lakukan apapun tetapi tetaplah seperti saat ini, honey. ketika kau dewasa, kau akan menemukan seorang pasangan hidup, yang kadang itu akan menyakiti perasaan hatimu ketika kau merasa cemburu. ketika kau mendapatkan nilai yang tinggi, banyak teman-temanmu yang akan menghargaimu, tetapi banyak juga yang akan menjatuhkanmu. aku tak ingin orang-orang menyakiti hatimu yang polos seperti itu, honey. tetaplah seperti ini…

Alex lalu menghampiri Charlie yang duduk didekat mobilnya yang mogok. Charlie sudah ingin menyerah apabila ada polisi yang akan datang. Ia sudah lelah dengan permainan yang dibuat temannya.

“hey, butuh tumpangan?”, kata Alex. Charlie tidak menjawab Alex. Ia berdiam dengan menundukkan kepalanya. “kau sendirian di sini? Tidak ada kendaraan lagi yang akan lewat sini, kau lihat? Hanya ada aku dan jam sudah menunjukkan pukul 16.00 lebih, bagaimana?”, Alex memberikan tumpangan.

Dengan nada yang serak, Charlie berkata, “kau punya makanan atau minuman?”.

“hem… tentu, aku punya keduanya, sebentar aku ambilkan”, Alex yang mengambilkan makanan dan minuman untuk Charlie. “boleh aku ikut bergabung (duduk) denganmu?”, pinta Alex. Charlie tidak menjawab, ia hanya mengangguk kecil. “baiklah, itu aku anggap ‘tentu, mari bergabung denganku, dan kita menikmati matahari tenggelam dijalanan yang sepi ini’, hahaha…”, Alex melucu. Charlie tidak tertawa dengan humornya Alex, ia malah menatap aneh Alex. “ow… sorry, sepertinya kau saat ini tidak butuh lelucon…hehe”, Alex jadi kikuk. Charlie langsung melahap makanan dan minuman yang diberikan oleh Alex. “wow… kau bercanda, kapan kau terakhir makan, sepertinya kau benar-benar menikmati makanan ini ya?”, kata Alex.

Setelah selesai menghabiskan makanan dan minuman yang diberikan Alex, Charlie kemudian mengucapakan sesuatu, “terima kasih, makanan dan minumannya. Sekarang kau boleh pergi, jika suatu saat nanti aku bertemu denganmu lagi, aku akan membalas kebaikanmu. Sekarang kau boleh pergi…”.

“kenapa kau ini? kau mengusirku? Aku lebih nyaman di sini. Tidak ada seseorang yang mau menemaniku saat ini, kecuali kau…hihi”, kata Alex.

“bukan, bukan begitu… kau pasti ada urusan yang lain lagi, aku tak mau menganggumu…”, jawab Charlie.

“aku bagai burung yang bebas terbang di udara, mengepakkan sayapnya, tanpa ada yang mengurungku masuk ke dalam sangkar dan menjadi peliharaan seseorang… hihi… ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di sini? Kau sedang menunggu temanmu yang akan menjemputmu?”, tanya Alex.

“kau ini… aku sedang menunggu… menunggu… menunggu kendaraan yang lewat (Charlie berbohong, ia sebenarnya ingin menunggu polisi dan ingin menyerahkan diri) semua temanku… semua temanku ada urusan yang penting, mereka sedang ada diluar kota, jadi… ya beginilah, seperti yang kau lihat sekarang… (Charlie berbohong lagi)”, Charlie yang menutupi sesuatu.

“kau menunggu kendaraan yang akan lewat? Kau tidak lihat? Hanya ada aku di sini, dan kau bisa menumpang denganku, ke kota…”, kata Alex.

“tidak, tidak usah, aku sudah merepotkanmu dengan makanan dan minuman yang kau berikan, jika nanti aku menumpang dikendaraanmu, pasti ada seseorang yang akan marah besar…”, kata Charlie.

“hey hey… sudah aku bilangkan, aku sedang sendirian sama sepertimu, aku sedang membutuhkan seorang untuk menemaniku. Sebentar, maksudmu, seseorang yang akan marah besar itu pacarku? Kau bercanda, aku belum punya pacar… swear…”, Alex bersumpah. Ia memang tidak punya pacar sampai saat ini, ia hanya sedang menunggu pacar yang sesuai untuknya, pacar yang seperti dikatakan oleh ‘sahabatnya’ yang dulu.

“kau bohong, tidak mungkin kau tidak mempunyai pacar, lihat dirimu, kau… kau cantik, baik, dan.. baiklah, kalau begitu aku akan terus duduk disini, sampai kau bosan dan pergi…”, kata Charlie.

“dan? baiklah, aku juga akan terus di sini…”, kata Alex.

Mereka berdua pun duduk terdiam sembari menyaksikan matahari yang mulai tenggelam disertai petang yang akan menyelimuti malam. 1 menit telah berlalu. 15 menit mereka tetap diam tak ada sepatah katapun dari mulut mereka berdua. 30 menit mereka mulai menunjukkan kebosanan mereka. Charlie sudah tidak tahan lagi, ia memulai lagi pembicaraan, “ada apa dengan mu? Kau tidak bosan terus-terusan duduk di sini? “.

Alex yang sebenarnya sangat bosan, ia malah tersenyum, “tidak… sampai aku dapat membantumu sampai ke tempat tujuanmu…hihi…”.

“tempat tujuanku adalah penjara, kau tetap ingin mengikutiku?”, tanya Charlie.

“aku akan tetap mengikutimu… penjara? Kau benar ingin ke penjara?”, Alex balik bertanya.

“em… em… tidak. Aku hanya bercanda. Dimana kota yang dekat dari sini?”, tanya Charlie.

“kira-kira 1 jam dari sini kita menuju ke arah selatan, kota Aurora, kalau tidak salah…”, jawab Alex.

Sudah 1 jam lebih lamanya mereka berdua berbincang-bincang, dan sudah 1 jam lebih lamanya juga Ana, Christina, Kimberly, dan Sofie menunggu. Untuk mengejar teman-teman Charlie. “sial! Apa yang dilakukan Alex? Lama sekali mereka berdua di sana! Aku sudah tidak sabar…!”, Sofie yang mulai bosan.

“tunggu, aku akan mengirim pesan untuk Alex…”, Ana mengirim pesan pada Alex.

“haha… tunggu, aku ada pesan”, Alex membuka pesan dari Ana. Ana mengatakan untuk cepat membawa pria (Charlie) itu pergi dari jalan dan menuju kota supaya Ana dan yang lainnya bisa mengikuti teman-teman pria (Charlie) itu. Alex lalu memutuskan sesuatu, sebaiknya kita harus segera ke kota, hari sudah mulai gelap di sini, bagaimana?”.

“baiklah, terima kasih atas tumpangannya, lain kali aku akan membalasnya…oya, aku sampai lupa memperkenalkan diri, aku Charlie, salam kenal…”, Charlie memperkenlakan dirinya.

“panggil saja aku Alex, okey…”, jawab Alex.

“okey, Alex…”, kata Charlie.

“bagus, mereka sudah ingin pergi, sekarang kita tingggal berempat, dan sisa dari yang ingin kita cari juga ada 4 pria. satu per satu dari kita akan menangkap pria buronan itu, aku akan menangkap Peter. Bagaimana dengan kalian?”, tanya Kimberly.

“aku pilih Sam…”, jawab Sofie.

“aku akan pilih Danny…”, jawab Ana.

“baiklah, aku akan menangkap John…”, jawab Christina.

“semuanya sudah mendapatkan bagiannya masing-masing, Christina kau pergi ke arah selatan, Ana kau akan mencari pria itu ke arah timur, Sofie temukan pria itu ke arah timur seperti Ana, dan aku akan mencari pria ini (Peter) ke arah Utara. Kalian siap? Sepertinya Alex juga sudah pergi, kita akan berangkat, good luck girls…!”, Kimberly memberi semangat.

“yeah!!!”, semuanya bersemangat untuk mencari para pria buronan itu. Rencana mereka sudah tidak bisa diragukan lagi. Akhirnya mereka masing-masing pergi ketempat yang sudah ditentukan.

Charlie dan Alex sudah sampai ditempat tujuan mereka, kota Aurora. Charlie turun dan mengucapkan terima kasih pada Alex, “sebaiknya aku turun di sini. Terima kasih tumpangannya, aku sangat menghargai bantuanmu. Suatu saat ketika aku akan membalasnya… selamat malam, Alex. Bhe…”.

“malam, Charlie, bhe…”, jawab Alex.

Keesokan harinya Charlie mencari pekerjaan seadanya, semalaman ia hanya tidur disembarang tempat. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan sebagai pengembala domba. Seharian ia hanya ada di pegunungan untuk menjaga domba-domba yang digembalanya agar tidak dimakan oleh serigala atau semacamnya. Bagainama dengan nasip Peter, Sam, Danny, dan John? Mereka juga sama seperti Charlie, mencari pekerjaan seadanya. Peter sekarang bekerja sebagai penjaga sekaligus sebagai tukang bersih-bersih di peternakan bull (sapi jantan) kota Nasa, ia tiap hari menjaga dan membersihkan para sapi jantan yang akan digunakan untuk bermain rodeo, mulai dari memandikannya, menjaga kebersihan kandangnya, sampai memberikannya makan. Sam bekerja sebagai pengantar susu. ia dipekerjakan oleh seorang kakek pengantar susu, kakek itu telah memberikan tumpangan ketika Sam berjalan menuju kota. Sesekali Sam juga ikut bekerja  membantu memperbaiki rumah tetangganya tempatnya ia tinggal bersama keluarga barunya, kakek dan nenek yang hidup tanpa seorang anak. Danny, bekerja sebagai tukang ledeng. Ia sudah terbiasa membongkar ledeng seperti membongkar sebuah senjata jadi ia langsung diterima. Sedangkan John, ia mendapatkan pekerjaan sebagai pengantar koran, tiap pagi ia mengantarkan koran dari rumah ke rumah dengan menggunakan sepeda pinjaman. Selain sebagai pengantar koran, ia juga bekerja sambilan sebagai pelayan direstoran makanan. Dan saat itulah, para Fiverus melakukan aksinya.

