Tak terbayang ketika dunia yang kau tinggali memaksamu untuk melangkah pergi. Meninggalkan seseorang yang kau cintai, manuju kehadapan ilahi. Yah, malam ini aku merindukan kalian. Merindukan betapa kalian sangat menjagaku disaat umurku beranjak pergi. Marindukan dongengmu yang membuat senyum bahagia di hidupku. Merindukan Peluk hangat dan kasih sayangmu padaku. Merindukan segalanya tentang kalian. Serta, merindukan ciuman manis yang tulus dikeningku ketika aku pura-pura tidur. Yah, itu terakhir kalinya aku melihatmu, merasakan ciuman tulus manismu, aku merindukanmu… Malam ini, mataku belum ingin terpejam, sebab aku ingin mengenangmu dalam imajinasiku. Mengulang kembali masa lalu bersama kalian, membuatku merasa lebih nyaman. Namun, pikiran ada batasnya, ketika kau dititik yang paling tinggi dan tak bisa turun perlahan lalu jatuh, jatuhlah juga air mata yang tersimpan dalam dua bola mataku. Sulit, sulit untuk menyeka air mata Kerinduan padamu. Air mata ini terus terjatuh tak tertahan ketika aku baru sadar, bahwa kalian memang telah lama meninggalkanku. Semoga kalian masih sama ketika berasa “disana”, tersenyum manis menyapaku ketika pagi tiba, membuatkan secangkir teh celup pendamping serabi yang hangat. Kalian orang tua keduaku, kalian mengajarkan pengalaman hidup yang sulit untuk ku bantahkan. Doaku disini, akan terus ku panjatkan untukmu…

*untuk orang tua keduaku, mbah Kakung dan mbah Putri yang telah lama berpulang, aku Marindukan Kalian…

Malam ini terlalu dingin untuk diungkapkan, dan terlalu beku untuk dikatakan dalam sebuah bait irama dan lantunan yang temaram. Andai kata – kata itu sebuah es yang kadang bisa mencair dan membeku, semuanya akan luluh dalam alunan kelabu. Ketika dunia yang kukenal saat itu hanya kanan dan kiri, semuanya terlihat sempurna dimataku. Senyum yang timbul menandakan masih terlihat polos dan penuh dengan angan – angan terbang dengan sayap kecil yang bulunya pun belum benar – benar lebat layaknya sebuah sayap angsa yang cantik. Dan ketika sebuah pohon itu tumbuh menantang angin, dari situlah kekecewaan hadir menumbangkan sebuah hati yang kokoh. Semuanya yang kulihat sempurna saat itu, jauh sekali berbeda dengan apa yang mengalir sekarang. Yah, berbeda. Aku pikir, perbedaan itu menjadi sebuah jembatan untuk tujuan bersama, tetapi hal itu salah, salah besar. Pengorbanan hanyalah sebuah alat untuk memuaskan hasrat seseorang, Senyum hanya dijadikan sebagai lampu mercusuar yang hanya bisa menyoroti dari kejauhan, dan pelukan hanyalah dijadikan sebuah tameng untuk tetap merantai dan mengikat seseorang untuk dijadikan sebuah hiasan rumahnya. Ironis, sebuah kekecewaan yang hinggap dan menetap didalam relung hari seseorang. Yah, ketika kau ini seorang yang bajingan, kau memang bajingan. Tetapi tak menutup kemungkinan kau akan menjadi sebuah malaikat kecil dalam hati seseorang yang sangat membutuhkan. Seorang yang sempurna memang tak mebutuhkan seorang yang bajingan, seorang yang hanya menjadi sebuah beban, seseorang yang hanya bisa bergantung dan tak dapat berusaha semaksimal mungkin. Tak pantas memang untuk terus bersama dengan seseorang yang sempurna seperti mereka, ya tak pantas. Kecewa, hanya itu yang dapat kurasa. Dahulu dan sekarang itu bagai sebuah pohon, ketika pohon itu masih muda, banyak orang merawat dan menjadikannya sebuah hiasan indah dalam pekarangan atau depan rumahnya, tapi ketika pohon itu sudah dewasa, banyak orang ingin menebangnya karena menghalangi jalan, membuat banyak sampah dedaunan yang jatuh dari pohon tersebut, menghalangi keindahan pemandangan kota, dan lain sebagainya. Sebuah pohon yang hidup diantara menara kota yang menjulang tinggi kelangit. :nerd