Diawali dari kota Aurora, kota yang menjadi tempat persembunyian John dan Charlie, tetapi mereka berdua tidak menyadari  kalau salah satu dari teman mereka ada di kota yang sama.

Charlie saat ini sedang menggembala ratusan domba tepatnya 500 domba sendirian, sebenarnya Charlie tidak sendirian ia juga ditemani seekor anjing, anjing itu juga menjaga domba-domba yang nakal yang keluar dari kawanannya. Suatu saat ia terkejut melihat Alex berada di pegunungan yang sama tempat Charlie menggembala domba-dombanya.

Dari kejauhan Alex berteriak, “hey!!! Charlie? Kau Charlie, bukan?”.

“hey!!! Alex!”, jawab Charlie.

Alex kemudian menghampiri Charlie yang sedang duduk sekaligus melihat domba-dombanya agar aman dari serangan serigala. “kita bertemu lagi… sedang apa kau di sini? Semua ini domba-dombamu?”, tanya Alex.

“kapan aku memiliki domba sebanyak ini, kemarin saja aku baru kau selamatkan dari jalanan. Aku sekarang menjadi penggembala domba, kau juga sedang apa di sini?”, Charlie balik bertanya.

“oh… kau lihat? Bagus sekali pemandangan pegunungan ini. aku hanya ingin berkemah di pegunungan ini, sendirian. udaranya yang segar dan cuacanya yang sejuk membuat suasana serasa berbeda…”, jawab Alex.

“aku tidak sadar betapa bagusnya pemandangan di pegunungan ini, kau benar. kau lihat, aku hanya memandangai domba-domba itu agar tetap baik-baik saja…hem…”, kata Charlie.

“haha… aku, boleh membantumu di sini, sepertinya sangat seru menggembala ratusan domba itu? Tenang-tenang, aku tidak usah dibayar dari hasil kau menggembala domba ini, bagaimana?”, kata Alex.

“baiklah… dari pada aku hanya berbicara dengan seekor anjing, kau diterima…hehe…”, Charlie membolehkan Alex untuk membantunya menggembala domba.

“terima kasih Charlie… hey…(anjingnya mendekati mereka berdua) hey, siapa namamu?”, tanya Alex.

“panggil saja ia buddy… “, jawab Charlie.

Hari sudah mulai siang, waktunya mereka berdua makan siang. Dilain tempat, John yang telah selesai menyebarkan koran-korannya dari rumah ke rumah sekarang mulai bersiap-siap untuk pekerjaan selanjutnya, sebagai pelayan restoran.

“maaf bos aku terlambat terlambat…”, John meminta maaf pada bos restoran tempat ia bekerja.

“satu kali lagi terlambat gajimu akan aku potong John, cepat pakai pakaianmu, cepat cepat cepat, sudah ingin menginjak makan siang, banyak pengunjung yang tidak boleh disia-siakan!”, suruh bos di restoran tempat John bekerja.

“terima kasih bos…”, jawab John. Ia kemudian cepat-cepat berganti pakaian untuk melayani pengunjung restoran tempatnya bekerja sekarang. Di saat itulah ia bertemu untuk yang pertama kalinya dengan Christina, salah satu anggota Fiverus yang mengincar John.

“selamat siang, ingin pesan apa?”, kata John.

“aku ingin pesan menu makan siang yang paling enak disini, aku juga ingin memesan jus strowbery, jangan lupa diberi 2 sendok madu karena itu baik untuk kulitku, dan jangan beri gula karena aku sudah membawa gula sendiri yang bebas lemak, oya, siapkan juga 1 gelas air putih karena air putih dapat membantu mencerahkan wajah, terima kasih sekarang kau boleh pergi… “, Christina yang banyak maunya.

“wow…”, kata John.

“maaf, kau bilang apa? eits, satu lagi, kau siapkan tisu di sini, tisu yang biasa saja karena aku sudah punya tisu basah…  terima kasih sekarang kau boleh pergi…”, Christina yang menjengkelkan.

“baik, pesanan segera datang…”, kata John.

Beberapa menit kemudian pesanan sudah dihidangkan dimeja Christina.

“kenapa lama sekali makanannya?! Kau tau, 1 menit saja jadwal makan siangku jika terlambat tubuhku akan kelihatan kurus dan aku tidak suka itu, tapi tidak apalah hanya 1 menit terlambat, kau aku maafkan… sekarang biarkan aku makan, kau boleh pergi sekarang…”, kata Christina.

“selamat menikmati… apa ada yang kau butuhkan lagi?”, tanya John.

“ehem… yang aku butuhkan saat ini kau pergi dari sini, lihat banyak sekali pengunjung yang butuh bantuan, cepat sana pergi…”, jawab Christina.

“baik baik… maaf…”, kata John.

10 menit berlalu, salah satu teman John (Jenny) memanggil John yang saat itu sedang membereskan piring-piring yang kotor di dapur, “John, meja nomor 9 sepertinya memanggilmu, kau kan yang siapkan makanan pengunjung itu? dia tidak mau dilayani pelayan lain kecuali orang yang menyiapkan makanannya tadi, cepat…”. John saat itu bingung, apa kah ia akan dimarahi karena ketidakpuasan pengunjung atau ada sesuatu yang gadis itu butuhkan, tetapi kenapa ia (John) yang dipanggil, kenapa gadis (Christina) itu tidak mau dilayani oleh pelayan lain?

“maaf, ada yang kau butuhkan lagi?”, tanya John.

“berapa?”, Christina balik bertanya.

“berapa? Maaf, maksudnya?”, jawab John.

“berapa bill nya?”, tanya Christina.

“kau sudah selesai makan? Oya, maaf ini bill nya…”, John yang menyerahkan bill kepada Christina.

Setelah selesai membayar Christina akhirnya pergi dari restoran tempat John bekerja. Ia tidak menghabiskan makanan yang ia pesan, sepertinya tiap makanan dan minuman yang ia pesan hanya dimakan 1 sendok saja. John hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sembari membersihkan tempat meja makan Christina tadi. John kemudian menyuruh salah seorang temannya (Will) yang juga bekerja di restoran itu untuk membungkus sisa makanan Christina tadi, “will, kau tidak sedang sibukkan? Tolong bungkus makanan ini, oya, jika ada makanan yang masih bagus, tolong dibungkus juga ya? Kau tidak keberatan kan?”, tanya John.

“tidak, tidak masalah, tapi kau ingin memakannya???!”, Will yang balik bertanya heran.

“tidak, kau bungkus saja…”, jawab John.

Will sangat heran, tetapi sesuai perintah John, ia kemudian membungkus setiap makanan yang masih bagus dan masih bisa untuk dimakan.

Akhirnya selesai juga pekerjaan John. Restoran itu tutup pada pukul 19.00 waktu setempat. Ia kemudian mengambil makanan yang dibungkus Will, “terima kasih, Will. Besok dan seterusnya tolong lakukan hal seperti ini ya? Aku mohon…”, kata John.

“iya… tidak masalah… tapi, untuk apa John???”, Will yang heran.

“nanti aku jelaskan, aku sudah terlambat, bhe…”, John yang terburu-buru.

“bhe.. tapi John…! ya sudahlah…”, kata Will.

Dengan banyak sekali bungkusan makanan yang dibawa John ia lalu pergi tergesa-gesa menuju sebuah gudang yang kosong, yang sudah tidak dipakai lagi, dan ternyata Christina membuntutinya dari belakang, “apa yang ia bawa itu? ia masuk ke sebuah gudang? Menurut informasiku, ia tidak tinggal disana, ia tinggal disebuah kontrakan. Baiklah, John, rahasiamu akan aku bongkar, lihat saja nanti. Dimanapun kau bersembunyi, aku akan menangkapmu.

Beralih ke kota Nasa, tempat Peter bersembunyi dari kejaran polisi dan sekarang ia bekerja sebagai sebut saja ‘pengasuh’ banteng.

Pagi itu Peter harus selalu bangun pagi untuk membersihkan kandang sapi jantan, dan tentu saja memberinya makanan. Sangat melelahkan memang serta bau yang menyengat dari kotoran sapi-sapi jantan itu, tetapi itulah kenyataan yang harus ia jalani. Siangnya ia dikunjungi oleh seseorang, seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah pemburu Peter, Kimberly.

“hey. Sapi jantan yang besar. Kau yang merawatnya?”, tanya Kimberly.

“kau bisa lihat sendiri, hehe… ada yang bisa aku bantu?”, kata Peter.

“tidak, aku hanya ingin berkunjung ke sini. Sepertinya asik memberi makan sapi-sapi jantan ini dari dekat, kau tidak takut?”, Kimberly bertanya.

“tantangan adalah kehidupanku…”, jawab Peter.

“wow… kau… sama sepertiku… Kimberly, panggil saja aku Kimberly”, Kimberly memperkenalkan dirinya.

“Peter, kau tidak mau tanganmu terkena kotoran sapi ini kan, hehe…”, jawab Peter.

“kau ini apa-apaan, tak apalah, kan nanti bisa dicuci (mereka berjabat tangan)”, kata Kimberly.

“hey, kau tidak seperti kebanyakan gadis lain… kau tidak takut kotor?”, tanya Peter.

“Peter, aku tadi sempat terkejut ketika kau bilang ‘tantangan adalah kehidupanku’, aku juga punya prinsip sepertimu, selain aku tidak takut kotor, aku juga suka akan tantangan…”, jawab Kimberly.

“wow… benarkah?”, tanya Peter.

“aku akan membuktikannya padamu… aku akan menunggangi sapi ini… kau tidak keberatan?”, tanya Kimberly.

“wow wow wow…!!! kau serius?! Kau.. kau nanti akan terjatuh, dan kau bisa diinjak oleh sapi yang kau tunggangi, kau nanti juga bisa terluka parah..kau…”, kata Peter.

“hentikan ketakutanmu yang berlebihan itu Peter, aku sebelumnya sudah pernah melakukannya, walaupun 1 kali…”, Kimberly yang sangat percaya diri.

“tapi… tapi… “, Peter yang kawatir.

Kimberly lalu meminta ijin pada pemilik sapi untuk mengijinkannya menunggangi sapi jantan miliknya. Pemilik sapi itu akhirnya mengijinkan Kimberly, tetapi sapi yang digunakan adalah sapi yang tidak begitu agresif. Peter sangat cemas ketika Kimberly ingin menaiki sapi jantan itu karena Kimberly adalah seorang gadis yang pertama kali Peter lihat menaiki seekor sapi jantan dan ketika Kimberly menaiki sapi itu… Kimberly sempat bertahan di angka 10 detik saja, tetapi itu tidak masalah, ia telah membuktikan bahwa ia memanglah orang yang suka akan tantangan.

“wow!!! This is great, Kimberly!!! 10 secon, not bad, untuk seroang gadis pemberani sepertimu! Okey, aku mengakui kau adalah gadis yang luar biasa! Aku traktir kau minum, come on…”, Peter yang terkejut dan ingin mentraktir Kimberly. Kimberly mengiyakan ajakan Peter, ia akan semakin akrab dan semakin dekat dengan tujuannya, menangkap Peter.

Dan kota terakhir tempat persembunyian Sam dan Danny, kota Sky berlanjut. Mereka berdua juga tidak menyadari jika salah satu kawannya tingga di kota yang sama.

Pagi itu, Sam sudah bersiap untuk mengambil pesanan susu-susu segar dan menyebarkannya dengan mobil terbuka, ia ditemani kakek, keluarga barunya. Ia belum hafal betul jalan-jalan dan rumah-rumah yang ingin ia kirirmi susu segar.

“kakek, kau tahu alamat ini? penghuninya bernama Sofie…”, tanya Sam.

“kita jalan terus… lurus terus… pelan-pelan, stop… sepertinya alamatnya di sini. Aku yakin dia orang baru di sini. Biasanya rumah itu kosong, sekarang ambilkan 2 botol susu untuknya…”, suruh kakek.

“baik…”, jawab Sam. Sebelum ia meletakkan dua botol susu segar di depan pintu rumah Sofie, pintu rumahnya lalu terbuka, dan keluarlah Sofie. “morning…”, sapa Sam.

“morning… jadi kau ya yang akan setiap pagi mengantarkan susu segar ke rumahku?”, tanya Sofie.

“iya, sebenarnya bukan rumahmu saja, aku juga mengantar susu ini kebanyak rumah… kau… Sofie, penghuni rumah baru ini? kau pasti bersama suamimu? Selamat menempuh hidup baru di kota ini… hehe…”, jawab Sam.

“suami? Kau bercanda… aku belum menikah… aku juga belum punya pacar… hihi…”, kata Sofie.

“benarkah? Mmm… aku Sam, aku sebenarnya juga baru di kota ini…”, Sam memperkenalkan dirinya.

“salam kenal Sam…”, jawab Sofie.

“mmm baiklah, sebaiknya aku pergi, aku masih akan mengantarkan susu ke beberapa rumah lagi… bhe…Sofie…”, kata Sam.

“bhe, Sam…”, jawab Sofie.

“betapa cantiknya gadis itu… sepertinya kau menyukainya… hehe…”, kakek bercanda.

“oh, kakek… come on… ”, kata Sam.

“hehe… benarkan? Aku akan mendukungmu Sam… hehe…”, kata kakek.

“hentikan kakek… iya memang aku akui gadis itu cantik.. tapi… tapi… dia memang benar-benar cantik…hehe…”, Sam tersipu malu.

Di lain tempat, siang ini Danny mendapatkan panggilan untuk memperbaiki ledeng yang mampet. Ia lalu bergegas ke alamat rumah yang telah ditentukan. Sesampai di rumahnya, “permisi, apa ada ledeng yang perlu diperbaiki?”. Danny saat itu masih menunggu di luar. Lalu pintu terbuka dan ia sangat terkejut melihat seorang gadis yang hanya memakai jubah handuk yang basah, siapa dia? Dia adalah Ana.

“kau bisa membetulkan ledengnya kan? Airnya tidak menyala, aku hampir saja mau selesai mandi… tolong ya…”, kata Ana.

“mmm (Danny diam sejenak) ya… ya, baiklah… serahkan pada ahlinya… aku akan memperbaikinya…”, jawab Danny.

Ia kemudian mencari sumbernya yang menjadi masalah, dan ia memperbaikinya.

“hey, namaku Ana. Kau sudah lama bekerja sebagai tukang ledeng?”, tanya Ana.

“hey, Ana. Danny, aku baru saja menjadi tukang ledeng, beberapa hari yang lalu. Kau baru di sini sepertinya?”, Danny yang balik bertanya.

“iya, aku ingin sejenak menghilangkan beban. Aku hanya ingin liburan di sini…”, jawab Ana.

“okey, sepertinya sudah selesai, kau bisa melanjutkan mandi mu yang tadi tertunda…”, kata Danny yang telah menyelesaikan pekerjaannya.

“wow, kau memang handal, ini minumanmu dan ini bayaranmu… terima kasih, Danny…”, kata Ana.

“yah, sama-sama, Ana…”, jawab Danny.

Setelah selesai menyelesaikan tugasnya, Danny kemudian pergi.

Cerita apa lagi yang akan disajikan? Tunggu lanjutan ceritanya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Saat ini aku sedang blank mau nulis apa di blog. Tapi aku pengen share aja sesuatu yang tidak penting.  Hati ini rambut aku berubah. Rambut aku yang dulunya lumayan panjang, sekarang sudah aku pangkas menjadi pendek, kata teman-teman aku seperti landak. Sebelum aku potong rambut, tiap pagi rambut aku kalau habis bangun tidur seperti singa, megar, hehe. Tapi setelah aku potong rambut, serasa ringan dan tidak megar lagi kaya singa. Dan kalian bisa lihat hasilnya pada gambar dibawah ini…

Polisi yang kewalahan menangkap kelima pria panggilan yang sekarang menjadi buronan itu, kemudian memanggil tim Fiverus. Siapa tim Fiverus ini? Mereka adalah salah satu tim yang dibentuk oleh badan khusus keamanan Negara yang bertugas untuk menangkap seorang buronan, khususnya buronan pria. Satu tim ini terdiri dari 5 orang gadis yang luar biasa, smart, intellectual, young, and beautiful. Sekilas Fiverus terdengar seperti sebuah kata Virus. Memang benar, kenapa? Karena mereka adalah gadis-gadis yang akan meracuni para pria buronan sampai akhirnya tertangkap. Kelima gadis ini sudah diakui kredibilitasnya. Setiap buronan yang mereka incar akhirnya tertangkap. Dengan usia yang sangat muda, mereka telah menangkap ratusan buronan tanpa ada satu orang pun yang lolos dari jeratan para gadis-gadis super ini. Dalam menangkap para buronan, mereka melakukan cara yang tidak biasa. Mereka tidak menggrebek secara mentah-mentah seperti yang dilakukan para polisi, mereka menggunakan kecerdasan istimewa yang mereka miliki, taktik, dan tentu saja wajah dan tubuh mereka yang membuat semua orang termasuk para pria-pria polisi itu sendiri tunduk kepadanya (tidak sampai berhubungan badan loh). Inilah Fiverus yang terdiri dari 5 orang gadis yang luar biasa ;

Yang pertama adalah Ana, 21 tahun.

Ia merupakan sosok gadis yang menjadi idaman para pria. Hobby nya adalah bela diri. Ana sejak dari kecil sudah dilatih bela diri. Para pria hidung belang yang ingin mendekatinya, terkejut ketika ia menunjukkan salah satu jurus bela dirinya, karena dengan wajahnya yang sangat cantik dan tubuhnya yang mulus para pria hidung belang mengira ia hanya gadis biasa saja. Ia menjadi salah satu anggota Fiverus ini karena setelah tahu pacarnya berselingkuh. Ia kemudian benci dengan laki-laki dan memutuskan untuk bergabung dengan tim Fiverus agar ia bisa menangkap para pria (buronan) dan sebelum ia menangkap pria-pria buronan itu, ia menjadikan pria-pria buronan yang ia incar menjadi mainannya, dalam arti ia memainkan hati si pria buronan lalu menangkapnya dan menjatuhkannya ke dalam bui. Itu membuat hati dan perasaan Ana senang karena telah memainkan hati pria.

Yang kedua adalah Christina, 20 tahun.

Christina adalah sosok yang glamor. Belanja dan bersenang-senang adalah kehidupannya. Ia hampir tiap hari selalu belanja barang-barang yang kadang tidak perlu untuk digunakan. Ia bahkan mempunyai ratusan sepatu, baju, topi, tas, dan kaca mata yang masih bersegel dan tidak terpakai. Ia mendaftar menjadi salah satu anggota Fiverus karena Christina hanya mengincar uang saja. Tidak dipungkiri menjadi penangkap buronan memiliki bayaran yang selangit, dan tentu saja uang yang ia dapatkan khusus untuk berbelanja saja. Christina sudah berganti-ganti pacar sampai tak terhitung berapa jumlahnya. Para pacar Christina bosan karena mereka hanya digunakan sebagai pembantunya ketika pergi berbelanja, membawa belanjaannya yang sangat banyak. Jika Christina harus memilih antara pria dan belanja, tentu ia akan langsung memilih berbelanja.

Yang ketiga adalah Alex, 20 tahun.