Hey! Apa kabar? :Yb Sempat menghilang selama kurang lebih satu semester kemarin, tepatnya semester 5 yang penuh dengan suka duka cita menghampiri perasaan, hati dan pikiran yang selama ini terbebani oleh sebuah matakuliah dan kesibukan yang teramat sangat membuatku lupa akan syukur yang ku terima, lupa akan tempatku berpijak bumi pertiwi Indonesia ku tercinta ini. Tak terasa oleh ku sudah menginjak semester 6, ku berpikir keras untuk semakin lebih baik dari semester 5 yang telah lalu.

Ini, merupakan sebuah awal tulisanku pada semester 6, tulisan yang bukan berbicara mengenai sebuah kejadian yang menggemparkan semisal politik Indonesia yang sedang “gonjang – ganjing” seperti sekarang ini, bukan mengenai para artis kontroversial yang mencari sebuah sensasi belaka, bukan pula prediksi bencana alam yang selalu disiarkan dilayar televisi, tapi ini merupakan tulisan tentang sebuah perjalanan anak manusia yang bangga akan bangsa dan Negaranya sendiri, Indonesia. Sudah terlihat jelas dan sangat gamblang ketika kau berbicara mengenai sebuah Negara yang kata rakyatnya sendiri adalah Negara paling korup di dunia, Negara yang memproduksi film horror tanpa sebuah makna, Negara dengan jumlah penduduk pemakai Blackberry terbanyak di dunia, dan lain sebagainya. Tapi disisi lain ada juga yang berkata, Negara dengan banyak sekali pulau, suku, bahasa, budaya, dan makanan asli buatan sendiri, Negara yang masih mempunyai etika sopan santun, dan Negara yang mempunyai salah satu keindahan alam Terbaik di dunia. Kalau pikiranmu tertuju pada Negara Indonesia, sangat tepat sekali. Keindahan alam Indonesia memang luar biasa dan memang demikian adanya. Mulai dari ujung utara sampai selatan, ujung barat ke ujung timur, semuanya memiliki ciri khas masing – masing dan hal ini yang menjadikannya lebih berwarna. Di sini, aku akan menceritakan dan menggambarkan tentang secuil keindahan alam yang dimiliki oleh Negara Indonesia, yakni Pulau Sempu, Madakaripura, Bromo Dan Pulau Dewata dalam sebuah petualangan “The Real Adventure” yang tergabung dari 9 anggota yang tertantang untuk menapaki sebuah perjalanan yang tak akan pernah terlupakan, membekas dihati, dan menjadi sebuah memory untuk selalu dikenang dalam hidup. :peluk Read the rest of this entry »

Derrida tiba-tiba tersesat disebuah galeri seni. Entah itu galeri apa. Derrida sendiri tidak mengetahui galeri itu benar-benar ada atau hanya metafora. Derrida memang bikin geger pemikiran filsafat melaui dokonstruksinya. Dalam system filsafatnya, ia suka buat istilah aneh-aneh. Macam anak-anak gaul sekarang. Ia ciptakan istilah differance. Kata itu tidak pernah ada dalam bahasa Prancis. Tetapi ada sebuah kata yang mirip dengannya yaitu difference. Atau juga Phonemenon yang memiliki kemirian dengan Phenomenon.

Kita catar sedikit bagaimana Derrida menafsirkan teks. Pertama-tama ia biarkan teks itu bicara tentang dirinya. Setelah teks mengungkapkan diri, ia cari hal-hal yang bertentangan dalam diri teks itu sendiri. Setelah itu, makna yang muncul dalam diri teks itu didestabilisasi sehinggga makna itu menjadi tunggal lagi. Makna-makan yang lain menguak dengan sendiri.