Seorang Dj yang terkenal menge-mix lagu-lagu mellow menjadi lagu-lagu yang keren dengan hentakan dan semangat. Ia adalah seorang yatim piatu. Ketika kecil, ia sering mengamen di jalanan. Bakat musik yang ia dapatkan tidak lain dan tidak bukan ada di jalanan ketika ia mengamen. Ia kemudian sukses dengan bakat alami yang dimilikinya. Ia bergabung menjadi anggota Fiverus ini karena ia benci dengan para buronan. Satu-satunya teman yang ia miliki sejak kecil terbunuh. Temanya tertembak ketika ingin menghalang-halangi perampok bank yang lari dikejar polisi. Ia memutuskan ingin menangkap seluruh buronan yang ada di dunia ini.

Yang keempat adalah Kimberly, 21 tahun.

Kimberly adalah gadis yang tomboy. Ia suka sekali berpetualang. Mulai dari mengarungi air jeram, mendaki pegunungan, panjat tebing, bahkan sempai-sampai ia sempat mencoba menunggangi seekor banteng, ya ia beramain rodeo. Ia suka sekali akan tantangan. Dan, salah satunya adalah menjadi anggota Fiverus ini. Dalam hidupnya tanpa tantangan tidak akan berguna.

Yang kelima adalah Sofie, 20 tahun.

Sofie adalah seorang foto model. Wajahnya sudah terkenal dimajalah-majalah ternama termasuk majalah dewasa. Tidak masalah untuknya menjadi foto model dimajalah-majalah termasuk majalah dewasa, asalkan ia tidak dibayar untuk menjadi seorang pemain film porn. Kedua orang tuanya setiap hari selalu menasehatinya agar menghentikan pekerjaan sebagai foto model dimajalah dewasa yang ia lakukan sekarang ini. Ia kemudian hampir setiap hari tidak ada di rumah karena ia lelah dengan nasehat-nasehat orang tuanya. Ia lalu memutuskan untuk ikut dan terpilih menjadi anggota Fiverus. Ketika menjadi anggota Fiverus, pekerjaannya memakan waktu kadang paling lama 1 bulan, jadi ia merasa bebas dari nasehat-nasehat orang tuanya. Dan sekarang orang tuanya sudah lelah untuk menasehatinya.

Itulah lima anggota Fiverus yang akan menangkap kelima pria panggilan yang sekarang menjadi buronan itu. Para gadis itu kemudian membaca satu per satu informasi dari kelima pria buronan yang ingin mereka incar. Fiverus memutuskan untuk menangkap para buronan itu dalam waktu 13 hari, aneh memang, tetapi itulah cara khusus Fiverus dalam menangkap para buronan, dan mereka selalu tepat waktu sekaligus berhasil dalam menangkap para buronan yang mereka incar.

“berapa bayaran kali ini yang akan kita dapatkan?”, tanya Christina.

“karena mereka itu hanyalah anak-anak muda ingusan, kami akan membayar sepadan ketika kalian saat itu memburu seorang ayah yang memperkosa anaknya sendiri…”, jawab komandan polisi.

“apa maksud komandan,,, (dengan nada yang mendesah dan mendekatkan tubuhnya ke komandan polisi) mereka pria-pria yang tampan, tetapi komandan lebih tampan dari mereka,,, (sambil memainkan kerah komandan polisi) apa sepadan dengan bayaran yang seperti itu kepada buronan yang membunuh anak satu-satunya Gubernur,,,?”, Ana yang mencoba membuat kesepakatan kepada komandan polisi.

“apa kau mencari keuntungan lebih dari kasus ini,,,? Apa kau,,, kau ingin keuntungan yang lebih dari kami? Keuntungan yang membuatmu puas,,,?”, Sofie mendekati komandan polisi dengan genit.

“baik baik baik, fine (sambil mengusap keringat didahinya). Akan kami bayar kalian 3 kali lipat dari ketika kalian memburu orang-orang yang mencuri perhiasan di musium terkenal di negara bagian Bumi, bagaimana? Deal?”, jawab komandan polisi itu.

“kau memang komandan yang ‘besar’,,, dalam membuat kesepakatan,,, (nOte: tanda ‘,,,’ adalah mendesah) apa malam ini kau ada tugas sampai tengah malam komandan,,,? Kalau tidak, aku ingin,,,”, kata Ana.

“apa kau sudah selesai Ana? Kita pergi dari sini dan kita cari para pria buronan ini, aku sudah tidak sabar bertemu para buronan itu…”, Kimberly memutus perbincangan Ana dengan komandan polisi.

“oh,,, aku lupa, kita lanjutkan lain hari saja komandan, kau tidak keberatan,,,?”, kata Ana kepada komandan polisi itu.

Mereka berlima akhirnya keluar dari markas polisi.

“kau serius akan ucapanmu Ana, dengan komandan polisi itu? kau gila!”, kata Alex.

“hahahaha kau tidak tau aku saja Alex,,, pria paruh baya tua seperti komandan polisi itu? buat apa? f*uck off!”, jawab Ana. Mereka semua tertawa.

Akhirnya mereka pergi mencari jejak para pria buronan itu dengan mobil mereka masih-masing. Mereka memulai pencarian di negara bagian Pluto, di tempat kejadian terbunuhnya satu anggota polisi untuk mencari informasi lebih lengkap.

Dilain sisi, para pria panggilan ini mencari tempat persembunyian. Mereka semakin jauh dari tempat mereka ditemukan polisi. Tetapi, perjalanan mereka terhenti seketika tepat di perempatan jalan yang panas, gersang, dan sepi.

“ada apa Peter? Kenapa mobilnya berhenti?”, tanya Danny.

“aku akan memeriksanya…”, jawab Sam.

Ketika Sam keluar dari pintu mobilnya, ia terkejut saat melihat lubang bensin mobilnya terbuka. “guys, kita ada masalah. Cepat kalian keluar dan lihat ini”, kata Sam yang membuat penasaran.

“what! Kenapa penutup lubang bahan bakarnya terbuka!”, Peter terkejut melihat penutup lubang bensinya terbuka.

“mungkin saat dipengisian bahan bakar tadi aku tidak menutupnya dengan rapat… maafkan aku guys…”, Danny meminta maaf.

“wow! Bahan bakar kita… habis, kita belum juga sampai di kota…”, John pasrah.

“bagus, kita terperangkap di jalanan yang panas, berdebu, dan sepi dari kendaraan…”, kata Charlie.

“kita akan menunggu sampai ada kendaraan yang lewat. Kita akan menumpang dikendaraan mereka… kalau kita beruntung…”, kata Danny.

Mereka akhirnya memutuskan untuk menunggu kendaraan lain yang melintas. Tetapi 1 jam sudah lewat. 2 jam mereka telah lelah untuk menunggu, dan mereka mulai lapar.

“kita punya makanan apa Sam?”, tanya Danny.

“hanya 2 batang coklat, 1 bungkus popcorn, dan… 1 botol besar air mineral yang bisa aku ambil saat di toko tadi. Tapi… semuanya sudah habis saat kita memakannya diperjalanan…”, jawab Sam.

“sh*t!!! Kapan kita akan terus menunggu! Apa kita menunggu polisi datang lalu mereka memberikan makanan dan tumpangan kepada kita!”, Peter mulai frustasi.

“mungkin… kau benar Peter. Kita akan mendapatkan makanan lalu kita akan ikut di mobil mereka dan sampailah kita ditempat penjara. Asik kan? Dari pada kita menunggu di tempat seperti ini tanpa kepastian?”, John yang bercanda.

“kita saat ini tidak membutuhkan bercanda mu, John. Kau tahu, kita sekarang sudah menjadi buronan. Dan jika kita tertangkap, kita akan membusuk dipenjara selamanya, tanpa ada gadis-gadis yang sexy lagi, tahu!”, kata Charlie.

Mereka semua frustasi karena sudah 3 jam lebih tidak ada kendaraan yang lewat.

“kau mau kemana Danny?” tanya John.

“aku akan mencari air. Aku sudah tidak tahan dengan kehausan ini!”, jawab Danny.

“kau pikir ada air ditempat kering seperti ini? kau mau kemana Danny! Danny!!”, Peter yang memanggil Danny. Danny pun tidak menggubris panggilan Peter. Ia terus berjalan kaki lurus menuju ke arah timur. “sial! Apa-apaan Danny itu! dasar pengecut kau!”, Peter kesal. Danny membalikkan badannya dan menunjukkan jari tengahnya pada Peter.

“apa yang harus kita lakukan sekarang? Jika kita terus menunggu kendaraan yang lewat, para polisi akan semakin dekat dengan kita, dan kita akan tertangkap…”, kata Charlie.

“diam!!! Kita tidak akan tertangkap! Jangan lagi bilang kita akan tertangkap Charlie! Kalau kau tidak mau pukulan diwajahmu!”, Peter yang mengancam Charlie.

“kau mau memukulku, heh? Seharusnya aku yang memukulmu! Kau buat kita dalam masalah seperti ini! kau menjadikan kita sebagai buronan seperti mu! Seharusnya aku saat itu tak membantumu Peter dalam masalah ini!”, Charlie yang marah pada Peter.

Peter pun sontak semakin marah. Ia langsung mencengkeram baju Charlie. Peter dan Charlie, keduanya jatuh ke tanah dan terjadilah baku hantam. Hanya Sam yang melerai kedunya. Dimana John? John malah pergi berjalan kaki munuju ke arah selatan.

“cukup! Hentikan Peter! Charlie berhenti! Kalian seperti anak-anak! Tak tahu diri! Hentikan pertengkaran kalian ini!”, Sam melerai mereka berdua.

Akhirnya Charlie dan Peter berhenti melakukan baku hantam. Dan Peter memutuskan untuk pergi.

“kau ingin ikut Sam? Aku akan pergi dari sini! Aku sudah muak di sini!”, kata Peter. Peter lalu pergi berjalan kaki menuju ke arah utara.

“pergi saja kau ke neraka!”, kata Charlie.

“cukup Charlia! Charlie, kau terluka… ”, kata Sam.

“aku tidak apa-apa, Sam. Kau ingin pergi? Silakan…”, kata Charlie.