Kita kembali kegaleri. Dihadapan Derrida, tampak sebuah lukisan. Ia coba terapkan metode penafsiran itu kepada lukisan didepannya. Ia mulai dengan membiarkan lukisan itu membuat sketsa dikepalanya. Biarkan lukisan itu mengungkapkan dirinya (semboyan fenomenologi). Setlah itu goyangkan (destabilasi) bangunan sketsa dikepala agar makna-makna berguguran layaknya daun berjatuhan dimusim gugur. Kemudian, segeralah bersihkan daun-daun itu sebelum dimarahi satpam…

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Nama pemuda itu Marx. Aslinya Muhammad Markum. Ia baru saja lulus sarjana. Di rumah, langsung ia diberi tugas mengajar di SMP pamannya. Dengan penuh semangat ia mulai mengajar. Ia susu kurikulum sendiri. Sebagaimana pengagum Karl Marx, ia ingin bikin revolusi itu bisa dimulai. Pendidikan yang tidak membebaskan adalah pendidikan yang tidak layak untuk digeluti. Pemikiran Karl Marx ia masukkan dalam bahan ajarannya. Tidak usah bertanya bagaimana tiba-tiba Karl Marx bisa masuk dalam kurikulum Sekolah Menengah Pertama. Itu urusan Mas Markum

Diakhir semester, berkatalah ia kepada siswa-siswinya, “kita telah mempelajari pemikiran Karl Marx sampai tuntas. Hanya saja tujuan Karl Marx akan masyarakat tanpa kelas belum terwujud.”

“pak guru, “murinya menyela, “bagaimana masyarakat tanpa kelas itu bisa terwujud?”

“jadi,” kata Markum, “kitalah yang akan mewujudkan tujuan Marx tersebut. Mulia besok kelas bubar!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012 di aula FAKULTAS HUKUM sekitar pukul 9.00 WIB (seminar kitt, sertifikat, snack, pengetahuan)

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012 sekitar pukul 7.00 WIB di jalan slamet riyadi, solo.

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”

Dosen masuk kedalam kelas. Mulailah ia mencerca mahasiswa dengan rentetan pernyataan.

“apakah Tuhan itu ada?”

“adaaaa…,” serentak mahasiswa menjawab.

“apakah kalian bisa melihat Tuhan?” pak dosen lanjut bertanya.

“tidak.”

‘apakah kalian bisa menyentuh Tuhan?”

“tidak.”

“berarti Tuhan itu tidak ada,” tegas pak dosen. Suasana cukup tegang. Banyak mahasiswa yang rajin beribadah. Kalau tidak ada Tuhan lalu untuk apa ibadah itu?

“pak dosen,” bersuaralah seorang mahasiswa memecah sunyi. “apakah bapaka bisa melihat otak?’

“tidak.”

“apakah bapak bisa menyentuh otak?”

“tidak.”

“berarti bapak tidak punya otak!”

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012 di aula FAKULTAS HUKUM sekitar pukul 9.00 WIB (seminar kitt, sertifikat, snack, pengetahuan)

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012 sekitar pukul 7.00 WIB di jalan slamet riyadi, solo.

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”

Dua petani

Dua petani sedang mencangkul di sawah. Terlibatlah mereka dalam pembicaraan.

“anakku yang kuliah sering sekali menyebut-nyebut nama seseorang. Kamu tahu Karl Marx?” kata petani yang satu.

“tidak,” jawab petani satunya lagi.

“aku juga tidak.”

Nietzsche dan Tuhan


Nietzsche berkata, “Tuhan telah mati.”

Lima puluh tahun kemudian seseorang bertanya, “Kemana Nietzsche?”

“menyusul Tuhan

Rif’an Anwar. Si Gua Dari Gua Plato. Yogyakarta : KANISIUS. 2010.

Promosi Seminar tentang Konstruksi Terorisme Dalam Heterogenitas Masyarakat Kota (Solo)

Seminar diadakan pada tanggal 13 Desember 2012

&

Flash Mob akan dilaksanakan pada tanggal 16 Desember 2012

GRATIS!!!

“Soloku Berseri Tanpa Tragedi”