Sam berkata, “kita pergi bersama-sama, Charlie…”.

“tidak, aku akan tetap di sini. Aku sudah lelah dengan semua ini… aku lelah Sam…”, Charlie yang lelah menjadi buronan.

“tapi, Charlie…”, kata Sam.

Charlie menolak ajakan Sam, “tinggalkan aku sendirian Sam, cepat pergi… kau tak mau tertangkap kan? Cepat Sam…”.

“maaf, Charlie…”, kata Sam. Ia kemudian pergi ke arah timur dengan berjalan kaki.

Tanpa diduga, Fiverus mengintai mereka dari kejauhan. Mereka menemukan para buronan itu dengan cepat tidak seperti biasanya. Salah satu faktornya adalah karena kendaraan yang ditumpangi Peter dan kawan-kawan macet.

“hey, apa yang mereka lakukan? Satu per satu dari mereka pergi kecuali 1 orang, 1 orang yang menangis disamping mobilnya… oh… kasihan sekali pria itu… siapa itu Ana?”, tanya Sofie.

“dari gambar yang kita terima, aku yakin dia bernama Charlie. Anak orang kaya dari musisi terkenal yang terbuang… hahahaha… so sad,,, ”, jawab Sofie.

“baik, siapa diantara kalian yang akan mengurus pria cengeng itu? aku mengundurkan diri…hihi… ”, kata Kimberly.

“baiklah, aku yang kan mengurus pria itu… kelihatannya pria itu cukup mudah untuk ditaklukkan…”, Alex memilih untuk menangkap Charlie.

“yeah! Satu pria sudah terkunci. Good luck, Alex…!”, kata Christina.

“serahkan padaku, aku akan menangkap pria itu tepat 13 hari…”, kata Alex.

Alex pun berangkat dengan mobilnya menuju ke arah Charlie. Alex sudah merencanakan sesuatu dengan matang. Ia tentu tidak langsung menangkap Charlie begitu saja.

Apa yang direncanakan sebenarnya Alex dan kawan-kawannya kepada Charlie, Sam, Peter, John, dan Danny? Simak cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

JOURNAL OF TEACHER

EDUCATION AND

TEACHING

Read the rest of this entry »

Dengan rasa yang ketakutan sangat, Peter kebingungan harus melakukan apa terhadap Ashley yang sudah meninggal. Yang ada dibenaknya adalah, ia seorang pembunuh. Ia tak tahu harus meminta pertolongan kepada siapa, karena para penjaga dan pembantu di rumah Ashley, semuanya tidak ada karena sebelumnya Ashley memerintahkan mereka semua untuk tidak menjaganya dalam 1 hari penuh.

“Ashley, Ashey, Ashley…bangun Ashley!”, ketakutan Peter.

Dengan banyak darah dibaju yang dikenakan Peter, ia pun kemudian bergegas untuk mencuci  tangan dan badannya yang dibalut darah Ashley. Peter lalu menuju lantai kamar 2, tempat tidur Ashley untuk mengambil handphonenya. Sekitar pukul 12 lebih tengah malam, ia kemudian menelephone teman-temanya yang tengah berpesta di pantai. Satu persatu temannya tidak menjawab telephone dari Peter, mulai dari John. John masih di pantai dan masih juga berpesta dengan para gadis-gadis muda. Handphonenya ada di penginapan. Sam saat itu juga masih sibuk dengan perlombaan minum bir. Ia meletakkan handphonenya di penginapan sama seperti John. Jadi ia tak menjawab panggilan Peter. Sama halnya juga dengan John dan Sam, Danny malah asik menjadi juri perlombaan para gadis-gadis yang tengah telanjang untuk menjadi Miss Naked Girls. Ia tak menjawab panggilan Peter karena handphonenya juga diletakkan di penginapan. Peter pun kemudian semakin bertambah bingung dan ketakutan. Dan daftar handphone yang ia panggil terakhir kalinya adalah Charlie.

“mmm… mmmm… mmmmm…”, Charlie dan teman gadis barunya sedang bercumbu di penginapan.

“I’m a bad kid, And I will survive, Oh I’m a bad kid, Don’t know wrong from right, I’m a bad kid and this is my life, One of the bad kids, Don’t know wrong from right, This is my life (song by Lady Gaga)”, nada dering Charlie yang saat itu mengganggu Charlie yang tengah asik bercumbu.

“enough, baby! Kau membawaku ke penginapan, hanya untuk mendengarkan bunyi-bunyi handphone yang tak berguna ini?! Apanya yang romantis?! Ok, aku pergi dari sini!”, gadis yang diajak Charlie ke penginapan. Bagaimana tidak mengganggu? Tiap menit saja pasti handphone berbunyi. Mulai dari John, Sam, Danny, dan yang terakhir adalah Charlie.

“hey hey hey! Wait wait wait, baby!”, Charlie melarang pergi gadis yang dibawanya dari tempat party, tetapi gadis itu tetap bersikeras untuk pergi dan akhirnya pergi juga dari penginapan. “sial! Kenapa harus terjadi ya Tuhan? Malam ini, malam yang indah untuk seorang pangeran dan puteri kerajaan. Hanya ada aku dan dia, ‘dan telephone yang berbunyi…’ ”, handphone Charlie berbunyi lagi. “aku tak akan memaafkan orang yang menggangguku malam hari ini!” Charlie lalu mengambil handphone, “oh…ternyata kau Peter! Puas ya kau menggangguku! D*mm!”.

Dengan nada yang ketakutan Peter lalu meminta pertolongan kepada Charlie, “thanks God! Charlie kau bisa menjemputku di jalan Meteor dari arah barat pantai…aku dalam bahaya Charlie, please…”.

“what! Kau menggangguku hanya untuk menjemputmu setelah kau puas tidur dengan gadis itu! Sh*t!”, Charlie yang marah.

“maaf sebelumnya Charlie, tetapi aku benar-benar dalam bahaya kali ini, tolong cepat…”, Peter yang semakin ketakutan jikalau ada polisi patroli yang datang.

“kenapa kau ini?! Kau habis menabrak seseorang? Pembalam amatiran menabrak seseorang… hehe”, Charlie yang bercanda.

“Charlie, aku katakan sekali lagi,,, AKU DALAM BAHAYA KALI INI! APA KAU DENGAR! TUTUP MULUTMU DAN LANGSUNG KEMARI SAJA!”, Peter membentak Charlie.

“ow, ok ok ok, baiklah… tapi satu pertanyaan lagi, kau tadi di mana, aku lupa…” kata Charlie.

“hufh… jalan Meteor dari arah barat pantai, bawa sekalian Sam, John, dan Danny”, jawab Peter.

“tunggu, ada pertanyaan lagi, aku bisa mengencani gadis itu kan besok?”, Charlie yang masih penasaran dengan gadis itu.

“CHARLIE……..!”, Peter yang geram.

Charlie yang seorang diri di penginapan, lalu langsung tancap gas menuju pantai untuk mencari teman-temannya. Satu persatu teman-temannya di paksa Charlie untuk menyudahi pesta pada malam itu.

Dimulai dari John, “kau mau mengajak ku berpesta di tempat yang x-clusive Charlie? Baiklah aku ikut…”.

Lalu Sam, “hay Charlie, kau mau minuman ini?”

Charlie kemudian memaksa Sam untuk ikut dengannya, Sam saat itu dalam keadaan mabuk.

Dan Danny, “what! Ikut denganmu? Bagaimana gadis-gadis ini? Belum ada yang menjadi pemenang yang nantinya akan bercinta denganku! Hey Charlie!”.

Charlie memaksa mereka semua ikut dengannya. Entah itu Charlie, Sam, John, atau pun Danny, mereka semua tidak tahu apa yang selanjutnya terjadi di rumah Ashley.

Sampailah mereka berempat di rumah Ashley. John kemudian membuka pintu gerbang rumah Ashley, “saatnya party, guys! Yeah!”.

Mereka berempat turun dari mobil semua, dan apa yang mereka lihat… mereka semua tertegun, terperangah, tak percaya.

“oh my God… oh my God… oh my God! Peter, apa yang kau lakukan?!”, Charlie ketakutan.

“ya Tuhan, Peter, jangan bilang kau yang melakukannya… Peter jawab!!!”, bentak Danny.

“ada apa ini, mana minumannya?”, Sam yang mabuk berat karena kebanyakan minum di pesta pantai tadi. Ia kemudian dibantu John masuk ke mobil untuk istirahat.

“maafkan aku guys, aku sungguh tidak melakukan ini… ia terjatuh sendiri dari balkon…”, jawab Peter.

“kita harus pergi dari sini!”, kata John.

“What! Kau gila John! Kita akan jadi buronan!” bentak Danny.

“Danny benar John, kita lapor polisi saja!” kata Charlie.

Mereka kemudian diam dan berpikir keras bagaimana memecahkan masalah yang membelit ini. Lalu tanpa disangka, Charlie menelephone polisi, “hallo, 999…”.

Dengan cepat Peter menampar tangan Charlie yang sedang memegang handphone. Handphone Charlie pun jatuh dan rusak.

“Peter! Apa-apaan kau ini! Aku ingin menyelamatkanmu dari masalah ini!”, kata Charlie.

“Charlie, jangan bilang telephone itu tadi sudah tersambung ke 999”, tanya Peter.

“iya… sudah tersambung… Peter”, jawab Charlie.

“sh*t! Kita harus pergi dari sini sekarang juga, polisi akan melacak keberadaan kita, ayo cepat!”, Peter yang semakin ketakutan.

“Peter, tunggu Peter…” Danny ingin mendinginkan suasana.

“tak ada yang bisa kita lakukan lagi Danny, cepat ke mobil!”, Peter memutus ucapan Danny.

Mereka semua akhirnya masuk ke mobil dan menjauh dari rumah Ashley. Para polisi telah melacak keberadaan mereka, dan polisi bergegas menuju rumah Ashley. Sesampai di sana, polisi tak menemukan mereka berlima karena mereka sudah pergi dari rumah Ashley beberapa menit sebelumnya.

Charlie yang kesal kemudian meminta Peter, yang saat itu mengendarai mobilnya untuk berbalik arah menuju rumah Ashley, “kita harus kembali Peter, kau bisa menceritakan kejadiannya dengan detail dan baik-baik, tanpa harus menjadi buronan seperti ini. Kau tidak hanya melibatkan dirimu sendiri, tetapi juga kita. Kita balik ke rumah Ashley, now!”.

“tutup mulutmu dan diamlah ditempat dudukmu Charlie…”, emosi Peter.

“baiklah.. sekarang turunkan aku di sini! Turunkan aku Peter! Aku tak mau terlibat hal gila seperti ini!”, Charlie yang sangat kesal dengan Peter.

Mobil pun kemudian merapat ketepi jalan dan akhirnya berhenti. Charlie lalu keluar dari mobilnya. “siapa yang mau ikut aku?”, Charlie memberikan pilihan pada mereka.

Danny kemudian turun dari mobil, begitu juga dengan John.

“kau mau ikut kami Sam? Baiklah… (Sam saat ini sedang mabuk dan tidur sangat pulas di dalam mobil) kau lihat Peter, kau hanya sendiri di mobil, Sam pengecualian, teruslah melakukan hal gila ini, kami tak akan mendukungmu!”, Charlie bertindak tegas.

Peter kemudian keluar dari mobil, “guys, kalian tega terhadapku? Kalian meninggalkanku saat seperti ini?!”

“apa mau mu sebenarnya Peter. Kau ingin melawan arus? Jangan ikutkan kami! Kalau kau balik dan menjelaskan semuanya secara lengkap tanpa ada 1 hal pun yang tertinggal, kami akan mendukungmu”, Danny mendinginkan suasana.

“Danny benar, kita harus balik ke rumah Ashley, dan menjelaskan semuanya pada polisi”, Charlie yang setuju dengan Danny.

“baiklah teman-teman, maaf telah membuat kalian dalam masalah…”, Peter menyesal.

Akhirnya semuanya kembali ke dalam mobil dan berbalik arah menuju rumah Ashley. Tetapi sesampainya disana… dari kejauhan mobil mereka berhenti. Banyak sekali polisi yang mengitari rumah Ashley saat itu. Dan dari kejauhan mereka hanya melihat.

“apa yang kau tunggu Peter. Jelaskan semuanya pada polisi. Dan semuanya akan beres”, kata John.

“kita menemukan banyak sekali sidik jari yang ada pada gadis ini komandan. Kita juga menemukan handphone yang rusak, diduga gadis ini akan menelephone polisi tetapi seseorang melarang dan membanting handphonnya, itu hanya dugaan sementara”, kata salah seorang polisi yang bertugas di TKP.

“kau lihat, mereka sepertinya menemukan sidik jadi dan handphone mu Charlie… kita harus pergi dari disini…”, Peter yang tergesa-gesa karena semakin takut.

Tanpa ada yang berpendapat lagi, Peter pun akhirnya menancapkan gas dan menjauh dari tempat itu. Tidak ada tempat tujuan yang hendak mereka capai. Dengan perasaan panik, takut, marah, semuanya membuat mereka tidak bisa berpikir jernih. Dan akhirnya mereka ditetapkan sebagai buronan, yang membunuh anak Gubernur negara bagian Merkurius.

Keesokan paginya, kelima pria itu terus menjauh dan menjauh sampai akhirnya mereka keluar dari negara bagian Merkurius. Dan saat ini mereka ada di negara bagian Pluto, tempat para cowboy berada. Di sana terkenal akan pegunungannya yang indah, danaunya yang cantik, dan para cowboy nya yang atraktif. Semalaman Peter menyetir mobil dan ia merasakan ngantuk yang tak tertahankan. Charlie, John, Danny dan Sam tertidur pulas. Disaat Peter merasa ngantuk dan memejamkan matanya sebentar, mobil yang ia kemudikan keluar dari jalurnya. Mobilnya kemudian berbelok dan menabrak pohon kaktus yang besar, tetapi tidak begitu parah. Kejadian itu mengagetkan teman-temannya yang sedang tertidur dan akhirnya terbangun.

“wow wow wow! Ada apa ini!”, John yang saat itu duduk disamping Peter kaget. “biar aku yang gantikan kau menyetir Peter, sekarang giliranmu untuk tidur…” kata John.

“di mana kita? Aku ingin buang air kecil!”, Sam yang tak tertahankan ingin buang air kecil karena banyak minum bir semalam. Akhirnya mobil pun berhenti untuk sementara waktu. “kenapa kita di jalanan yang kering kerontang seperti ini? Mana pantainya? Mana gadis-gadisnya? Apa sudah berakhir pestanya?”, Sam bingung, tidak tahu apa-apa.

Danny dan Charlie kemudian menjelakan apa yang terjadi. Dan Sam, Sam hanya bisa diam, dengan mulut yang menganga.

“aku lapar… ayo kita cari tempat makan, bahan bakar kita sepertinya juga sudah limit”, kata Danny.

Mereka pun kemudian melanjutkan perjalanan. Dan sampailah mereka di tempat pengisian bahan bakar dan toko disebelahnya.

“apa yang kita punya?”, tanya Danny.

“aku punya 4 $, dompetku tertinggal di penginapan…”, kata Sam.

“10 $… ini”, Charlie menyerahkan uangnya pada Danny.

“maaf, aku tak punya apa-apa, hanya hanphone ku ini yang aku punya…” kata Peter.

“2 $ yang aku punya…”, kata John.

“6 $ punyaku. bagus, 22 $ dan 1 handphone, harta yang kita miliki, harta milik seorang pria gigolo, sekaligus seorang yang menjadi buronan…”, kata Danny. Danny kemudian mengambil semuanya. Membagi-bagikan tugas pada mereka semua. “Peter dan John, kalian mengisi bensin… sedangkan aku, Charlie dan Sam akan membeli beberapa makanan dengan uang yang kita miliki. ini, isilah bensin sampai penuh, Peter…”, perintah Danny. Mereka pun melakukan tugasnya masing-masing.

“apa yang akan kita beli dengan hanya beberapa uang dan 1 handphone ini Danny?”, tanya Charlie.

“sudahlah, kalian semua ambil saja barang-barang dan makanan yang banyak untuk kita berlima, aku akan mengurus semuanya…”, jawab Danny.

“mengurus semuanya kata mu? Kau hanya punya uang 6 $ dan ditambah beberapa dari kita, dan sebagian sudah habis untuk membeli bahan bakar mobil kita… jangan bercanda Danny, kau tak akan melakukan sesuatu yang kelewat batas kan?”, tanya Sam.

“kau meragukan calon ekonom Sam? Emmm… maksudku mantan ekonom?”, sahut Danny.

Charlie dan Sam kemudian mengambil banyak sekali makanan dan minuman, dari toko dekat tempat pengisian bahan bakar. Danny hanya melihat-lihat barang-barang makanan, sebenarnya ia merencanakan sesuatu. Banyak sekali makanan yang dibawa Charlie dan Sam.

“399 $”, kata seorang kasir yang umurnya sudah sangat tua.

Charlie dan Sam kemudian kebingungan membayar barang-barang dan makanan itu. Lalu Danny datang untuk membayanya. “ini…”, Danny menyerahkan sisa uang dari membeli bensi dan satu buah handphone.

Kakek kasir itu tertawa, dan kemudian Danny mendekati kakek kasir itu sembari menodongkan pistol, “ambil uang sekaligus handphone ini kakek tua, atau tertawa mu ini akan menjadi tawa terakhirmu… cepat pergi dan masukkan makanan dan barang-barang ini ke dalam mobil Charlie, Sam! Cepat!”.

“ba..ba..baiklah Danny, tapi kau janji tidak akan membunuh kakek ini kan? Masalah yang kemarin akan semakin kacau kalau kau juga membuat masalah yang baru…”, kata Charlie.

“cepat! Tenang saja…”, jawab Danny.

Dilain sisi, “apa kau merasa aneh Peter, dengan 2 orang yang ada di sana? Mereka seperti mengamati kita…”, kata John.

“mereka hanya memperbaiki truk mereka, apa yang salah dengan mereka…”, jawab Peter.

John lalu melihat Sam dan Charlie berlari sambil membawa banyak makanan munuju ke mobil. Sebelum makanan itu masuk ke mobil, tanpa diduga, dua orang  pria yang kelihatan sedang memperbaiki truknya ternyata adalah seorang polisi yang mengejar mereka berlima. 2 orang polisi itu kemudian menembaki mereka agar menyerahkan diri. Danny yang mendengar suara tembakan akhirnya keluar, tetapi sebelumnya ia memukul kakek tua itu sampai pingsan (tidak mebunuhnya). Danny datang menolong dengan membalas tembakan kedua polisi tersebut (door… door.. door… banyak sekali peluru yang keluar). Danny kemana-mana memang selalu membawa senjata. Tak tertahankan lagi, banyak sekali tembakan baik dari Danny maupun kedua orang polisi tersebut. Polisi melihat Charlie dan Sam yang bersembunyi di tiang. Salah satu polisi itu akhirnya dengan trik jitunya, mampu melewati amunisi Danny. Dan ketika beberapa jengkal jarak salah satu polisi itu dengan Charlie, polisi itu akan memukul Charlie dari belakang dan menjadikannya sandra. Dan apa yang terjadi… yang terjadi adalah nyawa salah satu dari mereka hilang. Mereka disini maksudnya adalah salah satu dari polisi itu. ia terkena tembakan Danny. Danny bergegas menyeret Charlie untuk masuk ke mobil, Danny juga memerintahkan semuanya masuk ke mobil dan pergi dari sini. Saat Danny menyeret tangan Charlie untuk bergegas masuk ke mobil, banyak makanan yang tadinya dipegang oleh Charlie semuanya jatuh berhamburan. Hanya Sam saja yang membawa beberapa makanan dan minuman, sempat ia ingin mengambil tetapi keadaannya tidak memungkinkan, masih ada seorang polisi yang siap dengan amunisinya. Danny melindungi temannya dengan menembaki seorang polisi itu agar teman-temanya dapat masuk mobil tanpa ada yang terluka. Setelah keempat teman Danny masuk, ia kemudian melepaskan alat pengisi bensin dan menutup lubang bensil mobilnya dengan sembarangan karena sangat terdesak. mereka akhirnya selamat dari poilisi tersebut.

“kami kehilangan mereka komandan. Dan salah satu dari kami, telah gugur”, kata salah seorang polisi itu yang menghubungi komandan di markas polisi.

“aku turun berduka cita, terima kasih atas laporannya…”, kata komandan yang bertugas di markas. “mereka memang tikus-tikus yang handal, yang mereka butuhkan adalah kucing-kucing yang spesial. Panggil fiverus! Kita ada kontrak dengan mereka!”, kata komandan kepada bawahannya.

“siap komandan!”, jawab bawahannya.

Akhirnya mereka menjadi buronan tidak hanya di satu negara bagian saja, tetapi  sudah merambah ke negara bagian tetangga. Dan siapakah itu “fiverus”? di cerita selanjutnya kita akan berkenalan dengan “fiverus” ini…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

Gila! hari ini adalah hari yang uda aku tungguin. kenapa? karena temenku yang ada di Rusia uda janji mau ngirimin film Harry Potter And The Deathly Hallows Part 2. dan setelah aku buka email, wuah!!! beneran!!! dia ngirimin filmya!!! walaupun kualitasnya masih seperti kualitas kalau lihat di bioskop (blawur-blawur), tapi itu uda ngobatin perasaanku yang marah sekaligus sedih karena film Harry Potter yang terakhir ini belum juga ditayangin di Indonesia. saat ini aku belum lihat filmya, tapi nanti mau aku lihat malam hari aja, pasti suasananya wuiiiihhhhh…bikin mrinding and gemetaran, dan tentu saja menguraas air mata, karena ni film adalah film terakhir Harry Potter. sekarang koleksiku lengkaplah sudah, mulai dari Harry Potter and the :

~ Sorcerer’s Stone

~ Chamber of Secrets

~ Prisoner of Azkaban

~ Goblet of Fire

~ Order Of The Phoenix

~ Half Blood Prince

~ Deathly Hallows (Part 1) dan yang terkahir adalah…

~ Deathly Hallows (Part 2)

lengkaplah sudah :mewek

melihat pada pandangan pertama, good. ngobrol pada hari kedua, baiklah. saling telephone-telephone nan, lucu tuh. makan berdua, asik banget. nonton film romantis, biking kepengen. jalan bareng ama bergandengan tangan, serasa semuanya seperti milik kita. tapi, ketika seiring berjalannya waktu… semuanya itu sia-sia saja. saat mau ketemuan ama dia, “eh, aku ada tugas kampus ne, lain kali aja ya?”. ketika kangen mau telephone, “maaf, nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau diluar service area, cobalah beberapa saat lagi”. lalu, pas makan siang, “aku baru diet nih, maaf yah?”. 2 tiket uda ada ditangan dengan film romantis kesukaan dia, “filmnya apaan? cari yang action aja yah, biar g’ bosen (perasaan dia benci banget ama film action, biarpun pemerannya cowok ganteng sekalipun). ada pertunjukan internasional yang pasti seru abis, “capek nih, abis kuliah, jangan ganggu 1 hari aja yah?”. wah-wah… putusin aja kali ya? 😛

Keesokan paginya, sekitar pukul 06.30 waktu setempat, Charlie baru pulang dari tempat ia semalam bersenang-senang. Ia sempat mampir ke bar untuk sekedar minum dan melepaskan lelahnya. Ketika Charlie sampai di rumahnya yang megah dan mewah, ia sangat terkejut. Mulai dari pengawal, pegawai harian, pembantu, tukang, dan bahkan sampai penata rias, mereka semua berkumpul dan berbaris rapi, tanpa suara, semuanya diam dan berharap-harap cemas. Charlie yang saat itu merubah dirinya menjadi salah satu pengawai di sana, kemudian cepat-cepat ikut berbaris. Sebelum ia sempat berbaris, seseorang dari atas tangga berteriak.

“tunggu Jimmy!”, kata seorang perempuan yang berteriak dari atas tangga. Dan perempuan itu ternyata adalah Ibu dari Charlie.

“maaf nyonya, namanya adalah Jonny”, sela pengawal Ibu Charlie.

“huam (Ibu Charlie merasa sedikit malu) kenapa kau terlambat Jimmy! Oh, Jonny! Bukannya ini sudah jam 06.30!”

“ma..maaf nyonya, saya harus mengantar anak saya kesekolah. Saya kan telat 1 menit saja…”, kata Jonny (Charlie).

“1 menit saja katamu! Kenapa dengan suaramu, sepertinya aku mengenali suara itu! oya, sejak kapan anakmu sekolah? Pengawal mengatakan, anak keduamu masih menyusui, dan anak pertamamu sudah berkerja. Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mempunyai saudara kembar seperti dia (sambil menunjukkan rupa Jonny yang asli, dengan masih menggunakan pakaian Charlie). Dari mana saja kau Charlie! Buka topengmu! Ibu muak melihatmu seperti itu! Cepat!”, suruh Ibu Charlie.

Dengan sedikit malu, Charlie membuka muka palsunya itu, dan semuanya kaget, termasuk penata rias yang juga ikut berbaris di sana.

“seandainya ayahmu tahu kau seperti ini, kau pasti akan dibuang olehnya! Cepat pergi kekamarmu!”, bentak Ibu Charlie.

Kemudian salah satu pengawal Ibu Charlie membisikan sesuatu, “Arron sudah datang nyonya”.

Siapa Arron? Ternyata ia adalah sama seperti Charlie, yakni gigolo. Ia adalah teman dekat sekaligus teman tidur Ibunya Charlie.

“sebelum ayah tahu, aku juga pasti akan keluar dari rumah ini! Selamat tinggal Ibu”, Charlie berpamitan pada Ibunya dari kejauhan, tetapi Ibunya mengacuhkannya dan memilih menemui teman dekat dan teman tidurnya yakni Arron.

Tetapi ibu Charlie kemudian berbalik dan ia mengatakan sesuatu, “kembalikan kuncinya! Kunci mobilnya! Berikan pada dia (Arron)!”.

Dengan sangat terkejut dan berat hati, ia memberikan mobil kesayangannya pada Arron. Lalu Charlie keluar dengan muka yang musam dan penuh dengan kebencian. Dia berlari meninggalkan rumah yang selama ini mengurungnya. Ia merasakan seperti burung yang lepas dari sangkarnya, tetapi disisi lain, ia juga merasa sangat sedih karena ternyata orang tuanya memang benar-benar tidak mencintainya. Mengapa juga ia bersabar dan menuruti segala aturan yang ditetapkan orang tuanya kalau ujung-ujungnya ia hanya dibuang seperti binatang? Charlie terus dan terus berlari sampai ia berhenti di wartel.

Kemudian ia menelpon Danny, ”Pagi Danny, lagi sibuk membuat senjata? Kau bisa menjemputku di wartel ilusionist jalan Majic tidak?”.

“hey, Charlie, baik, tunggu sebentar”, kata Danny.

Beberapa menit kemudian Danny sampai di wartel tempat Charlie menunggunya.

Charlie sekarang tidak mempunyai rumah untuk menetap dan ingin menetap sementara waktu di rumah Danny. Charlie kemudian meminta ijin pada Danny, “aku baru saja pergi dari rumah, apakah kau tidak keberatan aku menetap di rumahmu untuk sementara waktu?”

“ayo naik”, Danny mempersilakan Charlie naik mobilnya.

“thanks men”, ucapan terima kasih Charlie.

Waktu terus berjalan. Hari terus melangkah kedepan. Mereka sekarang tinggal bersama disalah satu tempat yang banyak sekali dipenuhi dengan senjata, tak lain dan tak bukan adalah rumah Danny. Rumahnyalah yang sekarang ini menjadi markas untuk para pria panggilan itu. John mengaku pada Ibunya kalau ia bekerja di negara bagian Uranus. Ia akan mengirim uang tiap bulan untuk membiayai adiknya. Karena Peter dulu sendirian tinggal di kontrakan, ia kemudian bergabung dengan teman-temannya di rumah Danny. Lalu, Sam, sama seperti Peter, ia kemudian memilih untuk tinggal di rumah Danny. Semakin hari, semakin banyak orang-orang atau sebut saja Ibu-Ibu yang haus akan belaian kasih sayang yang membicarakan mereka. Dan ternyata tidak hanya dibagian negara Jupiter saja, cerita pria-pria panggilan itu merambah kenegara bagian tetangga yaitu Uranus. Mereka semakin terkenal dan terkenal.

6 Bulan Kemudian…

Para pria panggilan ini kemudian medirikan sebuah bar khusus. Bar khusus? Ya, bar yang khusus hanya digunakan untuk para ibu yang kesepian. Sebenarnya di negara bagian Jupiter peraturan dalam mendirikan bar sangatlah ketat. Hanya beberapa bar saja yang ada di negara bagian ini. Tetapi kenapa mereka mudah saja dalam mendirikan bar itu? Jawabannya juga mudah saja, Gubernur negara bagian itu sudah bercerai dengan suaminya, jadi Ibu Gubernur itu menjanda, dan para pria panggilan itu melakukan aksinya, jadi berdirilah sebuah bar khusus untuk para ibu yang kesepian.

Sampai suatu saat mereka berlima berlibur ke negara bagian Merkurius. Di sana pantainya sangat indah dan terkenal, dengan pasir putih, dan banyak sekali gadis-gadis yang super sexy. Mereka bersenang-senang dalam acara party pantai tersebut. Musim saat ini adalam musim panas, jadi mereka meluangkan waktu beberapa hari untuk tidak menerima panggilan ibu-ibu kesepian. Peter saat itu hanya berteduh di bawah payung yang besar sembari meminum milkshake melihat teman-temannya bersenang-senang. Lalu, ada seorang gadis yang mendekatinya. Dengan pakaian dalamnya yang berwarna pink, so hot, Peter merasa terkejut dan menjatuhkan minumannya.

“Hey”, sapa gadis itu.

“Hey, cu..cuacanya sangat panas ya hari ini”, sedikit basa-basi dari Peter.

“ini kan memang musim panas. Ashley. Siapa kau?”, Ashley memperkenalkan diri.

“o…aku lupa. Huh. Peter. Panggil saja aku Peter. Nice to meet you”, jawab Peter.

“me too. kau sendirian? Kau sepertinya bukan orang sini? Kau terlihat asing bagiku”, kata Ashley.

“no no no… aku bersama keempat orang temanku. Ya, aku memang bukan orang sini. Aku sedang liburan ke sini bersama mereka. Katanya tempat ini sangat indah. Seindah…seindah… (sambil melihat dada Aslhey) seindah……… kau. Hehe… (sedikit malu)”, kata Peter.

“really? Pantai ini memang sangat indah. Oya, nanti malam ada pertujukan band di pantai ini. Apa…kau mau menemaniku?”, ajak Ashley.

“wow! Benarkah? Aku sangat tersanjung dengan ajakanmu. aku akan menemanimu nanti malam. ‘menemani sampai ranjangpun akan aku layani’ (Peter mengataknnya dengan sangat pelan, :P)”, jawab Peter.

“maaf, apa kau bilang?”, Ashley seperti mendengar samar-samar apa yang dikatakan Peter, otak kotornya.

“nothing. Aku nanti malam akan menemanimu”, Peter tersipu malu.

“ok, jam 8 malam di bar B*tch itu yah? Bhy..”, kata Ashley.

“bhy…”, jawab Peter.

Peter merasa sangat-sangat senang hari ini, dan langsung pergi ke penginapan yang juga tidak jauh dari pantai untuk mempersiapkan pakaian apa yang nanti malam akan ia gunakan. Ia kemudian memilah dan memilih baju apa yang cocok untuk dipakainya nanti malam.

Pukul 19.45 waktu setempat, Peter sudah bersiap-siap untuk pergi ‘berkencan’ dengan seorang gadis yang baru ia kenalnya tadi siang.

“kau, terlihat berbeda Peter?”, kata John.

“dia akan berkencan dengan ibu-ibu kan, jadi biasalah…hehehe”, Sam mengejeknya.

“terserah kalian saja, tapi aku akan berkencan dengan seorang gadis yang ‘ehmmmmm’, kalian pasti akan merasa iri padaku nanti”, kata Peter.

Kemudian mereka berlima berjalan kaki menuju bar B*tch karena tidak begitu jauh dari tempat penginapan mereka.

“hey hey hey guys, lihat depat kalian! Siapa yang berjalan kearah kita! Damm! So sexy!”, kata Danny.

“hahaha…itu dia gadis yang akan aku kencani…hahahaha”, Peter tertawa.

“what!!!!”, Danny heran.

“wow, men! kau bercandakan? Gadis itu begitu ‘ehmmmmm’!”, kata John.

“apa ku bilang… hey Ashley. Kenalkan, ini Danny, Sam, Charlie, dan…” kata-kata peter diputus oleh John.

“aku John, baby (berjabatan tangan sambil mencium tangannya)”, John menyela Peter.

“hey, hentikan John! Come on Ashley, saatnya party!!!”, kegembiraan John.

Sam, John, Charlie, dan Danny tertegun melihat Peter berkencan dengan Ashley.

“sial! Aku kurang cepat mendapatkan gadis itu! Huam…”, John bergumam.

“sudahlah John, kita akan mendapatkan yang lainnya disana…ingat, pantai ini dipenuhi oleh gadis-gadis yang ‘ehmmmm’, jadi kita tinggal pilih…hehehe”, kata Sam.

“paling-paling, Peter mengencani gadis itu hanya untuk sesaat saja. Setelah dia puas tidur dengan gadis itu, dia pasti akan meninggalkannya…”, kata Danny.

“hey guys, wait wait wait! Mari kita taruhan! Aku bertaruh, dia akan meninggalkan gadis itu setelah nanti malam dia akan menidurinya, bagaimana dengan kalian? hem?”, ajak Charlie.

Yang setuju dengan Charlie hanya Danny. John dan Sam bertaruh, Peter akan menjadikan gadis itu pacarnya. Entah siapa yang benar, kita lihat saja kedepannya. Saatnya mereka beraksi dan berparty ria.

“hey Peter, di sini sangat berisik! Ayo kita keluar dari sini!”, ajak Ashley. Musik yang begitu ramai dengan riuh-riuhnya para penonton membuat suasana sangat ramai.

Peter kemudian menjawab, “what! Aku tidak bisa mendengar suaramu Ashley!”.

Ashley lalu menarik tangan Peter dari balik kerumunan orang-orang yang sedang asik berparty. Ashley lalu mengajak Peter, “kita pergi dari sini Peter, kau mau ke rumahku? sekitar 20 menit dari sini. Aku bawa kendaraan kok, kau mau?”.

Peter pun tanpa basa-basi lagi mengiyakan ajakan Ashley. Mereka kemudian langsung cabut kerumahnya Ashley.

“wow, rumahmu…sangat-sangat megah Ashley”, Peter terkejut melihat rumah Ashley yang begitu megah melebihi rumah Danny yang tak kalah mewahnya, tetapi rumah Ashley lebih dan lebih mewah.

“hehehe…oya, kau mau minum apa Peter?”, tanya Ashley.

“apa saja boleh…”, Peter menjawab Ashley dengan jantung yang berdegup kencang.

Peter kemudian berkeliling melihat-lihat di sekitar rumah, dan ia berhenti disebuah foto besar terpajang di ruang tengah. “itu, orang tua mu Ashley? Wow, mereka terlihat seperti…seperti…seperti…”, Peter menanyakan sesuatu.

“seperti Gubernur? Mereka memang Gubernur negara bagian ini. Hehehehe…”, jawab Ashley.

“what the hell! Jadi kau anak Gubernur! What!”, Peter sungguh sangat terkejut.

“iya, aku anak perempuan satu-satunya mereka. Saat ini ayahku sedang keluar negeri bersama Ibuku untuk study banding atau apalah itu namanya. Sekarang aku dirumah sendirian, tanpa pembantu, dan pengawal, saat ini aku tidak membutuhkan mereka”, jawab Ashley dengan santainya.

“kau yakin tidak ada siapa-siapa di sini keculai kita berdua? Kau yakin?”, Peter sedang merencanakan sesuatu.

Ashley tersipu malu dan Peter pun mulai mendekatinya. Semakin dekat, semakin dekat, akhirnya mereka saling mendekat, sangat dekat, dan mereka mulai menatap satu sama lain. Bukan hanya tubuh mereka saja yang mendekat, tetapi bibir mereka masing-masing mulai mendekat pula, dan akhirnya mereka berciuman, dan……. (kalian tahu lah selanjutnya).

( ˘з˘)ε˘ ) oh….yeah!

Beberapa jam kemudian, Peter bangun dari tempat tidur Ashley dan tidak memakai sehelai benang sedikitpun. Ia mencar-cari celana Jeansnya dan memakainya.

“kau sudah bangun Peter…”, Ashley sempat mengagetkan Peter. Ashley berdiri di balkon dekat kamarnya dengan hanya menggunakan mantel tidur yang panjang dan transparan dari kain sutera dan memegang 1 botol besar anggur. Ia mabuk.

“malam ini adalah malam yang sangat tak perah aku bayangkan seumur hidupku…!”, Ashley mabuk.

Peter hanya tersenyum. Tetapi ketika Ashley ingin mendekati Peter dan ingin memeluknya, dengan jalan yang sempoyongan ia menginjak mantel tidur yang ia kenakan. Dan apa yang terjadi? Ashley terpeleset dan sampai akhirnya ia juga terjatuh dari balkon, dari lantai 2 rumahnya. Peter hampir saja  memegang tangan Ashley, tetapi sudah terlambat. Ia langsung terjatuh dengan banyak sekali darah yang mengitarinya. Peter pun kebingungan dan ketakutan. Ia langsung turun kebawah ketempat Ashley jatuh dan ingin memberikan pertolongan pertama. Tetapi, ketika ia memegang nadi tangan Ashley… ia sudah tidak bernyawa.

Apa yang terjadi selanjutnya dengan nasip Peter? Simak cerita selanjutnya…

BERSAMBUNG…

nOte : 18+

1 tahun, aku menunggu. 1 tahun aku berharap. 1 tahun pula aku terus memimpikanmu untuk melihatmu tepat hari ini. cemas, yang aku rasakan saat ini. tetapi, itu hanyalah angan-anganku semata yang melampaui batas. angan-angan itu ternyata bagaikan sebuah daun kering yang jatuh. daun kering, karena telah lama menunggu, sampai akhirnya jatuh tak berdaya tertiup angin. akan tetapi, sampai suatu saat daun itu menemukan setetes air yang akan membuatnya kembali seperti sedia kala, menjadi daun hijau yang menenangkan jiwa. satu tetes air tak cukup untuk membuat daun itu menjadi seperti keadaan semula. daun kering itu membutuhkan beberapa tetes lagi sampai akhirnya nanti akan menjadi daun yang tidak sia-sia karena jatuh tertiup angin. cemas, karena menunggu setetes air itu, daun yang kering itu hanya mengandalkan sebuah instingnya untuk tetap tidak menyerah dan kukuh pada pendiriannya, kalau beberapa tetes air itu akan datang menyirami tubuh daun yang kering kerontang itu.